361 total views,  3 views today

Langit saat itu cerah seolah mendukung manusia untuk beraktivitas seperti biasanya di hari senin. Entah kenapa hari senin menjadi hari terburuk bagi para pelajar, mungkin karena ritual kegiatan upacara, dan amanat upacara yang bikin kaki pegel. Topi dan dasi, itulah barang yang saat dibutuhkan menghilang tanpa jejak. Lagi-lagi aku harus menyapu lapangan yang luasnya gak kalah sama GBK, iya sih ini ulahku yang gak pernah memakai topi saat upacara. Menurutku aneh jika harus memakai topi di luar kerudung.

Aku Della murid kelas 11 A. Di kelas 11 ini aku mengambil jurusan IPS, karena konon katanya IPS lebih mudah dibanding IPA. Aku mengambil jurusan yang mudah bukan karena malas belajar atau apapun itu, tapi karena gak mau nyusahin diri sendiri dengan menghafal rumus-rumus fisika yang bikin otak kebanting. Aku memiliki sifat yang dari kecil emang udah nempel, yaitu sifat penasaran. Sifat penasaran atau kepo itu membawaku ke jurusan IPA, di semester 2 aku pindah ke jurusan IPA. Aku penasaran kenapa anak IPA bisa bikin roket pake botol aqua. Lumayan juga kalau dijual.

‘’Dell, masuk ke rohis yuk !” tanya Yasmin sahabatku yang saat itu menemaniku makan siang di kantin.

“Engga ah, kita lagi berada di masa-masa ribet. Ribet ngerjain tugas, kerja kelompok, eksperimen  juga belum kelar-kelar.”

“Emang kamu gak penasaran sama pengajian yang diadain mereka tiap pulang sekolah di hari jumat?”

“Oooh jadi kamu mau ngajakin aku buat nge-eksperimenin rohis? Boleh tuh” jawabku dengan santai seolah-olah yang kujawab benar.

“Sebenernya sih aku penasaran sama rohis karena ini, kemarin anak rohis ngebagiin selembaran ini di kelas, waktu itu kamu lagi keluar.” Yasmin menyodorkan selebaran berwarna kuning yang bertuliskan smart with islam dengan judul Peduli Generasi Bangsa.

Melihat judulnya aku jadi teringat saat anak rohis mengumpulkan dana untuk salah satu murid non islam yang membutuhkan untuk membayar uang sekolah. Kenapa mereka begitu peduli padahal murid tersebut non islam. Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di benakku. Kenapa mereka harus peduli, apa cuma cari perhatian dari kepala sekolah? Atau ada niat terselubung?

Saat pulang sekolah aku mampir ke ruang rohis yang letaknya di samping musholla, sekedar melihat-lihat kegiatan apa saja yang mereka lakukan. Aku melihat salah satu perempuan anggota rohis  yang keliatannya anak kelas 12 yang sibuk memilah-milah poster, bukan posternya yang kufokuskan tapi rambutnya yang terurai. Mustahil kalau dia anggota rohis, tapi kenapa bisa dia masuk ke ruangan rohis yang memang khusus untuk para anggota, dan dia juga akrab dengan anggota lainnya.

Keesokannya aku mendiskusikannya dengan Yasmin, dan kami berdua sepakat untuk masuk rohis. Sepulang sekolah aku dan Yasmin mendatangi ruangan rohis.

“Assalamualaikum” sapaku dan Yasmin

“Walaikumsalam, ada apa dek?” jawab salah satu anggota rohis sekaligus senior kami di sekolah. Di ruangan tersebut hanya ada 10 orang yang semuanya perempuan, mungkin yang lainnya sudah pulang atau ada kegiatan sekolah lainnya. Anggota rohis kebanyakan dari kalangan kelas 12.

“Eemm gini kak, kita mau gabung di rohis bisa nggak?” tanyaku

“Bisa ukhti, siapa aja boleh gabung sama kita asalkan niatnya lurus. Kita seneng kalau ada adik kelas yang mau masuk rohis, soalnya kebanyakan dari kalian anti rohis. Mulai sekarang kalian udah bisa jadi anggota rohis. Syaratnya kalian harus selalu hadir jika rohis mengadakan acara sosial, rapat, pengajian setiap hari jumat, dan kegiatan-kegiatan lainnya. ” Jelas anggota tersebut yang bernama Rania.

“Ooooh gitu yaa ukhti, berarti kita udah resmi jadi anggota rohis?”

“Udah, masuk rohis nggak seribet masuk ekskul lain kok, hehehe. Kalian kenapa tiba-tiba kepikiran pengen masuk rohis?”

Aku dan Yasmin menceritakan kenapa kami ingin masuk rohis, dan jawaban yang diberikan sangat memuaskan. Islam merupakan agama saling menolong dan kerja sama, demi kemaslahatan umat manusia secara umum, jadi boleh saja jika kita menolong teman kita yang non islam, namun jika berteman pasti ada adab-adabnya. Di zaman seperti ini gak mungkin kita gak ketemu sama orang yang gak seiman dengan kita.

Aku dan Yasmin semakin takjub pada Islam. Sekarang kami gak cuma ngejadiin islam sebagai agama nenek moyang atau karena keturunan. Kami memperkenalkan rohis ke kelas 10 dan 11, kami berusaha keras mencari ide supaya rohis banyak diminati murid. Mungkin awalnya hanya diminati, tapi setelah masuk pasti mereka akan takjub seperti aku dan Yasmin.

Aku fikir jika hanya kegiatan rohis saja tidak cukup. Aku mengusulkan untuk membuat gerakan di luar sekolah, dan mereka menyetujui usulanku. Kami membuat bulletin yang mengajak remaja untuk mempelajari dan mulai mencintai islam, dan ngasih tau kalau islam tu gak culun seperti yang ada dalam benak remaja zaman sekarang. Dari bulletin kami mencoba membuat majalah.

Aksi kami ini mendapat perhatian dari kepala sekolah, padahal kami gak nyari perhatian. Rohis kami mendapat penghargaan. Semenjak itu anggota rohis semakin bertambah, namun ada yang hanya numpang famous, yang ginian langsung dikeluarin aja deh kalau gak bisa dikasih tau dengan kata-kata. Rohis kami banyak mendapat undangan dari acara televisi dan radio, bahagia rasanya bisa menyeru kebaikan kepada banyak orang.

Kami masih terus mengumpulkan dana untuk murid-murid yang kekurangan, korban bencana banjir, dan orang-orang yang membutuhkan lainnya. Tidak disangka ada guru yang siap menjadi donatur aksi sosial kami ini.

Ternyata jadi anak rohis bisa bikin kita famous juga, tapi bukan berarti tujuannya untuk famous. Dengan begini anak-anak gak akan ngira kalau masuk rohis bikin kita culun.

Aku dan Yasmn gak perlu khawatir, jika kami lulus masih ada adik kelas yang melanjutkan rohis di sekolah ini. Aku dan Yasmin bebrniat masuk ke kampus yang sama, tujuannya supaya bisa membuat LDK (Lembaga Dakwah Kampus).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *