184 total views,  1 views today

terminal-depok2

Aku dan teh Novi berjalan menuju depan laladon untuk naik angkot 32 jurusan pagelaran – bubulak, diangkot aku dan the novi berbincang-bincang supaya tidak bosan, the novi banyak bercerita tentang keluarganya.

Setelah sampai di tempat halte bis daerah kedung halang aku dan teh novi menunggu bis dan akhirnya kami pun dapat bis, tetapi aku dan teh novi duduk di tengah antara bapak-bapak dan seorang pelajar mahasiswa, aku dan teh novi sempat merasa takut, dan merasa tidak nyaman. Akhirnya setelah ada penumpang turun teh novi pindah kedepan saat aku mau bangun dari tempat duduk itu bis mulai berjalan dan aku takut jatuh saat berdiri, aku tinggal sendiri di tengah bapak-bapak dan mahasiswa itu, Alhamdulillah ada penumpang yang turun dan aku bergegas pindah ke tempat duduk samping teh novi, aku dan teh novi pun merasa nyaman, lama di perjalanan aku memperhatikan jalan dan tempat-tempat, tak terasa sampai di gang rumah teh novi di depan rumah sakit sentra medica daerah pekapuran.

Aku dan teh novi berjalan menulusuri gang menuju rumah teh novi dan menariknya teh novi berkata katanya pernah ada siluman buaya putih di rawa kalong, aku pun merasa tertarik ingin melihatnya dan perasaan penasaran pun mulai muncul didalam diriku, teh novi menjawab “itu mah cumin mitos, dan katanya buaya itu berubah menjadi manusia pada jam 12 malam tepat, dan kukunya panjang-panjang, rasa penasaranku mulai memuncak dan rasa ingin tahu tentang buaya putih itu semakin besar, kata teh novi yaellah mana mungkinlah tetehnya kan takut. Aku menjawab : yaah teteh mah cemen 😀

Lama berjalan akupun sampai dirumah teh novi dan ada umi teh novi, adek-adek teh novi.
aku dan teh novi masuk dengan mengucap salam “Assalammua’laikum”
umi teh novi menjawab “Walaikumsalam, eh ada si eneng rani”.
aku salim sama umi teh novi dan kedua pipiku dicium, jadi teringat sama mama di Bandar Lampung L. Lalu umi pun langsung memberku secangkir gelas berisi air mineral.

Pada saat aku, teh novi, dan umi sedang menonton tv, umi berkata “yuk kita makan dulu pasti pada laper kan?”
aku, teh novi, dan umi pun makan bersama. Setelah selesai makan adiknya teh novi yang nomor 4 baru pulang sekolah.

Malam sekitar pukul 19.25 aku dan keluarga teh novi berkumpul di ruang tengah, kami duduk di depan televisi. Kami semua pun makan bersama, bercanda bersama, layaknya seperti keluarga yang bahagia penuh canda, rasa kangen aku kepada mama dan ayah di lampung sedikit terobati dengan rasa sayang dari keluarga teh novi yang baik.

Setengah hari 1 malam aku menginap di rumah teh novi dengan penuh canda dan tawa, rasanya aku betah dirumah teh novi, tetapi apa boleh buat aku harus menuntut ilmu agar menjadi seseorang yang sukses J

Aku dan teh novi bergegas untuk kembali ke Pondok Pesantren, dengan diantar umi sampai depan plang gang sawo, lalu aku dan teh novi naek angkot dan turun di depan gang Pekapuran.

Kami pun menunggu bis jurusan bogor – Kp.Rambutan, berjam-jam kami menunggu bisa pun lewat 2 kali, saat kami mau naik didalam berisi laki-laki semua, akhirnya saya dan teh novi tidak berani untuk naik, karena takut ada terjadi ada apa-apa, walau di pesantren di ajarkan SELF DEFENSE/Ilmu praktis silat tapi rasa takut itu pasti ada.

Aku dan teh novi pun menelpon abinya teh novi dan ayah teh novi berkata katanya naik mobil 41 turun di terminal lalu naik mobil 32 yang turun dilaladon. Kami pun memutuskan untuk naik angkot saja karena kami mengejar waktu, aku dan teh novi naik mobil 41 dan turun diterminal. Lalu bergegas mencari mobil 32 dengan rasa capek di angkot di tambah lagi kesal melihat orang pacaran didalam angkot seperti tidak punya adab!

Dan kami turun di bubulak dan kami naik mobil 14 turun di simpang belokan angkot 32, menunggu sekitar 15 menit angkot pun lewat, aku dan teh novi segera naik.

Kami pun sampai di perumahan laladon permai. Aku dan teh novi bergegas lari.
setelah sampai pondokan aku, teh novi, dan Ulfia di panggil oleh direktur Pesantren Media yakni uztad Ir.Umar Abdullah kami di beri peringatan, apabila sampai telat lagi maka tidak boleh mengikuti pelajaran sampai minggu depan. [Rani Anjar Putri, santriwati angkatan ke-2 jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

By Farid Ab

Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *