Teru Teru Bozu

318 views

Sawah-sawah hijau yang membentang luas, para orang perdesaan yang mulai melakukan aktivitas-aktivitas mereka, suara ayam yang berkokok, serta bebek-bebek yang berenang tak tentu arah. Bukan, ini bukan cerita tentang desa tersebut. Tapi, ini cerita tentang mereka..,

***

Naomi keluar dari rumah, dengan membawa seember air untuk kemudian ia siramkan pada tanaman yang berada tepat di depan rumah. Jarwo segera menyusul keluar, di tangannya terdapat sangkar burung yang kemudian ia gantung di atap rumah mereka yang tidak terlalu tinggi.
Aktivitas Naomi menyiram bunga terhenti, ketika ia merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Naomi meringis dan segera masuk ke rumah, sambil mengelus-ngelus perutnya. Meninggalkan Jarwo yang masih sibuk dengan burung yang ia bawa tadi.

***

Jarwo kemudian masuk ke dalam rumah. Ia duduk di sebuah kursi yang di depannya terdapat sebuah meja dengan aquarium kecil dan sebuah rak -yang di dalamnya terdapat batu-batu. Jarwo sibuk menghitung volume batu, dengan rumus matematikanya. Baginya filsuf tentang hidup tidak lepas dari ilmu matematika dan ajaran kejawen.
Ia memasuki sebuah batu ke dalam air, lalu mengamatinya dengan tampang serius. Bahkan suara ribut yang tak sengaja Naomi buat dari arah belakang, tidak masalah baginya yang kembali dengan aktivitas menghitung-volume-batu-dan-rumus-matematika.
Naomi sedikit mengintip dari kain pembatas antar ruangan sebelum keluar dan melengos pergi setelah menatap Jarwo sebentar.
Menikahi pria asing adalah sebuah aib bagi wanita jepang, seperti Naomi. Apalagi dengan kondisi Jarwo yang seperti sekarang. Tidak, Naomi tak pernah mengeluh, tatapan hangat suaminya mampu melunturkan segala macam masalah yang ada di dunia.
Dengan keadaan rumah tangga yang masih ranum, juga kondisi ekonomi yang tidak begitu baik. Wajar saja, Jarwo hanya seorang pawang hujan, sedangkan Naomi membuka tempat jahit di rumah. Biasanya, mereka mengobrol dengan bahasa masing-masing. Jarwo dengan bahasa jawa, dan Naomi yang menggunakan bahasa jepang
“Ada apa? Masalah itu lagi?” Tanyanya sambil memelintir ujung rambut Naomi.
“Aku tidak pernah menganggap ini sebuah masalah. Dan aku tidak pernah menuntut”
“Bukannya aku tidak mau mengalah. Tapi,kamu ngerti kan? Aku tahu kamu tidak pernah merasa puas.”
Naomi menggeleng pelan “Ini bukan soal puas atau tidak. Tapi, ini soal rasa nyaman.”
Jarwo terlihat kesal. Ia menatap langit-langit rumah lalu menghela napas pelan.
Tanpa mereka sadari, seseorang memasuki pekarangan rumah menggunakan sepeda. Orang itu tiba-tiba muncul di depan pintu yang terbuka.
“Permisi.”
Mereka sama-sama menoleh. Dengan raut bingung Jarwo mempersilahkan ‘si tamu’ masuk. Jarwo kemudian mengajak orang tersebut duduk di ruang tamu rumahnya yang kecil. Ia menyuguhkan kopi untuk mereka berdua. Jarwo menyesap kopinya pelan, menunggu tamunya berbicara.
“Bagini mas, saya Broto. Saya akan mengadakan acara,”
“Terus?” Jarwo bertanya malas, seolah tidak tertarik dengan topik pembicaraan mereka.
“Kata orang-orang, anda bisa memindahkan hujan.”
“Ya benar.” Jarwo mengiyakan
“Kira-kira minggu ini anda ada acara atau tidak?”
“Hari apa?”
“Kalau hari selasa pahing?”
“Selasa pahing?” Jarwo berpikir sebentar “Ya bisa,”
“Ya bagus kalau begitu. Ini ada rokok, sama ada sedikit rejeki untuk ganti bahan” Broto merogoh saku bajunya.
“Sudah nggak usah.”
“Saya ikhlas mas, silahkan.”
“Ya sudah, ini nanti saja kalau sudah berhasil.” Jarwo mengembalikan uang yang ada ditangannya, lalu mengambil rokok yang di berikan Broto
“Kalau ini buat teman ngopi.” Katanya mengangkat rokok yang di berikan Broto.
Akhirnya, Broto pamit untuk melaksanakan pekerjaannya yang lain.

***

Jarwo memilih duduk di kursi tempat ia biasanya melakukan aktivitas menghitung-volume-batu-dan-rumus-matematika. Ia mengambil dan menaruh aquarium di atas mejanya, lalu memberi makan ikan kecil di dalam sana.
Anak-anak berlari-lari mengantarkan kedua orang yang asik berbincang dan mulai memasuki perkarangan rumah Jarwo. Mendengar suara-suara –yang tak asing baginya- tersebut, ia pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar rumah.
Kedua orang tersebut, tak lain dan tak bukan adalah kakak perempuannya, Maryati, beserta pacar sang kakak, yang kebetulan juga perempuan. Naomi menyambut kedatangan kedua tamu tersebut dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Pacar kakak perempuan Jarwo bergegas masuk bersama Naomi.
Jarwo keluar dari rumah dengan tampang lelah, lalu ikut duduk bersama kakaknya yang sudah duduk duluan di kursi teras rumahnya yang sederhana. Maryati masih sibuk menelepon ketika Jarwo duduk di sebelahnya.
“Gimana kabarmu?” Maryati memulai. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang di bawanya.
“Baik.”
“Sudah lama aku tidak kesini, kamu masih suka memindahkan hujan?”
Jarwo mengangguk, lalu menghisap rokok di tangannya.
“Kamu itu dikasih otak pintar, kenapa masih kerja kayak gitu? Kalau cari kerja yang enak sedikit. Jadi guru les, atau mengajar di SD. Gajinya terjamin. Kamu tidak usah mikir, nunggu orang kasih kerjaan midahin hujan. Atau kamu jadi PNS saja. Kaya pacarku itu?” Maryati tersenyum di akhir kalimatnya, lalu melirik sedikit ke dalam rumah, tempat pacarnya berada.
“Tidak mbak,”
“Kalau masalah uang itu gampang, kakakmu ini punya banyak. Paling setahun sudah balik modal. Daripada bengong nunggu orang kasih sesaji kayak setan. Kalau tidak ada orang mainan keris dan batu cincin. Lama-lama kamu seperti dukun. Harusnya hidup itu harus berpikir realistik sedikit,” Maryati terus saja mengoceh.
“Realistis, beb.” Suara pacar Maryati terdengar dari dalam rumah.
Naomi menatap keluar rumah melalui jendela, melihat Jarwo yang mengobrol dengan Maryati. Aku selalu mengerti tatapan kosong itu, Apalagi saat Maryati komat-kamit membicarakan rumah tanggaku dan Jarwo, jelas ia sangat tidak suka. Aku tahu ia pasti berkata dalam hati ‘hei lihat dirimu gendut, doktrinmu murahan’

***

Pagi itu, terlihat Jarwo yang mengangkat kayu-kayu beserta sebuah kapak menuju sungai yang cukup dekat dari situ. Saat akan menyeberang, ia menemukan sebuah batu yang berukuran sedang, lalu mengamati batu tersebut lama, kemudian menengadah menatap langit biru di atas sana, sebelum ia menyelipkan batu tersebut di jare’ yang di kenakannya.
Jarwo kembali melanjutkan perjalanannya, melewati hutan-hutan bambu.
Lain ceritanya dengan Naomi. Saat sedang sibuk menjahit di dalam rumah, ia mendengar suara mobil berhenti di depan halaman rumahnya. Seseorang turun dari mobil tersebut, lalu segera berjalan ke dalam halaman rumah Naomi.
Seorang laki-laki berkaca mata dengan pakaian rapi yang melekat pada tubuhnya yang tegap. Hatashi Takeda, teman sekaligus saudara Naomi satu-satunya di sini. 5 tahun lalu Green Peace Jepang mendelegasikan mereka kemari. Takeda dan Naomi menjadi sukarelawan bencana alam, dan akhirnya mereka menetap di sini.
Naomi segera keluar dari rumah dan mempersilahkan Takeda untuk masuk. Lalu, Naomi menyediakan minuman untuk mereka berdua. Tanpa mereka sadari, Jarwo sudah pulang lewat pintu belakang dengan membawa kayu dan kapaknya.
Jarwo mengintip dari celah-celah dinding kayu rumahnya.
Takeda memulai pembicaraan. “Seminggu lagi aku akan pulang ke jepang. Aku sangat berharap kau mau ikut denganku Naomi. Maafkan aku, tapi, lihat di sini. Apa semua ini membuatmu senang?”
Naomi tersenyum tipis. “Kenapa harus ke sini? Jika kamu sudah tahu jawabanku Takeda.”
“Kamu tidak rindu kampung halaman?”
Naomi menggeleng.
“Ada apa denganmu? Ikutlah denganku.” Kata Takeda keras kepala.
Suara kayu-kayu jatuh terdengar dari arah belakang. Naomi bergegas melirik ke arah tersebut lalu menunduk sembari mengeluarkan senyum tipis.
“Ha! Begitu, ya? Baiklah. Aku tidak bisa memaksamu, kamu selalu memiliki prinsip yang kuat. Jika kamu berubah pikiran, hubungi aku sebelum berangkat.”
Naomi mengangguk, lalu Takeda pun pamit pulang.

***

Di bagian belakang rumahnya, tempat terdapatnya kayu-kayu yang bertumpuk-tumpuk. Jarwo sedang melakukan gerakan-gerakan aneh dengan mata menatap tajam serta dengan ekspresi marah.
“Suamiku,” Kepala Naomi menyembul dari balik kain penutup ruangan tersebut.
Jarwo mengacuhkannya dan melanjutkan gerakan-gerakannya yang tidak masuk akal. Naomi menyipitkan matanya melihat kelakuan suaminya tersebut.
“Suamiku.” Air mata mengalir di pipi Naomi, lalu dengan marah ia pun pergi meninggalkan suaminya yang masih melakukan gerakan-gerakan yang sama.
Pagi itu, langit tampak mendung. Tanaman-tanaman tampak terkena titik-titik air hujan yang jatuh pada malam hari, serta angin yang bertiup lumayan kencang.
Kertas-kertas lipat tampak bertebaran di ruangan yang dimasuki Jarwo. Naomi berdiri di tengah-tengah kertas tersebut, ia membelakangi pintu depan.
Rambut Naomi digerai hari itu. Lalu, ia dan Jarwo mulai melakukan gerakan-gerakan aneh seperti yang di lakukan Jarwo tadi. Hanya sebentar, lalu mereka pun berhenti. Jarwo berjalan ke belakang Naomi dan mendekapnya dari arah belakang. Naomi tersenyum.
Malam harinya, Naomi menutup pintu rumah. Sedangkan, Jarwo mulai mengeluarkan mantra-mantra pemindah hujan untuk memenuhi janjinya kepada Broto beberapa hari yang lalu.

***

Jarwo keluar dari rumah, diikuti Naomi di belakangnya. Kemudian, Naomi menyodorkan boneka penangkal hujan yang dibuatnya kepada Jarwo. Sebelum pergi, Jarwo mengecup dahi Naomi dan berjalan menjauh dari halaman rumah mereka
Beberapa saat setelah Jarwo pergi dan kebetulan saat itu Naomi sedang menjemur pakaian di halaman depan. Tiba-tiba, sebuah motor berhenti di depan halaman rumah mereka. Seseorang turun dari motor dan berjalan ke arahnya.
“Mbak Naomi? Ini ada titipan, mbak.” Orang tersebut menyerahkan sebuah batu dan gulungan kertas yang diikat dengan pita.
Naomi membuka gulungan kertas tersebut yang berisi, ‘Untuk cintaku, Naomi. –Jarwo’
Naomi kemudian menatap batu yang tadi di berikan kepadanya. Lalu tersenyum menatap wc duduk –yang berada di atas motor- yang juga untuknya.
Naomi tidak pernah menyesal bertemu, lalu hidup dengan Jarwo. Bagi Naomi, Jarwo adalah teru teru bozu nya yang mampu melindungi dan mencerah kan setiap hati nya yang mendung.

*Tulisan ini sebagai tugas menulis kreatif Pesantren Media

[Hanifa Sabila, santri Pesantren Media, Kelas 2 SMP, angkatan ke-2]

karya santri

Penulis: 
    author
    Hanifa Sabila | Santriwati angkatan ke-2 jenjang SMP, kelas 2 | @hanifasabila21 | Asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat

    Posting Terkait