113 total views,  2 views today

Alhamdulillah, kemarin tanggal 22 April 2020, kami melepas santri tingkat akhir, setelah ditempa selama 3 tahun di pondok. Disiapkan akidahnya, ibadahnya, pengetahuan fikihnya, adabnya, tahfidz al-Quran dan beragam tsaqafah Islam lainnya, serta keterampilan teknik media. Sejak hari itu, kami menitipkan pesan kepada para lulusan: perjuangan baru saja dimulai!

Ya, selama tiga tahun ini adalah tahap persiapan. Memperbaiki adab yang berdampak pada karakter baik seorang muslim, menyiapkan kemandirian, membiasakan disiplin, dan mencintai ilmu. Selama itu adalah persiapan. Maka, jika ada kesalahan langsung ditegur dan diperbaiki. Jika malas beribadah atau menunda-nunda waktu shalat, akan dinasihati dan ditegur. Terus menerus sepanjang tiga tahun (kecuali saat liburan di rumah), akan dibina, diingatkan, ditegur, dinasihati, bahkan tak jarang jika sudah keterlaluan akan diberikan sanksi. Sanksi pun dengan tujuan mendidik. Bukan menyakiti.

Meski ada sedikit was-was (sebagaimana pada catatan sebelumnya), namun siap atau tidak siap, memang sudah harus turun ke gelanggang. Membuktikan adab dan ilmu yang sudah ditempa dan didapat selama tiga tahun ini. Baik atau buruk yang dilakukan, pada diri kalian akan tersemat terus sebagai lulusan pondok ini. Maka, pesan saya dan para guru lainnya pada saat acara perpisahan kemarin adalah soal akidah, adab, dan ibadah. Kebiasaan baik selama di pondok harus dipraktikkan di masyarakat meski tak ada lagi yang mengontrol atau mengingatkan. Tiga hal itu kami anggap berat, sehingga tidak boleh main-main. Insya Allah kami tidak khawatir tentang keterampilan teknik media yang sudah didapat, itu lebih dari cukup untuk dimanfaatkan. Hanya saja, keterampilan itu harus dimanfaatkan selaras dengan akidah, adab, dan ibadah. Intinya, tidak digunakan untuk keburukan. Naudzubillahi min dzalik.

Ya, jaga akidah, perbaiki terus adab, dan rutinkan ibadah agar hidup berkah. Kami tak lagi bisa mengontrol dan menegur serta manasihati kalian. Kalian harus sudah siap di tengah masyarakat yang mungkin saja tidak peduli. Sebab, orang lain mungkin tak semua bisa (atau mau) menegur dan menasihati. Umumnya mereka hanya akan melihat dan menilai. Itulah sebabnya, mengapa beban itu jadi berat. Apalagi jika kemudian merembet kepada sematan nama pondok, nama guru, bahkan nama Islam dan kaum muslimin secara umum.

Jadi, memang harus waspada. Semoga sedikit kekhawatiran dan pesan terkait jati diri sebagai muslim dari kami para guru menjadi pesan yang selalu diingat para lulusan. Semoga kabar baik saja yang selalu akan kami dengar. Kalian harus siap terjun di tengah masyarakat. Membawa pesan Islam. Menempel label pondok, guru, orang tua, Islam, dan bahkan kaum muslimin secara umum. Maka, senantiasa berbuat kebaikan dan sebarkan kebaikan dengan ilmu yang sudah diraih.

Semoga kalian, para lulusan, tetap istiqomah. Berat memang, karena yang ringan itu istirahat. Namun, pahala besar menanti jika kita istiqomah dalam kebenaran Islam. Fokus pada tujuan menggapai surga. Tidak goyah meski banyak godaan dan rintangan untuk menuju kebaikan.

istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hambali. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hlm. 246, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H)

Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS Fushshilat [41]: 30)

Menurut para ahli tafsir, ada tiga pendapat terkait pengertian istiqomah. Pertama, istiqomah di atas tauhid, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakr ash-Shidiq radhiallahu a’nhu dan Mujahid. Kedua, istiqomah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, al-Hasan dan Qotadah. Ketiga, istiqomah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput, sebagaimana dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan as-Sudi (Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, jilid 5, hlm. 304). Sebenarnya istiqomah bisa mencakup tiga tafsiran ini karena semuanya tidak saling bertentangan.

Semoga ilmu yang didapat bermanfaat. Kini, akhirnya kami harus mengembalikan pembinaan dan pendidikan kepada para orang tua masing-masing. Semoga ada bekas kebaikan yang didapat dan tetap dilaksanakan sampai akhir hayat. Jika masih ada kekurangan dari karakter dan adab para lulusan, semoga tidak fatal. Kami mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Sebab, membina manusia bukan pekerjaan mudah. Insya Allah ikhtiar para orang tua yang bekerjasama dengan kami untuk mendidik putra-putrinya, mendapat ganjaran pahala yang besar dari Allah Ta’ala. Insya Allah. Aamiin.

Selamat berjuang bagi para santri yang lulus tahun ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi kalian. Tetaplah menjaga akidah, ibadah, adab, dan manfaatkan ilmu yang didapat demi kemaslahatan umat. Semangat!

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *