Loading

P1010988

Malam itu setelah sholat isya, seluruh santri Pesantren Media diminta untuk berkumpul di pesantren. Katanya sih ada pemberitahuan sekaligus rencana buat ke puncak besok hari. Tak sabar rasanya, setelah sekian lama menunggu untuk rekreasi yang selanjutnya, akhirnya tak lama lagi kita akan rekreasi ke puncak.

Seperti biasa, Abi Umar selaku direktur Pesantren Media duduk di atas panggung yang dilapisi karpet warna merah. Beliau mengatakan, bahwa besok kita tidak hanya ke puncak. Tapi, sebelum ke puncak kita akan mengujungi Sempur, dan Bendungan Katulampa terlebih dahulu. Saya manyun seketika. “Ngapain pake acara ke Sempur segala? Toh yang diliat cuma aliran Sungai Ciliwung?” saya membatin. Tapi, penyesalan itu memang selalu datang terakhiran rupanya. Saya menyesal telah membatin seperti itu karena, ada tujuan mengapa kita tidak langsung menuju puncak. Yaitu, agar kita tau darimana sajakah aliran sungai itu. Dari situ tadi, saya baru paham kenapa Jakarta sering sekali terancam bahkan banjir. Ternyata karena sungai Ciliwung sangat kotor dan tidak enak untuk dipandang. Lalu pertanyaannya, apakah kita tinggal dia? Wess, itu tadi hanya perkataan anak bijak. Hahaha

Saya ingin malam ini berlalu dengan cepat, biarlah pagi segera hadir supaya saya bisa menikmati nikmatnya pagi. Wesss. Malam itu saya sangat malas mempersiapkan kebutuhan buat besok pagi. Yang penting, saya sudah bawa banyak makanan di dalam tas saya, untuk saya bawa besok hehehe.

Saya ngantuk, dan akhirnya tertidur.

Adzan Subuh berkumandang. Saya telah beres menyiapkan barang-barang saya dan siap-siap pergi ke masjid. Semua teman-teman sekamar saya juga sudah siap dengan barang-barang bawaan mereka dan sama seperti saya, mereka semua siap-siap pergi ke masjid.

Well, sangking semangatnya saya pergi ke puncak, sampai-sampai saya lupa bawa mukenah dan sajaddah ke masjid. Alhamdulillah saya pakai jilbab dan kerudung, jadi masih sah sholat. Lalu saya sholat dengan khusyuk. Wesss ceritanya alim.

Seperti biasa, selepas Sholat Subuh kita semua berkumpul di Masjid Nurul Iman untuk membaca dzikir pagi. Semua santri membaca dzikir pagi dengan mata yang mengantuk. Sebenarnya saya juga heran, kenapa setiap subuh ketika membaca dzikir pagi dan tafsir surah selalu mengantuk dan lemas? Itupun terjadi pada diri saya sendiri. Mohon adegan ini jangan disebarluaskan dan ditiru yaa J Kata Abi Umar, kalau ngantuk, “WUDHU! WUDHU!”

Jam masih menunjukkan pukul lima tepat. Tapi, ustad Rahmat sudah mempersilahkan kita pulang untuk mempersiapkan keberangkatan kita menuju akhirat. Waduh! Maksudnya menuju puncak. Jadi, yang biasanya jam enam baru kelar tafsir dan dzikir pagi, tapi sekarang jam lima udah kelar. Alhamdulillah enggak ngantuk lagi. Ups.

Sesampainya di pondokan, semua santri akhwat merapikan barang-barangnya karena Umi Latifah mau razia kamar. Jadi, kamar kita harus rapi dan besih. Hanya butuh waktu beberapa menit, pondokan akhwat bersih dan rapi. Saya sampai takjub melihatnya.

Kurang lebih jam enam, kita semua sarapan. Oh iya, kebetulan saya jadi ketua rombongan untuk yang ke dua kalinya. Namun kali ini, saya hanya mempunya 4 orang anggota. Yaitu, teh Ira, Holifah, Icha, dan The Novia. Sedangkan Teh Eneng, Rani, dan Maila, ikut di kelompok Kak Dini.

Setelah sarapan, saya, teh Ira, Rani, dan Maila piket mengantar baju ke pondokan Ikhwan. Oh iya, tadi setelah sarapan dan mengantar baju kotor ke pondokan ikhwan, saya minum antimo supaya enggak mabuk. Yaa, kalian tau sendirilah, bagaimana saya. Seorang pemabuk darat tulen. Wees lebay. Tapi ternyata, kita masih cukup lama berangkat. Jadi akhirnya, efek obatnya mulai terasa duluan. Saya benar-benar mengantuk. Mata saya berat, ingin sekali tidur rasanya. Namun, Abi Umar masih berbicara di atas panggung. Dan akhirnya saya terlelap beberapa menit.

“Via, bangun vi” suara Holifah cukup mengagetkan sekaligus membangunkan saya dari tidur singkat barusan. Akhirnya, tiba juga waktu berangkatnya.

Sekarang kuta berbicara tentang pembagian tempat di dalam dua mobil. Pertamanya, saya bersama satri akhwat SMA naik di AVANZA, dan santri akhwat dan ikhwan SMP serta santri Ikhwan SMA naik Panther. Tapi, karena kebetulan AVANZA tidak cukup lebar untuk sembilan orang penumpang, maka Teh Ira dipindah ke Panther. Tapi, mungkin karena Panther juga terlalu sesak, jadi saya ditukar dengan 3 orang sekaligus, Cylpa, Fathimah, dan Teh Ira. Saya juga jadi bingung. Ternyata badan saya selebar itu. Hehehe

Dan brum… Panther yang dikendarai oleh Musa, serta AVANZA yang dikendarai oleh Abi Umar melaju keluar komplek Lalaldon Permai.

Mata saya mulai mengantuk lagi, dan pada akhirnya saya tertidur pulas sekali. Jadi, saya tidak tau bagaimana perjalanannya.

Ketika saya terbangun, rupanya kita sudah sampai di sempur. Ada banyak orang yang sedang berolahraga di sana. Dari anak kecil hingga beberapa orang dewasa. Setelah turun dari mobil, kita semua mencar sesuai dengan kelompoknya. Saya dengan kelompok saya, Kak Dini dengan kelompoknya, dan Cylpa dengan kelompoknya. Oh iya, Cylpa adalah pemimpin rombongan SMP akhwat. kita mencari angel yang pas untuk memotret Sungai Ciliwung yang hari itu dangkal.

Sekitar sepuluh menit, kita berpencar. Lalu kemudian, kita semua diminta oleh Abi Umar untuk berkumpul di lapangan panjat tebing. Ternyata, kita mau dipotert oleh beliau. Abi umar memang suka iseng, masa kita disuruh pura-pura manjat tebing baru dipotret dari belakang?. Hahaha ada-ada saja.

Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Bendungan Katulampa. Seperti biasa, dalam perjalanan saya hanya tidur saja (efek Antimo hehehe).

Dalam perjalanan menuju bendungan, saya terbangun. Di kiri jalan ada sungai yang arusnya lumayan deras. “Nanti, bendungannya ada di kanan jalan” kata Abdullah tiba-tuba. Saya bingung. “Kok bisa di sebelah kanan? Kan sungainya di kiri? Sedangkan yang di kanan jalan cuma ada rumah-rumah warga.”  tanya saya kepada Abdullah. Dan kemudian, Panther mulai rebut dengan debat antara anak SMP dan Abdullah. Anak SMP berpendapat, bendungannya berada di kiri jalan, sedangkan Abdullah berpendapat di kanan jalan. Karena saya bingung, jadi saya berpendapat bahwa bendungannya berada di tengah. Dan akhirnya mereka diam semua.

Ternyata, dari semua pendapat, Abdullah-lah yang benar. Bendungan Katulampa ada di sebelah kanan jalan, sedangkan di kiri jalan tadi hanya sungai saja. Lalu, yang di tengah? Wallahu alam bishawab.

Lalu kita semua turun dari mobil dan berpencar sesuai regunya lagi. Dan, potret-potret lagi dong. Kan tugas -_-

Dua puluh menit berjalan cepat. Akhirnya, kita harus melanjutkan perjalanan lagi. Karena saya rasa, efek Antimo yang tadi saya minum sudah hilang. Maka saya minum lagi. Karena perjalanan menuju puncak, menyita waktu yang cukup lama. Sebelum efek Antimo mulai bekerja, saya membagikan perbekalan saya untuk seluruh penumpang dan supir Panther. Ternyata, ikhwan banyak juga ya kalau minta makanan orang. Hehe tapi ikhlas kok. Tenang ajaa.

Dan saya tidur lagi.

“Emang gini kalau dipuncak, ini namanya kabut”

“Ini hujan”

“Ini kabut”

Panther mulai bising kembali dan saya terbangunkan dari alam bawah sadar saya. Ini hujan.

Tiba-tiba hujan lumayan deras.

“Ini kabut?” tanyaku kepada salah satu anak SMP yang mengatakan bahwa itu tadi adalah kabut.

“Hehehe. Ini hujan teh…”

Cukup menggelitik perut saya.

SUBHANALLAH! Sebelumnya saya belum pernah melihat eksotika alam seindah ini. Jalan berliku-liku tadi terlihat begitu menyegarkan mata dihiasi dengan jutaan bahkan lebih pohon-pohon di kanan dan kiri jalan. Tak jauh dari situ, terhampar sebuah kebun teh yang lebaaaaar dan sangat rapi. Saya benar-benar takjub dengan ciptaan-Nya ini. Bagai permadani di kaki langit.

Mobil terparkir di halaman Masjid At-Taawun. Masjid yang luar biasa cantiknya. Begitu rindang dan sejuk. Nafsu saya untuk memoto dan difoto benar-benar tak tertahankan lagi. Ini benar-benar luar biasa dan baru kali ini saya menjumpai pemandangan yang seindah ini.

Lalu regu saya, saya minta untuk bersegera ke masjid At-Taawun untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Sesampainya di atas, lagi-lagi saya dicengangkan dengan masjid yang benar-benra menawan dan pemandangan yang bisa saya lihat dengan mata terlanjang. Hamparan permadani berwarna hijau muda begitu serasi dengan tetasan-tetesan hujan yang cantik. Maha Besar diri-Mu ya Rabb.

Sebelum memasuki kawasan masjid At-Taawun, kita harus menitipkan sendak di penitipan sendal. Dan untuk kesekian kalinya, saya dibuat menganga. “Apa ini? Banjir?” tanyaku dalam hati. Dan ternyata saya salah. Bagian tangga menuju ke masjid itu memang dibuat sebagai aliran air. Hmm, bisa dibilang seperti kolam panjang. Dan untuk melewatinya, kita harus menggulung celana kita serta membuka kaos kaki. Dan byurr, hawa dingin seketika menggigit kaki saya yang tiba-tiba saja pucat.

Oh iya, hampir saja lupa. Ketika di areal parker masjid At-Taawun tadi saya beli dua tenteng mochi. Harga satu tentengnya sepeluh ribu dan saya beli dua tenteng.

Lanjut lagi. Setelah disambut dengan air dingin di tangga Masjid tadi. Saya dan santri akhwat  lain berwudhu di tempat wudhu perempuan. Currr, air dingin khas pegunungan keluar dari keran dan segera membasahi beberpaa bagian tubuh saya. Segerrrr.

Untuk makmum perempuan, tempat sholatnya di tingkat dua. Sedangkan di tigkat bawah adalah tempat sholat laki-laki. Selepas sholat Dzuhur berjamaah, kita makan siang di areal masjid. Terdapat tulisan “Terimakasih utnuk tidak makan di tempat ini”. Saya tertawa mellihatnya, karena saya makan tepat di depan tulisan itu. Yah, apa boleh buat daripada makan di luar. Bakalan basah kuyup terkena hujan. Makan siang kali itu benar-benar special, karena kita disuguhi pemandangan yang mempesona mata siapa saja yang meihatnya.

Setelah makan siang bersama dengan lauk ayam enak, kita diminta untuk berkumpul karena Abi Umar ingin mengevaluasi kita. Setelah itu, regu saya dan beberapa anggota regu lain makan jagung bakar yang dijual tak jauh dari masjid.

“Via, coba kamu ngomong vi” kata Holifah tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Ih, mulut kamu ada asapnya tuh!”

“Hah iya?”

“Iya tau!”

Saya senang sekali hingga mengulang-ulangnya berkali-kali. Akhirnya saya bisa ke ‘Eropa’ karena bisa mengeluarkan asap dari mulut saya. Di tempat ini banyak sekali inspirasi yang memenuhi otak saya.

12-12-12 saya ke ‘Eropa’ [Noviani Gendaga, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature, di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

By Administrator

Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Kp Tajur RT 05/04, Desa Pamegarsari, Kec. Parung, Kab. Bogor 16330 | Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA | IG @PesantrenMedia | Channel Youtube https://youtube.com/user/pesantrenmedia

2 thoughts on “12-12-12 Saya ke ‘Eropa’”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *