Tuan Pendongeng

205 views

Apa kamu percaya cinta? Cinta pada pandangan pertama.

Cinta ketika kamu pertama kali melihatnya, kamu sudah merasakan debarannya.

Debaran cinta.

Aku percaya cinta. Cinta pada pandangan pertama.

Karena aku sudah merasakannya. Jatuh cinta, pada pandangan yang pertama.

Padamu, Tuan Pendongeng.

                                                                                                            Shon

Shon berlari menuruni tangga. Kerudungnya yang panjang berkibar seirama dengan langkah kakinya. Meski hampir terjatuh karena roknya sendiri, Shon tidak peduli. Ia tergesa-gesa. Karena waktu istirahat sudah hampir habis. Tinggal kurang dari sepuluh menit. Sementara Kak Trois tidak akan ada di tempat yang sama sepulang sekolah nanti.

Karena itu, Shon harus menemuinya sekarang. Agar dia tidak perlu khawatir. Karena setidaknya, dalam satu minggu ini Shon melihat Kak Trois. Dari pada ngga liat sama sekali, pikirnya.

Langkah kakinya semakin cepat saat ia melihat seorang laki-laki berbadan tinggi berjalan memasuki mushola. “Kak Trois!” teriakan Shon membuat langkah laki-laki itu terhenti.

Ketemu! Shon berbisik ria dalam hati. Sangat bersyukur ketika Kak Trois menengok ke arahnya. Menunggu Shon berada dalam jarak pandangnya, lalu berkata, “Assalamualaikum. Ngga usah lari-lari gitu. Kayak dikejar anjing aja,”

Shon tersenyum terlalu lebar. Ia bahagia. Sangat bahagia karena Kak Trois ada di depannya. “Biarin. Aku kan, lari-lari biar bisa ngejar kakak. Nanti ngilang, lagi. Sok sibuk, sih,” kata Shon dengan nada bercanda.

Shon merogoh saku di roknya, mengambil dua buah pin berwarna merah dan biru lalu memberikannya pada Kak Trois. “Lucu, kan? Aku, loh yang buat disainnya. Tapi itu baru sempel, kalo menurut kakak ada yang kurang, bilang aja. Tapi kalo udah setuju, tinggal dibuat yang banyak,”

Shon memperhatikan pin di tangan Kak Trois. Kedua pin itu berbentuk persegi tanpa sudut. Salah satunya bergambar masjid dengan karikatur perempuan berkerudung yang manis. Ditambah tulisan ‘ROHIS FIRDAUS’. Menurut Shon, itu sangat manis. Pin lainnya berdesain sama, hanya karikaturnya laki-laki.

“Lumayan. Udah bagus, kok,”

Shon berenggut kesal, “Gimana, sih. Lumayan, lumayan. Bagus, bagus. Jangan plin-plan,”

“Iya. Udah bagus. Perbanyak aja. Untuk sekarang tolong dibuat seratus. Bisa?”

Shon mengangguk. Dan tepat saat itu bel masuk berbunyi.

“Udah, masuk sana. Telat, nanti nyalahin kakak, lagi,”

“Emang salah situ! Lagian datengnya mepet mau masuk kelas gini. Kan repot,” kata Shon sambil melangkah mundur. Dari mushola muncul Qori yang berjalan menghampiri Kak Trois. Shon buru-buru melambaikan tangannya dan berlari menuju kelasnya. Sebelum Qori, si Ketua Rohis menangkap basah dirinya yang belum masuk kelas.

Orang bilang, cinta itu buta. Tapi bagiku, aku tidak buta.

Meski aku tahu, pengalaman hidupmu jauh di atasku.

Meski aku tahu, kamu ingin fokus pada jalan dakwahmu.

Meski aku tahu, kamu enam tahun di atasku.

Aku tidak buta. Karena aku sadar itu. Dan aku menerima kamu.

Hanya satu yang membutakanku,

apakah aku bisa menjadi Aisyah-mu, Tuan Pendongeng?

                                                                                                            Shon

Shon memasukkan al-Quran ke dalam tas, lalu menyampirkannya di bahu. Dia merapikan kerudungnya sebentar lalu berdiri. Senyumnya mengembang saat melihat Kak Mai berdiri di depan pintu mushola. Padahal hampir lima belas menit lamanya Shon di mushola.

“Kak Shon lama, deh,”

Shon melihat ke balik badan Kak Mai. Ternyata Nari, adik kelasnya juga ikut menunggunya. Shon tertawa kecil menanggapi gerutuan adik kelasnya.

“Udah semua, gak ada yang ketinggalan?” tanya Kak Mai, memastikan.

“Hem!” Shon mengangguk bersemangat lalu memakai sepatunya.

Mentoring hari ini menyenangkan. Shon menyukai pembahasan yang diambil Kak Mai hari ini. Tentang sebuah hati. Hati yang statusnya bukan lagi baru, tapi bekas. Karena hati itu sudah diberikan pada banyak orang. Sebuah perumpamaan tentang hati orang-orang yang berpacaran.

Shon bersyukur ia tidak pernah berpacaran. Meskipun teman-temannya banyak yang meledek karena ia jomblo, Shon tidak peduli. Walaupun banyak yang bilang ia sok alim, Shon tetap tidak peduli.

Karena baginya, hatinya, untuk suaminya seorang. Pendamping selama sisa hidupnya. Yang bertanggung jawab atas dirinya. Yang menggantikan tugas papanya untuk menjaga, melindungi dan membimbing Shon. Yang akan menjadi imam dan pemimpinnya. Hingga kembali ke Dzat pemiliknya. Insyaallah.

Amin, bisik Shon dalam hati saat melihat Kak Trois dari kejauhan. Ia tersenyum lebar lalu melambaikan tangannya bersemangat saat melihat Kak Trois berjalan mendekat.

“Assalamualaikum, udah pada selesai?”

“Waalaikumsalam,” jawab Kak Mai dan Nari.

“Yosh, udah selesai! Kok kakak baru dateng? Yang cowoknya udah nungguin dari tadi, nah,”

 “Jawab dulu salamnya,” tegur Kak Trois.

Shon meringis dalam hati. Ia lupa. “Waalaikumsalam…” jawabnya lesu. Tapi tunggu, “Bukannya, kalo rombongan hukum jawab salamnya jadi fardu kifayah. Gapapa dong, harusnya,” protesnya ketika baru menyadari fakta itu.

Kak Trois tertawa pelan. Shon berenggut sebal. Ia tidak tahu apakah itu tawa ledekan atau bukan. Tapi dalam hati, ia senang karena Kak Trois tertawa karenanya. Shon bahagia karena bisa bertemu Kak Trois hari ini dan melihatnya tertawa.

“Langsung pulang, yuk. Aku gak bisa lama-lama, nih,” kata Nari yang terdengar seperti rengekan di telinga Shon.

“Udah mau jam tiga juga,” jelas Kak Mai sambil menunjukkan layar hapenya.

Shon melirik layar hape Kak Mai. Diliriknya Kak Trois yang kini sedang bicara dengan Qori. Shon agak sedih karena ia tidak bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Kak Trois. Yaudahlah, mau gimana lagi, katanya dalam hati.

“Yuk kita pulang, Nari, Kak Mai. Tinggalin aja Kak Trois sama Qori, bye-bye,” Shon melambaikan tangannya sambil menarik tangan Nari.

“Assalamualaikum,” kata Kak Mai.

“Gaje banget, Shon,” kata Qori dengan nada meledek. Shon membalasnya dengan tatapan sebal.

“Waalaikumsalam,” jawab Kak Trois.

Di depan gerbang sekolah, Shon dan Nari berpisah dengan Kak Mai. Karena jalur angkot mereka berbeda. Shon dan Nari harus menyeberang dulu, sementara Kak Mai harus jalan beberapa meter sampai di pertigaan baru bisa naik angkot sesuai tujuan.

“Maaf yah, kalau kakak punya banyak salah sama kalian hari ini,” kata Kak Mai sebelum Shon dan Nari menyeberang. Kak Mai memeluk Nari, lalu memeluk Shon, “Bersabarlah, Shon, relakanlah, Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui. Dia tau apa yang terbaik untukmu. Dialah Sang Penulis Skenario Terbaik,” bisik Kak Mai.

Shon menatap bingung Kak Mai yang sudah melepas pelukannya. Shon tidak mengerti maksud perkataan Kak Mai padanya, “Maksud kakak?”

Alih-alih menjawab, Kak Mai tersenyum pada Shon, “Suatu saat kamu pasti ngerti. Yaudah, kalian nyeberang duluan,”

Kak Mai melambaikan tangannya di sisi jalan yang lain. Nari balas melambai sementara Shon menatap Kak Mai yang masih berdiri di seberang jalan tidak mengerti. Dia masih bingung dengan maksud kata-kata yang dikatakan Kak Mai padanya. Apa maksudnya?

“Aku pikir Kak Mai itu hebat,” kata Nari yang membuat Shon langsung menoleh padanya, penasaran.

Nari merapikan kerudung toskanya yang tertiup angin. Adik kelasnya yang Shon anggap sangat imut karena tubuhnya yang kecil itu tersenyum. Memperlihatkan gigi depannya yang gingsul. Namun membuat wajah chubby itu semakin terlihat menggemaskan. Shon menatapnya, menunggu kelanjutan kalimat Nari.

“Kakak tau ngga, Kak Mai bilang apa tadi ke aku? Sesuatu yang hebat,” Shon menatap Nari antara gemas dan tidak sabar. Adik kelasnya itu suka sekali menggantung-gantungkan kalimat. Membuat Shon penasaran, kan!

“Jangan dipotong-potong, ngomongnya, kenapa,” protes Shon yang ditanggapi kekehan oleh Nari.

“Kak Mai bilang, dia banyak nemuin cinta hari ini,” Nari menunduk menatap trotoar berbatu, ekspresi wajahnya terlihat sendu.

“Tapi,” Nari melirik ke arah Shon, “cinta yang selalu terbahas manusia, cinta yang bisa terdeskripsi mereka. Kenapa kebanyakan kepada sesama manusia lainnya, yah?”

“Maksudnya?”

Nari mengangkat bahu, lalu menggeleng. Ia juga tidak tahu. “Tapi pas Kak Mai bilang kayak gitu, dia keliatannya sedih banget,”

“Kenapa?”

“Menurut Kak Shon, kenapa?” Nari balik bertanya. Tapi Shon tidak tahu jawabannya, jadi ia menggeleng. “Menurutku, Kak Mai pengen bilang kalo, aku, dan kebanyakan orang lainnya selalu ngegembar-gemborin perasaan cinta kita ke orangtua, saudara, lawan jenis,”

“Terus apa masalahnya, itu bagus, kan?”

“Emang bagus,” Nari terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata-kata yang pas, “tapi apa kebanyakan dari kita banyak yang ngegemborin seberapa cintanya kita ke Allah?” Shon terdiam mendengar pertanyaan Nari.

“Banyak orang berani ngelakuin apapun, ngorbanin apapun buat orang yang disukain,” Nari menarik napas, berusaha menetralkan suaranya yang mulai bergetar. “tapi apa kita berani ngelakuin dan ngorbanin apapun demi Dia?”

“Ap—itu…,”

“Ngga. Jawabannya ngga. Menurut kakak kenapa?”

Shon terdiam. Tapi rasanya…ia tahu jawabannya.

“Karena—”

“Karena manusia buta, pada cinta ke sesama manusia. Dan melupakan hakikat cinta yang sebenarnya,” seperti halnya aku, yang buta. Pada cinta yang aku rasa untukmu, Tuan Pendongeng.

Nari mengusap sudut matanya cepat sambil menatap kakak kelasnya, kesal. “Kak Shon motong-motong omongan aku aja, deh. Kan sebel, yah,”

“Suka-suka, wlee,”

Orang bilang, cinta itu buta.

Bohong kalau aku bilang, aku tidak buta.

Karena tanpa kusadari, aku sudah buta.

Buta bahwa ada yang lebih penting untuk aku cinta.

Aku tidak mau meminta maaf karena

bukan kamu, Tuan Pendongeng, yang lebih penting untuk aku cinta.

Tapi diri-Nya.

Karena itu, untuk saat ini,

biar kurelakan kamu pada waktu yang berlalu,

pada alur cerita yang sudah disiapkan-Nya.

Ketika waktunya tiba,

Ketika aku sudah menjadi mar’ah yang sesungguhnya.

Sambutlah aku, Tuan Pendongeng

                                                                                                            Shon

11/2/2017 willyaaziza

al-quran bogor catatan perjalanan cerita cerita tentang kucing cerpen cinta contoh cerpen contoh fable curhatan kucing Design diary fable fiksi Inspirasi islam karya santri kucing media menulis penulis penulis willyaaziza perjalanan persahabatan pesantren pesantren di bogor pesantren media pesantrenmedia remaja sahabat santri santri media santrimedia tentang kucing tulisan willyaaziza

Penulis: 
    author
    Santri Pesantren Media kunjungi lebih lanjut di IG: willyaaziza Penulis dan desainer grafis

    Posting Terkait