Loading

Komitmen itu, secara sederhana adalah tanggung jawab. Bisa juga berarti keterikatan untuk melakukan sesuatu. Maka, jika membaca judul ini, harus dipahami sebagai: tanggung jawab untuk berkarya. Bisa juga perjanjian untuk berkarya. Bagi santri Pesantren Media, komitmen untuk berkarya sudah sering diikrarkan, setidaknya, setiap hari Senin saat briefing alias taklimat pekanan. Ikrar Santri terkait berkarya, ada di poin ke-9 alias poin terakhir: Berkarya untuk kemaslahatan umat.

Ya, kami biasa melakukan briefing, yakni pertemuan atau rapat yang diadakan untuk menyampaikan informasi tentang isu atau situasi mutakhir. Agenda utamanya penyampaian informasi kegiatan di pekan tersebut, juga mengevaluasi kegiatan sepekan yang lalu. Ditambah, ada nasihat khusus yang dikemas pendek untuk para santri. Biasanya, ‘pesanan’ dari para guru, bagian dapur, orang tua santri, dan juga dari saya. Kami memiliki beberapa grup WhatsApp, di antaranya: guru dan pengurus yang mukim di pondok; guru-guru Pesantren Media, dan Orang tua/Wali Santri. Setidaknya ada tiga grup WhatsApp. Bahan untuk briefing pekanan dari ketiga grup tersebut. Salah satu yang menjadi perbincangan sesuai judul tulisan ini, adalah “karya santri”.

Ya, santri Pesantren Media insya Allah sudah memahami bagaimana berkarya dengan ilmu dan keterampilan yang sudah dimiliki. Setiap pekan ada tugas khusus dari pondok yang wajib dikerjakan: tulisan, desain grafis, dan fotografi. Selain itu, tentu dari guru mapel lainnya, terutama mapel keterampilan teknik media. Masuk menjadi santri Pesantren Media, sudah harus berkomitmen untuk berkarya. Jika tidak mau atau malas berkarya, nah ini perlu diperbaiki lagi komitmennya.

Berkarya, tentu saja, di masa belajar tak mesti langsung jadi bagus hasilnya. Pasti ada prosesnya. Bertahap. Pelan-pelan, yang penting tetap jalan, tetap berkarya. Ya, terus saja berkarya karena yang dituntut adalah komitmen dalam berkarya, bukan hasilnya. Insya Allah, suatu saat, seiring perjalanan waktu dan banyaknya karya yang dihasilkan, akan terasah kemampuan yang lebih baik dalam berkarya.

Namun, dalam berkarya tetap harus punya target dan tujuan. Mengapa? Sesuai dengan Ikrar Santri Pesantren Media pada poin terakhir tersebut, yakni berkarya untuk kemaslahatan umat. Jadi, tujuan berkarya itu untuk kebaikan umat. Artinya, karya tersebut bagian dari dakwah. Kebaikannya, untuk kita dan orang lain. Itu sebabnya, para santri Pesantren Media harus semangat dalam berkarya dan punya target untuk semakin baik dari tugas ke tugas berikutnya. Ilmu (tsaqafah Islam) yang didapat setiap hari juga diupayakan diamalkan dalam bentuk karya dakwah dengan memanfaatkan media penyampai pesan dari beragam teknik media yang sudah dipelajari: menulis, desain grafis, fotografi, videografi, public speaking, website, dan pemrograman radio, serta keterampilan lainnya.

Insya Allah kami sering mengingatkan para santri, bahwa dalam berkarya itu mesti dipahami juga sebagai ladang amal shalih. Artinya, selain karya harus bermanfaat, juga ada nilai ibadahnya. Ada pesan dakwahnya. Semoga amal shalih ini memberikan dorongan kuat untuk terus berkarya.

Amal shalih, adalah amal kebaikan. Menurut Ibnu Faris dalam Mu’jamu Maqayisul Lughah, amal adalah semua pekerjaan yang dilakukan. Shalih, diartikan lawan dari kerusakan. Jadi, amal shalih ini, perbuatan atau pekerjaan untuk kebaikan. Singkatnya begitu.

Jadi, perbuatan baik itu adalah amal shalih. Syaikh Abdurrahman as Sa’diy rahimahullah dalam Taisiru Karimir Rahman mengatakan, “Amalan yang baik dinamakan amal shalih karena dengan sebab amal shalih keadaan urusan dunia dan akhirat seorang hamba Allah akan menjadi baik dan akan hilang seluruh keadaan-keadaannya yang rusak. Dengan amalan yang baik tersebut seseorang akan termasuk golongan orang yang shalih yang pantas bersanding dengan Allah Yang Maha Pengasih di dalam surga-Nya”

Yuk, para santri Pesantren Media, beramal baiklah dengan karya. Itu sebabnya, manfaatkan waktu luang selama di pondok, waktu sehat untuk belajar, juga waktu muda kalian karena jelas berbeda jauh usianya dengan guru kalian. Insya Allah bisa, ya! Jangan sampai menyesal di kemudian hari gara-gara tidak memanfaatkan dengan benar dan baik kesempatan-kesempatan tersebut.

Ada nasihat bagus terkait hal ini. Imam al-Munawi rahimahullah mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat, masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (dalam at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shagir, jilid 1, hlm. 356)

Semoga kita semua dimudahkan untuk komitmen dalam berkarya sebagai bagian dari amal shalih kita. Agar kelak di akhirat kita mendapatkan balasan terbaik, yakni surga-Nya Allah Ta’ala. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *