134 total views,  1 views today

Biasanya kami melakukan wawancara dengan calon santri Pesantren Media. Pada sesi ini, selain mengecek beberapa pertanyaan seputar minat dan kesungguhan dalam belajar, juga kami tanyakan tentang niat belajar di sini untuk apa. Setidaknya jawaban itu menjadi acuan untuk mempertimbangkan apakah calon santri ini layak untuk diterima atau tidak sebagai santri.

Meskipun pada akhirnya diterima, calon santri masih harus diuji ketulusan niatnya tersebut. Sebab, ketika ditanya saat wawancara, calon santri belum merasakan suasana pembelajaran. Baru dijelaskan saja secara umum tentang kondisi pembelajaran dan kehidupan di pondok. Mereka belum merasakan langsung. Itu sebabnya, masih perlu melewati ujian sesungguhnya. Biasanya secara berkala dan bergiliran kami memanggil semua santri. Tiga bulan pertama adalah masa kritis bagi santri, terutama yang baru pertama kali jauh dari orang tua mereka. Khusus untuk ini, insya Allah akan dibahas pada tulisan berikutnya.

Tiga bulan pertama belajar biasanya ada santri yang mulai kendor semangatnya. Ada yang malas, ada yang bosan, ada yang bete dan sebagainya. Bahkan mulai terlihat niat sesungguhnya mereka belajar di pondok. Beberapa santri malah pernah juga bertanya, “Jika belajar medianya saja, boleh nggak?” Tentu saja, saya kembalikan dengan pertanyaan, “Memangnya waktu wawancara dulu sudah lupa ketika menjelaskan bahwa di Pesantren Media itu selain belajar teknik media, ya belajar ilmu agama.”

Setelah diajak ngobrol satu per satu semua santri yang bertanya seperti itu, bisa disimpulkan bahwa mereka sudah kadung senang bahwa di Pesantren Media itu boleh bawa smartphone dan diizinkan bawa laptop. Tetapi mereka lupa, bahwa tujuan itu bukan semata untuk belajar teknik media saja, tetapi ada waktu berbagi dengan materi pelajaran ilmu agama, terutama Tahfidz al-Quran. Itu sebabnya, smartphone dan laptop yang dibawa itu dibatasi penggunaannya. Tidak setiap saat, pun tidak setiap hari. Nah, itulah yang kemudian bagi beberapa santri merasa galau dengan pembatasan itu. Sehingga mereka inginnya belajar teknik media saja. Ya, nggak bisa, dong.

Sebenarnya ini juga menjadi tantangan berat bagi kami. Sebab, penggunaan laptop bagi santri (meski dibatasi hanya 3 hari dalam seminggu dengan waktu penggunaan 8 jam sehari), itu pun untuk mengerjakan berbagai tugas media dan ilmu agama, pengawasannya harus ekstra. Begitu pun dengan smartphone yang dibawa santri yang hanya boleh digunakan di hari Jumat. Inilah ranah tanggung jawab dan kewenangan Wali Asrama untuk melakukan pengawasan dan penertiban. Meleng sedikit, santri bisa menggunakannya sesuka mereka.

Namun demikian, santri yang sungguh-sungguh untuk belajar mereka tak mempermasalahkan aturan-aturan tersebut. Sebab, mereka sudah sadar diri akan niat dan keberadaan mereka di pondok. Santri yang model begini sih, udah bagus. Tinggal di arahkan. Oya, santri yang masih galau tetap kami dampingi sambil memotivasi mereka agar tetap semangat belajar media dan ilmu agama.

Ya, sesuai visinya, “menyongsong masa depan peradaban Islam terdepan melalui media”, dan misi “mencetak dai bidang media dan tenaga kreatif yang handal untuk mendukung dakwah melalui media”, kami sadar bahwa keterampilan di bidang media harus dikuasai tanpa meninggalkan tsaqafah Islam, khususnya ilmu-ilmu terkait al-Quran. Itu sebabnya, ilmu media, juga ilmu agama yang memang wajib dipelajari para santri di Pesantren Media. Semoga sesuai harapan.

Salam,

@osolihin

Mudir Pesantren Media

By osolihin

O. Solihin adalah Guru Mapel Menulis Dasar, Pengenalan Blog dan Website, Penulisan Skenario, serta Problem Anak Muda di Pesantren Media | Menulis beberapa buku remaja | Narasumber Program Voice of Islam | Blog pribadi: www.osolihin.net | Twitter: @osolihin | Instagram: @osolihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *