Loading

Pernahkah kamu mengkhayalkan sesuatu yang ‘tidak mungkin’ terjadi dan ‘belum tentu’ terjadi? Ketika keinginanmu untuk merubah takdir begitu besar, ketika begitu banyak pertanyaan yang belum pernah terjawab, atau bahkan tidak mungkin terjawab. Aku pernah, bahkan setiap saat. Mungkin terkesan menolak takdir, tapi apakah salah? Aku masih bertanya-tanya, tapi aku tidak akan pernah mau menerima jawaban itu. Tidak akan. Selamanya.

Ah maaf, tiba-tiba mengatakan hal yang aneh, yah, setidaknya mungkin untuk beberapa orang. Tapi percayalah, ‘hal yang aneh’ ini telah menemaniku selama 16  tahun. Mungkin ceritaku ini agak  berlebihan, tapi itulah faktanya. Fakta yang harus aku telan bulat-bulat, sekalipun tenggorokanku terluka karenanya. Tidak,aku tidak perlu belas kasihan dari siapapun, karena itu tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Sekalipun aku mengharapkannya.

Tapi, apakah kamu rela mendengarkan kelanjutan dari pertanyaanku sebelumnya? Kamu bisa saja pergi, melihat apa yang bisa kamu lakukan selain mendengar cerita dari seseorang yang tidak pernah kalian kenal, aku tidak keberatan sama sekali. Namun, jika kamu ingin mendengarnya, baiklah. Tidak keberatan kan, jika kita kembali dulu ke 7 tahun yang lalu?

Bandung 2009

“Hei, hei, Bu Nia tadi bilang apa?” tanya Naya, menepuk bahuku.

“Besok, ngumpulin tugas pengembangan diri yang lembaran itu,”

Aku berjongkok, mengambil sepatuku yang kutaruh di rak paling bawah. Begitu aku berdiri, seseorang menabrakku dari belakang, “Sorry, sorry,” orang itu langsung mengambil sepatunya dan berlari sambil tertawa-tawa, di belakangnya seorang perempuan mengacungkan sebuah buku sambil teriak-teriak tidak jelas.

“Mereka bertengkar lagi,” desah Naya, bibirnya mengerucut.

“Ahaha.. ya udah biarin aja,” aku menepuk pundak Naya pelan.

Naya menatapku datar, “Oh iya, bentar,” Naya segera membuka tas pink mencoloknya.

“Di kelas aja deh,” aku langsung menarik tangannya ke salah satu kelas yang kosong.

Naya segera mengeluarkan tas kecil berwarna biru, dan dalam sekejap semua isi di dalam tas biru itu tumpah ke atas meja. Mataku berbinar-binar. Ada notes kecil berbagai bentuk, stiker kecil-kecil, gantungan yang mulai berkarat, pin-pin beraneka warna, manik-manik, beberapa utas benang, dan beberapa botol kecil kutek yang warnanya sangat mencolok.

Naya tersenyum bangga, “Aku jual 500 sampe 2 ribu, gimana?”

“Ih ini bagus-bagus..” seruku senang, aku menatap Naya yang tersenyum lebar.

“Niatnya mau aku jual besok, tapi aku pengen kamu beli dulu hehehe,”

Aku mengangguk cepat, “Aku beli ya Nay,”

Agak buru-buru aku merogoh saku seragamku dan mengeluarkan uang receh dan beberapa lembar uang seribuan. Dengan senang hati aku mengambil barang-barang yang aku suka, walaupun aku tau itu semua terlihat ‘menjijikan’. Tapi rasa bahagia melihat senyum temanku itu, membuatku harus menghalalkan berbagai cara.

Termasuk membeli barang-barang ‘bekas’nya dan menyembunyikan semuanya di bawah tumpukan selimut di lemari kamarku. Aku takut, setiap pulang ke rumah dengan tas penuh barang-barang ‘bekas’ itu, aku buru-buru menyembunyikannya. Diantara teman-temanku yang lain, akulah yang paling sering membeli barang-barang yang dijual Naya.

Setelah 2 minggu, uang jajanku habis. Setiap hari, aku selalu membeli barang-barang yang dijual  Naya, aku rela menabung uang jajanku untuk membeli semua barang-barangnya. Aku berjongkok dan menggigit kuku, tangan kiriku masih memegang celengan besi yang terbuka lebar. Aku panik. Jika besok aku tidak membeli barang yang dijual Naya, mungkin aku akan dijauhi.

Buru-buru aku mengembalikan celengan besi yang kosong itu ke dalam lemari buku, tepat saat aku menutup lemari, aku di panggil ke dapur.

“Mila..makan!”

“Iyaa,” balasku agak kaget. Kupikir ibuku sedang berdiri di ambang pintu.

Saat berjalan menuju dapur, aku melihat ibuku memasukkan uang yang sudah dilipat ke dalam laci lemari kecil di samping kulkas. Pikiran itu segera muncul dalam benakku. Aku tau bagaimana caranya agar aku tetap bisa membeli barang-barang yang dijual Naya. Malam itu, setelah semua orang tidur, aku beranjak pelan-pelan dari kasur, berjalan di pinggir kasur, kemudian mengendap-ngendap keluar kamar.

Aku menatap laci kecil itu dan menariknya, sejujurnya aku menggigil. Ada rasa bersalah, ketakutan, dan tidak peduli. Aku tersenyum dalam hati, ‘Aku juga kan sering ngambil uang receh disini,’ pikirku. Setelah mengambil uang receh, dan beberapa lembar seribuan, aku menutup laci kecil itu. Tapi gerakanku terhenti begitu aku melihat uang 10 ribu yang terselip di balik kertas-kertas. Aku menelan ludah. Sebuah dorongan yang besar menuntun tanganku untuk meraihnya.

Aku tidak pernah tau, malam itu hidupku akan berubah sepenuhnya. Sebuah hal kecil yang terlihat sepele, justru berdampak besar dalam hidupku. Karena setelah malam itu, sebuah beban besar menumpuk di dalam diriku. Yang membentuk diriku sekarang…[n]

 

-MISS[ING]-

 

 

Chbioka (Zulfa Aulia R, santriwati jenjang SMA kelas 3)

*diambil hikmahnya aja yaa… kalo ada kesalahan penulisan tolong koreksi (-v-)9

By Fathimah NJL

Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *