Tirai Cinta

553 views

Pengajar Baru

Semuanya sudah kusiapkan. Barang keperluan sudah kumasukkan ke dalam koper. Hanya tinggal menunggu pagi menjelang. Dan pagi esok memang pagi terakhirku di Aceh. Setelah sekian tahun berada di negeri orang, akhirnya, aku akan kembali. Setelah sekian lama menimba ilmu di pesantren an-Najah di Meulaboh ini, kini kesempatan untuk mengurai kerinduan akan kampung halamanku tercinta, di ujung paling timur wilayah Madura, Kangean, yang berada di daerah kepulauan Kabupaten Sumenep, terbentang di depan mata.

Aku memang sudah lulus dari pesantren ini. Segala disiplin ilmu agama sudah memenuhi otakku. Semuanya sudah kukuasai dengan baik. Bahasa Arab sudah menjadi bahasa keseharianku. Ilmu Fiqih sudah hafal di luar kepala. Ilmu al-Qur’an juga sudah menguasai. Pokoknya semuanya sip. Tinggal mengamalkan dan membagikan saja ilmu yang kudapat ini pada masyarakat di kampung halaman nanti.

Namun entah kenapa, kerinduan akan kampung halaman yang sedari dulu mengebu-gebu, kini terasa agak menyusut. Keinginanku untuk segera meninggalkan Aceh semakin lama semakin berkurang. Aku rasa aku masih ingin memperpanjang petualanganku di sini.

Badanku terasa letih. Seharian menyiapkan kepulangan dan berkeliling berpamitan ke tempat kenalan benar-benar menguras tenaga. Jam telah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, mataku tak dapat terpejamkan. Kantuk seolah-olah tak mau menghinggapi kepalaku. Yang berkelebat dan menari-nari di kepalaku kini malah bayangan seorang santriwati.

Pagi tadi, saat akan keluar pesantren, secara tak sengaja aku berpapasan dengan wanita itu. Dan, dalam beberapa detik, mungkin tiga detik lamanya, kami saling memandang. Di mataku, dia begitu sempurna dan mempesona. Hawa aneh mengisi denyut jantungku dan menyebar keseluruh aliran darah. Membuat sendi-sendi tulangku terasa kaku. Naluri seorang pemuda membujukku untuk menikmati momen ini. Namun, aku segera menundukkan pandanganku sambil beristighfar dalam hati. Aku ingat siapa statusku. Aku adalah santri pesantren ini. Sudah belajar dan bahkan mengajarkan adab pergaulan pria wanita selama bertahun-tahun. Masak iya harus ditaklukkan nafsu syahwat hanya dalam hitungan detik?

Namun, istighfar saja ternyata tidak cukup untuk membendung perasaan aneh yang tiba-tiba muncul ini. Entah kenapa ini terjadi. Aku tak mengerti. Dan aku pun bertanya-tanya, siapa gadis itu. Selama aku nyantri di sini aku tak pernah melihatnya. Aku berkesimpulan dia adalah santriwati baru di sini. Mengingat bulan ini merupakan fase penerimaan santri baru.

Sebagai santri senior yang telah lulus, dan juga karena prestasiku, aku diberi amanah mengajar di pesantren ini. Jumlah santri perempuan di pesantren ini memang lebih banyak dari santri laki-laki. Tak sedikit juga yang cantiknya selangit. Tapi, semuanya tak mampu membuatku panas dingin.

“Ah, Sudahlah. Ini tak baik.” Gumamku dalam hati, berusaha meredam gejolak jiwa dan juga menasehati diri. Tapi aku tak bisa memungkiri, jauh di dalam lubuk hatiku, aku memang merindukan seorang pendamping hidup. Kawan untuk berbagi suka dan duka dalam sebuah keluarga sakinah mawaddah warahmah, yang diridhoi Allah swt. Untuk urusan nafkah keluarga, aku pun sudah yakin bisa. Honor dari pekerjaan sampinganku mengajar privat Bahasa Arab anak-anak di daerah ini aku rasa sudah cukup. Aku hanya perlu seseorang yang aku cintai.

Tapi, aku belum tahu siapa perempuan itu. Dan pantaskah aku menyanjung seseorang yang bahkan namanya saja aku tak tahu. Aneh.

Maghrib menjelang. Adzan dari corong masjid berkumandang. Seluruh santri bersiap-siap melaksanakan Shalat Maghrib. Entah kenapa di tengah-tengah shalat, perutku mulas. Mungkin karena makan pedas tadi siang. Siang tadi aku ditraktir makan rujak oleh Cak Tohir, salah seorang kenalan yang berprofesi sebagai tukang rujak, ketika aku kerumahnya untuk pamitan. Walhasil, setelah shalat aku tidak berdzikir dulu seperti biasanya. Murid dan kawan-kawanku nampak heran. Mereka biasa mengenalku sebagai seorang yang lama jika dzikir sehabis shalat. Melihat mukaku yang meringis dan kedua tanganku yang memegangi perut, mereka mengerti bahwa aku sedang menahan sesuatu yang harus segera disalurkan.

Menyesal juga makan rujak pedas itu. Perut jadi tak karuan begini. Tapi rasanya mubazir jika tadi siang tak kuterima tawaran makan rujak dari temanku itu. Dia sudah terkenal sebagai penjual rujak yang lezat.  Rasanya memang maknyus. Rasanya ingin nambah lagi dan lagi.

Kini aku di toilet asrama. Meringis menahan perutku yang mulas. Dan ternyata saat ini tak hanya perutku saja yang sakit. Lubang anusku juga terasa panas oleh feses[1] yang mungkin masih bercampur sambal rujak itu. Aku benar-benar tersiksa. Dan di saat-saat kritis itu, kudengar suara gaduh para santri yang tinggal satu asrama denganku. Mereka baru kembali dari masjid. Dari nada bicaranya dapat kuterka bahwa mereka sedang gembira. Dan begitu tiba di pintu asrama, kegaduhan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka menggedor-gedor pintu seraya memanggil-manggil namaku.

“Dor..dor.. dor..”

“Kak Alif, buka pintu!” Teriak mereka bergantian sambil menggedor pintu.

“Iya tunggu, aku masih di toilet. Darurat ini!” Teriakku, mencoba memberitahu mereka.

Namun, teriakanku yang berasal dari ruang tertutup ini tak terdengar keluar. Mereka semakin menjadi-jadi menggedor pintu dan memanggil namaku. Aku agak sebal juga dengan mereka. Dengan terpaksa aku keluar dan kulangkahkan kakiku menuju pintu depan. Sesaat kemudian, kubuka pintu itu.

“Sabbar, Cong. Mak kasusu malolo be’na. Tak tao sengko’ gi’ bada e wese?” [2] Ujarku spontan.

Mendengar bahasa dan logat maduraku, mereka tertawa. Di samping terdengar lucu bagi mereka, mereka juga tak tahu artinya.  Selama di Aceh, aku memang jarang berbicara dengan Bahasa Madura. Soalnya tak ada lawan bicara yang mengerti bahasa itu. Satu-satunya orang yang mengerti Bahasa Madura adalah si penjual rujak, Cak Tohir. Dia memang berasal dari Madura, tepatnya dari Bangkalan. Jodoh telah membawanya menetap di Aceh.

“Ngomong apa kau, Kak Alif? Kami tak ngerti. Bahasa planet ya?” Tanya Gembul sambil menahan tawa. Santri bertubuh gempal ini baru satu tahun nyantri. Ia asli orang Aceh. Tepatnya daerah Pidie. Orangnya memang agak urakan.

Aku hanya tersenyum kecut. Kulangkahkan kaki kembali ke arah toilet. Aku ingin menyempurnakan membersihkan perut yang tak karuan ini, yang baru saja sempat terhenti.

“Kalau mau masuk rumah itu yang beradab, dong. Masak tak ada yang ngucapin salam? Seorang muslim itu jika hendak masuk rumah hendaknya mengucapkan salam. Barang siapa yang masuk rumah dengan mengucapkan salam, maka setan tak akan bisa memasuki rumah itu selama sehari. Terus tadi cara ketok pintunya juga amburadul. Ketok pintu itu tiga kali. Kita juga diajarkan bahwa jika sudah tiga kali ketuk pintu namun tak ada orang, maka kita harus kembali. Meskipun urusan kita dengan yang punya rumah sangat penting.” Aku terus saja nyerocos hingga sampai di depan pintu toilet.

“Baik, Pak Ustadz. Nasihatmu sangat berharga bagi kami.” Mustofa, seorang santri tingkat dua asal Samosir. Dia memang terkenal santun.

“Hah, kamu panggil Kak Alif ustadz? Apa aku ga salah dengar nih? Dia kan juga santri di sini, Mus.” Raut muka Gembul menampakkan ketidaksetujuan atas apa yang dilakukan Mustofa.

“Memang benar dia santri di sini, Bul. Tapi Kak Alif kan sudah lulus. Keilmuan dan kemampuan dia juga paling mumpuni di antara semua teman-temannya satu tingkatan yang telah lulus. Makanya dia dipilih Teungku untuk membantu mengajar di pesantren ini. Bahkan jauh sebelum dia lulus. Semua tingkat pasti pernah diajari Kak Afif. Coba kamu cek. Di setiap kelas saat dia mengajar, pasti semuanya memanggil Kak Alif ustadz. Hanya saja, jika di luar jam pelajaran, Kak Alif tak mau dipanggil ustadz.” Ujar Mustofa lembut.

Gembul hanya termanggu. Mulutnya nampak manyun. Kepribadiannya yang tak mau kalah sebenarnya ingin membantah apa yang dikatakan Mustofa. Namun apa daya, tak ada yang bisa dikatakannya. Jawaban Mustofa terdengar sempurna di telinganya.

“Sudahlah, Bul. Aku minta maaf jika ada dari kata-kataku yang menyakitimu.” Mustofa menjabat tangan Gembul dengan wajah berbinar-binar.

Dari dalam toilet, kudengar semua pembicaraan mereka berdua. Dalam hati aku hanya bisa berfikir bahwa betapa halusnya perangai Mustofa. Tidak berbuat salah saja dia meminta maaf. Tak lama aku di toilet, seorang santri lain bernama Bisri memanggil namaku.

“Kak Alif betah amat ya di toilet? Pengen ikut ke acara syukuran tidak, Kak?” Teriaknya dari kamar tidurnya.

Aku hanya diam saja. Aku ingat bahwa ketika di dalam toilet, sebaiknya jangan berbicara. Nanti saja kalau sudah keluar.

“Syukuran apa, Bis? Siapa yang adakan? Ada yang disunat lagi ya?” Aku melangkah pelan sambil mengusap keringat di keningku.

“Bukan, Kak. Ini Teungku Husein, pemilik sekaligus pemimpin pesantren ini yang adakan. Acaranya memang mendadak, sih. Tadi habis Shalat Maghrib beliau baru mengumumkannya. Kak Alif sih langsung pulang. Jadi ketinggalan info deh.”

“Memangnya Teungku adakan syukuran dalam rangka apa ya? Tumben dia adakan syukuran.”

“Memangnya kenapa, Kak?” Bisri penasaran.

“Setahuku, Teungku Husein itu tidak begitu suka menghambur-hamburkan uang. Sangat jarang dia mengadakan syukuran. Pasti syukuran ini sangat istimewa bagi beliau. Bis, Teungku adakan syukuran untuk apa?”

“Ga tau, Kak.”

“Lho, kamu kan yang dengarkan pengumuman itu. Masak tidak tahu?”

“Ya gimana, Teungku sendiri hanya bilang ada syukuran habis Isya’. Beliau tak memberitahu syukurannya untuk apa.” Kilahnya.

“Tapi yang jelas, pasti akan banyak makanan enak, Kak. Bahkan mungkin lebih enak dari rujaknya Cak Tohir. Atau mungkin malah rujaknya Cak Tohir menjadi menu utama.” Bisri mencoba menakutiku. Dia tahu persis bahwa penyebab perutku error adalah rujak Cak Tohir yang kebanyakan sambal.

ooOoo

Seperti biasa, jika ada acara bersama antara ikhwan dan akhwat[3], tempat mereka terpisah. Dipisahkan oleh sebuah hijab kain berwarna hijau tua. Hijab ini membentang dari podium hingga ke bagian paling belakang ruangan serbaguna di pesantren ini, memisahkan ruangan menjadi dua bagian yang sama. Tingginya pun tak memungkinkan ikhwan dan akhwat saling memandang. Para santri duduk lesehan.

Di podium, nampak Teungku Husein didampingi oleh beberapa staf ahli pesantren juga duduk lesehan. Setelah membaca muqaddimah yang lumayan panjang, Teungku Husein berdialog dengan para santri.

“Anak-anakku, terimakasih atas kehadirannya ke tempat ini. Pasti kalian bertanya-tanya, untuk apa sebenarnya acara ini digelar?” Ujar Teungku Husein lembut sambil mengelus-elus jenggotnya.

“Anakku satu-satunya sudah lama meninggalkan pondok ini. Dia pergi ke negeri nun jauh di sana, negeri para nabi, Mesir. Di sana dia mendalami Dinul Islam secara lebih intensif di sebuah lembaga pendidikan Islam terkemuka dan tertua, al-Azhar University. Dan alhamdulillah tahun ini dia lulus. Nantinya, Insya Allah dia juga akan ikut membantu para pengajar di sini. Mengamalkan dan berbagi ilmu yang telah dia dapatkan selama di sana. Kita tentunya bahagia mendapatkan guru baru lulusan al-Azhar, kan?” Rona bahagia dan bangga nampak terpancar dari wajah Teungku.

Para santri nampak riuh. Mereka seakan-akan tak sabar menantikan guru baru mereka. Aku mengangguk-angguk sendiri tanda mengerti. Jadi selama ini Teungku Husein mempunyai anak yang kuliah ke Mesir. Hebat ya dia. Pasti ilmunya banyak. Anaknya kelak pasti bangga mempunyai ayah berilmu tinggi. Tak perlu sekolah jauh-jauh, cukup ayahnya yang mendidik.

Aku baru tahu akan hal ini. Sudah lima tahun aku berada di pesantren. Berarti anak Tengku Husein itu pergi ke Mesir sebelum aku masuk pesantren. Sebuah masa yang tak bisa dikatakan sebentar.

“Jadi kapan dia balik ke Indonesia Teungku?” Celetuk Samsi, teman satu angkatanku yang juga baru lulus dan juga dipercaya Teungku mengajar di pesantren ini.

Teungku Husein tersenyum. Sejenak dia memandang ke arah istrinya.

“Dia sudah ada di sini. Tadi malam kami sekeluarga menjemputnya di bandara. Dan pada kesempatan syukuran kali ini, dia akan sedikit berbagi pengalaman dan motivasi untuk kita semua. Acara ini juga diadakan sekaligus untuk mengangkatnya sebagai salah seorang staf pengajar di pesantren ini.”

Keriuhan kembali melanda para santri. Mereka tak menyangka bahwa seseorang dari luar negeri itu telah berada di tengah-tengah mereka. Layaknya seorang artis, kehadirannya memang benar-benar ditunggu.

“Putriku, ayo silahkan maju.” Pinta Teungku Husein.

Kupicingkan mata. Ternyata aku salah sangka. Kukira anak Teungku Husein laki-laki. Ternyata sebaliknya. Dari tempat akhwat, aku melihat seorang wanita melangkah pelan. Ia agak membungkuk sehingga jilbab putih yang dikenakannya menutupi wajahnya. Dan betapa tercengangnya aku ketika wajah itu telah sempurna terlihat. Dia, yang berdiri di depan sana ternyata adalah gadis yang tadi pagi kulihat. Aku melihat tanpa berkedip. Gemuruh di dada yang sempat reda kini mulai hadir kembali.

“Hey Lif, sakit perut lagi ya? Mukamu kok merah gitu?” Samsi nampak heran dengan perubahan air mukaku.

“Tak apa-apa samsi, cuma dadaku agak sedikit sesak. Mungkin kelelahan.” Jawabku sekenanya, berusaha menutupi apa yang terjadi di hatiku. Dia mungkin tak mengerti kalau mukaku merah karena menahan gejolak rasa yang menghentak-hentak di dada.

Samsi menarik nafas. Ia nampak prihatin melihat keadaanku.

“Seharusnya kau tak boleh kelelahan, Lif. Besok pagi kan kau mau pulang kampung. Seharusnya malam ini kamu segar bugar. Kok malah tambah sakit-sakitan seperti ini. Jarak Aceh Madura itu jauh lho Lif. Tak main-main. Apalagi jika ditempuh lewat jalur darat seperti yang akan kamu lakukan besok. Sendirian lagi. Aku tak bisa membayangkan kalau kau ambruk di jalan.”

Samsi memang sahabat sejatiku. Entah kenapa kami begitu dekat. Mungkin karena kampung halaman kami yang sama-sama jauh. Samsi berasal dari Kalimantan. Tepatnya daerah Sampit. Dulu, persahabatan kami sempat diuji ketika terjadi bentrok berdarah di Sampit. Sempat anda anak Aceh yang manas-manasi kami berdua. Tapi kami sadar bahwa rasa fanatisme kesukuan tidaklah boleh dipupuk. Allah tidak memandang derajat seorang hamba berdasarkan suku apa seseorang berasal, melainkan keimanan dan ketakwaan yang ada pada tiap diri masing-masing. Dan Islam tidak mengenal ikatan kesukuan di dalam menyatukan manusia, melainkan ikatan atas dasar pesamaan akidahlah yang menjadi pemersatu.

“Aku cuma kecapean, Sam. Sehabis acara ini aku akan langsung tidur.”

Perlahan pandanganku kembali beralih ke podium. Nampak di sana Teungku Husein menerima uluran salam dari putrinya.

“Aku perkenalkan, guru baru kalian, Ustadzah Naila Nazihah Husein. Di pesantren ini, dia akan mengajari kalian Bahasa Arab dan juga al-Qur’an baik itu tahsin, tahfidz, maupun tafsirnya. Nah, pada kesempatan kali ini, Naila akan membagikan sedikit pengalaman dan juga motivasi untuk kalian semua.” Teungku memberikan isyarat pada Naila.

Aku menahan nafas. Melihatnya saja hatiku sudah tidak karuan. Bagaimana jika mendengar suaranya. Aku bingung harus bagaimana. Mau meninggalkan tempat ini aku sungkan sama Teungku dan juga semua yang ada di sini. Jika aku beranjak dari tempat ini, praktis aku akan menjadi pusat perhatian karena aku duduk di barisan depan dan seluruh orang di sana duduk lesehan.

“Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.” Di saat aku sedang bingung mencari cara meredam gejolak hati, dia memulai berbicara. Salam yang diucapkannya disambung dengan mukaddimah dalam bahasa arab yang agak panjang. Dilanjutkan dengan perkenalan dan berbagi pengalaman dengan menggunakan Bahasa Arab. Dari ayahnya, Teungku Husein, Naila sudah tahu bahwasanya Bahasa Arab adalah hal yang sudah lumrah di pesantren ini. Para santri menggunakannya sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Tentu tingkat kefasihannya berbeda. Biasanya santri di tingkat bawah masih terbata-bata. Semakin tinggi tingkatannya, biasanya semakin fasih berbahasa Arabnya.

Di telingaku, suaranya menjelma bak bunyi terindah di muka bumi. Di balik pesona lahiriyah yang melekat padanya, ternyata ada pesona lain yang melekat. Dari caranya berbicaranya aku tahu bahwa dia bukanlah gadis sembarangan. Dia adalah gadis yang cerdas. Bahasa Arabnya fasih. Mirip native[4] Arab. Cara bicaranya juga runut sehingga mudah dimengerti.

Dia, yang sedang berbicara di depan sana adalah masa depan pesantren ini. Kulihat Teungku Husein memang sudah berumur. Wajar kalau dia mengadakan syukuran ini. Dia ingin benar-benar bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan dengan kedatangan putrinya. Pesantren ini mungkin tidak kekurangan pengajar. Tapi keilmuan dan pemahaman mereka tak sedalam Teungku Husein. Teungku Husein adalah tempat bertanya jika ada masalah yang sulit dipecahkan. Jika beliau berpulang, maka akan sulit mencari penggantinya. Dan kehadiran Naila putrinya telah menghapus keresahan itu.

Aku sudah tidak tahan lagi. Jika aku terus di sini, pertahanan imanku bisa ambrol. Di saat Naila sedang berbicara, kuberanikan diri beranjak meninggalkan aula. Semua mata memandang. Semua hati bertanya. Ada apakah gerangan aku beranjak. Lewat SMS, aku minta ijin pada Teungku Husein. Beliau mengerti bahwa aku memang butuh istirahat untuk kepulanganku besok. Beliau pun mengangguk memberikan ijin. Dari ujung mata aku juga melihat Naila mengangguk kecil.

Bersambung ke bagian 2: Siluet Masa Lalu



[1] Tahi

[2] Sabar, kawan. Kok terburu-buru terus kamu. Apa tak tahu aku masih di toilet?

[3] Bahasa Arab laki-laki dan perempuan.

[4] Penutur asli (Arab).

 

Catatan: cerbung ini adalah salah satu tugas penulisan di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media

cerbung cintai fiksi tirai

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  1. author
    Ikha6 tahun agoBalas

    Subhanallah..
    Keren cerbungnya..
    kerenz deh Pesantren Media.
    🙂

Tinggalkan pesan