SYUKUR, CITA, DAN CINTA DI SURABAYA UTARA

162 views

Surabaya Utara adalah wilayah yang berbeda dibandingkan dengan wilayah Surabaya yang lain.
Surabaya Utara lebih terkesan kumuh. Apalagi ada satu sungai yang sangat hitam airnya, yaitu
Sungai Jatipurwo. Penduduk di wilayah ini jalurnya berbelok-belok. Bahkan rumah-rumah di sini
rata-rata hanya sepetak. Kamar mandinya pun umum, bukan pribadi.

Pernah sekali aku diajak temanku berkunjjung ke rumahnya. Rumahnya ada di daerah Jatisrono.
Jujur saja aku sebenarnya kaget. Karena rumahnya ada di sela-sela gang yang sempit. Padahal rumah
itu adalah rumah kos. Dan ternyata rumahnya hanya berukuran satu petak saja. persis sekalli
sepertiruang tidur. Aku mengamati sekeliling. Ada kasur, TV, kulkas, lemari tersusun rapi menjadi
satu di satu ruang yang sempit itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Di mana kamar mandi dan
dapurnya?

Jujur saja setelah melihat ini semua, aku merasa sangat bersyukur karena Allah masih memberiku
rumah yang agak luas. Setidaknya ruangannya jelas, ada ruang tamu, kamar, kamar mandi, ruang TV
dan lain-lain terlihat jelas. Walaupun rumahku sudah tua, ya setidaknya aku nyaman dengan apa
yang ada. Aku tak bisa membayangkan kalau aku yang tinggal di tempat yang seperti ini. Tetapi
mereka hebat sekali bisa tenang dengan tempat yang keadaannya memprihatinkan seperti ini.

Ayah dari temanku ini adalah seorang tukang jahit. Peralatan menjahitnya ada di sebuah garasi.

“Syah, kamu mau makan apa? Aku masakin, deh.” Tawarnya sambil menyalakan TV.

“Errr… Apa aja deh. Yang penting enak hehehe.. “ Kataku.

“Ok. Aku masakin telur dadar, ya. Kita makan bareng. Oh ya, kalau mau minum, ambil aja tuh di
kulkas.” Katanya sambil keluar dari ruangan. Aku mengangguk sambil tersenyum. Mataku
membuntuti dia karena aku penasaran dengan dapurnya dari tadi.

Ternyata dapurnya ada di luar. Kamar mandinya juga ada di luar. Dan kamar mandi itu adalah kamar
mandi umum.

***

Aku bersekolah di SMP Islam Al-Amal Surabaya. Sekolah yang dikelola oleh Yayasan PPAY Al-Amal.
Yayasan yang berpusat di Jl. Wonosari Lor No. 52 Surabaya Utara ini merupakan Yayasan yang
dikhususkan untuk menolong dan membina anak yatim dan kaum dhuafa. Kini yayasan ini telah
mememiliki gedung dan tempat pendidikan dari jenjang TK sampai dengan SMK.

PPAY Al-Amal berada di wilayah Surabaya Utara yang mana, kondisi dari Surabaya Utara ini sangat
mengibakan. Di sini banyak sekali kaum dhuafa dan keluarga yang tidak berpendidikan. Sehingga
PPAY hadir di tengah-tengah mereka seakan-akan PPAY-lah harapan masa depan anak-anak mereka.

Aku mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Palang Merah Remaja. Kebetulan saat itu salah satu ujiannya
adalah bertamu di rumah senior dan sesama junior untuk saling mempererat hubungan
persaudaraan.

Aku senang bisa berkeliling mengunjungi rumah teman-temanku. Hanya saja, aku tidak bisa
bepergian sendiri. Karena jalur perumahan di Surabaya Utara sangatlah rumit. Salah satu rumah
yang aku kunjungi adalah rumah temanku, Reza. Anak yang pintar dalam matematika ini memiliki rumah di daerah Jatipurwo. Aku sama sekali tak menyangka, dan sangat terkejut dengan keadaan
rumahnya. Rumahnya kecil. Kecil sekali. Hanya satu petak, terdiri dari satu kamar, atap yang rendah,
dinding triplek, dan tak berkeramik. Aku duduk di sebuah kursi, bukan kursi untuk tamu. Di depanku, adalah pintu masuknya. Di sebelah pintu masuk itu, ada kompor dan beberapa makanan.

Aku disambut oleh kakak, dan juga neneknya yang sudah sangatlah tua. Aku ingin tersenyum, tetapi
enggan. Karena dengan kondisi yang seperti itu, aku sedikit tidak nyaman. Reza mengajakku
berbincang dan bergurau. Aku memang tertawa, namun hatiku sangat miris.

Rasa syukur kembali memeluk hatiku. Ternyata ada yang lebih susah dariku. Benar. Dibandingkan
dengan aku yang kini tinggal di asrama yang megah, dan sangat nyaman. Itu saja aku masih sering
mengeluh perihal makanan atau jata uang yang telah disediakan oleh Abi Fuad. Namun melihat
keadaan Reza yang seperti ini, aku merasa sangat malu. Dia hebat. Hebat sekali.

***

Tiga tahun aku menjalani hidupku di Surabaya Utara. Setelah aku lulus dari situ pun aku sama sekali
enggan melupakannya. Bahkan aku akan selalu mengutamakannya. Karena di sanalah aku
menemukan banyak sekali cinta. Keluarga besar PPAY Al-Amal Surabaya adalah keluarga yang sangat
berharga bagiku. Mereka adalah orang-orang yang bisa menerimaku, dan aku pun bisa menerima
mereka.

Tidak hanya cita dan cinta yang aku dapatkan dari sini. Rasa syukur yang besar juga aku dapatkan.
Tak akan ada habisnya aku bersyukur karena Allah telah mengirimku ke tempat yang sangat berkah
ini. ya, walaupun di sini aku banyak mendapatkan teman yang liar, nakal, dan lain sebagainya, aku
tetap bersyukur pernah mengenal mereka. Karena mereka tetap anak-anak manusia yang sangat
membanggakan sebenarnya. Aku mendapatkan pelajaran dan juga pengalaman bersama mereka.
Pengalaman yang sama sekali tak akan pernah aku lupakan. Dan aku sangat berharap bisa
mengabdikan diriku di yayasan itu suatu hari, mendidik anak-anak yang diujung harapan, dan
menuntaskan harapan mereka. Sebagaimana aku yang telah dituntaskan harapanku.

Natasha

catatan perjalanan cerita cinta diary feature Inspirasi islam karya santri media menulis perjalanan persahabatan pesantren pesantren media pesantrenmedia remaja sahabat santri santri media santrimedia tulisan

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait

  • Pernahkah kamu mengkhayalkan sesuatu yang ‘tidak mungkin’ terjadi dan

  •                  

  • 5 Kampung Kecil Kasawari Tibalah kami di rumah Mak