117 total views,  2 views today

13

Kutu-Kutu Terkutuk

Habis aku menjaga dengan ketat kulit ini agar tak kembali mencokelat, Mak Cik Tini berdecak kagum padaku. Namun tak bisa dipungkiri, hobinya masih terus berlanjut.

“Terkagum aku tengok perubahan kau, tu. Ha, habis itu jangan lupa pula kau halau kutu-kutu kau yang dah bersarang dan beranak-pinak, tu. Kalau boleh, botak je sekali.” Tawanya meledak, disambut juga dengan rekan-rekannya yang seperti biasa.

Aku diam saja, tak melawan. Biarkan Mak Cik Tini berkata apapun. Asal Mak e tak susah lagi, aku ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Nantilah aku cari cara untuk menghilangkan kutu-kutu dan telur-telurnya dari kepalaku. Kalau dibotak, jawabannya adalah tidak tentu saja. dikarenakan Mak e sangat mengharamkan rambutku dipotong apalagi dibotak.

Sebenarnya selama ini Mak e putus asa dengan kutu-kutuku yang tak kunjung hilang dari kepala. Kata Cak Har, itu karena bantalku juga berkutu, dan itu adalah takdir. Tak akan hilang.

Sungguh kejam pernyataan Cak Har itu. Aku sampai bersedih berhari-hari. Aku mengira bahwa ini adalah kutukan yang nyata. Namun aku tak paham atas dasar apa kutukan ini berlaku padaku. Lalu kalau memang benar ini adalah kutukan akibat kesalahanku yang antah-berantah di masa lalu, lantas bagaimana dengan kesalahan Mak Cik Tini yang sudah sangat jelas. Bolehkah aku mendo’akan beliau agar segera terkena batunya? Atau aku minta pindahkan saja kutu-kutu ini ke kepalanya, agar dia berhenti mengejekku, lalu nanti giliranku yang akan mengejeknya. Bolehkah?

Ah, terkadang kekesalan dan kesedihan yang berlarut-larut akan beregenerasi menjadi kejahatan dan ketegaan. Lalu kejahatan dan ketegaan akan berakhir menjadi penyesalan. Ya, sudahlah. Masalah Mak Cik Tini biarlah Tuhan yang menghukumnya. Sekarang aku urusi masalahku saja.

Sungguhpun kutu-kutu ini tak hilang-hilang, Mak e tetap rutin menggeruskan kapur barus untukku, lalu di taruh ke kepalaku dengan rata. Berharap kalau kutu-kutu itu bisa lari lintang pukang bak kecoa yang pun tergopoh-gopoh menjauhi kapur barus. Kendati begitu, benar-benar kutu-kutu ini tak menyerah. Mereka tetap bertahan mempertahankan kampung dan keluarga-keluarga mereka yang sudah sekitar tiga tahunan mereka bangun.

Dasar kutu-kutu tak tahu untung. Sudah sekitar tiga tahun mereka menyiksaku dengan terus membuatku gatal akibat gigitan mereka yang menghisap darahku dengan cuma-cuma. Apalagi dengan gerusan kapur barus itu, yang apabila mengenai kulit kepalaku, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Membuatku menggeliat kesakitan. Tapi biarpun begitu, kutahan sakitku, menurut apabila kepalaku dibubuhi oleh kapur barus itu.

Tunggu punya tunggu, kabar baik dari negeri asalku, Indonesia, bertandang ke rumah kami. Mak e gembira karena obat kutu yang dipesannya sudah dikirim dari Indonesia. Aku lihat, aku amati. Bentuknya adalah kapur. Namanya adalah ‘Kapur Ajaib’. Bentuknya sama persisi seperti kapur papan tulis di sekolah-sekolah.

Konon, saudara-saudaraku yang di Indonesia, yang juga terkena serangan kutu, mereka mengandalkan kapur ini demi menghilangkan kutu-kutu liar itu. Aku dan Mak e amat berharap banyak pada kapur ajaib ini dan testimoni dari para korban kutu. Semoga saja.

Tak perlu basa-basi lagi, Mak e menyiapkan diriku untuk segera diobati. Aku juga berharap kutu-kutu itu sudah siap dan sudah saling meninggalkan wasiat tatkala mendengar kehebatan sang Kapur Ajaib.

Aku duduk di pangkuan Mak e. Mak e melepas ikat rambut, membuat rambutku yang sesetengah punggung itu tergerai. Di tangan kirinya, Mak e memegang sebuah mangkuk kecil yang berisi kapur yang telah digerus harus, dicampur dengan minyak kelapa kebanggaan Mak e. Sekilas info, rambutku berwarna merah sedari kecil. Mak e sangat tidak mensyukuri rambut merahku itu. Apapun dilakukannya demi membuat rambutku hitam. Salah satunya adalah meminyakiku dengan minyak kelapa yang terbukti bisa membuat rambutku hitam. Namun sayangnya, rambut hitamku itu hanya sementara. Jadi Mak e sangat rajin mengolesi minyak itu padaku dengan sabarnya.

Kulit kepalaku terasa isis ketika ditaruhnya kapur itu ke kepalaku. Aku sangat senang dan terkejut ketika mendapati bahwasannya kapur ajaib ini tidaklah menyakitkan dan menusuk-nusuk kulit kepalaku seperti kapur barus. Betapa menakjubkannya kapur yang satu ini. pantas kalau nama panjangnya adalah ‘Kapur Ajaib’. Ajaibnya mengagumkan. Bukan main memang.

Setelah selesai membubuhi kepalaku dengan kapur itu, Mak e berpesan padaku agar tidak menyentuh, menggaruk ataupun memegang kepala ataupun helai rambut. Karena kapur ini ada racunnya. Takutnya kalau-kalau aku tidak sengaja memasukkan tanganku yang terkena kapur ke dalam mulut, maka akan tamatlah riwayatku tanpa permisi.

Aku bisa merasakan kutu-kutu itu bergerak-gerak. Aku yakin kalau kini mereka sedang tersedak-sedak dengan racun yang mewabah kampung mereka. Kalau aku adalah seorang psikopat, mungkin aku akan menertawakan mereka dengan sepuas hati. Mati kau!

Tapi sejujurnya aku memang tidak bisa tertawa. Tidak ada hal yang lucu bagiku. Kematian mereka bukanlah harapanku. Sedari awal aku hanya ingin mereka pergi secara baik-baik. Sayang punya sayang, mereka keras kepala, tak menggubris ancaman kapur itu. Dan kini mereka akhirnya tamat dengan membawa kenangan mereka masing-masing. Kenangan  sewaktu masih berhuni di kepalaku, dan kenangan menertawakan usahaku  dan usaha Mak e mengusir mereka sebelumnya.

Sorenya, aku dan Mak e membersihkan kepalaku dari jasad-jasad yang amat menyedihkan itu.

Selamat tinggal, kutu-kutu.

Semoga kau menemukan tempat tinggal yang lebih baik, dan tempat tinggal yang jauh dari kata ancaman dan marabahaya.

By natasha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *