Loading

Ketika sedang jalan berdua dengan adikku, aku merasa bahwa kami sangat dekat. Lebih tepatnya dekat sekali. Aku cepat mengiyakan bila ia meminta sesuatu. Namun, bila ada orang lain, aku tentu merasa lebih harus jaga sikapku. Alias, lebih mengutamakan orang lain itu.

Kali ini, aku pergi melakukan suatu perjalanan hanya bertiga. Aku, adikku, dan temanku. Setiap seminggu sekali, kami bertiga selalu melakukan perjalanan bersama karena ada suatu urusan. Karenanya, kami bertiga biasa mengobrol sangat dekat.

Di perjalanan, aku mendengarkan sebuah lagu menggunakan earphone. Tiba-tiba, aku ingin mendengarkan lagu yang menurutku nadanya syahdu sekali. Ketika aku mendengarkannya, aku teringat akan rasa suka kepada teman satu sekolahku dulu. Saat itu, aku masih SD. Geli rasanya aku mengingatnya. Tiba-tiba, mataku tertuju pada adikku.

Spontan, aku bertanya kepada adikku.

“Hmm.., apa kamu pernah merasakan rasa suka pada lawan jenis?” kataku. Temanku jelas terkejut. Ia tersenyum mengejek. Ia berbisik kepadaku.

“Pasti lagi ingat seseorang.” Katanya. Aku menaikkan alis. Dalam hati, aku berpikir, Kok tahu? Aku berpaling kepada adikku. Ia diam. Aku mengulangi pertanyaanku.

“Pasti, lah.” Katanya santai.

“Sejak kelas berapa?” aku kembali bertanya. Dalam hati, aku ingat bahwa aku main suka-sukaan sejak TK.

“Emang kenapa?” tanyanya.

“Nggak kenapa-kenapa. Hanya ingin membandingkan. Kalau kakak, sejak TK. Tapi itu cuma main-main.” Kataku sekenanya. Tapi tetap jujur. Asal tidak terlalu detil.

“Oh. Aku juga sejak TK. Sama teman sekelas.” Katanya tetap santai. Apa? Anak laki-laki juga bisa main suka-sukaan?

“Oh, iya? Memang, siapa?” aku mencoba santai. Temanku cekikikan di belakangku. Aku sedikit menyikutnya. Adikku mengerutkan dahinya.

“Emang kenapa, sih, kak?” aku menggeleng. Kebetulan, aku tahu TK adikku. Aku berpikir. Aku mendekati adikku.

“Adiknya teman kakak yang itu, ya?” kataku berbisik sepelan mungkin. Aku melihat wajah adikku yang tersenyum malu. Aduh.. Anak laki-laki juga sama saja seperti anak perempuan. Aku cekikikan sendiri.

Mengenai ini, aku berpikir. Ternyata, anak kecil juga memiliki perasaan terhadap lawan jenisnya. Sekarang aku mengerti. Aku dapat mengambil kesimpulan. Bahwa sejak kecil, anak-anak juga harus diajarkan Tata Pergaulan Pria dan Wanita. Kalau tidak, mereka bisa berbahaya saat besar nanti.

Alhamdulillah, aku dan adikku berada dalam lingkungan pergaulan yang islami. Aku pernah melihat anak kecil yang begitu melihat lawan jenisnya, ia langsung mendekatinya, atau mencari perhatiannya. Dalam hati, aku sedih melihatnya.

[Fathimah NJL, santri angkatan ke-1, jenjang SMP, Pesantren Media]

By Fathimah NJL

Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *