Diary: Cinta Monyet

214 views

Sebagai makhluk Allah yang diberi karunia berupa gharizah nau, sangat wajar bahkan sudah semestinya kalau ada yang namanya ketertarikan sama lawan jenis. And so, me.


Di 17 tahun waktu berlalu, aku ketemu sama banyak orang. Dengan segudang karakter yunik yang mereka punya. Beberapa di antaranya aku kelompokkan sebagai teman dekat, kenalan atau cuman sekedar tau, sisanya bisa jadi kategori nyebelin. Har-har…


So, dari sekian banyak orang yang pernah aku temuin, termasuk lawan jenis, pastinya ada yang ‘make me fall in (love) like’. Em, well, emang ada. Sewaktu SMP dulu, saat itu aku kelas 7 dan si di akelas 9. Bisa dibilang aku suka sama si dia. Jelas, itu langsung masuk kategori cinta monyet. Cuman suka karena nafsu.


Yang aku suka dari dia waktu itu, look-nya. Dimana teman-temanku selalu bilang kalau seleraku itu aneh—dan faktanya emang beda dari kebanyakan remaja normal lainnya. Bukan berarti si cowok ini jelek, ngga! Cuman, gantengnya ngga setipe sama temen cewekku yang lain.

Aku juga suka sama prestasinya. Emang sih, dia ngga ikut organisasi—atau sebenarnya ikut tapi ga aktif. Tapi prestasinya lumayan—mungkin. And he’s kind of tall man. Dia tinggi. Aku pendek. Itu adalah poin penting.

Sejujurnya aku lupa kenapa bsa cinta monyet sama si dia selain yang disebutin di atas. Pada intinya si dia—panggil aja G—bikin si junior kelas tujuh—alias aku—suka slash cinta monyet.

Karena aku bukan tipe yang suka stalk, SKSD, atau mau tahu tiap gossip tentang dia, aku cuman bisa suka dari jauh—ya, ternyata aku termasuk cewek yang ‘diam-diam suka’ gitu. Ngga pernah secara sengaja nyari si doi, ngga pernah pengen umbar-umbar kalo suka ke doi—kecuali ke my best deskmate su dunia—atau ngelakuin sesuatu yang cukup agresif lainnya.

Pada akhirnya, karena G lulus dan aku naik kelas 8, cinta monyet aku pupus gitu aja.

So now, waktu (secara ngga sengaja) buka IG beberapa waktu lalu, G post—well, saat itu aku baru sadar ternyata ngefollow ig-nya G—foto berdua sama pacarnya. Sakit hati? No. Sedih? Ya!

Pertama, aku ngga sakit hati karena ternyata aku emang ngga suka. Itu cuman cinta monyet. Nafsu.

Kedua, aku sedih karena cowok yang pernah aku sukain slash cinta monyetku ternyata pacaran. Fakta bahwa dia pacara bikin aku sedih karena rasanya, gimana… gitu, orang yang pernah ada dalam pikiranku berbuat hal-hal yang mendekati zina. Dan membayangkan si doi mendapat dosa itu rasanya… sedih. Pake banget.

So, aku ke si doi. Ngga ada rasa apa-apa lagi. Cuman rasa sedih itu aja, paling, hehe…

What I think while I saw the photo is, how lucky I am that G is just my love monkey. And I’m not the type of obsession person. So, I thought, it’s good Allah keep me on His guard. Thankyou Allah…

Aku bersyukur ngga terpengaruh buat ‘berbuat lebih’ hanya karena cinta monyet. Padahal saat itu—karena aku di sekolah umum—banyak banget teman-teman yang pacaran dan banyak teman yang ngomporin untuk berbuat ini atau itu.

Terimakasih, Allah. Takdir yang sangat indah yang sudah Kau tulis untukku.

Sebuah catatan yang ditemukan ditumpukan buku, yang begitu dilihat berisi banyak coretan aku ytang terlupakan. Ini dibuat tanggal 4 Agustus 2018 dan dengan sedikit—atau banyak—editan, akhirnya kupost.
willyaaziza

Penulis: 
    author
    Santri Pesantren Media kunjungi lebih lanjut di IG: willyaaziza Penulis dan desainer grafis

    Posting Terkait