Loading

                Tidak ada seorang pun yang tahu tentang gelapnya hati manusia, terkadang manusia pun memiliki sisi gelap. Tidak terkecuali aku, tapi segelap apa hatiku hanya aku dan Allah yang tahu. Begitu pula aku, tidak mengetahui segelap apa hati seseorang itu. kita tidak akan tahu bahwa seseorang itu baik atau jahat jika tidak mengenalnya secara lebih mendalam. Namaku Akira Hime, pada tahun ini aku bersekolah pada jenjang SMP kelas 7. Di sekolah yang baru kutempati ini  aku sedang mencoba mencari sahabat, tapi aku tidak mengerti bagaimana caranya. Dari dulu aku memimpikan menemukan sahabat sejati, kita semua tahu bahwa di dunia ini kita memiliki sahabat sejati.

                Perjalanan mencari sahabat membuatku lelah, semenjak kejadian yang ku alami di kelas 8 aku mulai berputus asa. Aku kehilangan sesuatu yang kusayangi dan juga aku di khianati oleh seseorang yang kuanggap sahabat. Aku tidak mengerti kemana jalan pikirannya, kenapa ia bisa melakukan yang tidak ia pikirkan akibat perbuatannya.

“natsu, liat deh anak pindahan itu.. kasian banget dia gak ada yang mau berteman dengannya.. gimana kalo kita jadikan dia salah satu dari kita?” seraya memandang si anak pindahan.

“iya,kasian banget.. tapi.maksud kamu apa ya?” memasang wajah polos.

“ya elah.. gitu aja kok gak tau sih? Maksudnya kita jadiin dia sahabat kita”. Menggelengkan kepala seraya keheranan.

“kasian sih , tapi kan..” seraya menolak, tapi aku tidak menghiraukannya dan mengajaknya menjumpai teman pindahan tersebut.

Hanya dengan waktu yang sebentar kami telah dekat dengannya, lama kelamaan ku menyadari ia hanya memanfaatkan aku dan natsu untuk mencari popularitas di kelas. kami kemudian meninggalkannya bersama teman barunya.

Tak lama aku dan natsu  harus berpisah karena mulai hari ini aku menduduki kelas baru. Aku di kelas 8-6 dan natsu di kelas 8-4, aku berpikir kami masih bisa terus bersama-sama tapi ternyata dia memilih bersama teman barunya. Bukan berarti aku tidak memiliki teman di kelasku yang baru, hanya saja suatu hubungan persahabatan tidak mungkin putus hanya dengan berpisah sebentar saja. Disitulah aku menyadarinya, ia bukanlah sahabat sejatiku. Hal itu tidak membuatku patah semangat untuk mencari sahabat sejati, malah aku tambah bersemangat.

Di kelasku ini aku mendapat kepercayaan dari wali kelas, dan teman-temanku yang lain tidak menyukainya. Hal itu aku manfaatkan untuk mengisengi mereka,tapi hal itu  membuat wali kelasku marah dan ia mulai tidak mempercayaiku lagi. Rasanya sakit hati mereka memandangku dengan tatapan tidak suka, tapi hal ini menantangku untuk mencari orang baik yang pantas menjadi sahabat sejatiku.

Kejadian itu membuatku memiliki sisi yang gelap,jahat dan terdengar tidak berperasaan. ini semua  bukan mutlak kesalahanku sendiri tapi ini semua  dimulai karena “Dia” melakukan hal itu. hal itu yang merubahku secara mutlak, dan kejadian itu juga yang membuatku di benci teman sekelasku kecuali yang mengetahui hal  itu secara pasti. Mungkin sebagian temanku ada yang tidak peduli tentang hal itu, tapi sebagian orang terluka karena kejadian itu termasuk aku. Bukan terluka secara jasmani tapi secara rohani. Mungkin selamanya aku tidak akan bisa melupakannya, mengingatnya saja membuatku geram pada “Dia”. Mau bagaimana lagi nasi telah menjadi bubur, tak mungkin bisa ku mundurkan waktu untuk menghindari kejadian itu.

 [Ela Fajarwati Purti, santriwati kelas 1 jenjang SMA, Pesantren Media]

 

By Siti Muhaira

Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *