Upaya Terakhir Syaitan Menyesatkan Manusia

252 views

Sudah menjadi kehendak Allah sejak zaman azali bahwa iblis dan bala tentaranya para syaitan menjadi musuh manusia. Musuh dalam arti hakiki, yang akan menyengsarakan manusia dalam kehidupan yang sebenarnya, kehidupan akhirat yang kekal abadi. Tetapi dalam kehidupan dunia yang sementara ini, jika kita tidak waspada dan hati-hati, bisa jadi syaitan menjadi teman dan sahabat-sahabat kita yang sangat membantu, mendukung, dan memudahkan kehidupan kita sehari-harinya. Baik syaitan dari kalangan Jin ataupun manusia, baik dengan jalan yang nyata ataupun yang gaib. Tidak tanggung-tanggung, upaya syaitan untuk menyesatkan ini dilakukan hingga titik terakhir kehidupan manusia, yakni ketika sakaratul maut.

Ketika manusia sedang menghadapi sakaratul maut, salah satu kesulitan atau kesakitan yang dihadapi adalah rasa haus yang  tidak tertahankan hingga seolah-olah membakar hati, tidak hanya haus secara fisik, tetapi bisa juga yang bersifat gaib. Mungkin orang-orang yang menjaga disekitarnya telah memberinya minuman, tetapi tidak serta-merta hilang. Dalam keadaan seperti inilah biasanya syaitan datang membawa minuman yang tampak sangat menggoda dan menyegarkan, khususnya terhadap kaum muslimin, terlebih kaum mukminin yang keimanannya sangat kuat. Sungguh mereka ( para syaitan) itu sangat tidak rela jika seseorang itu meninggal dengan memperoleh keridhaan Allah.

Pada puncak kehausan yang seolah tidak tertahan itu, syaitan akan datang dengan satu gelas minuman yang sangat segar, dan dia berdiri di sisi kepala seorang mukmin. Sang mukmin tidak menyadari kalau dia adalah syaitan, akan berkata, “ berilah aku air itu!!”

Syaitan berkata, “ baiklah, tapi katakan dulu bahwa dunia ini tidak ada yang menciptakan, maka aku akan memberikan air ini kepadamu!!”

Dalam riwayat lain disebutkan, syaita akan berkata, “ tinggalkanlah agamamu ini, dan katakan bahwa tuhan itu ada dua, maka engkau akan selamat dari kepedihan sakaratul maut ini!!”

Jika ia mempunyai keimanan yang cukup kokoh, ia akan menya dari kalau sosok pembawa air itu adalah syaitan, maka ia akan berpaling. Tetapi syaitan tidak berhenti dan putus asa, ia akan berdiri di arah kakinya dengan penampilan yang lain, masih dengan membawa minuman yang amat segar menggoda. Sang mukmin yang masih dilanda kehausan akan berkata kepadanya, “ berilah aku minuman itu!!”

Syaitan dalam penampilan lain itu berkata, “ baiklah, tetapi katakanlah bahwa Muhammad ( rasulullah saw) itu adalah seorang pendusta, maka aku akan memberkan air ini kepadamu!!”

Setelah mendengar jawaban seperti itu, san mukmin akan menyadari kalau syaitan tidak akan berhenti menggodanya hingga terlepas imannya. Maka ia akan bersabar dalam kehausan yang seakan membakar hati itu dan tidak akan meminta lagi. Ia akan menyibukkan diri dengan mengingat Allah memohon pertolongan dan keselamatan dari sisi-Nya.

Suatu kisah tentang seorang guru dan ulama yang sangat zuhud bernama abu Zakaria, ketika sedang sakaratul maut beberapa oaring sahabat dan muridnya menunggui beliau. Ketika abu zakaria tampak dalam kepayahan, seorang sahabatnya mengajarkan kalimat thayyibah, “ katakana : Laa ilaaha illallaah!!”

Tetapi di luar dugaan, abu zakaria memalingkan wajahnya. Sahabat di sisi lainnya juga berkata, “ katakanlah : Laa ilaaha illallaah!!”

Lagi-lagi abu zakaria memalingkan wajah, bahkan ketika untuk ketiga kalinya mereka memintanya membaca kalimat thayyibah, abu zakaria berkata, “ aku tidak akan mengucapkan kalimat itu!!”

Setelah itu jatuh pingsan. Para sahabat dan murid-muridnya menangis sedih melihat keadaan itu, sungguh mereka tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi? Tetapi satu jam kemudian abu zakaria siuman dalam keadan lebih segar. Ia berkata kepada sahabatnya, “ apakah tadi kalian mengucapkan sesuatu kepadaku??”

“ benar, tiga kali kami meminta engkau mem baca syahadat, tetapi dua kali engkau berpaling dan ketiga kalinya engkau berkata : “ aku tidak akan mengucapkannya!!” karna itulah kami jadi bersedih!!”

Abu zakaria berkata, “ sikap dan perkataanku itu bukanlah kutujukan kepada kalian…”

Kemudian abu zakaria menceritakan kalau iblis telah mendatanginya dengan membawa semangkuk air yang tampak sangat segar, sementara ia merasa sangat hausnya. Iblis berdiri di sisi kanannya sambil menggerakkan mangkuknya sehingga kesegaran air itu makin menggoda, dan berkata, “ Tidakkah engkau membutuhkan air??”

Ia tidak menjawab, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan rasa haus, dan tertariknya dengan kesegaran air itu, maka iblis berkata lagi, “katakanlah bahwa tuhan itu tidak ada!”

Abu zakaria berpaling dari iblis, yang saat itu bersamaan dengan sahabatnya yang meminta ia mengucapkan kalimat thayyibah untuk pertama kalinya. Tetapi iblis masih menghampiri dari arah lain, dan berdiri di dekat kakinya sambil mengatakan seperti sebelumnya. Maka ia berpaling lagi, yang bersamaan dengan sahabatnya yang memintanya membaca kalimat thayyibah untuk kedua kalinya. Belum putus asa juga, iblis menghampiri lebih dekat dengan bujuk rayunya yang memikat, mengiming-iminginya dengan minuman yang begitu segarnya, sambil berkata, “ katakanlah bahwa Allah itu tidak ada!!”

Maka dengan tegas abu zakaria berkata, “ aku tidak akan mengatakannya!!”

Saat yang bersamaan, sahabatnya sedang meminta dia mengucapkan kalimat thayyibah untuk yang ketiga kalinya.

abu zakaria mengakhiri penjelasannya, “ seketika itu mangkok yang dibawa iblis jatuh dan pecah berantakan, kemudian ia lari terbirit-birit. Tetapi rasa haus itu begitu menggigit dan tidak terhankan sehingga aku jatuh pingsan. Jadi, sikap dan perkataanku itu bukan untuk kalian, tetapi untuk menolak iblis. Dan sekarang kalian saksikan semua: “ asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammad arrasulullah!!”

setelah itu tubuh abu zakaria melemah, dan ia meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah.

*****

TAMAT

Diambil dari buku materi akhlak KPM

[Abdullah Musa Leboe, santri kalong, Pesantren Media]

manusia menyesatkan setan upaya

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri