202 total views,  1 views today

jarum-suntik

Aku sudah tidak akan membiarkan jarum suntik masuk ke dalam tubuhku. Apapun lasannya..

“Musa ada telfone dari ibumu.” Akupun langsung berlari menghampiri hp yang tergeletak di kamar. Aku langsung mengangkat hp tersebut. Setelah berbicara beberapa menit di telfone bersama umi, aku senangnya bukan main. Soalnya, umi mau ke Jakarta bersama adekku dan omku mau ngambil raport kakak ku yang ada di Serpong, sekalian kalau sempat mau ke Bogor nengok akau dan Hawari.

Beberapa hari kemudian umi menelfone aku lagi, kalau omku sudah lupa jalan  masuk ke Ciomas dari Tol Jagorawi. Trus aku yang di suruh pergi ke Jakarta selatan ke tempat Bude. Aku langsung memutuskan tanggal 13 Desember 2012 berangkat ke Jakarta. Tapi, tanggal 14 desember kan pesantren mengadakan acara jalan-jalan. Aku tidak mungkin berangkat ke Jakartanya 13. Soalnya aku juga di suruh bermalam di Jakarta sama umi. Aku agak bingung, aku langsung bilang ke ustad Umar  direktur Pesantren Media, kalu aku di suruh ke Jakarta sama umi tanggal 13 Desember sore. Ustad umar langsung memajukan jalan-jalannya  tanggal 12 Desember 2012.

Kami berangkat jalan-jalan pagi dan sampai kembali di pesantren menjelang Maghrib.

Mentari sudah melewati batas dhuhur. Aku langsung ke pesantren izin tidak mengikuti satu pelajaran.

Jam sudah menunjuk ke arah jam satu siang lebih. Aku begegas keluar komplek Laladon Permai untuk menunggu angkot 32 lewat, kemudian berhenti di perempatan jl. Bogor Raya mencari Mini Arta arah Depok, lanjut lagi naik angkot nomer 04 warna coklat sampai Pasar Minggu. Lanjut maning naik angkot 15 A warna merah, dan berhenti di Depan Gedung  ANTAM (Aneka tambang).

Setelah tiga jam lebih naik angkot dari Bogor ke Jakarta Selatan dan menghabiskan kurang dari Rp 20.000, akhirnya sampai juga di rumah bude, tepatnya di Tanjung Barat Jakarta Selatan.

Sampai di rumah, aku langsung bertemu Syamil. Adik terakhir ku, kemudian aku bertemu sama umi, om, dan saudara yang lain. Saat bertemu umi, aku langsung di cium pipiku. Mungkin umi sudah kangen sama aku. Hehe

Aku lamgsung menghampiri kursi di ruang tamu, dan kaki ku selonjor. Karena perjalanan dari bogor ke Jakarta capek sekali. Badanku pegal-pegal dan nyeri setiap sendi-sendinya.

Setelah beberapa saat istirahat dan minum air hangat, aku segera mengambil air wudhu dan sholat Ashar. Setelah sholat Ashar, tiba-tiba badan terasa panas. Awalnya, aku di kira sakit biasa. Aku lansung di beri obat penurun panas. tapi, paginya panasnya tidak turun sedikitpun. Om ku langsung menyuruh di bawa ke rumah sakit untuk cek laborat.

Jam 9 pagi kami langsung berangkat ke Rumah Sakit, tepatnya di jl. Buncit raya….. Jakarta selatan. Aku langsung di bawa ke IGD untuk cek darah.

Setelah sekitar satu jam lebih, hasil laborat bisa di lihat. Ternyata aku harus di rawat inap di Rumah Sakit.karena Trombosit, leokosit, dan tensi ku turun semua.  Aku pasrah saja. Karena aku sudah lemas, dan kalau berjalan sudah tidak seimbang. Tiba-tiba adek ku nongol bersama omku, dia bicara sama aku dengan bahasa jawa “Karo lemut wae kalah.” Omku tertawa dengan gaya khasnya.

Seorang suster datang membawa selang, jarum, dan cairan infus. Karena aku baru pertama kalinya akan di masuki jarum infus, aku bertanya sama suster tersebut,”sakit gak?” dia menjawab dengan santainya  “sakit Cuma sebentar.”

Aku di bawa ke ruang inap kelas dua yang berisi dua pasien menggunakan kursi roda di dorong sama suster berkerudung dengan menggunakan seragam hijau muda.

Hari pertama aku masih mau mengkonsumsi makanan yang di sediakan dari pihak Rumah Sakit. Tapi semakin hari semakin tidak mau mengkonsumsi makana apapun. Umi juga khawatir dengan keadaanku yang Trombositnya semakin hari semakin turun. Setiap pagi hari aku selalu di ambil darah untuk cek laborat. Dokter juga belum berani menentukan aku nsakit apa.

Setelah tiga hari, dokter baru memberi tahu penyakitku. Ternyata aku terkena Demam Berdarah dan Tyfus. Aku juga heran, kenapa aku nggak kaget saat mendengar Dokter tersebut  menyampaikan penyakitku. Mungkin karena kedua kakakku pernah ada yang sakit Demam Berdarah, aku jadi tidak kaget.

Selama aku di rumah sakit, aku di jenguk sama saudara-saudara yanga ada di Jakarta. Aku sebelumnya tidak tahu kalau ada banyak saudaraku yang ada di Jakarta. Dari sakit ini aku mulai kenal saudara-sayraku.

Biasanya kalau orang sakit di rawat inap di Rumah Sakit, cairan infusnya hanya satu kantong. Tapi kalu aku malah dua kantong. Satu kantong untuk cairan infus, yang satunya untuk Fitamin. Aku di beri cairan fitamin karena aku tidak mau makan. Aku malah di beri sama umi jamu. Namanya Angkak. Sama jamu ini aku paling tidak suka. Aku hanya mau minum satu gelas selama aku sakit. Warnanya pun sama dengan sari kurma.

Dua hari sebelum aku pulang, aku berdo’a agar Trombositku segera naik. Tapi Allah belum menghendaki. Trombositku turun lagi menjadi 70.000. padahal aku sudah bosan dengan suasana rumah sakit. Aku sudah ingin pulang dari rumah sakit. Bapak ku juga sudah sering menanyakan keadaanku. Beliau tidak bisa menjenguk aku karena tinggal di Temanggung, dan banyak kerjaan.

Aku juga sering bertanya-tanya di pikiranku, kenapa aku sakitnya di Jakarta selatan? Padahal sekolahku di Bogor. Sedangkan rumahku di Temanggung.

Hari terakhir aku di cek Trombosit, ternyata lansung naik menjadi 90.000. ketika umi tahu Trombositku naik, beliau lansung sujud syukur. Betapa senangnya umi.

Kami langsung bergegas menata barang-barang untuk di bawa pulang.

Kami pulangnya nginep dulu di tempat bulek. Kami menginap di tempat bulek tiga hari tiga malam. Hari senin tanggal 24 Desember 2012 aku dan umi harus pergi ke bandara mau pulang ke Jogja, kemudian baru  pulang ke Temanggung.

Kami berangkat dari bandara jam 7 malam, dan sampai di Jogja jam setengah Sembilan malam. Kami di jemput kedua kakakku dan adek ku.

Setelah satuhari di Jogja kami di Jogja, kami baru di antar pulang ke Temanggung sama kakak.

[Dihya Musa AR, santri angkatan ke-2 jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

By Farid Ab

Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *