Kasawari : Sarkastik Rakyat (Part 28)

224 views

28

Sarkastik Rakyat

Tak terasa dua bulan telah terlewati sejak aku mulai bersekolah di tadika.

Mengantuk adalah kesanku setelah bangun tidur. Semangat adalah kesanku ketika sekolah. Mengisi waktu kosong dengan belajar adalah keharusanku setelah pulang sekolah. Dan lelah adalah rasaku ketika hendak tidur.

Dulu, mana pernah aku rasakan sesuatu yang macam itu. Kalaupun iya, semua itu berbeda sebab-musababnya. Dulu semangatku hanya untuk main, waktu kosongku hanya untuk main, lelah dan katukku pun karena main.

Sering Ayahku berkata kalau kerjaanku tak lain hanya belajar saja. Setiap menengok ke arahku, dipastikannya kalau aku sedang membawa buku dan pensil. Padahal kalau bukan karena banyak tugas yang diberikan sekolah tak akan aku belajar. Aku ingin berkeliling sekolah ini. Aku sebenarnya penasaran dengan kelas-kelas yang tak pernah dibuka itu.

Hari ini hari minggu dan aku masih saja terpaku dengan buku dan pensil. Kerja sekolahku syukurnya sudah selesai. Hanya saja, entah mengapa tak rela kutinggalkan buku-buku ini. Aku sudah terlanjur mencintai.

Lagi pula, aku tak punya teman untuk kuajak main. Kalau ada kegiatan lain yang sangat ingin kulakukan adalah menonton TV. Di sini yang memiliki TV hanya rumah Pak Cik Subuh. Aku sering menumpang untuk menonton TV. Tapi, sayangnya, Istri Pak Cik Subuh tak suka kartun. Dia asyik menonton sinetron Indonesia saja. Gemas diriku ingin mengambil remot yang dipegangnya.

Mak e pun suka menumpang untuk tengok berita di rumah Pak Cik Subuh. Beruntungnya Mak e, Istri Pak Cik Subuh pun menyukainya. Ya, selera ibu-ibu.

Setelah kemudian, Mak e akan bercerita tentang berita apa saja yang tadi ditengoknya pada Ayah. Berunding atas masalah politik, dan sebab akibat kecelakaan bersama. Sama sekali tak bisa kupahami. Apalah arti politik sampai-sampai harus dirundingkan, aku pun tak mafhum. Namun kudengarkan saja, siapa tahu berguna di masa depan nanti.

Kata Mak e presiden-presiden dunia itu kelakuannya semakin lama semakin tak menyenangkan saja. Kecewa Mak e dibuatnya. Barangkali ini ada sangkutpautnya dengan dirinya. Dikatakannya, bahwa presiden-presiden itu kurang tahu akan ilmu akhirat sehingga tega berbuat dzalim kepada rakyatnya. Kalau saja presiden-presiden itu paham bagaimana hukuman Allah atas pemimpin-pemimpin yang tak adil, maka Mak e yakin mereka tak akan mau jadi pemimpin walau harus dibunuh sekalipun.

Mak e sangat kritis dengan segala sarkastik miliknya. Aku terkesan. Kalau saja aku tahu menahu pasal politik, aku rasa aku pun akan melontarkan kritikan kemarahan.

“Minah ini belajar terus, apa cita-cita kau, Nak?” Tanya Ayah padaku.

Kugaruk kepalaku. Manalah kutahu.

Kujawab saja sekenanya,

“Perawat di rumah sakit besar, Yah.”

Kenapa perawat? Karena aku pernah dibuat kagum olehnya sewaktu aku datang ke rumah sakit untuk menjenguk Kak Ayuk yang sudah melahirkan.

“Baguslah. Jangan jadi presiden. Repot urusan dunia akhiratmu nanti. Kalau kau menikah dengan anak presiden, baru tak apa. Kau bisa nasehati suamimu untuk tidak menjadi presiden.”

Aish, Ayah ini asyik sekali kalau berbicara tentang siapa calon suamiku nanti. Pening aku dibuatnya. Aku ini barulah enam tahun. Tak ada sekalipun niatku untuk menikah di usia muda.

Lagipula, kenapa Ayah ini sensitif sekali dengan presiden? Semua orang dipetuahnya jangan jadi presiden. Lantas siapa nanti yang akan jadi presiden dan memimpin negara? Jangan-jangan Ayah sendiri yang ingin jadi presiden, lalu, dengan petuahnya yang macam itu, beliau dapat menggusur pesaing-pesaingnya.

Ah, dugaanku terlalu mustahil, namun barangkali saja benar.

“Paham, Min?”

“Ya, Yah. Aku paham.”

“Para pemimpin sekarang,” lanjutnya lagi, “tak kebal kritikan. Dibilang tak tampan oleh rakyat, ditanggapinya dengan bantaian. Coba kalau dipuji, maasyaa Allah, bukan main senangnya. Walaupun yang memuji cuma main-main saja.” Ayahku tertawa.

Aku tertawa.

Penulis: 
    author

    Posting Terkait