147 total views,  2 views today

Di Pesantren Media, kami memiliki cara tersendiri untuk memperbaiki fokus para santri bakda liburan panjang. Ya, biasanya selama di pondok, mereka hanya terpapar layar smartphone seminggu sekali. Itu pun berbatas waktu, durasinya tak sampai setengah hari, dan tentu saja dalam pengawasan wali asrama. Namun di rumah, saat liburan panjang akhir semester ganjil, hampir 15 hari mereka di rumah. Bisa jadi setiap hari ‘berpelukan’ mesra dengan smartphone.

Itu sebabnya, begitu kembali ke pondok, kami harus me-recovery fokus para santri agar siap mengikuti pembelajaran. Ikhtiar recovery kami gelar pada tanggal 4-6 Januari 2020. Program tersebut kami beri nama: “Pengkondisian Santri Bakda Liburan”, dengan muatan utama Tilawah al-Quran. Dalam tiga hari ada 10 sesi. Selain tilawah al-Quran juga santri mengikuti Kajian Nafsiyah dan Kisah Tabi’in, juga materi rileks pembelajaran interaktif melalui tayangan video seputar keutamaan menuntut ilmu dan ibadah.

Ini adalah bagian dari ikhtiar kami untuk memperbaiki kebiasaan para santri yang sudah dibentuk di pondok, lalu liburan di rumah, dan ketika kembali ke pondok perlu penyesuaian kebiasaan lagi. Nah, insya Allah dengan tilawah al-Quran fokus mereka untuk ibadah dan belajar diharapkan lebih siap. Mengapa? Karena membaca al-Quran membutuhkan konsentrasi dan daya tahan. Mata, khususnya. Secara bertahap insya Allah dengan membaca al-Quran, selain belajar untuk fokus, juga mendapatkan pahala.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih al-Jami’, no. 6469)

Al-Quran sungguh bisa menghilangkan penyakit (hati) yang dapat mengantarkan pada keinginan-keinginan jelek (rusak/buruk) hingga baiklah hati. Keinginannya menjadi baik dan berpotensi kembali pada fithrahnya yang telah ditabiatkan untuknya sebagaimana badan kembali pada tabiatnya. Maka, ketika membaca al-Quran, diharapkan kebiasaan buruk selama di rumah, semisal terlalu banyak menonton acara televisi, bermain game di smartphone atau laptop, maka kondisi hati akan kembali pada tabiatnya, yakni kebaikan. Insya Allah, Tilawah al-Quran menjadi obatnya.

Semoga ikhtiar ini menjadi jalan kebaikan. Memang tidak mudah, karena ada saja santri yang berguguran tumbang pada beberapa sesi Tilawah al-Quran, terutama yang siang hari. Tapi alhamdulillah banyak juga yang tetap fokus dan bertahan membaca al-Quran sampai batas waktu yang ditentukan di setiap sesi tilawah. Kami menganalisis, bahwa berat atau ringannya paparan gawai (gadget) saat di rumah, maka akan berpengaruh pada daya tahan ketika membaca al-Quran. Jadi, jika daya tahan dan fokus pada saat membaca al-Quran lemah, berarti paparan dari gadget saat di rumah cukup tinggi.

Semoga dengan penyiapan pengkondisian para santri melalui tilawah al-Quran sebelum kembali belajar materi pelajaran seperti biasanya, akan memberikan pengaruh positif berupa fokus dan daya tahan dalam belajar dan beribadah. Insya Allah.

Salam,

O. Solihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *