84 total views,  1 views today

Bulan April ini, adalah bulan terakhir santri tingkat akhir berada di pondok. Sejak awal tahun ini sudah menyiapkan beragam rencana dan kegiatan, termasuk untuk ujian akhir. Namun, awal Maret kemarin sebagian besar kegiatan dan rencana berubah dampak dari ditetapkannya negeri ini sebagai wilayah yang terpapar Coronavirus. Acara rihlah yang digabungkan dengan perpisahan, rencananya akan dilaksanakan pada 30-31 Maret 2020 di sebuah vila di kawasan Puncak. Namun, harus merelakan dibatalkan meski sudah membayar uang muka (dan itu tak kembali uangnya). Pelaksanaan ujian akhir dengan pihak PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang menyelenggarakan Program Paket B dan Paket C, dari diundur sampai melaksanakannya secara online.

Meski demikian, semoga para santri tetap sabar dan mengambil pelajaran dari kondisi ini. Akhirnya, kami memutuskan insya Allah akan melaksanakan acara Perpisahan Santri Tingkat Akhir di pondok saja, pada pekan depan, tepatnya tanggal 22 April 2020. Walau tempatnya hanya di pondok, semoga santri tetap bahagia dan semangat.

Pekan ini, adalah persiapan terakhir santri tingkat akhir untuk Ujian Tasmi’ Tahfidz al-Quran. Semoga mendapatkan hasil terbaik. Dan, yang terpenting, menjaga hafalannya dengan amal shalih (mengamalkan isi kandungan al-Quran dalam kehidupan sehari-hari). Insya Allah.

Tak terasa memang. Tahu-tahu santri yang masuk tahun 2017 ini sudah akan meninggalkan pondok. Bagi kami, rasanya baru kemarin “serah-terima” dari orang tua mereka. Menitipkan kepada kami, setidaknya dalam tiga hal: pendidikan, hajat hidupnya (makan dan minum), serta memberikan tempat berlindung dari hujan dan panas (asrama). Tugas berat semua pondok memang tiga hal itu. Mungkin, bagi sekolah biasa (bukan boarding atau bukan pesantren), pihak sekolah hanya fokus pada urusan pendidikan saja. Sementara untuk tempat tinggal dan makan para siswa disediakan oleh orang tuanya masing-masing di rumah.

Itu sebabnya, bagi kami, mendapatkan titipan santri dari orang tua mereka, adalah amanah yang berat. Namun, insya Allah dengan senang hati kami ingin berbagi ilmu dan pengalaman, semoga bisa mendidik dan membina para santri dengan pendidikan dan pembinaan sebaik mungkin. Insya Allah. Maka, para santri yang belajar di pondok ini jadi seperti anak kami sendiri. Harus diperhatikan banyak hal: makannya, kesehatannya, perilakunya, adabnya, pembelajarannya, dan banyak hal lainnya.

Semoga para santri tingkat akhir di hari-hari terakhir keberadaan mereka di pondok, bisa menyiapkan mental dan ilmu agar lebih matang dan mantap ketika terjun di masyarakat. Tiga tahun memang bukan waktu yang lama, tetapi semoga ada adab dan ilmu yang nyangkut di pikiran dan jiwa. Insya Allah kami tidak khawatir untuk keterampilan yang sudah dimiliki. Beberapa santri memang sudah membuktikan mampu memiliki keterampilan bidang media di atas rata-rata santri lainnya, bahkan sudah dibuktikan di event-event tertentu di luar pondok.

Namun, sebagaimana sering kami sampaikan di berbagai kesempatan untuk terus mengingatkan para santri, yang masih sedikit was-was adalah dalam perkara ibadah. Tilawah al-Quran, shalat sunnah, shalat fardhu di masjid (bagi santri laki-laki), dzikir pagi dan petang, dan kebiasaan baik lainnya di pondok, kami agak khawatir akan memudar atau bahkan hilang saat lepas dari pondok. Semoga tidak, ya.

Maka, mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala. Berdoa agar dikuatkan dalam ibadah dan melaksanakan amal shalih lainnya. Sayang, waktu tiga tahun di pondok jadi sia-sia jika tak ada bekasnya, khususnya dalam ibadah kepada Allah Ta’ala dan ketaatan dalam pelaksanaan syariat-Nya.

Dalam Kitab Riyadhus Shalihan, karya Imam Nawawi rahimahullah, disebutkan hadits sbb.:

وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، أَخَذَ بِيَدِهِ ، وَقَالَ :(( يَا مُعَاذُ ، وَاللهِ إنِّي لَأُحِبُّكَ )) فَقَالَ : (( أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ .

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan beliau berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.” Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat, ‘ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).’” (HR Abu Daud dan an-Nasa’i)

Semoga kita semua, termasuk para santri tingkat akhir dalam pembahasan tulisan ini, bisa mengamalkan doa ini. Doa memohon diberikan kekuatan dan kemudahan agar senantiasa bisa berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada Allah Ta’ala. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *