Loading

Membuka tulisan ini, langsung saja dihadirkan firman Allah Ta’ala.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka berusaha mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Menurut Imam Ibnu Katsir (nama lengkap beliau: Ismail bin Umar al-Quraisyi bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi) rahimahullah dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini. Beliau mengutip Ibnu Abu Hatim yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, dari Asy’as, dari Jahm, dari Ibrahim yang mengatakan bahwa Allah pernah memerintahkan kepada salah seorang nabi dari kalangan kaum Bani Israil, “Hendaklah kamu katakan kepada kaummu bahwa tidak ada suatu penduduk kota pun —dan tidak ada penghuni suatu ahli bait pun— yang tadinya berada dalam ketaatan kepada Allah, lalu mereka berpaling dari ketaatan dan mengerjakan maksiat kepada Allah, melainkan Allah memalingkan dari mereka hal-hal yang mereka sukai, kemudian menggantikannya dengan hal-hal yang tidak mereka sukai.”

Selanjutnya Jahm ibnu Ibrahim mengatakan bahwa bukti kebenaran ini dalam Kitabullah (al-Quran) ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Nah, jika disederhanakan pembahasannya, perubahan ini bisa terjadi dari baik menjadi buruk. Perubahan tersebut disebabkan karena kedurhakaan mereka kepada Allah, atau disebabkan karena maksiat kepada Allah. Padahal, sudah ada ancaman juga, jika berubah dari taat menjadi durhaka, maka Allah akan memalingkan dari apa yang mereka sukai kepada hal-hal yang tidak mereka sukai. Ini sebagai konsekuensi atas perbuatannya.

Lalu, apakah ayat ini bisa diterapkan pada kondisi sebaliknya? Maksudnya, dari buruk menjadi baik, juga melibatkan kaum tersebut. Allahu a’lam. Mungkin yang dimaksud misalnya saat ini durhaka dan banyak maksiat, lalu jika ingin menjadi orang yang bertakwa atau taat, konsekuensinya harus berusaha sekuat kemampuannya untuk mengubah dirinya jadi takwa. Itu artinya, memang ada peran dari kita sebagai manusia. Tidak serta merta begitu saja berubah. Ada upaya. Selain tentunya yang utama, niat yang ikhlas.

Ini seperti kondisi seseorang ingin mengubah karakter buruknya jadi karakter baik, tentu perlu upaya maksimal dari diri orang tersebut dengan niat kuat untuk berubah jadi baik. Jika tidak, maka nasihat dan motivasi dari orang lain–berapa pun jumlahnya–rasanya tidak mempan. Apalagi jika dinasihati dan dimotivasi sudah menutup mata dan telinga karena kesombongannya. Sulit.

Itu sebabnya, ini cukup sering saya sampaikan kepada para santri Pesantren Media, bahwa keberadaan mereka di pondok insya Allah sudah bagus dalam hal pengawasan, bimbingan, dan pembinaan agar menjadi muslim yang baik. Memang tidak sampai seratus persen untuk melakukan itu semua. Namun, kondisi yang baik atau ideal itu tidak langsung bisa mengubah jika tak ada niat kuat dari para santri untuk berubah menjadi baik. Jadi, perlu ada niat dan proses. Sehingga, rasa-rasanya tiga atau enam tahun di pondok jadi seperti lewat begitu saja jika tak ada niat dan usaha untuk berubah jadi baik. Tak ada bekasnya sama sekali. Sayang sekali, bukan?

Misalnya ya, cara bicara, sikap, dan gestur tubuh bisa menjadi ukuran seorang santri apakah dia berhasil atau tidak dalam adab yang sudah dipelajari dan dipraktikkannya selama di pondok. Jika kata-kata yang keluar (langsung atau lewat barisan kata di media sosial) masih kasar dan tetap ada caci maki dan celaan, sikap yang sombong, gestur tubuh yang menyebalkan, berarti belum nempel tuh materi adabnya. Masih dikuasai hawa nafsu, dan umumnya nafsu buruk adalah dari setan. Artinya, masih dikuasai setan. Jika itu terjadi, karena bisa saja memang menimpa siapa pun, maka segera istighfar. Jika terus berulang meski sudah menyadari kesalahan, segera muhasabah diri, apa penyebabnya. Lalu upayakan untuk memperbaikinya.

Mengapa harus bertaubat dan introspeksi? Ya, karena orang yang beriman, ketika dia lalai, dia akan segera bermuhasabah alias mawas diri alias introspeksi. Dia harus muhasabah mengapa bisa terus berbuat seperti itu. Apa yang salah dalam dirinya dsb. Namun, yang celaka adalah: jangankan introspeksi, yang terjadi dia akan menyalahkan orang lain, merasa dia sendiri yang benar, dan tak pernah menyesal bahwa yang dilakukannya salah. Ini bahaya besar. Agak sulit untuk berubah. Jika merasa demikian, kondisi yang seperti ini masih butuh pendampingan sampai pikiran dan perasaannya stabil dengan apa yang dipahaminya.

Lalu bagaimana supaya kita bisa tetap menjadi baik? Teruslah beramal shalih dan rajin muhasabah diri. Kita diperintahkan beramal kontinu atau rutin walau perlahan-lahan. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Hanzhalah, di mana Hanzhalah salah seorang sahabat yang menjadi juru tulis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beramal yang kontinu walau sedikit ini adalah amalan yang paling disukai Allah. Juga kisah Hanzhalah berikut mengajarkan pada kita untuk rajin-rajin muhasabah atau introspeksi diri.

 عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ – وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ – لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا. فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا ذَاكَ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Hanzholah al-Usayyidiy -beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR Muslim no. 2750)

Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Seorang guru ngaji saya pernah menyampaikan ketika membahas tentang sebuah hadits bahwa iman bisa bertambah dengan ketaatan yang kita lakukan. Sementara iman bisa berkurang ketika kita berbuat maksiat.

Para santri di Pesantren Media, baik pada saat briefing pekanan atau pada salah satu sesi pembelajaran akidah, adab, atau nasfiyah, sering diminta untuk inrospeksi (muhasabah). Apakah di hari ini lebih banyak taat atau maksiat kepada Allah. Semoga menjadi wasilah mengantarkan mereka menjadi lebih baik.

Sebagai penutup tulisan ini, ada hadits yang menarik terkait bagaimana memperbarui iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ. قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Perbarui iman kalian” Lalu ditanyakan, “Ya Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami?” Beliau pun menjawab, “Perbanyaklah ucapan Laa ilaha illallah.” (HR Ahmad dan Hakim dalam ‘Al Mustadrak ‘ala Shahihain)

Yuk para santri, jika kita merasa belum baik, maka segera berubah menjadi baik. Saya dan para guru lain, sekadar memberi nasihat, membimbing, membina, memotivasi serta menerapkan aturan dan sanksi (jika diperlukan). Semua dilakukan agar kalian lebih baik. Namun, bila tak ada upaya sedikit pun dari kalian untuk menjadi lebih baik, rasanya sulit untuk berubah. Semoga tidak demikian, ya. Saya mendoakan agar kita semua (para guru dan para santri) senantiasa dimudahkan untuk berbuat kebaikan, menyemai amal shalih, dan senantiasa menjaga adab dalam keseharian. Yuk, sama-sama berdoa dan ikhtiar terbaik. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *