Kasawari : Asal-Usul Rumahku (Part 31)

39 views

31

Asal-Usul Rumahku

Setiap hari, aku diantar-jemput oleh Teacher Karina. Dan ada beberapa peraturan untuk kami yang menumpang di mobilnya. Pertama, dilarang menyentuh barang-barang dalam mobil. Kedua jangan buka jendela seenaknya. Dan yang ketiga, dilarang berisik, atau lebih tepatnya, dillarang berbicara walau satu suku kata sekalipun. Kalau tidak, akibatnya kepala kami akan dipukulnya dengan tangan yang energinya sudah seperti setengah baja itu.

Kenapa aku percaya diri sekali berkata begitu? Karena aku sudah pernah merasakannya. Walau bagiku aku tak berisik. Aku hanya berbisik pada temanku waktu itu. Tapi telinganya itu telinga kelelawar. Suara bisik-bisik itu bukan apa-apa baginya.

Namun, dibalik semua ketidaknyamanan itu, aku suka kalau Teacher Karina menjemput anaknya di sekolah. Dan karena perjalanan itulah aku jadi tahu asal-usul sekolah yang kini menjadi tempat tinggalku itu.

Anak Teacher Karina sekolah di SJK Boon Beng. SJK sendiri adalah akronim dari Sekolah Jenis Kebangsaan. Lebih lengkapnya, Sekolah Rendah Jenis Kebangsaan Boon Beng. Ya, SJK Boon Beng ini sekolah berkebangsaan Cina. Sekolah yang luas dan megah. Lebih megah dan lebih luas dari Boon Beng rumahku. Asal aku masuk saja ke area sekolah itu, aku selalu terkagum-kagum. Aku selalu bermimpi ingin sekali sekolah di situ.

Konon sekolah ini harus berbicara Bahasa Cina sehari-harinya. Tak digubris kalau kita berbicara bahasa yang selain itu. Ah, kalau itu usah kuresahkan. Aku bisa mengatasinya. Hanya saja, yang membuat aku merinding adalah rumor pasal sekolah ini yang dipenuhi oleh anak-anak Cina yang berduit, anak-anak para touke-touke, dan biayanya pun bukan main-main. Kepercayaandirikuku seketika menurun.

Aku tak tahu bagaimana reaksi Neng nantinya ketika aku utarakan keinginanku ini.

Tapi, aku benar-benar ingin!

Pernah suatu hari anak Teacher Karina—aku tak tahu namanya, yang jelas dia lelaki dan lebih tua dariku—menyodorkan kertas hasil ujiannya. Ujian Matematika dengan hasil nilai akhir: sembilan.

Dan aku saksikan sendiri bagaimana Teacher Karina memarahi anaknya dengan Bahasa India. Aku tak tahu perkara apa. Kemungkinan besar itu karena nilai anaknya yang kurang memuaskan baginya.

Ya, Allah. Aku yang jadi muridnya saja sudah merasakan menderita. Apalagi dia yang menjadi anaknya. Tak tahu lagilah aku. Dia hanya menunduk dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Aih, itu nilai sembilan pun ia tak puas, serakah nian ini orang. Mak e saja, kalau  aku mendapatkan nilai enam dalam pelajaran Matematika saja sudah sangat bersyukur.

Sabar, Bang.

kasawari

Penulis: 
    author

    Posting Terkait