TERBALAS MESKI LELAH

394 views

Yang namanya perjalanan jauh, pasti tidak akan pernah lepas dari rasa lelah. Tapi untuk rasa lelahku kali ini bukan karena aku jalan terlalu jauh dari Bogor ke Jakarta, Jakarta ke Bogor. Melainkan karena aku ingin membalas rasa bersalah yang selalu menghantuiku.

Menurut dokter yang dulu memvonisku Asma. Aku dilarang terlalu lelah oleh beliau. Tapi aku tidak percaya akan hal itu, aku bertekad  tetap membalas rasa bersalahku dan melanggar apa yang dokter katakan itu.

Jam menunjukkan pukul 8. Aku dan kru PM (Pesantren Media) bergegas pergi menuju terminal buswah APTB. Aku kira, busway APTB hanya sekedar bus Mini yang hanya muat beberapa orang saja. Tapi setelah aku melihatnya secara langsung, BUSWAY APTB lebih luas dibanding bus yang biasa aku naiki jika aku pulang ke Depok, rumahku. Bangku di busway tersebut hanya tersedia untuk beberapa orang saja. Alhasil, aku memutuskan untuk menempati tempat duduk di sisi kanan. Tentunya didampingi oleh Kru PM yang lain yaitu Via (Santri SMA Kelas 2), Daffa (Santri SMP kelas 1), Alifa (Santri SMP kelas 1), Hanifa (Santri SMP kelas 1) dan Ira (Santri SMA Kelas 2). Sedangkan untuk kursi di depanku diisi oleh Holifah (Santri SMA Kelas 2), Putri (Santri SMP Kelas 2), Nisa (Santri SMA Kelas 1), Neng Ilham (Santri SMA Kelas 3, satu angkatan denganku), Mufiddah (Santri SMP Kelas 2).

Ada pun di tempat duduk posisi belakang. Di bagian sisi kiri dan kanan ada 2 bangku. Bangku pertama diisi oleh Tya (Santri SMA Kelas 1) dan Ella (Santri SMA Kelas 2), sedangkan di sebelahnya diisi oleh orang yang tidak aku kenal. Untuk posisi belakang, tepat dibelakang Ella dan Tya diisi oleh Icha (Santri SMA Kelas 2) dan Maila (Santri SMA Kelas 2).

Beda halnya untuk Kru PM bagian Ikhwan. Sejak awal berangkat, mereka memutuskan untuk duduk di kursi paling depan.

MATA BULAT KARENA INBOX

Guys, tentu kalian tahukan acara TV, INBOX.  Acara yang menurutku tidak terlalu penting untuk di tonton. Why? Ya iyalah, coba kalian bayangkan. Dari banyaknya remaja yang datang kesana, ada sebagian dari mereka yang bolos sekolah hanya untuk INBOX.  Memang sih, dulu aku sempat terkesima dengan INBOX. Tapi kali ini, aku sadar, tidak seharusnya aku terkesima dengan hal semacam itu. Mau tempat acaranya dekat rumahku atau tidak, aku nda peduli. Beda halnya dengan anak jaman sekarang. Mata mereka bulat saat melihat INBOX di Ramayana bogor yang baru beberapa bulan buka. Dalam arti kata bulat, mereka penasaran bagaimana acara INBOX berlangsung?

Tapi untungnya Pak Supir baik, acara INBOX tersebut hilang sekejap mata saat Pak Supir terus melajukan Buswaynya tanpa henti dan aku yakin adik kelaskupun berpikir sama sepertiku, acara INBOX itu memang tidak penting.

KRU PM SAMPAI TUJUAN. KEMANA YA?

Waduh, dari awal cerita aku lupa memberi tahu kalian perihal tujuan Kru PM ke Jakarta. Yowes, penasaran toh. Tujuan kami ke Jakarta, karena kami ingin menghabiskan momen kebersamaan kami di acara “IBF (Islamic Book Fair). IBF biasa identik dengan surganya buku, kerudung, kaos kaki, manset dan jilbab murah. Untuk kaos kaki dan manset sendiri, biasanya disana dijual 10 ribu 3. Meskipun mansetnya suka beda warna dengan pasangannya, tak apelah yang penting murah Hehehe.

Ada juga buka setebal novel Harry Potter hanya dijual 25-30’an. Tapi untuk isinya, entahlah.

Tapi untuk belanjaan ku kali ini, sama halnya seperti belanjaanku saat ke IBF tahun kemarin yaitu manset dan kaos kaki. Selagi murah, aku bisa menjalankan amanah ibuku untuk tidak boros.

Ada juga tambahan lainnya. Itupun untuk kepentinganku dan teman seangkatanku yaitu Buku UN (Ujian Nasional). Kami berpatungan 20.000 untuk membeli buku UN tersebut.

MESKI BERALAS TIKAR, KAMI SENANG.

Momen kebersamaan. Aku menunggu betul momen tersebut. Meski Akhwat dan Ikhwan terpisah.

Belum lagi, kami ditemani oleh guru kami yaitu Ustad Oleh Solihin (Kepsek PM, Guru Menulis Kreatif, Website), Ustad Uci (Ketua Asrama Ikhwan), Teh Yuni (Staf PM), Ustadzah Wita (Guru PS (Publik Speaking dan TPPW (Tata Pergaulan Pria dan Wanita) dan Ustad Rahmat (Guru TQ (Tahfidzhul Quran, Nafsiyah Islamiyah, Fiqih Keseharian, Fiqih Sholat, Tafsir Quran). Momen tersebut kian begitu sempurna seperti halnya keluarga besar.

Jam menunjukkan pukul 11 (Kalau nggak salah, lupa soalnya. . hehehe). Kru PM  baik Ikhwan, Akhwat dan guru berkumpul di samping musholla tenda yang dibangun oleh Panitia acara IBF.

Digelarnya tikar disana dan kami duduk bersama sembari makan lauk yang menurutku enak, daging rendang. Lauk yang sama halnya seperti saat ke IBF tahun kemarin. Tentunya saat guru tegas kami Alm. Ustad Ir. Umar Abdullah masih bersama kami.

TERBALAS MESKI LELAH

Guys, tentu kalian sudah bacakan awal-awal kalimat perihal rasa bersalah itu. Yapz, maksud dari rasa bersalah yang aku rasakan itu karena aku merasa pelit memberikan tempat duduk untuk orang yang lebih tua dariku. Memang lebay sih, tapi rasa bersalahku itu selalu saja mengahantuiku.

Maka dari itu guys, aku bertekad untuk membalas rasa bersalahku dengan berdiri dari awal naik Bus Trans Jakarta, agar aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setelah itu, aku menyambung kembali saat aku naik Commuter line (betul nggak). Meski saat itu aku merasa lelah, aku tetap berdiri sembari menyenderkan tubuhku ke dinding Commuter line.

Tak kusangka, penumpang Commuter line makin banyak. Alhasil, tubuhku makin terhimpit dan sulit untuk digerakkan. Aku hanya bisa diam mematung, berharap ada keluasan di area tempat berdiriku.

Jam menunjukkan pukul 6 sore. Saat itu, kondisi Commuter line tidak lagi penuh setelah penumpang lainnya turun di 2 stasiun terakhir sebelum bogor.

Saat Commuter line terhenti di Stasiun bogor, aku bersyukur bukan main, karena aku berhasil membalas rasa bersalahku itu.

Lalu setelah itu, aku turun dari Commuter line sembari menahan rasa lelahku dengan kaki yang mulai keram dan sedikit bergetar. Bahkan aku sempat merasa ingin jatuh karena tidak sanggup lagi menopang kakiku. Untungnya teman-temanku tak henti memberiku semangat. Thank You Very Much kawan. .

_SEKIAN_

 (Novia Handayani, Santri Angk.1(3 SMA) Pesantren Media)

Penulis: 
    author
    Novia Handayani, santriwati angkatan ke-1, jenjang SMA | Alumni tahun 2014, asal Cimanggis, Jawa Barat

    Posting Terkait