161 total views,  1 views today

Seorang santri, dalam kesempatan konseling (pemberian bimbingan) dari guru yang ditugaskan pondok untuk keperluan tersebut menyampaikan bahwa ia kesulitan mencari teman yang perhatian kepadanya. Intinya, ia anggap teman yang baik adalah teman yang memberikan perhatian kepadanya. Enak diajak ngobrol, asyik diajak nongkrong. Kira-kira begitu dalam bahasa santri yang memang masih remaja ini. Dan menurutnya, itu susah dicari.

Saya juga sempat ngobrol langsung dengan santri tersebut. Dia cerita banyak bahwa di sini kesulitan mencari teman yang baik. Hal yang wajar awalnya, mengingat ia santri baru. Memang butuh waktu untuk adaptasi dengan kehidupan yang baru. Bahkan bagi santri yang sebelumnya pernah mondok, adaptasi lingkungan baru tetap diperlukan. Waktu adaptasi pada setiap santri berbeda-beda, tergantung kesiapan mental dan cara berpikirnya. Ada yang cepat, hanya butuh waktu sepekan atau sebulan. Ada pula yang hingga satu semester belum juga bisa adaptasi.

Persoalan teman, bagi remaja memang seringkali menjadi hal rumit. Saya di pondok mengampu mapel Problem Anak Muda sejak pesantren ini berdiri hingga sekarang. Mapel ini diberikan khusus bagi santri baru (termasuk santri pindahan). Tujuannya, untuk menghadirkan realitas gaya hidup remaja yang ada saat ini untuk dilihat dan dikritisi serta diberikan solusinya menurut ajaran Islam.

Bagi saya, ada keseruan tersendiri mendampingi remaja yang baru baligh (SMP) dan remaja yang sudah memiliki karakter tertentu (jenjang SMA). Tanggung jawabnya memang berat. Sebab, saya harus memperbaiki cara pandang mereka terhadap kehidupan. Nah, terkait masalah pertemanan, saya sering menyampaikannya di berbagai kesempatan. Kebetulan saya tinggal di pondok, jadi hampir setiap hari bisa bertemu dengan santri. Kadang, saya menanyakan ke guru, kadang ke wali asrama, bahkan tak jarang ngobrol langsung dengan santri (tentu santri laki-laki).

Di Pesantren Media, ada briefing mingguan. Hari Senin bakda pelajaran Tahfidz al-Quran dan melakukan dzikir pagi. Pada kesempatan briefing itu, selain menginformasikan agenda selama sepekan ke depan dan pemberian tugas-tugas pekanan, saya selalu menyisipkan nasihat. Apalagi pada setiap briefing pun santri diharuskan membaca Ikrar Santri Pesantren Media. Nasihat biasanya dimulai dari poin-poin yang ada di janji santri tersebut. Khusus tentang pergaulan dan pertemanan, ada di poin 5 dan 6: Santun dalam perkataan, sopan dalam sikap; Menghargai teman dan saling menolong.

Jadi, mencari teman baik itu memang sulit. Itu sebabnya, sebelum mencari teman yang diidamkan, kita sendiri harus berusaha menjadi baik. Supaya apa? Supaya teman yang menurut kita baik itu, juga mau berteman dengan kita karena menurutnya kita baik. Jangan egois. Hanya menuntut seorang teman harus baik kepada kita, sementara kita tak bersikap baik kepadanya.

Ukuran baiknya bagaimana? Tentu menurut ajaran Islam, ya. Sebab, kita sebagai muslim. Jadi, teman yang baik itu yang akhlaknya baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344)

Imam al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah al-Ahwadzi, jilid 7, hlm. 94)

Nah, persoalannya sekarang, ternyata cukup banyak remaja muslim yang justru merasa nyaman berteman dengan orang yang akhlaknya buruk. Ketika ditanya, mengapa berteman dengannya padahal akhlaknya buruk? Ada remaja yang menjawab, “yang penting dia baik sama saya. Ngertiin saya. Perihal perilaku buruknya, itu urusan dia. Bukan urusan saya. Intinya dia baik karena peduli dengan saya.”

Nasihat saya untuk remaja yang berpikir demikian, biasanya saya sampaikan tentang sikap teman yang baik kepada temannya. Mendiamkan keburukan yang dilakukan teman, apalagi kita anggap itu teman baik, justru kita bukan teman baik baginya. Mestinya teman baik itu menolong, bukan membiarkan tersesat. Mestinya teman yang baik itu mengajak ke surga, bukan membiarkan temannya jauh dari surga. Jangan berpikir egois dengan mengatakan, “yang penting dia peduli sama saya walau dia berperilaku buruk.” Tidak demikian. Ajaklah dia menjadi baik juga. Jika membiarkan, berarti kita tak ada bedanya dengan dia dalam pandangan orang lain yang melihat kita berteman dengannya.

Jadi, berusahalah untuk menjadi baik dan carilah teman yang baik agar bisa langgeng persahabatannya hingga ke surga. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *