335 total views,  1 views today

Namaku Rey, nama asliku Raihan, umurku 10 tahun. ayah dan ibuku telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Semenjak ayah dan ibuku menginggal karena ledakan Gas LPJ yang baru 1 minggu di perjual belikan, kini aku di urus oleh paman dari ayahku. pamanku bernama Anton dan istrinya bernama Venna mereka tidak memiliki anak hingga akhirnya aku diangkat menjadi anak mereka sendiri.
Aku sangat senang mempunyai tante yang menyenangkan dan senang bermain bersamaku.

Hari ini tanggal 31 desember 2013, semua orang keluar dari rumahnya untuk menyaksikan jutaan kembang api yang akan di luncurkan pada pukul 12:00 malam nanti. Saat ini pukul 10:00 PM , orang orang berkumpul di depan rumahnya dan asyik mengobrol dengan tetangga dan keluarga. Sambil menunggu pergantian tahun, kami dan kebanyakan warga mulai menyalakan arang yang sudah di siapkan sedari siang untuk membakar jagung yang baru di petik oleh tetanggaku yang bekerja sebagai petani jagung.

Dua jam pun berlalu, tak terasa kembang api sudah mulai menyerbu langit dan meledakan keindahannya di sana. Jarum panjang di jam sudah berada tepat di angka 12, perut ku sangat kenyang dan terasa sangat penuh karena terlalu banyak makan jagung, rasanya aku ingin “ menyeru panggilan alam ” (Buang air besar ) . Aku berfikir ; “ kalau aku pergi BAB nanti aku gak bisa liat kebang api, tapi kalau aku maksain liat kembang api nanti aku akan sakit “ , semua kebingunganku terpecahkan ketika tubuh bagian bawahku mulai berbunyi “ Bruuuuutt,, tut tut. bruut..” suara angin suci keluar dari tempat keluarnya kotoran alias ‘kentut’. Tanpa berfikir kembali aku langsung berlari masuk kedalam rumah menuju toilet.

“  VEENNAAAA….!!!!! Toolooong,,!! tolong..!!  “ teriak pamanku saat kulihat ia keluar dari kamar mandi yang pandangannya menuju ruang tengah itu telah mengagetkanku. Aku pun berlari menuju ruang tengah. Aku terpaku ketika pandanganku tertuju ke ruang tengah, aku berjalan kedepan dengan rasa tak percaya ketika melihat tante Venna tergeletak di atas karpet dengan tengan yang berlumuran darah sedang memegang pisau yang menancap di perutnya,  wajahku pucat dan tatapanku kosong melihat jasat tanteku tergeletak di atas karpet.  semua orang mulai berdatangan memasuki rumahku aku hanya bisa terdiam dan terdiam, akupun memasuki kamar mandi dengan langkah yang perlahan, sambil bibirku mengucap “ aku tak percaya semua ini, aku tak percaya ini semua..! ” dengan nada perlahan.

Saat aku memasuki kamar mandi aku pun menguncinya lalu duduk bersandar  dibalik pintu kamar mandi dengan kaki yang berselonjor, air mata ku sudah tak terbendung lagi. aku menangisi kematian tanteku , “ kenapa tante venna bunuh diri?! ,  apa yang membuatnya melakukan hal konyol itu..!! “ jerit batinku yang sedang mengamuk di kesedihanku ini.

Seiring waktu berlalu aku masih tak percaya kalau tantenku sudah mati, aku terus mengkhayal bermain bersamanya. Dulu aku terkenal aktif dan sangat haus akan bermain, setelah kematian tanteku aku menjadi Rey yang dingin dan pendiam. Aku selalu mengurung diri di kamarku.
Pamanku selalu berusaha menghiburku, tetapi tetap saja dia tidak akan bisa menggantikan posisi tanteku, hingga pamanku seringkali kesal terhadapku karena aku susah makan dan jarang bicara dengannya.

3 tahun berlalu begitu saja, tanpa hadirnya tante Venna di sampingku. kini aku sudah mulai dewasa, tetapi aku belum bisa menerima kematian tanteku, aku masih menjalani hidup dengan gelar Rey si pendiam. Hati kecilku berkata “ kenapa aku tak mencari tahu sebab bunuh dirinya tante Venna? “
keinginan hati kecilku ini ingin aku penuhi.

Akupun berlari dari kamarku menuju ruang tengah mengambil buku telpon yang ada di samping telpon rumah, aku mulai mengeceknya satu persatu, dan setiap aku berbicara dengan orang yang aku telpon aku menanyakan tentang pendapat mereka tentang tante Venna, aku juga menannyakan keberadaan mereka saat tante Venna meninggal serta apa yang mereka ketahui tentang tante venna.

Semua nomor yang tercantum di buku telpon sudah ku hubungi, tetapi aku belum mendapatkan informasi yang bernilai. akupun melanjutkan pencarianku dengan mengunjungi orang orang terdekat tante, dari mulai tetangga hingga teman arisan. Aku mengunjungi rumah orang terdapat tante satu persatu dan hasilnya nihil, tapi aku belum mngunjungi tetangga di samping rumahku, akupun berkunjung kerumahnya.

Tetanggaku yang satu ini bernama pak farhan.  ia adalah seorang bujangan tua.
Saat di rumahnya aku melihat sekitar, melihat foto foto yang di pajang di dinding rumahnya.
“ foto tante..? “ ucapku perlahan dengan penuh keheranan saat kulihat di pojok sudut rumah pak farhan dipajang  foto tante Venna bersama pak farhan di pantai sedang bergandengan tangan. saat aku mendekati foto itu pak farhat langsung berjalan kedepanku lalu memanggilku, “ Rey,,? ayo kita makan dulu “ajak pak farhan sambil merangkulku menuju ruang makan, tatapan heranku berubah seketika dan menjawab “ ohh,, ee,,ee iya pak,, “ jawabku  terbata-bata sambil melirik kearah foto.

Saat makan aku bertanya  “ pak, kalau tante Venna itu orangnya gimana menurut bapa..? “ tanyaku,       “ ohh,,  tante kamu itu orangnya baik, cantik, perhatian lagi,, kalau seandainya dulu dia memilih bapak,  mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya,,” jawabnya sambil menatap makanan di hadapannya. “maksud bapak apa..?” tanyaku heran, “ hmm,,  yasudah tidak usah di pikirkan, habiskan dulu makanannya..” ujarnya sambil senyum terhadapku.

Aku mulai curiga, aku pun meminta izin untuk pergi ke toilet, diapun menunjuk kearah belakang “ disana toiletnya,, nanti belok kanan trus keliatan kok toiletnya dari situ “ katanya.
Akupun berjalan menuju WC dengan gaya kebelet, tetapi sebenarnya aku ingin melihat lihat rumahnya. Saat aku berjalan lalu belok ke kanan, aku melihat kesamping ada meja tua yang sudah rapuh, dan dibawahnya ada toples berisikan sarung tangan yang ada bercak darah, aku heran, tanpa buang waktu aku  langsung memfotonya dengan Handphone yang ku miliki.

lalu akupun langsung berjalan ke arah toilet. saat di toilet aku melihat ada handuk yang sangat mirip dengan milik tanteku, dan ternyata itu memang milik tanteku yang memiliki tanda di sudut handuknya agak rusak karena aku gigit saat tante memandikanku 5 taun yang lalu.

Akupun mencuci mukaku, lalu keluar dari kamar mandi. “ wiitss,,,  kaget.. “ kataku sepontan ketika melihat pak farhan sudah berada di balik pintu kamar mandi. “ ehh,, udah selesai,?”  Tanyanya padaku,  “huft, bikin kaget aja nih bapak,,  iya pak udah selesai..”  jawabku sambil menghela nafas panjang. “ bapak mau ke WC juga,? silahkan pak “ tanyaku sambil tersenyum palsu, “ oh  engga,,  bapak cuma mau pastiin Rey gk kesasar ke toiletnya “ jawabnya, “ ohh,,  enggak lah pak, masa kesasar sih,, kan udah gede,,.  oh iya pak rey sekalian pamit ya,,” kataku , “ oh yaudah silahkan,, “ jawabnya sambil merangkulku dan mengajakku ke luar.

Saat di perjalanan menuju pintu keluar, toples yang tadi kulihat sudah tidak ada, dan foto yang tadi ku lihat juga sudah tidak ada, hanya ada paku yang tadinya di pakai untuk menggantungkan bingkai fotonya saja.
Aku pun pamit dan pulang kerumah, saat pulang kerumah aku melihat ada sandal, sepertinya sandal wanita. Aku pun masuk kerumah dan melihat pamanku sedang berbincaang dengan seorang wanita kantoran, saat pamanku dan wanita itu menatapku aku langsung memasang wajah kesal ku.
“ Rey.. kenalin niih, namanya tante fitri….”  ujar pamanku, aku menghiraukan perkataan pamanku dan langsung menuju kamarku yang berada di atas .

Di kamarku, aku mulai mengumpulkan barang barang di hari meninggalnya tanteku, saat mengumpulkannya, aku mendengar perbincangan pamanku dengan wanita itu, mereka sedang membicarakan tentang rencana pernikahan mereka. aku kaget mendengar pammanku ingin menikah lagi, aku tidak setuju akan hal itu karena pamanku itu adalah pasangan tante Venna yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Di tengah kesibukanku mengunkap kematian tanteku aku berniat menggagalkan rencana pernikahan mereka.

Kurasa ada sesuatu yang janggal, aku heran saat melihat kembali foto-foto kematian tante venna karena posisi jasad tante vennna yang terlentang dengan posisi tangan di atas pisau, itu sepertinya ada yang menaruh tangannya di atas pisau karena kurasa tidak alami posisi tangan tergeletak seperti itu, dan tepat di atas tempat tertusuknya tante venna bajunya ada gores pisau yang sepertinya goresan dari pisau itu, juga saat ku perbesar gambar nya kulihat di kapet dan di sofa ada rambut yang rontok, . dan banyak hal yang janggal, akhirnya aku mendapat kesimpulan tentang kematian tante Venna itu bukan bunuh diri tetapi di bunuh.

Akupun langsung bersiap untuk menyampaikan hal ini ke polisi, tetapi sebelum berangkat aku melihat lubang kecil di lantai kamarku dan kulihat di bawah lubang kamarku ada wanita calon istri paman anton sedang asyik mengobrol, aku langsung saja menyiramkan air yang aku campurkan dengan debu dan bekas pensil yang di serut dan banyaknya sekitar satu gelas kearah lubang kecil itu, dan akhirnya wanita itu kebasahan karena air yang tumpah dari kamarku itu. Aku berharap semoga itu akan menjadi sebab gagalnya rencana pernikahan mereka.

Aku pun turun kebawah dan segera mengambil motor yang ada di garasi rumah ku. Kulihat dari luar rumah ,wanita itu berwajah kesal karena air yang turun itu membasahi dia, mungkin dia ingin berangkat bekerja.
Akupun tak menghiraukannya, langsung saja aku berangkat pergi. Sesampai di kantor polisi aku duduk di hadapan polisi yang sedang asyik merokok sambil bermain HP, hingga kedatanganku sepertinya tidak di hiraukan karena tubuhku yang terlalu kecil dan umurku yang masih 13 tahun. aku mulai berbicara “ pak, saya menemukan bukti kematian tante saya yang bernama Venna Raisa umur 37 tahun dan di nyatakan bunuh diri itu sebenarnya bukan bunuh diri pak, silahkan bapak cek kembali..” kataku dengan sedikit tergesah gesah, “ sebentar ya dek, saya cek dulu ,,,,  ohh itu,, kalau kasus itu sudah di tutup jadi mau itu pembunuhan atau bukan, itu sudah bukan tanggung jawab kami lagi dek,,  mengerti ? “ jawabnya dengan nada seakan akan tekperduli, “ tapi pak,  ini penting pak..!! ini akan diliput media pak dan reputasi bapak sebagai polisi pasti akan naik..!! ” kataku sambil meyakinkannya, “ aakhh,  itu tidak penting, yang penting itu dapet gaji,,!!  sudah pergi sana.. “ jawabnya sedikit marah, “ tapi pak.,,” ujuarku, akupun langsung di tarik keluar oleh penjaga.

dengan penuh penyesalan akupun pulang membawa penyesalan, meskipun begitu aku sudah punya gambaran, terbesit di benakku foto dan sarung tangan pak farhan.
Sesampainya di rumah aku langsung membayangkan kronologi pembunuhan itu, dan menuliskannya.
Seperti dugaanku, yang membunuh tante Venna itu adalah pak farhan, terlihat dari perkataannya “ kalau seandainya dulu dia memilih bapak,  mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya “ . dari situ aku menafsirkan perkataannya adalah membunuh karena tidak mendapatkan tanteku.

Saat itu pamanku memanggilku dari bawah, aku pun segera menuju tempat asal suara. Pamanku berkata “ Rey, om Anton mau ke jogja dulu, mau nyelesain kerjaan di sana sekalian mau ngelamar tante Fitri, makan diluar aja, uangnnya ada di atas meja, mungkin dua hari juga pulang. “ , “ hmm  iya om,, “ jawabku dengan nada standar. Aku memang tidak terlalu akrab dengan pamanku ini.

Om ku pun pergi, dan kini di rumah hanya ada aku, tanggung jawab rumah di berikan kepadaku.
keesokan harinya setelah pulang dari sekolah, aku berniat untuk mencari cara agar dapat menggagalkan rencana pernikahannya.

Akupun memasuki kamarnya, aku mulai membuka lemari dan laci-lacinya, aku mendapatkan surat-surat keterangan dirinya, dan mungkin ini akan menjadi penghalang bagi pamanku menikahi wanita itu, saat itu aku gemetar karena ini adalah pencurian yang aku lakukan pertamakali. karena terlalu bergetar hingga aku tersandung dan jatuh di loker dekat tempat tidur pamanku, lokernya pun terjatuh. akupun berdiri kembali dan segera memberdirikan lokernya kembali. Saat ingin memberdirikannya, aku melihat lantai yang berbeda tepat di mana loker seharusnya berdiri, lantai yang berbeda itu terbuat dari kayu, sedangkan seluruh rumah ini lantainya terbuat dari keramik.

aku pun mengetuk lantainya dengan penuh keheranan, “  tok,, tok,, “ begitulah bunyinya, itu artinya di bawah lantai kayu memiliki suatu yang kosong, aku bandingkan dengan keramik laingnnya ternyata bunyinya berbeda.
Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil linggis yang ada di halaman rumahku dan segera menghancurkannya, ternyata didalamnya terdapat ruang bawah tanah yang cukup luas. Selama 8 tahun aku tinggal di rumah ini, aku tidak pernah mengetahui adanya ruang baawah tanah ini.

Ruang bawah tanah ini sangatlah gelap dan sangat pengap karena tidak ada ventilasi di sini.
Akupun nekat masuk kedalamnya sambil memegang senter dari hp ku, aku tercengang ketika melihat handuk baju serta sarung tangan pamanku yang berlumuran darah di atas meja kecil dan disampingnya ada buku ,seperti buku catatan.
hp yang kugunakan sebagai senter kugigit hingga aku memiliki dua tangan yang lebih leluasa memegangang sesuatu, kuberjalan menuju buku itu lalu aku membukanya.

Dihalaman pertama tertulis  :  DAFTAR KORBANaku sangat heran, dengan rasa takut aku membuka halaman kedua, ternyata itu semua berisi daftar orang yang hilang dan Meninggal. sungguh aku tak bisa percaya bahwa pamanku adalah seorang pembunuh.
bahkan di halaman terakhir, tertera nama “ Venna Raisa ”,  aku tak bisa percaya kenyataan ini, dan disini terdapat rencana pembunuhannya yang sangat sama dengan kejadian aslinya. Dengan hati yang hancur, aku kembali ke atas dan menutupi ruang itu dengan loker.
Aku kembali kekamarku dan duduk sambil memikirkan apa yang baru saja kulihat.
Disampingku terdapat barang barang yang dari kemarin belum kubereskan, barang yang ada ketika di hari kematian tante Venna. Aku mengambil baju lama ku yang berada di sampingku dan menciumnya sambil menangisi tante Venna yang di bunuh oleh suaminya sendiri. tangisanku terhenti ketika kulihat noda darah di baju lamaku ini di bagian punggungnya, aku mencoba mengingat kembali apa yang aku lakukan saat itu.

aku ingat, ketika itu aku mengurung diri di toilet dan bersandar dibalik pintu toilet sambil menangisi kematian tanteku. dan orang yang berada di kamar mandi sebelumku adalah paman Anton. itu semakin memperkuat keyakinanku bahwa yang membunuh tante Venna adalah suaminya sendiri.
Kebencian mulai terkumpul di hatiku terhadap pamanku, hingga muncul dendam yang mendalam. barang barang di sekitarku menjadi korban dendamku . akupun berencana membalaskan dendam tenteku ke pamanku. dan I Must Kill Him…!!

kebesokannya aku mulai menyusun rencana pembunuhannya, aku sudah menyiapkan alat bius, dan tali tambang.  sekarang pukul 07.00 pagi, pamanku akan datang sebentar lagi. aku pun bersembunyi di balik pintu rumah dengan membawa suntik bius. “paman pulang..!!” teriak pamanku yang masuk membuka pintu tanpa mengetahui aku berada di belakangnya. dengan cepat tanpa ragu aku menusukan suntikannya ke lehernya. Akhirnya diapun pingsan, aku menyeretnya ke kamarnya, sebelum dia terbangun aku mengikatnya dengan tali tambang yang telah aku persiapkan.

ketika dia terbangun dia melihatku dan bertanya “ apa apaan ini Rey,,? “ tariaknya, “ kenapa om membunuh tante..? kenapaa…?!! dia istri om sendiri..!! ”  teriakku kepadanya. “ jadi kamu tau kalau om yang membunuhnya, hmm,,   itu karena tantemu selingkuh dengan tetangga kita jam 10 di malam tahun baru,.!! “ teriaknya,  “ tanpa menghiraukan kata katanya aku mulai memotong jari kakinya satu persatu. jeritan serta hinaan kuterima dari pamanku saat ini.
tanpa belas kasih, aku mendorongnya hingga jatuh keruang bawah tanah yang gelap, panas, serta pengap. lalu aku tutup dengan rapat hingga suaranya takterdengar lagi.
dan DENDAMKU TERBALASKAN.

Sebulan telah berlalu semua barang yang ada di rumah telah kujual untuk kehidupan sehari-hari. waktu demi waktu ku jalani sendiri, tanpa ada satu orangpun di rumah, aku mulai menyesali perbuatan hinaku, aku selalu duduk termenung di tempat kematian tanteku. dan menatapi pintu ruang bawah tanah tempat pamanku mati disana.  aku taklagi memiliki keluarga ataupun teman. kini aku sendiri bersama rasa takut dan penyesalan.

aku merasa aku sudah tak berarti di dunia ini, aku sudah muak akan ingaatan perbuatan hinaku ini, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, aku pun ingin mengakhiri hidupku yang sudah tak bermakna lagi.
aku segera membeli peledak seperti granat yang ukurannya sebesar kelingking, lalu akupun menelannya di rumah, dan “ Duaaaaaaarrr….” .

[Salahuddin Umar, santri jenjang SMA, Pesantren Media]

By Farid Ab

Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.