Loading

Badanku berguncang dengan hebat. Apakah terjadi gempa bumi? Ibu? Ayah? Kenapa tidak ada yang membangunkanku?

“Ibu..! Gempa bumi! Gempa, Ibu! Kita harus cepat keluar dari rumah!” Aku berlari sekuat mungkin dan,

Dug!

“Aduh,” Ucapku sambil mengusap dahiku. Hatiku masih resah. Kemana ibu dan ayah?

“Sila, sila..” Aku mencari asal suara itu. Mataku tertuju pada ibuku yang sedang duduk mengenakan mukena di atas kasurku.

“Ibu. Ayo keluar! Ada gempa, Bu!” Aku berdiri dan menarik ibuku dengan paksa keluar dari kamarku.

“Sila! Sila!” Ibu memanggil namaku. Kalau aku menanggapi panggilan ibuku, tidak akan ada waktu lagi untuk keluar dari rumah ini. Aku dan ibu akan terjebak runtuhan rumah ini. Kami akan mati di dalam rumah ini. Tidak. Aku harus cepat. Aku hari mencari ayah dengan segera. Di mana ayah?  Pasti di ruangan kerja. Kakiku  belari menuju ruangan kerja ayah. Tapi, tidak ada siapa-siapa.

“Ibu, ayah di mana?” Tanyaku kepada ibu sambil berlari menuju kamar ayah dan ibu.

“A..ada di ka..mar.” Kakiku semakin cepat berlari menuju kamar ayah dan ibu yang terletak jauh dari kamar kerja ayah.

“Ayah! Ayah! Ayah! ” Aku menggedor pintu coklat kayu itu. Ayah keluar, dengan kopiah yang masih terpasang di kepalanya.

“ Kenapa, Sila?” Tanpa menjawab pertanyaan ayah, aku langsung menarik tangan ayah dan ibu keluar dari rumah. Mataku menyusuri keadaan di sekitar rumahku. Tidak ada orang lain? Kemana perginya semua orang? Inikan lagi gempa.

“Hahahaha..hihihi” Tertawa?  Mengapa ayah dan ibu tertawa. Bukannya menangis malah tertawa. Aku membalikkan tubuhku mengarah ayah dan ibuku. Bingung. Apa yang sedang terjadi?

“Ada yang salah?” Tanyaku sambil berkacak pinggang. Ayah dan ibu masih tertawa dengan sepuasnya. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku.

“ Sila. Sila. Tidak terjadi gempa di sini, sayang.” Ucap ibu, sambil mengelus rambutku.

“Tapi, tadi tubuh Sila terguncang. Sila merasakannya Ayah. Sila yakin. Ayah percayakan?” Aku berusaha meyakinkan ayah.

“Iya, sayang. Ayah percaya.” Jawab Ayah. Huh, akhirnya ayah memepercayiku.

“Tapi, tadi yang mengguncangkan tubuh Sila itu Ibu, Ayah. Sila hanya bermimpi dan guncangan dari Ibu itu masuk dalam mimpi Sila.” Ayah hanya menganggukkan kepalanya.

“Jadi ayah percaya siapa?” Tanyaku. Ayah memang plinplan. Tadi percaya dengan aku sekarang ibu.

“Percaya sama bidadari kecil ini dong.” Kata Ayah sambil menyetil hidungku. Aku tersenyum bahagia.

“Ayah enggak usah masuk kamar.” Ibu pergi berlalu meninggalkan aku dan ayah. Ayah tertawa dengan sejadi-jadinya.

By Putri Aisyara

Saknah Reza Putri | Santriwati Pesantren MEDIA angkatan ke-2, kelas 3 SMP | Asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan | Twitter @PutriAisyara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *