Warna-warni Kisahku

464 views

12-12-12. Bisa dibilang tanggal hari ini begitu unik, serba dua belas. Tak heran banyak orang-orang yang memanfaatkan tanggal unik ini untuk melakukan moment-moment penting, seperti pernikahan, kelahiran anak, sunatan, dan masih banyak lagi. Namun, berbeda dengan mereka, pada tanggal yang unik ini, kami santri Pesantren Media kembali melakukan perjalanan, tujuan perjalanan kamu kali ini adalah Puncak.

Sebenarnya perjalan ini tidak ada hubungannya dengan tanggal unik, karena aku sendiri baru sadar mengenai tanggal unik ini setelah pulang dari perjalanan. Bisa dibilang ini hanyalah kebetulan.

Perjalanan sudah direncanakan sekitar 3 hari sebelumnya. Rencananya kami akan berkenjung ke Lapangan Sempur Bogor terlebih dahulu untuk melihat keadaan Sungai Ciliwung yang terletak di samping Lapangan Sempur, kemudian melanjutkan ke Bendungan Katulampa dan barulah kemudian kamu akan pergi menuju Puncak, tepatnya kami akan mengunjungi Masjid at-Ta’awun. Dan satu lagi, kami juga akan berencana mengunjungi tempat paralayang/gantole yang ada di Puncak.

Namun semua itu barulah rencana, yang menentukan adalah Allah. Kami hanya bisa berdo’a agar perjalanan nanti dapat berjalan lancar.

…….

Usai Sholat Shubuh, setelah dzikir pagi seluruh santri diminta mempersiapkan semua perlengkapan. Aku pun segera mempersiapkan semuanya, seluruh perlengkapan kumasukkan ke dalam tas. Berulang-ulang aku kembai memeriksa isi tas, karena aku takut ada barang yang ketinggalan. Hingga akhirnya aku benar-benar yakin perlengkapanku sudah lengkap. Baju ganti, sajadah, air minum, payung, HP, topi, buku, kartu santri, dan uang, semuanya sudah siap.

Jam setengah tujuh, seluruh santri diminta kumpul di Pesantren Media untuk mendengarkan pengarahan dari Ustad Umar sekaligus untuk sarapan pagi. Ustad Umar menyampaikan beberapa hal, diantaranya adalah mengenai pembagian tugas dan masalah perjalanan. Dan aku ditunjuk Ustad Umar sebagai Ketua kelompok sekaligus bendahara.

Akhirnya sekitar jam 7, kami siap-siap berangat. Dua mobil sudah siap membawa kami menuju perjalanan yang akan penuh dengan pengalaman. Mobil pertama yaitu mobil Avanza berwarna putih yang akan dikemudikan oleh Ustad Umar, dan mobil yang kedua adalah mobil Panther warna biru yang akan dikemudian oleh salah satu santri Pesantren Media, yaitu Musa.

Jam tujuh lebih bebrapa menit, kami pun akhirnya berangkat, meninggalkan Laladon Permai untuk beberapa saat. Aku naik di mobil Panther berwarna biru yang dikemudikan oleh Musa, dan aku beruntung karena mendapat tempat duduk di depan sehingga dapat melihat pemandangan dengan lebih leluasa.

Belum 10 menit aku duduk di dalam mobil, aku sudah mengantuk, mataku terasa berat hingga akhirnya aku tertidur di dalam mobil. Ya, mengantuk sepertinya sudah kebiasaanku jika naik mobil.

Aku tak tahu berapa menit tepatnya mataku sudah terpejam, yang aku tahu saat mataku terbuka, mobil sudah sampai di Lapangan Sempur Bogor.  Kami semua langsung turun dari mobil, mataku seketika beranjak meninggalkan rasa kantuk yang baru saja kurasakan. Aku kembali bersemangat.

Kami mulai melihat-lihat keadaan Sungai Ciliwung, sungai yang katanya sering menyebabkan banjir di Jakarta. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Sungai Ciliwung. Aku baru tahu ternyata seperti ini keadaan Sungai Ciliwug, airnya yang mengalir deras dan tidak dalam. Kami melihat dari jarak dekat, hanya ketinggian yang memisahkan kami dengan Sungai Ciliwung. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan moment ini, langsung saja kuambil kamera handphone dari dalam saku untuk mengabadikan moment penting ini.

2012-12-12 08.23.15

Sungai Ciliwung

 

Sekitar setengah jam melihat-lihat keadaan Sungai Ciliwung dan Lapangan Sempur, kami langsung bersiap kembali untuk perjalanan selanjutnya, yaitu ke Bendungan Katulampa. Namun, sebelum kami meninggalkan Lapangan Sempur ini, tak lupa kami semua foto bareng terlebih dahulu menggunakan kamera DSLR yang dibawa Ustad Umar, dan Ustad Umar sendiri lah yang menjadi Fotografernya. Arena panjat dinding yang ada di Lapangan Sempur lah yang menjadi backgroundnya.

Setelah foto bareng, perjalanan pun dilanjutkan. Mobil Avanza putih dan Panther berwarna biru pun kembali membawa kami ke tujuan selanjutnya. Sejauh ini perjalanan berjalan lancar. Tak ada hambatan yang berarti kecuali padatnya kendaraan yang membuat perjalanan lebih lambat.

Aku masih tetap duduk di bagian kursi paling depan, di sebelah Musa yang mengemudikan Mobil Panther. Suasana di dalam mobil terasa begitu ramai, sepertinya akhwat-akhwat yang di belakang tidak bisa tenang, entah apa yang mereka bicarakan, tertawa tidak jelas. Sedangkan penumpang ikhwan masih tetap terlihat tenang, kecuali Taqi dan Abdullah, dua orang yang sejak tadi ngoceh terus tak henti-hentinya.

Karena sedikit terganggu, tak jarang aku menyuruh mereka tenang dengan nada sedikit marah. Mereka memang diam setelah kubentak, namun tak lama kemudian kembali ribut. Belum lagi suara ribut nya juga ternyata berkolaborasi dengan suasana panas yang membuat badan semakin gerah. Sungguh perjalanan yang menguji kesabaran.

Akhirya sekitar jam 9, kami pun sampai juga di tempat tujuan, Bendungan Katulampa. Aku langsung keluar dari mobil, dan kulihat pemandangan di luar begitu indah. Kami mulai menyebar sesuai group yang telah dibagi sebelumnya, mencari tempat yang pas untuk menikmati keindahan Bendungan ini.

2012-12-12 09.11.28

Alat ukur ketinggian air

Pertama-tama, kami langsung menuju jembatan panjang yang berukuran kecil, jembatan yang biasa digunakan orang-orang untuk menyeberangi bendungan ini. Dari atas jembatan kulihat ada sebuah tembok berwarna merah, kuning, biru, dan hijau, dengan disebelahnya bertuliskan angka-angka yang berjajar secara vertikal dari 1 sampai 250, semakin ke atas angka nya semakin naik. Saat itu aku mengambil satu kesimpulan, itu adalah pengukur ketinggian air, dan pada saat itu kulihat air sedang berada pada ketinggian 10 cm, tidak terlalu tinggi.

Indah sekali pemandangan di bendungan Katulampa ini, derasnya arus yang keluar dari pintu air menambah kesan indah yang kurasakan saat itu. Terhitung ada beberapa pintu air yang terdapat di bendungan ini, aku tak tahu berapa persisinya. Mungkin kira-kira ada 5 pintu air. Dan diatas nya terdapat alat yang digunakan untuk menaikkan atau pun menurunkan ketinggian pintu air, tapi aku belum tahu cara kerja alat itu, karena sejak tidak aku tidak menemukan ada orang yang sedang mengoperasikan alat tersebut.

Dan aku melihat, sepertinya banyak warga sekitar yang memanfaatkan sungai bendungan ini untuk diambil pasirnya, dan mungkin itulah cara mereka memenuhi kebutuhannya, atau untuk menambah penghasilan, dengan menjual pasir yang mereka ambil dari sungai bendungan tersebut.

Aku tidak berhenti pada satu tempat. Rasa penasaranku membawaku untuk melihat-lihat lebih jauh lagi, saat itu keinginanku yang kuat memaksa kakiku untuk melangkah lebih dekat menuju pintu air yang terlihat paling jauh, yang terletak di bawah jembatan bagian ujung. Disitulah letak air terjun yang paling deras, sebenarnya sih bukan air terjun, tepatnya adalah air bendungan yang memaksa keluar dari pintu air, sehingga terbentuklah aliran air yang sangat deras seperti air terjun. Airnya begitu deras, menghempas batuan yang ada di bawahnya, suaranya juga tak kalah keras, mengalahkan suara ribut kami semua, sehingga kami harus berbicara lebih keras saat berada di tempat itu.

2012-12-12 09.15.19

                                               Air yang begitu deras

Tak terasa sudah 20 menit kami semua melihat-lihat keindahan Bendungan Katulampa ini. Kami pun harus segera kembali ke mobil, karena Ustad Umar hanya memberi waktu 20 menit, perjalanan masih panjang sehingga kami tidak boleh terlalu berlama-lama. Kami semua langsung  berkumpul di area parkir mobil. Namun, sebelum kami melanjutkan perjalanan, Ustad Umar kembali menyuruh kami untuk foto bareng terlebih dahulu menggunakan kamera yang sama yang digunakan saat foto bareng di lapangan sempur tadi.

Usai foto bareng, aku mendengar seperti ada suara putaran gear. Aku lagsung menuju suara itu, dan aku melihat ada seseorang yang sedang menjalankan alat untuk menaikkan pintu air, ini adalah moment yang sangat penting, sejak tadi aku sudah menunggu hal ini. Aku langsung mengabadikan moment tersebut menggunakan kamera handphone ku. Dan aku senang, karena kini aku sudah tahu cara kerja alat itu.

2012-12-12 09.34.34

Petugas memutar alat pengatur pintu air

Kami semua kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan, yaitu ke Puncak. Inilah tempat yang paling aku tunggu-tunggu, dan inilah tujuan utama dari perjalanan kami kali ini.

……..

                Perjalanan menuju puncak sedikit terhambat. Jalanan kecil yang tidak mampu menampung banyaknya kendaraan menyebabkan terjadinya kemacetan. Kemacetan yang membuat perjalanan ini menjadi kurang menyenangkan, ditambah lagi cuaca siang kali ini yang begitu panas, apalagi mobil panther yang kami naiki tidak ada AC nya. Keringat bercucuran dari kepala sampai ujung kaki, bagian belakang bajuku terasa basah akibat keringat.

Tapi tak apalah, aku tetap berusaha tenang. Berusaha menghilangkan rasa tidak nyaman itu dengan memejamkan mata, berharap agar dapat tertidur dan rileks. Namun usaha itu benar-benar gagal, sekuat apapun aku mencoba untuk memejamkan mata, selalu saja ada hal yang mengganggu, terutama keringat yang terus saja bercucuran sehingga memaksaku berulangkali mengusap wajahku menggunakan jaket yang telah kulepas.

Dan aku senang saat mobil panther yang kami naiki telah lolos dari kemacetan. Dengan demikian, perjalanan kini kembali lancar, mobil pun dapat melesat dengan kencang tanpa ada hambatan yang  berarti. Angin sepoi-sepoi dari luar pun kembali dapat kurasakan, keringat yang sejak tadi bercucuran pun perlahan mulai hilang. Aku sudah bisa merasa tenang dan rileks, silir nya angin dari luar pun mengalahkan panasnya cuaca siang ini.

………

                Perjalanan pun berjalan lancar, hingga tak terasa kami sudah memasuki kawasan Puncak. Sebenarnya selain kemacetan tadi, kami juga sempat mendapat satu hambatan lagi, yaitu saat mobil kami dinerhentikan polisi. Ya, mobil kami tadi memang sempat ditilang. Tapi, aku tidak mau membahas masalah tilang itu, karena bagiku kejadian itu tidak begitu penting, kecuali mungkin bagi Musa yang mengemudikan mobil, karena bisa jadi baginya itu adalah suatu pengalaman yang tak dapat terlupakan.

Lupakan masalah penilangan itu, karena saat ini kami sudah semakin dekat dengan tempat tujuan, yaitu Masjid Ta’awun. Aku takjub saat merasakan keadaan di Puncak yang begitu berbeda. Suhu udara yang jauh lebih dingin daripada di Bogor. Jika tadi aku melepas jaket karena panas, kini aku kembali memasang jaketku karena suasana di Puncak yang begitu dingin, segar sekali. Tak hanya itu, mata pun turut dimanjakan oleh pemandangan indah di sekitar jalanan puncak, keindahan kebun-kebun teh yang sayang untuk dilewatkan.

Semakin ke atas, suhu terasa semakin dingin. Aku tidak sabar lagi untuk cepat sampai di Masjid at-Ta’awun dan kemudian ke lokasi paralayang/gantole. Namun sayang sekali, karena saat diperjalanan hujan pun turun. Aku sedikit sedih karena hujan pasti akan menghambat perjalanan menuju lokasi paralayang, karena seperti yang kita tahu, lokasi tersebut hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Namun, bagaimana pun juga, hujan adalah karunia dari Allah, kita harus mensyukurinya.

Alhamdulillah kuucakan syukur. Akhirnya setelah melewati perjalan yang cukup panjang, kami pun sampai di Masjid at-Ta’awun tepat saat  adzan berkumandang. Aku keluar dari mobil, meregangkan badan, lalu kupandangi sekeliling, indah sekali. Aku tak bisa mencegah tanganku untuk mengambil handhone dari saku dan segera memotret pemandangan sekitar, tak akan kubiarkan satu moment pun terlewat dari jepretan kameraku. Inikah puncak? Indah dan dingin.

Kami segera membawa barang-barang menuju Masjid at-Ta’awun,  untuk segera sholat, menuju panggilan Allah. Masjid at-Ta’awun letaknya lebih tinggi dari tempat kami memarkirkan mobil, sehingga kami harus menaiki beberapa anak tangga untuk menuju Masjid tersebut. Suasana dingin yang sejak tadi sudah terasa, masih terasa hingga saat ini, bahkan di kawasan Masjid at-Ta’awun ini malah terasa semakin dingin, wajarlah karena di sini kami sudah bersentuhan dengan awan, ditambah lagi cuaca saat ini sedang hujan, sehingga terasa begitu dingin. Apalagi saat aku berwudhu, airnya terasa sangat dingin, dingin seperti air es. Kalian akan percaya jika sudah merasakannya sendiri.

SC20121214-193336                                                    Masjid at-Ta’awun

Kami langsung masuk ke dalam Masjid at-Ta’awun untuk segera Sholat berjamaah, suasana di dalam masjid ternyata juga sangat dingin, lebih dingin dari AC. Awalnya aku mengira Masjid ini menggunakan AC sehingga terasa begitu dingin, namun ternyata ini adalah dingin alami. Tak hanya itu, Arsitektur Masjid ini pun begitu indah, tata letak nya pas di mata, lantai nya yang tersusun dari bahan kayu membuat masjid ini terlihat begitu unik, mimbar dan ruangan imam pun dirancang dengan sangat indah menggunakan bahan kayu. Belum lagi bentuk masjid ini terlihat sangat unik, meninggi ke atas dengan kubah yang unik.

Usai sholat dan mengagumi ciptaan Allah itu, aku dan kawan-kawan lainnya langsung makan siang, tidak perlu membeli makanan lagi karena karne kami telah menyediakan perbekalan makanan. Kami makan di halaman sebelah Masjid at-Ta’wun, walaupun sebenarnya sudah ada larangan agar tidak makan di area masjid, larangan yang bertuliskan “terima kasih tidak makan di area masjid”. Larangan yang menggunkan bahasa sangat halus dan lembut. Tapi, mau bagaimana lagi, perjalanan panjang tadi membuat kami lapar, dan tidak ada lagi tempat yang bisa digunakan selain di area Masjid ini.

Tenagaku pun sudah kembali terisi. Usai makan aku langsung berkeliling mengitari Masjid at-Ta’awun, berusaha menemukan objek gambar indah yang akan kuabadikan sebagai kenangan. Dan ternyata di belakang Masjid at-Ta’awun ini terdapat curug kecil yang cukup indah, bertingkat-tingkat membentuk seperti tangga. Tak lupa, aku pun langsung mengabadikan pemandangan indah ini ke dalam galeri foto di handphoneku.

2012-12-12 12.28.17

Curuk kecil Masjid at-Ta’awun

Usai keliling-keliling masjid, kami kembali turun ke bawah, dimana mobil kami tadi diparkirkan. Aku dan beberapa teman lainnya tak mau ketinggalan untuk mencicipi salah satu jajanan yang dijual di sini. Karena cuaca nya begitu dingin, jadi kami memilih untuk membeli jagung bakar, hitung-hitung untuk menghangatkan badan. Harga satu buah jagung bakar Rp. 5000. Dan jagung tersebut tersedia dalam 3 rasa, yaitu manis, asin, dan pedas. Aku dan 3 teman lainnya membeli jagung bakar pedas.

Sambil duduk makan jagung, kami memandangi pemandangan sekitar. Awan tebal terlihat bergerak semakin ke atas hingga terasa sampai ke kulit. Aku tak menduga, kini aku sudah bersentuhan dengan awan, dingin sekali rasanya, bahkan jaket yang kugunakan pun tidak cukup kuat menahan terjangan dinginnya suhu. Membuat jagung hangat kami menjadi dingin hanya dalam hitungan detik, sehingga tak perlu meniupnya karena sudah dingin dengan sendirinya. Suasana dingin ini juga dapat dilihat dari nafas kami, dari mulut terlihat keluar embun saat kami bernafas, menandakan dinginnya suasana kali ini. Kebun-kebun teh pun terlihat putih diselimuti tebalnya awan, pandangan mata pun kini semakin terbatas karena tak mampu menembus ketebalan awan.

2012-12-12 13.02.10 2012-12-12 13.07.11

Awan tebal yang menyelimuti Puncak

Tapi sayang sekali, karena rencana awal kami untuk pergi ke lokasi paralayang menjadi terhambat akibat cuaca yang tidak mendukung, tapi tak apalah, aku tak terlalu memikirkannya. Usai makan jagung tadi aku kembali memotret-motret keadaan sekitar, dan kembali memrenungkan betapa kuasa-Nya yang telah menciptakan dunia dan seisinya ini.

……..

                Akhirnya, sampai lah pada waktunya dimana kami harus pulang. Perjalanan ini sudah kuanggap cukup untuk merefresh sejenak pikiranku, menenangkan jiwa dan sebagai sarana untuk semakin dekat dengan Allah. Karena seluruh alam ini tidak terlepas dari Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Di tengah hujan yang semakin deras, di tengah jalanan yang masih tertutup kabut, kami pun mengakhiri perjalanan kami dengan segera pulang kembali ke Pesantren, di Laladon Permai. Alhamdulillah kembali kuucapkan karena ternyata perjalanan kami ke Puncak dapat berjalan dengan lancar. Perjalanan pulang terasa lebih menyenangkan karena suasana panas tidak kembali kami rasakan saat pulang ini.

Meskipun terjadi kemacetan yang cukup panjang, namun perjalana tetap terasa menyenangkan. Tidak panas, sehingga dapat merasa tenang di dalam mobil. Dalam perjalanan pulang ini, aku tidak duduk di sebelah Musa yang mengemudikan kendaraan, kali ini aku duduk di tengah bersama Kak Farid, Yusuf, dan Abdullah.

Dan sekitar jam 3 sore, kami pun sudah kembali berada di Pesantren. Sebuah pengalaman seru baru saja berakhir dan akan selalu terkenang, sekuat memoriku mampu mengenangnya. Sebuah pengalaman penuh warna yang sbenarnya sulit terlukiskan melalui tulisan.

[Ahmad Khoirul Anam, @anam077, Anamshare.blogspot.com, sanri jenjang 1 SMA Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas menulis feature, di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

feature menulis puncak reportase warna-warni

Penulis: 
author
Hawari, santri angkatan ke-2 jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://downfromdream.tumblr.com | Twitter: @hawari88

Posting Terkait