The Twinnie: Note

247 views

The Twinnie: Note

Rik duduk di kursi meja makan, sudah sarapan dan siap dengan tas sekolahnya pagi itu. Bersamaan dengan itu, suara kembarannya, Nia yang terdengar ripuh menggema sampai dapur dari kamarnya di lantai dua. Sementara itu, ayah sudah duduk tegap di samping kanannya di meja makan sambil meminum kopi hitam kesukaannya. Dan ibu sibuk membantu Nia dengan segala keripuhan yang dia miliki karena telat bangun tidur.

Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, Rik menghela napas panjang. Ayahnya akan berangkat sekitar jam delapanan, sementara menunggu Nia selesai bersiap hanya akan membuang-buang waktu. Jadi, Rik memutuskan untuk berangkat sekolah sendiri menggunakan angkot. Seperti biasanya.

“Ayah, Rik berangkat dulu, yah. Bu, Rik berangkat! Assalamualaikum,” kata Rik setelah menyalami ayahnya dan berteriak agar ibu setidaknya tahu kalau Rik sempat berpamitan.

Rik menyempatkan diri untuk membuka buku pelajaran matematika begitu dia duduk di kursi angkot. Pasalnya, kelas pertama hari ini adalah matematika. Dan guru yang mengajar tidak jarang mengadakan kuis dadakan. Dia takut tidak siap untuk hal semacam itu, jadi ada baiknya ia belajar di angkot.

Sekolah sudah ramai saat Rik turun dari angkot dan masuk ke pelataran sekolah untuk kemudian berjalan ke gedung di sayap kanan, menuju kelasnya, 9-b.

Karena Rik cenderung cuek dan wajahnya yang memberi kesan ‘horor’, tidak banyak teman yang mengelilinginya. Tidak seperti Nia yang berisik dan setiap harinya terlihat ‘bersinar’ sehingga ia dikelilingi banyak orang. Aneh sebenarnya, padahal wajah mereka tampak mirip.

Rik langsung duduk di kursinya begitu ia sampai di kelas. Dibukanya buku catatan matematika miliknya, dan membacanya. Tapi niatannya terganggu saat tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya, membuat ia terkejut.

Mata Rik menyipit melihat Az tersenyum jahil ke arahnya. Laki-laki itu masih bertahan di posisinya lima detik kemudian, membuat Rik mau tidak mau angkat bicara, “Kenapa?”

“Hehe, gua pinjem catetan IPA lu, dong, Kay,”

Rik menatap geli alis Az yang naik turun. Sekedar informasi, Az adalah salah satu orang yang Rik anggap saingan dalam hal akademis maupun tidak. Dan Rik tidak menyukainya, terlebih Az sering sekali meminjam catatan padanya. Membuat Rik seringkali menelan kata-kata semacam: “kalo nggak mau nyatet, nggak usah sekolah sekalian”, agar tidak ada yang merasa sakit hati. Karena Nia juga seringkali melakukan hal demikian.

“Seharusnya lu nyatet, bukannya tidur pas pelajaran,” itu juga salah satu hal yang Rik benci dari Az. Laki-laki itu seringkali kepergok guru sedang tertidur di tengah pelajaran, tapi nilai-nilainya bertahan bahkan hampir menyaingi Rik yang memegang gelar ranking satu seangkatan. Menyebalkan.

“Males. Ngantuk. Penjelasan guru-guru bikin gua pusing. Mending baca buku catetan lu aja, gampang ngerti, gua. Okay, pinjem, yah?”

Alih-alih menolak, seperti keinginan hatinya, Rik malah memberikan buku catatan IPA-nya pada Az. “Istirahat pertama selesai, balikin,”

“Okay,”

“AZ…ZAAAM!”

Rik dan Az langsung menoleh ke asal suara, dimana Nia berdiri dengan penampilan berantakan. Adiknya itu pasti habis berlali seperti orang kesetanan ke sekolah. Seharusnya dia langsung masuk ke kelasnya, 9-a begitu sampai di sekolah karena bel kurang dari lima menit lagi akan berbunyi.

“Oi, Nia.”

Bosan mendengarkan percakapan antara Nia dan Az, Rik memilih menenggelamkan diri pada catatan matematikanya. Sebenarnya, Rik tidak heran melihat Nia malah muncul di kelasnya. Rumor mengatakan kalau Nia suka pada Az. Rik sendiri tidak tahu rumor itu benar atau tidak, karena meski mereka kembar, mereka tidak pernah melakukan yang namanya curhat.

Rik pikir Nia dan Az sangat cocok jika disandingkan. Mereka sama menyebalkannya. Menurut Rik, Nia merupakan tipe orang yang malas dan mementingkan ego pribadi di atas pendidikan. Berbeda dengan Rik yang sangat menomor satukan pendidikan. Hampir setiap hari Nia mengambil tanpa izin buku catatannya karena lupa mencatat penjelasan guru, yang Rik yakini sebagai alasan belaka. Adiknya itu pasti sibuk melihat majalah fashion terkini alih-alih mendengarkan.

Sama halnya dengan Az, menurut Rik, laki-laki itu juga tipe orang yang sama dengan adiknya. Seringkali Az tidak mencatat dengan alasan pusing mendengar penjelasan guru dan lebih memilih tidur dari pada mendengarkan. Bahkan pernah beberapa kali Rik menangkap basah Az sedang tertidur dengan earphone terpasang di telinganya. Sangat menjengkelkan.

Bedanya, Nia, meski menyalin semua catatan Rik, nilai-nilainya tidak pernah ada kemajuan. Rik lega sebenarnya, karena itu artinya usahanya tidak ‘dijiplak’ orang seenaknya. Tapi lain lagi dengan Az, laki-laki itu malah mendapat nilai yang hampir sama tinggi dengannya bahkan seringkali melebihi nilainya. Rik sangat tidak suka fakta itu, tapi tidak bisa menolak tiap Az meminjam catatan padanya. Ibu sering mengingatkannya untuk tidak pelit ilmu agar ilmu juga tidak pelit bersarang di otaknya. Karena itu, Rik mengikhlaskan buku catatannya.

Begitu Rik selesai membaca buku catatan matematikanya, Pak Norto masuk kelas, sementara Nia menghilang dari peredaran matanya. Diluar perkiraannya, tidak ada kuis dadakan pagi ini. Pak Norto melanjutkan materi pembelajarannya. Rik tidak menyesali keputusannya untuk membaca habis catatan matematikanya. Karena menurutnya, kalau tidak dipakai sekarang, apa yang dibacanya itu akan terpakai nanti.

 

Rik membuang napas berat saat melihat jadwal ujian semester satu di tangannya. Sama halnya dengan pelajar lain, Rik sangat tidak suka dengan yang namanya ujian, meski dia sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari. Tapi, ada satu hal yang Rik sukai ketika ulangan, jadwal pulang akan lebih cepat dari biasanya.

Jadi, Rik membuat motivasi baru untuk belajar, yaitu mengerjakan soal sebaik-baiknya dan secepatnya agar cepat pulang ke rumah dan istirahat. Selain itu, motivasi Rik untuk belajar sudah menumpuk. Di antaranya agar mendapat nilai bagus, membanggakan orangtua, menjadi orang yang cerdas sehingga tidak mudah ditipu khususnya dalam hal agama.

Rik buru-buru menyetop angkot untuk kemudian menaikinya. Sekitar dua puluh menit kemudian dia turun dari angkot, memasuki rumah setelah mengucapkan salam dan salim pada ibu lalu berlari ke kamarnya.

Setelah berganti baju, Rik langsung membuka buku-buku pelajaran dari paket, catatan, LKS sampai bank soal untuk dia pelajari. Otaknya sudah memetakan jadwal belajarnya di angkot tadi. Sementara ulangan seminggu lagi, tiap harinya Rik akan mempelajari dua mata pelajaran sekaligus. Sepulang sekolah sampai maghrib satu pelajaran, sehabis isya sampai menjelang tidur satu pelajaran.

Dia juga sudah mengingatkan diri sendiri untuk menyetel alarm setengah jam dari waktu biasa ia bangun tidur agar menyempatkan diri untuk mempelajari pelajaran hari itu. Dia tidak mau hanya karena persiapan ulangan, pelajarannya yang lain juga keteteran.

Rik itu tipe orang yang berpikiran jauh. Sekarang, dia bahkan sudah punya tujuan sendiri sampai lima tahun mendatang. Setelah lulus SMP dengan target NEM minimal 37, Rik mau masuk pesantren boarding school.

Menurutnya, ia sudah mempelajari pengetahuan akademis sebaik mungkin, tapi minim dalam pengetahuan agama. Karena itu, dia memilih pesantren boarding school. Selama dua tahun ia akan fokus mempelajari ilmu agama, sementara di tahun terakhir ia akan mempersiapkan ujian kelulusan disela mempelajari ilmu agama. Setelah lulus, Rik baru akan fokus pada ketertarikannya, yaitu bidang kedokteran. Meski sulit, ia akan berusaha agar bisa masuk universitas jurusan kedokteran bagian penyakit dalam.

Agar semua rencananya terjalani dengan baik, Rik harus berusaha terlalu kuat menghilangkan rasa malas yang seringkali Nia tularkan padanya. Belum lagi sifat menunda-nunda yang tidak jarang menyapa ketika dia sedang merasa lelah sekali.

Untung ibu selalu mengingatkan, kalau merasa lelah dan malas melakukan apa-apa ingat Allah dengan membaca al-Qur’an. Jadi ketika dia tidak mau melakukan apapun, Rik mengambil al-Qur’an dan membacanya. Seringkali dia kelepasan malah menghapalnya karena teringat Az yang sudah hapal hampir sepuluh juz. Menyebalkan, karena Rik bahkan baru hapal tiga juz.

Rik baru sampai di bab tiga tentang kromoson saat suara Nia sayup-sayup terdengar. Sepertinya dia sedang merengek pada ibu tentang sepatunya yang robek. Padahal kalau diingat, itu adalah sepatunya yang ketiga tahun ini, tapi cepat sekali rusaknya. Rik tidak heran, mengingat adiknya itu selain cerewet juga serampangan.

Rik jadi penasaran, kenapa dirinya dan Nia sangat berbeda padahal mereka adalah kembar. Rasa-rasanya, ibu juga sama-sama memanjakan mereka dan ayah sama-sama keras pada mereka. Jadi, apa alasannya?

 

Merenggangkan tiap-tiap sendi tulangnya, Rik berdiri sambil menatap puas pada guru pengawas yang keluar dari ruangan. Tadi adalah pelajaran terakhir yang diujiankan. Dan Rik mendapatkan kebebasannya untuk beristirahat selama setidaknya seminggu untuk kemudian mendapatkan hasil ujian di minggu berikutnya.

Dan selama seminggu itu pula, guru-guru hanya sambil lalu mengajar di kelas. Kekuatan ‘ujian’ itu memang hebat, apalagi kalau menyangkut pelajaran di sekolah. Pelajar akan dengan sendirinya tegang begitu kata itu diumumkan, tapi setelah ujian, para pelajar akan berhura-hura ria seolah beban hidup mereka hilang begitu saja.

Sayangnya, pelajar itu tidak sadar akan ujian sesungguhnya pada ‘ujian’ pelajaran yang mereka terima. Seperti mencontek, sabar dan sejenisnya. Atau yang diluar konteks seperti ujian kehidupan, malah banyak yang menganggapnya sebagai ketidak adilan kehidupan. Sangat lucu. Padahal kalau ditelaah, seharusnya mereka sadar itu bentuk rasa sayang Yang Mencipta agar hamba-Nya selalu ada di jalan yang diridhoi.

Rik menggeleng keras, menghilangkan semua pemikiran runyam di kepalanya. Ia bangkit berdiri, hendak berjalan keluar area sekolah dan pulang ke rumah untuk melaksanakan tujuan utamanya: beristirahat.

Dia tidak merasa harus menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan Nia sampai ke telinganya. Yang seperti biasa, adiknya itu akan berjalan-jalan ria menyambut berakhirnya ujian semester bersama teman-temannya. Kebiasaan yang selalu Rik tentang tapi Nia bela habis-habisan. Adiknya itu sebelum dan sesudah ujian selalu saja mementingkan nafsunya untuk bersenang-senang dengan alasan refreshing.

Rik sudah sampai di area terluar sekolah dan baru akan menyetop angkot saat suara Az terdengar memanggil namanya, membuat dia geram.

“Kay!”

Rik melirik ke asal suara, mendapati Az berlari dari belakang menuju ke arahnya. Sambil melambaikan sebuah buku bersampul ungu muda yang Rik kenali sebagai bukunya, Az melambatkan langkahnya.

“Nih, buku lu. Thanks, yah, kebantu banget loh,” kata Az sambil menyulurkan tangannya yang memegang buku. Rik mengambilnya sambil berpikir kapan ia meminjamkan buku IPA-nya pada Az yang tidak ia temui jawabannya. Pasti udah lama banget, pikirnya.

“Gimana tadi ujiannya, lancar?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Az, Rik malah membalik tubuhnya dan menyetop angkot lalu menaikinya tanpa sedikitpun melirik ke arah Az lagi. Sejujurnya dia kesal dengan fakta bahwa buku IPA-nya dipinjam orang lain sementara dia masih ingat sekali kemarin dia mencari buku catatannya dan tidak ketemu. Membuatnya terpaksa harus belajar dari bank soal saja. Benar-benar menyebalkan.

Hari-hari selanjutnya benar-benar ‘istirahat’ yang menyenangkan bagi Rik. Dia tetap belajar, tentu saja, tapi tidak sepadat kemarin-kemarin. Setidaknya, aku harus mengistirahatkan otak dari memasukkan pelajaran yang padat, pikirnya. Dan seperti dugaannya, guru-guru juga hanya sambil lalu mengajar di kelas. Meminta siswa mempelajari bab ini lalu pergi atau memberikan berlembar-lembar soal agar dikerjakan lalu pergi.

Tidak terasa seminggu berlalu. Hari ini adalah pembagian hasil ujian. Dan kalau boleh jujur, Rik tidak terlalu mengkhawatirkan nilai-nilainya. Dia cukup yakin setidaknya nilainya akan berada di atas sembilan puluh.

Karena hasil yang dibagikan adalah ujian semester satu, jadi yang mengambil adalah siswa, bukan orangtua atau wali. Rik duduk menanti giliran namanya dipanggil sambil sesekali menyiapkan telinga ke arah Az, saingan utamanya di kelas. Az berada di absen awal sementara Rik di akhir, otomatis laki-laki itu akan dipanggil duluan.

Ketika nama Rik akhirnya dipanggil wali kelas, ia bangkit dari duduk lalu berjalan mengambil amplop nilai dari guru. Begitu Rik kembali ke kursinya dan membuka amplop yang berisi selembar kertas berisi nilainya, jantungnya tidak bisa berhenti berdegup senang. Pasalnya, hampir semua pelajaran mendapat nilai sembilan puluh enam, dan yang terkecil adalah IPS dengan nilai delapan puluh tujuh. Tidak terlalu membebani, karena Rik mengakui dia kurang di hafalan.

“Eh, mampus, Az ada nilai seratusnya. Wes, IPA lagi! Hebat lu Az,”

Rik mematung mendengar salah satu teman sekelasnya mengatakan hal demikian. Seratus? Dapet dari mana nilai sempurna kayak gitu? Pikirnya suuzhon.

Rik kesal. Sangat kesal, sementara Az tertawa ria bersama teman-temannya. Selama ini dia tidak ada masalah dengan Az yang membuatnya naik darah. Meski Az mampu mengejar nilainya bahkan melebihinya, dia biasa saja, bersikap biasa saja maksudnya. Tapi rasanya Rik mau marah sekarang. Ia jadi ingat selama ujian kemarin, buku catatan IPA-nya dipinjam Az, yang membuatnya mau tidak mau belajar hanya dari bank soal saja. Lihat saja sekarang, Az mendapat nilai seratus di IPA dan Rik hanya mendapat sembilan puluh empat. Sangat menyebalkan.

Ketika kelas sudah mulai sepi dan hanya menyisakan sekitar lima orang saja termasuk Rik dan Az, Rik baru akan bangkit dari duduknya, hendak protes pada Az. Tapi niatannya terhenti saat pintu kelasnya yang baru tertutup saat wali kelas keluar, tiba-tiba terbuka.

“Nyebelin banget, sih, lu!” teriakan Nia padanya membuat Rik tersentak kaget. “Gara-gara lu cuman minjemin bank soal sama catetan remeh-temeh lu, nilai gua pada jelek semua, nih!” tuduhnya geram. Raut mukanya sudah masam dan memerah menahan marah sambil menunjuk-nunjuk kertas nilai hasil ujiannya.

“Kenapa lu nyalahin gua?”

“Karena lu pelit! Ibu bilang jangan pelit sama ilmu,”

“Hei, gua pinjemin lu bank soal, yah. Jadi dari mananya gua pelit ilmu?”

“Karena lu nggak pinjemin catetan lu!”

“SALAH LU KARENA NGGAK NYATET DAN BELAJAR!” sahut Rik galak. Dia bahkan kaget pada dirinya sendiri karena berteriak sekeras itu. Nia juga tampaknya kaget karena Rik berteriak padanya. Sebelumnya, Rik hanya mengancamnya jika dia berbuat salah, bukan malah meneriakinya.

Nia keluar kelas dengan air mata tertahan di kelopak matanya dan emosi juga rasa takut dan kaget membakar hatinya. Sementara itu, Rik syok di tempatnya, masih tidak percaya dengan apa yang dilakukannya pada adiknya beberapa detik lalu.

Hati Rik baru saja terbakar karena fakta Az mendapat nilai seratus di pelajaran IPA. Apinya semakin membara ketika Nia tiba-tiba menuduhnya karena telah pelit ilmu dan sejenisnya. Andai Nia tidak datang di saat yang tidak tepat, Rik mungkin akan menghadapinya dengan tenang seperti biasa. Mengebalkan. Rik jadi semakin kesal pada Az.

Are you okay, Kay?”

Rik menyipitkan matanya pada Az. “Ini semua gara-gara lu,” Rik mengabaikan ekspresi kaget Az dan melanjutkan, “Kenapa sih lu harus pinjem catetan gua? Kenapa nggak yang laen? Kenapa lu nggak balikin catetan IPA gua sebelum ujian? Gara-gara lu pinjem terus, nilai gua jadi jelek, lebih jelek dari lu,”

“Kay, sorry¾” Rik mengabaikan perkataan Az. Dia ingin melepas semua unek-uneknya jadi dia terus melanjutkan.

“Gua capek-capek dengerin guru jelasin, capek-capek ngerangkum catetan, tapi lu enak-enakkan tidur dan malah pinjem catetan gua. Gara-gara lu gua jadi kesel dan malah bentak-bentak Nia!”

“Sorr¾”

“Kalo lu ngga niat nyatet atau dengerin guru, seharusnya nggak usah sekolah aja sekalian. Dasar tukang jiplak ilmu or¾”

“RIKAYLA!”

Rik diam. Napasnya memburu sementara dapat ia rasakan wajahnya memerah karena marah. Diliriknya Az yang baru berteriak padanya, takut-takut. Rik bahkan yakin sekali suara Az lebih menyeramkan dari saat ia berteriak beberapa menit yang lalu.

Az yang Rik kenal sangat jahil, jadi dia tidak pernah membayangkan kalau laki-laki itu marah akan semenyeramkan ini. “Sorry karena teriakin lu,” kata Az. Masih bisa Rik rasakan emosi yang berusaha Az tahan lewat nada suaranya. “Tapi tadi lu udah berlebihan.”

Rik menunduk, menyesal. Sebelumnya Rik tidak pernah marah-marah, dan kalaupun kesal ia berusaha memendamnya. Menurutnya, akan sangat melelahkan kalau amarah diumbar-umbar.

“Sebelumnya, sorry karena terus-terusan pinjem catetan lu. Gua nggak tau lu ternyata kesel selalu gua pinjemin. Tapi kalau lu emang kesel seharusnya bilang, jadi ngga bikin penyakit hati,” kata Az dengan nada suara yang jauh lebih tenang. Sementara itu Rik masih menunduk, mendengarkan.

“Dan gua bukan tukang jiplak ilmu, kalo lu nyangka begitu. Gua emang bukan tipe yang cuman ngedengerin terus nyatet,” Rik menahan diri untuk tidak menyela perktaan Az.

“Asal lu tau aja, tiap guru dateng gua selalu rekam semua yang dijelasin pake recorder yang nantinya gua dengerin di rumah. Lu sering liat gua pake earphone, kan?” Rik mengangguk, dia memang sering melihat Az memakasi earphone baik saat istirahat maupun jam kosong.

“Gua selalu pake earphone buat dengerin semua penjelasan guru. Dan catetan lu sangat ngebantu buat bikin gua tambah paham apa yang dijelasin guru.” Az diam. Sementara Rik merasa semakin menyesal dan bersalah karena sudah menuduh laki-laki itu yang tidak-tidak.

Sorry karena telat balikin catetan IPA lu, tapi gua ngelakuin itu bukan karena sengaja,” Rik mengangguk, “Dan sebaiknya lu minta maaf sama Nia. Pelit ilmu bukan berarti ngga mau pinjemin buku ke orang lain, tapi juga nggak mau ngejelasin tentang pembelajaran ke orang lain. Lu kakaknya, seharusnya lebih ngerti tentang adik lu sendiri, kan?”

Rik mengangguk. Meski terkesan tidak peduli pada adiknya, Rik sering diam-diam memperhatikan Nia yang jarang sekali membuka buku. Di sekolah juga dia hanya melihat adiknya itu sibuk bermain alih-alih belajar. Dan ibu juga pernah bilang, Nia susah belajar kalau hanya membaca, jadi perlu dijelaskan berulang-ulang agar mengerti.

Seharusnya Rik sadar kalau dia dan Nia, meski kembar tapi berbeda. Kemampuan seseorang dalam menangkap ilmu juga berbeda seperti halnya Rik dan Az. Seharusnya dia tidak menilai usaha seseorang hanya dari luarnya. Dan seharusnya dia juga membantu orang lain yang tampak kesusahan, bukan hanya memberikan catatan.

Seharusnya, Rik juga tidak terlalu cuek terhadap banyak hal. Ini merugikan dia dari banyak hal pula. Teman dan adik, misalnya. Di antara mereka tampak seperti ada benteng yang menghalangi.

Pada akhirnya, Rik tidak boleh hanya menyalahkan orang lain. Tapi kesalahan juga ada pada dirinya sendiri.

 

willyaaziza, Bogor 9 Mei 2017

Tugas Menulis

willyaaziza [ZMardha]

Penulis: 
    author

    Posting Terkait