Loading

Kisah ini mengambil latar tempat di sebuah negeri dongeng. Negeri yang indah, eksotis, penuh dengan lanskap yang mengagumkan, memiliki iklim yang hangat sepanjang tahun. Negeri ini selalu dibincangkan oleh negara-negara lain dengan penuh kedengkian, bahkan beberapa bahkan berusaha memperebutkannya.

Penduduk negeri ini pun terkenl sopan, berbudi luhur, dan suka menolong. Tidak pernah ada kedengkian, prasangka, dan kebencian di antara mereka. Mereka selalu saling mengasihi satu sama lain, dan jika ada perselisihan, selalu diselesaikan dengan cara yang damai dan tidak merugikan bagi pihak yang berselisih.

Aku tinggal di negeri ini, dan entah kenapa aku merasa dua paragraf di atas memiliki anomali di setiap konotasi kalimat. Serasa seperti kebohongan atau semacamnya. Ah, tapi mungkin hal itu belum penting saat ini, karena aku ingin menceritakan fenomena besar yang sedang terjadi di negeri tercinta ini.

Di negeri dongeng, kini merebak sebuah virus berbahaya lagi mematikan. Virus ini telah meresahkan warga dengan marak terjadinya dan penyebarannya yang cukup menakutkan. Negeri dongeng memiliki alat kotak yang dapat memperkecil manusia dan memasukkannya kesana, dan sepertinya benda ajaib inilah yang semakin membuat sang virus makin terasa menakutkan. Benda ajaib tersebut telah menyebarkan virus yang ada tanpa masyarakat ketahui, sehingga benda itu menyihir penduduk negeri dongeng untuk berfikir bahwa bukan benda kecil itulah penyebar virus, melainkan sekelompok orang berpakaian putih yang ternyata memiliki buku ajaib. Nah, buku ajaib pun menjadi tersangka asal muasal penyebaran virus, sementara penduduk negeri dongeng pun akhirnya menuduh orang yang salah. Mereka tidak menyadari bahwa penyebar virus sebenarnya adalah sang kotak ajaib.

Hei, sebenarnya ada virus apaan sih? Virus mematikan ini disebut dengan ‘terorisme’!

Oke, cerita dimulai!

Suatu ketika, ada seorang wanita muda penduduk negeri dongeng yang berkelana dari kota kecilnya menuju kota besar yang dulu pernah menjadi pusat kerajaan negeri dongeng untuk menuntut ilmu. Karena tidak mungkin baginya untuk pulang pergi dari kota kecil ke kota besar tiap hari untuk menuntut ilmu dikarenakan jarak yang jauh, akhirnya si wanita muda pun memutuskan untuk menetap saja di kota besar. Wanita muda ini bernama Lily.

Tidak mudah menjalani hidup di kota besar, dimana para penduduknya saja sangat ramah, suka membantu, dan peduli satu sama lain. Bagi penggemar cerita dongeng, mohon maafkan aku, karena aku sedikit memiliki gangguan dalam menuliskan kata yang memiliki lawan kata, jadi mohon kata-kata pada kalimat sebelumnya diubah sendiri.

Tapi bagi Lily, masalah sebesar apapun tidak menjadi masalah baginya! Dia dapat menjalani hidupnya dengan penuh kebahagiaan meski jika seluruh negeri dongeng sedang sengsara. Dia selalu memiliki caranya sendiri dalam memandang kehidupan yang tidak mudah ini dengan kacamata tiga dimensinya. Dimensi pertama kenyataan, dimensi kedua khayalan yang menganjurkan solusi, dan dimensi ketiga adalah lapisan penyaringan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas sebuah alasan.

Jadi, dia pun dikelilingi orang-orang yang selalu berbuat baik padanya, dan belum pernah ada orang jahat yang pernah berusaha menyakitinya. Jikapun ada orang jahat juga ikut mendekatinya dengan alasan yang buruk, dia tidak segan-segan untuk menendang atau memukul penjahat itu dengan jurus-jurus mematikannya yang dulu pernah dipelajarinya di kota kelahirannya.

Suatu saat, Lily harus berhadapan dengan ancaman orang jahat. Dan yang lebih parah lagi, orang jahat itu membawa virus mematikan yang sedang mewabah di negeri dongeng!

oOo

Suasana ruang rapat tersebut tetap gerah, meski pendingin ruangan telah berusaha sebisanya untuk menurunkan derajat selsius suhu dalam ruangan. Semua peserta rapat tak ada yang berani berbicara sepatah kata pun, menyadari kasus yang sedang mereka tangani benar-benar merupakan hal yang tidak bisa diremehkan.

Di sebuah sudut, duduklah seorang lelaki berusia 30 tahun. Lelaki itu terus menggeram setiap kali pemimpin rapat menyelesaikan sebuah kalimat. Tampaknya dia sudah tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan, namun dia sudah memikirkan rencananya ke depan.

Ya, aku harus memberi pelajaran yang beda dari yang lain. Aku tidak akan membiarkan teroris-teroris terkutuk itu menodai negeri dongeng tercinta ini, pikirnya.

Sampailah pada penjelasan pada ciri-ciri orang-orang berbahaya yang sedang dibicarakan, yakni para teroris. “Yang laki-laki, biasanya menggunakan pakaian rapi, aromanya wangi, kumis terpangkas dan janggut dipanjangkan, dan mereka menyukai model celana di atas mata kaki. Sementara yang perempuan, biasanya mereka menutupi seluruh bagian tubuhnya dengan pakaian besar dan berwarna gelap, beberapa bahkan menutupi wajah mereka.”

Begitulah setidaknya penjelasan yang lelaki itu dengar. Penjelasan yang lugas dan tanpa ampun memojokkan siapapun yang berani berdandan seperti itu.

“Kini, tugas kita adalah memata-matai setiap gelagat mencurigakan dari siapapun yang memiliiki ciri-ciri seperti tadi yang sudah disebutkan. Jika penyamaran kalian berhasil, dan gembong-gembong mereka bisa dibongkar sampai tuntas, maka pangkat kalian akan dinaikkan dan tentu saja gaji kalian akan semakin tinggi.”

Seluruh ruangan mendadak penuh dengan bisikan-bisikan setelah ‘kenaikan gaji’ dan ‘naik pangkat’ disebut-sebut.

Lelaki yang duduk di ujung tadi bernama Bambang, seperti nama raja di negeri dongeng. Dia baru saja bergabung di unit Usus 66, tangan penguasa negeri dongeng yang memiliki tugas membasmi setiap tindak terorisme sekecil apapun bentuknya, dan harus segera di-‘dor!’ jika ada yang terpergok sedang melakukannya. Dia masuk di bagian intelek kucing, bagian khusus yang suka memata-matai.

Bambang juga tertarik dengan tawaran itu, dan memang siapa sih yang tidak? Kenaikan gaji di negeri dongeng menjadi sesuatu yang sangat diimpi-impikan setiap orang.

Setelah rapat itu selesai, Bambang sudah tahu apa yang harus dilakukannya, dan itu sudah direncanakan sejak berhari-hari yang lalu. Dia berfikir menangkap yang perempuan itu lebih mudah. Jadi, dia akan menyamar menjadi tukang kosmetik!

oOo

Lily menghentikan langkahnya saat dia mendapati setangkai bunga berwarna kuning tersebut dijual di pinggir jalan oleh seorang ibu-ibu.

“Ini bunga apaan bu?”

Ibu itu awalnya terlihat terkejut. “Oh, ini bunga lili, cah ayu.”

“Kebetulan bener, dong bu, itu kan nama saya!”

Wanita muda berkerudung besar itu segera mengambil setangkai bunga lili, membayarnya dan segera pergi. Dia berjalan sambil terus mengamati bunga itu. Kira-kira, kenapa ya, nama gue bisa sama ama bunga yang cantik ini?, pikirnya.

Tiba-tiba, seorang pemuda menubruknya dari belakang dan menjatuhkan tas tangan dan bunga lili tersebut. Pemuda itu berhenti berlari dan segera membantu Lily bangkit dari jatuhnya. Namun, tangannya segera ditepis oleh wanita muda itu. “Hei, jangan sentuh-sentuh dong!”

Lily bangkit dengan jilbab dan gamisnya yang sudah terkotori di beberapa bagian.

“Kamu nggak papa?” tanya pemuda yang tadi menubruknya.

Pandangan Lily pun bertemu dengan pemuda itu. Dunia seperti berhenti beberapa detik saat Lily menatap mata teduh itu, mata milik seorang pria tampan dengan wajah bersih dan rambut ikal yang dipotong pendek.

“Hei, kamu nggak papa?”

Lily tergagap. “A-aku… Lily.”

Apa yang diucapkan Lily barusan benar-benar tidak ada hubungannya dengan pertanyaan pemuda tampan itu. Lily kemudian menyadarinya dan segera mengucapkan istighfar. Astaghfirullah, pandangan pertama itu rezeki, tapi setelahnya…

Lily segera mengalihkan matanya dari sepasang mata teduh tersebut, dan pemiliknya hanya tertawa renyah. “Kamu itu lucu, ya… Barusan aja aku…”

“COPEEEEEEEETT!!!!”

Tiba-tiba segerombolan orang yang dikuasai emosi menyerbu ke arah mereka berdua  dari arah datangnya pemuda tampan tadi.

Lily kemudian menyadari apa yang sedang terjadi. “Ka… kamu??”

Pemuda itu tersenyum nakal, mencubit pipi Lily kemudian segera berlari meninggalkan Lily yang bingung sekaligus marah. Enak saja asal pegang pipi orang! Tapi tunggu, dia itu copet?

Pipi gue dicubit copet! Gue nggak terima!!!

Lily menyambar tas tangannya yang masih terjatuh di tanah, dan segera berlari menyusul gerombolan orang yang sedang mengejar pemuda tadi. Tidak butuh waktu yang lama bagi Lily untuk mengejar gerombolan orang tersebut, kemudian mendahului mereka. Orang-orang pengejar yang mulai lelah itu mulai melambat larinya, dan mereka pun segera menyemangati Lily yang berlari dengan sangat kencang. Luar biasa!

“Neng ninja! Neng ninja! Neng ninja!”

Sorakan-sorakan penyemangat itu butuh sedikit revisi!, pikir Lily gemas sembari terus mengencangkan larinya. Pemuda tampan itu mulai terkejar, dan dia berteriak. “Lily, orang-orang itu hanya salah paham.”

Oke, mereka salah paham, tapi kenapa pakai cubit-cubit pipi segala?

Dalam waktu singkat, Lily sudah berjarak satu meter dari pemuda tampan itu, dan kini dia melompat…

BRUKK!!!

Terdengar sorak sorai senang dari arah belakang, dan sesekali terdengar orang-orang mengelu-elukan Neng Ninja!

oOo

Di negeri dongeng, selain virus terorisme, juga sedang marak menyebar sebuah virus yang lebih ringan dari terorisme, namun dapat menjadi induk dari virus teror tersebut. Virus ini awalnya hanya menyebar di kalangan anak muda saja, namun lama kelamaan virus ini tanpa ampun juga menjangkiti kalangan dewasa, tua, sampai kakek nenek. Bahkan, sudah banyak kaki tangan raja negeri dongeng yang ikut terjangkit virus ini, termasuk sebagian besar anggota Usus 66.

Dan virus tersebut, menurut data yang diperoleh dari Pusat Laboratorium Kesehatan Negeri Dongeng, memiliki kode Le8@Y. Kita kembali ke cerita, yuk!

“Emang udah berapa lama sih lu mengamati dia dari sini?”

“Tiga hari tiga malam.”

“Terus kita ngapain dong tiga hari tiga malam?”

“Ih, tolol lu ya, kaya iklan aja! Gua kan cuma bercanda! Gua memang udah mengawasi dia selama tiga hari, tapi nggak sampai malam-malam juga, lagi. Dan gua malah makin yakin kalau dia itu masuk cabang jaringan Baba!”

Baba adalah nama sekelompok militan yang membentuk persatuan terorisme yang bernama Baba. Nama Baba sendiri diambil dari Abu Baba yang konon menjadi ketua persatuan terorisme ini.

Bambang kembali melihat jam tangannya. “Tunggu sebentar lagi.”

“Perasaan lu dari tadi ngomong gituan terus?”

“Itu dia!” seru Bambang.

Kedua sosok yang bersembunyi di balik pohon itu mengamati sosok wanita muda yang muncul dari kelokan sebuah gang. “Itu orangnya?”

Bambang mengangguk.

Teman Bambang itu tercenung sejenak melihat sosok yang berjalan anggun tersebut. Wanita muda itu tampak sangat cantik, dengan gamis panjang dan jilbab besarnya yang semua berwarna ungu gelap. Sesekali pakaian serba panjangnya itu tertiup angin dan membuatnya melambai-lambai seolah wanita muda itu sedang berjalan di awang-awang.

“Hei, To! Malah melamun! Itu tuh, orangnya!”

Ito terkejut dengan teguran Bambang. “Eh, iya! Sayang ya, Bang, cantik-cantik gitu kok teroris. Tapi, apa lu yakin nggak salah orang?”

“Mana mungkin gue salah orang! Kemarin, gue lihat dia menghajar copet dengan sangat cepat, ngalahin orang-orang yang juga ikut ngejar tuh copet. Pasti tuh cewek udah pernah ikut pelatihan di Iraq atau sebagainya!”

“Ah, ngaco lu! Siapa juga bisa ikut latihan silat gratis di pendapa! Tapi serius nih, gue malah jadi penasaran sama kosmetik yang dia pakai.”

“Hah?!”

“Iya, maksud gue, come on! Lu juga pasti lihat kalau wajahnya tadi itu seolah… glowing gitu, lah. Seperti bercahaya!”

“Ah, itu mungkin mata lu aja yang lagi eror. Tapi lu pasti yakin kalau dia itu teroris sejati dengan adanya ini.”

“Emang lu punya apaan?”

Bambang kini tersenyum menang, lalu mengeluarkan sebuah tape perekam dari tas besarnya.

“Apaan tuh?”

“Ini apa, lu pasti udah tahu. Tapi isinya? Ini bukti kalau dia itu teroris, anggota asli komunitas Baba!”

Bambang menekan tombol play, dan kejadian kemarin pun kembali dia putar.

oOo

Lily yang berhasil meringkus seorang copet tampan pulang dengan dua perasaan. Perasaan pertama, tentu saja marah, karena pemuda sialan itu sudah mengotori baju dan kerudungnya, dan yang lebih parah lagi, dia sudah berani memegang pipinya!

Perasaan kedua : tentu saja senang, karena dendamnya telah berhasil terbalaskan, dan entah apa yang dilakukan oleh massa yang marah itu, dia tidak begitu peduli. Siapa suruh jadi copet?

Oh, kejamnya aku…

Lily tidak menyadari, seseorang tengah mengawasinya dari balik pepohonan.

Lily segera melupakan kejadian tadi dan pergi masuk ke rumah kos-nya yang masih sepi. Selain dirinya, belu ada penghuni kos lain yang sudah pulang kuliah. Lily sedang hendak masuk ke dalam kamarnya, ketika tiba-tiba pintu bel berbunyi.

Ting.. tong…

Lily menggerutu sejenak. Ah, belum lagi bajuku bersih! Tapi kemudian, dia mendesah keras. Astaghfirullah, kenapa aku terlalu emosi, ya?

Saat Lily membuka pintu, dia melihat seorang lelaki berusia 30-an sedang tersenyum. Lelaki itu menggunakan baju kotak-kotak dan celana jins. Sebuah tas besar tergantung di bahunya, dan dia menyapa Lily hangat. “Selamat siang, nona manis!”

Sssst… Dia itu Bambang!

“Mau cari siapa?” Lily memang tidak suka basa-basi.

Bambang bengong sebentar mendapati dirinya ditusuk langsung dengan pertanyaan yang singkat. Dia galak, ini persis dengan sikap teroris!

“Ah.. eh… Saya kemari hendak menawarkan kepada Anda produk kosmetik kami.”

Dengan wajah yang masih datar, Lily menjawab, “Sory, gue nggak pakai make up!” Dia sudah menggerakkan pintu menutup, namun tangan Bambang segera menghalangi pintu itu.

“Eh…” Lily membuat ‘eh’ panjang yang terdengar sangat berbahaya.

Bambang bertahan. “Setidaknya, lihat dululah produk-produk saya, baru komentar.” Dan tanpa diminta, Bambang segera menurunkan tas-nya yang tampak berat itu dan segera mengeluarkan isinya.

Kini wajah Lily seperti tokoh cewek di anime Jepang yang sedang merengut bosan. “Jangan lama-lama, ya, bang.”

Bambang segera memulai presentasi kecil-kecilannya dengan wajah dan badan yang mulai berkeringat, sementara Lily mulai menguap bosan beberapa kali.

“Mbak, apa sebaiknya di dalam aja, ya? Di sini panas banget, sih…”

“Nggak bisa! Ntar gue ma lu berkhalwat lagi.”

“Bergulat?”

“Ngaco lu! Berkhalwat, menyendiri di tempat sepi!”

Bambang hanya mengangguk-angguk, berpura-pura bahwa dia mengerti apa yang sedang dibicarakan Lily. Bambang pun segera menyelesaikan presentasinya kemudian bertanya pada Lily. “Gimana mbak, apakah Anda tertarik?”

Lily tersenyum menyakitkan kemudian berkata, “Sory lagi, tapi gue nggak pernah pernah pakai make up.”

“Tu-tunggu mbak, tapi mbak pakai sampo, sabun, atau sebagainya, kan?”

“Iya, emang kenapa?”

“Sabun merk apa yang Anda gunakan?”

Dengan entengnya, Lily menjawab, “Sabun Baba.”

Bambang tercekat. Oh tidak, aku memang tidak salah orang. Cewek ini pasti anggota teroris itu! Bambang meraba saku celananya, memastikan alat perekam suara masih berputar.

“Dan… sampo?”

“Sampo Baba. Eh, ngapain sih lu perhatian banget, sampai pakai nanya-nanya tentang alat mandi gue?”

Bambang kini tidak tahu apa yang harus dia katakan. “Am… eh… Gini mbak. Akhir-akhir ini kan banyak beredar produk-produk palsu. Nah, mm… mbak harus hati-hati kalau pakai sampo atau sabun, soalnya produk-produk itu hanya merusak tubuh mbak…”

Lily menatap sales aneh itu dengan tatapan yang sama, cewek anime yang sedang bosan minta ampun. “Kok lu mendadak jadi perhatian ma gue?”

Bambang kini mulai tidak sabar. Gue nggak mau dipermainkan sama teroris! “Saya takut kalau mbak bisa membahayakan warga negri dongeng! Dari pakaian karung mbak, saya saja sudah tahu kalau mbak ini teror…” Ups, Bambang sudah keceplosan!

Wajah lucu Lily kini berubah menjadi wajah seram khas tokoh zombie di film Hollywood. “Oh, gitu ya! Jadi lu sengaja mau mata-matain gue, nuduh gue sebagai teroris, hanya gara-gara jilbab gue yang gede?”

Lily mulai melepa sepatu ketsnya.

Bambang segera menangkap situasi dan dia tahu apa yang hendak dilakukan Lily. Dia segera membereskan barang-barangnya lalu pergi melarikan diri.

“Ke laut aja lu!!!” Lily berteriak marah sambil melemparkan sepasang sepatunya pada Bambang yang lari tunggang langgang, takut jika seandainya cewek itu tiba-tiba meledakkan dirinya. Gue belum mau mati!

oOo

Ito tertawa keras-keras mendengar rekaman suara itu sekaligus penjelasan yang dibuat oleh Bambang.

“Lu gokil banget, men! Lagian, cewek semanis itu lu lukain hatinya, ya pasti bakalan marah, dan nggak begitu saja menunjukkan bahwa dia itu teroris!”

Bambang hanya memandang kawannya sewot. Bukannya bersimpati, Ito malah meledeknya. “Lu sengak banget sih?”

“Sori, sori Bang, gue cuma lucu aja denger lu sekonyol itu!”

“Oke deh, lu boleh ngeledekin gue, tapi cari solusi dong!”

“Oke, gue punya cara yang lebih ampuh dari cara lu.”

“Ah, masa?”

“Check this out,  baby!”

Dengan percaya diri, Ito bergegas menuju rumah kos tersebut, meninggalkan Bambang yang terpaku tak percaya di tempatnya berdiri.

“Serius, lu?” teriak Bambang, namun Ito tampaknya sudah tidak menghiraukan sahabat sekaligus rekan kerjanya tersebut.

Ito menghampiri ruma kos tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Seorang wanita muda tampak membukakan pintu, dan seperti Bambang, nampaknya Lily tidak membiarkan Ito masuk. Lily dan Ito tampak berbicara santai, dan pembicaraan mereka cukup panjang. Bahkan, sesekali perbincangan mereka dibarengi dengan gelak tawa. Setelah itu, Lily tampak menyerahkan sebuah kertas yang baru saja disobeknya dari bukunya, mengatakan sesuatu pada Ito, kemudian pembicaraan berakhir. Lily pun menutup pintu, dan Ito kembali ke pohon dimana Bambang bersembunyi.

Bambang mengamati semua itu dengan perasaan heran. Apa sebenarnya mereka bicarakan?

Tiba-tiba saja, Ito sudah berada di hadapan Bambang. Dia memukul jidat Bambang dengan kertas Lily yang sudah digulung. “Bangun, dong!”

“Eh. Iya. Lu bicara apa ma wanita muda itu?”

“Namanya Lily. Orangnya manis, sedikit berani, namun menjaga jarak sama cowok. Bener-bener tipe gue.” Ito berkata sambil menerawang.

“Kok lu malah fall in love gitu sih?” tanya Bambang sewot.

“La aja yang suka ngeres and berperasangka buruk. Asal lu tahu ya, Lily itu tipe cewek yang baik hati. Caranya berpakaian aja udah bikin dada ini ayem. Pokoknya there’s something special with her, lah! Dan asal lu tahu aja, Baba itu…”

“Ya, kan? Dia anggota komunitas terorisme itu?”

“Baba itu temennya, tolol! Jadi dua hari terakhir, dia terpaksa harus pinjem sampo dan sabun cair punya Baba temennya, soalnya dia belum dikirim uang sama orangtuanya. Gadis yang malang, dan elu bisa-bisanya berprasangka buruk sama dia?!”

Bambang hanya bisa dibuat bengong.

“Oh, dan ternyata, kosmetik yang dia pakai bener-bener spesial bin istimewa.” Ito menyerahkan kertas itu pada Bambang kemudian ngelonyor pergi. “Gua cabut duluan, ya!”

Bambang membuka gulungan kertas yang diserahkan Ito dengan penasaran.

Rahasia Kecantikan Terindah

Gunakanlah sabun hijab, yang melindungi seluruh tubuh dari kuman para lelaki yang selalu memandang

Haluskan rambutmu dengan sampo kerudung, yang melindungi dari sengatan pandangan hidung belang yang berbahaya

Hiasilah wajahmu dengan bedak menundukkan pandangan, yang mencegah dari tatapan yang tidak berhak

Pakailah lip gloss dzikir, membasahi bibirmu dengan air yang takkan tersentuh jilatan api neraka

Semakin percantik dirimu dengan sunblock iman, yang melindungimu dari perbuatan maksiat dan melanggar perintah Tuhan

Dan gunakanlah lipstik kejujuran, buah kemanisan di setiap langkahmu berjalan.

[Hawari, @hawari88, santri Pesantren Media, jenjang 1 SMA]

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari tugas menulis di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

By Hawari

Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

2 thoughts on “Kosmetik Sang Teroris”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *