Sunsilk Hijab Hunt, yang Bahaya Tapi Dielukan

Diskusi Aktual (Rabu, 3 Mei 2017)

Sunsilk Hijab Hunt kembali diadakan setelah selama lima tahun terus digalakkan. Berawal dari kontes foto muslim yang diadakan detikforum.com, kini Hijab Hunt disponsori oleh salah satu brand sampo ternama, Sunsilk bahkan turut mendapatkan sorotan dari Trans7. Bersyaratkan berhijab, berbakat, dan cantik, Sunsilk Hijab Hunt diminati banyak muslimah.

Mengusung tema Sunsilk Hijab Hunt, Diskusi Aktual yang menjadi agenda mingguan di Pesantren Media, kembali dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Mei 2017. Dengan Oleh Solihin selaku pembimbing, Diskusi Aktual dibuka. Moderator pada malam itu adalah Hayatun Nufus, santri kelas dua SMP dan Imam Fadli, santri pindahan di tahun kedua SMA. Sementara notulen yang bertugas adalah Zadia Mardha, siswa tahun pertama SMA di Pesantren Media.

Setelah pembukaan singkat oleh pembimbing, Hayatun Nufus langsung membuka sesi pertanyaan. Meski awalnya terasa tidak ada yang tertarik dengan tema, tapi pertanyaan dari Bintang yaitu “Peserta mengikuti lomba ini untuk sekedar mencari uang boleh atau ngga?” memancing santri yang hadir untuk bertanya pula.

Pertanyaan selanjutnya dari Fathur, siswa kelas 3 SMP, “Sunsilk Hijab Hunt merupakan ajang kecantikan, akan termasuk tabarruj atau tidak?”

Abdullah langsung menyusul, memberikan pertanyaan yang mempertanyakan tentang apa saja agenda acara tersebut dan apakah sudah ada persetujuan dari pihak berwajib atau yang bersangkutan?

Tidak mau kalah, beberapa menit setelahnya Fadlan unjuk gigi dan bertanya, “Siapa pencetus hijab hunt?”

Setelah Fadlan bertanya, senior di kalangan para santri yang sudah mengecap bangku di Pesantren Media selama enam tahun langsung angkat tangan. Setelah sebelumnya hanya melipat tangan di meja, menunggu kantuk datang, Fathimah bertanya, “Apakah ada maksud terselubung di balik kontes ini?”

Bersamaan dengan itu Fadlan bertanya lagi, “Kenapa muslimah mau mengikuti audisi seperti itu?”

Menyusul, Amilah, siswa kelas dua SMA, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan ikut bertanya, “Haruskah kita mendukung acara ini dari tahun ke tahun?”

Setelah pertanyaan dari Amilah, suasana hening. Disela keheningan, moderator memutuskan sesi pertanyaan akan berakhir di pertanyaan ke delapan sementara pertanyaan yang masuk baru tujuh.

Setelah beberapa menit berlalu barulah Abdullah tunjuk jari, “Tidak boleh bagi wanita untuk menarik perhatian, tapi kenapa bisa ada kontes yang mengedepankan daya tarik?”

Karena sudah masuk ke pertanyaan ke delapan, sesi pertanyaan di akhiri oleh moderator dan masuk ke sesi jawaban.

Zadia, selaku notulen mulai memilih pertanyaan yang menurutnya bisa didahulukan. Adalah Fadlan dengan pertanyaan kedua yang ia ajukan yaitu alasan muslimah mau mengikuti audisi seperti ini.

“Karena ada hadiahnya,” jawab Abdullah diikuti gerai tawa.

Sementara itu dari akhwat, Fathimah, kakak dari Abdullah juga menjawab, “Sama seperti ajang bakat atau pertunjukkan lainnya. Setiap orang mau bakatnya diketahui, termasuk perempuan yang berkerudung. Di naluri mempertahankan diri ada keinginan untuk lebih unggul.” Kata Fathimah

“Berdasar pada munculnya acara ini, memancing para orang yang berbakat yang berkeinginan untuk memenangkan kontes itu untuk bisa menunjukkan kalau ia berbakat. Alasan lainnya, karena hadiah, dan sebagainya. Atau alasan lainnya yaitu paksaan atau ajakan dari lingkungan. Karena ingin populer atau dikenal orang.” Tutur Fathimah panjang lebar yang langsung diangguki oleh notulen dan sebagian peserta diskusi.

Merasa puas atas jawaban Fathimah, Fadlan ngiyakan ketika ditanya moderator “apakah sudah puas”. Moderator langsung mempersilahkan notulen membacakan pertanyaan selanjutnya. Yaitu dari Fathimah tentang maksud terselubung di balik adanya kontes ini.

Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Abdullah, “Sponsor agar barang jualannya laku terjual,”

Sementara itu, moderator, Imam ikut menjawab dengan pemikiran yang tajam, “Perempuan jadi komoditas utama untuk menarik orang, sehingga diperdagangkan. Padahal mereka diminta untuk menjaga pandangan agar tidak bertabarruj. Hal itu membelokkan dari perintah agama,”

Jawaban lain juga dikemukakan oleh Fadlan yang berasumsi, “Sunsilk dimanfaatkan untuk merusak karakter hijaber atau muslimah. Konteksnya bertabarruj agar wanita muslimah rusak akidahnya.”

Karena Fathimah sudah merasa terjawab dengan pertanyaannya, moderator meminta notulen melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya. Pertanyaan yang dipilih notulen selanjutnya bersala dari Amilah tentang haruskah mendukung acara semacam ini dari tahun ke tahun.

Salah seorang peserta, yaitu Bintang, siswa kelas satu SMA di Pesantren Media langsung menjawab, “Tidak boleh mendukung karena itu mengumbar kecantikan wanita muslimah. Padahal harusnya menutup diri dan hanya memberikan kecantikan mereka pada suami mereka jadi ngga boleh.” Katanya.

Abdullah menambahkan, “Dalam Islam harus siap menjaga diri dari hal-hal tabarruj, jadi harus bertindak juga mengingatkan bagi yang mau mengikutinya,”

“Pertama, acara ini masuknya tidak syari karena perempuan harusnya menjaga diri. Kalau ada acara itu berarti bukan sesuatu yang dibenarkan. Kalau mendukung berarti membenarkan dan itu salah, seharusnya tidak boleh.” Kata Fathimah turut menambahkan dan menyimpulkan bahwa tidak boleh mendukung acara semacam ini yang mengundang tabarruj.

Hari semakin gelap saat moderator memutuskan untuk masuk ke pertanyaan selanjutnya, mengingat waktu juga sudah mendekati larut malam. Adalah pertanyaan dari Abdullah yang selanjutnya dibahas, tentang fakta bahwa masih ada kontes seperti ini padahal sudah jelas kalau wanita tidak boleh bertabarruj.

“Mungkin yang menggelarnya merupakan islam liberal,” kata Fadlan berasumsi, menanggapi pertanyaan Abdullah.

Sementara itu, moderator Imam kembali angkat bicara, “Kafir ingin menghancurkan moral kaum muslim dengan kontes. Mereka bilang mengedepankan kecerdasan, keahlian, kecantikan, berarti sama dengan Miss World. Mungkin orang kafir mencari celah dengan menyelempengkan pengertian hijab yang sesungguhnya dari perintah Allah. Merupakan suatu pembelokan atau perusakan moral dari orang kafir untuk merusak kaum muslimah,” jawabnya merujuk pada kontes Miss World atau Miss Indonesia dengan 3B-nya (beauty, behavior, brain) yang melenceng dari Islam. Belum lagi tata busananya yang mengabaikan perintah dalam Islam.

Lanjut ke pertanyaan selanjutnya yang lagi-lagi dari Abdullah tentang agenda acara dan sudah ada atau tidaknya persetujuan dari pihak bersangkutan.

Fadlan, santri kelas 3 SMP yang tinggal hitung minggu hengkang dari Pesantren Media ini mengawali menjawab pertanyaan, “Agendannya pasti ada catwalk dan ada penampilan bakat. Dan ada voting, penyerahan piala, hadiah. Kalo persetujuannya mungkin sudah disetujui oleh pemerintah setempat. Kalau MUI, sih, ngga tau sudah atau belum. Tapi sepertinya MUI tidak membolehkan karena itu termasuk tabarruj,”

Fathimah menambahkan jawaban Fadlan yang berasumsi, “Kayaknya kalau misalkan minta persetujuan MUI ngga juga karena ini ngga bersangkutan sama itu, tapi terhadap Komisi Penyiaran Indonesia. MUI bisa jadi memberikan fatwa, bukan meminta izin. Tapi ngga tau juga. Mungkin juga yang memperbolehkan itu ustad yang sudah terkenal,”

“Ustad yang sekarang banyak yang liberal juga,” kata Imam menambahkan.

Pertanyaan selanjutnya, dari Bintang, yaitu tentang boleh tidaknya mengikuti lomba hanya sekedar mencari uang. Pertanyaan ini sudah pernah dibahas ketika salah satu pelajaran berlangsung, yaitu PAM (Problematika Anak Muda) dimana jawabannya sudah pasti tidak boleh. Karena selalu ada solusi lain yang lebih menjaga kaum wanita dari sekedar mengikuti kontes.

Sementara itu, pertanyaan dari Fathur tentang pengikut sertaan yang termasuk tabarruj atau tidak. Mengingat hampir di setiap jawaban dari pertanyaan sebelumnya mengemukakan kalau itu kontes yang mengundang tabarruj, maka jawaban dari pertanyaan Fathur sudah dipastikan. Bahwa kontes seperti Sunsilk Hijab Hunt, Miss Indonesia, Miss World dan sebagainya mengundang tabarruj.

Pertanyaan terakhir dari Fadlan yang mempertanyakan tentang siapa pencetus Hijab Hunt. Notulen menjawab pertanyaan ini, “Pencetusnya ngga tau siapa, tapi ikonnya Dian Pelangi, pencetus Hijabers Community,” katanya.

Belum diketahui siapa pencetus kontes ini, tapi dengan ikon Dian Pelangi, yang mencetuskan Hijabers Community yang pengertian ‘hijab’nya disalah artikan membuat kontes ini lebih memberi kesan ‘disalah artikan’ lagi.

Pertanyaan habis terjawab. Notulen menyerahkan diskusi kembali pada moderator yang langsung melempar pada pembimbing, Oleh Solihin.

“Kita harus punya wawasan jauh ke depan,” kata Oleh Solihin, guru pelajaran Menulis dan PAM di Pesantren Media. “Mengapa acara seperti ini jalan seperti biasa saja hingga keenam kalinya. Sementara dari pihak Islam, sampai sejauh ini berjalan seolah tidak ada larangan,” katanya menyesali.

“Mungkin karena kaum muslim tidak punya alternative sehingga terbawa cara berpikir liberal. Padahal tanpa itupun muslimah tetap bisa berkarya di hadapan Allah. Kalau di hadapan manusia bisa saja. Karena umumnya mereka punya penilaian sendiri. Orang ketika diadakan kontes seperti itu, ada embel-embel Islami saja sudah merasa benar. Dan ini menjadi masalah. Kenapa?” tanyanya, mempertanyakan sekaligus memancing perhatian.

“Karena nanti dalam menyelesaikan menjadi lebih lama karena satu sisi berniat memadamkan api, yang satu berusaha memadamkan tapi membuat api baru. Jadi sia-sia. Dan dalam masalah ini kaum muslim tidak peka,” jawaban pertanyaannya begitu mengena. Karena memang benar adanya.

“Dan fenomena ini terus ada. Berawal dari foto hingga berkembang dan mendapat sponsor dari Sunsilk di tahun 2015. Yang membuatnya terkenal hingga diikuti banyak orang yang semuanya muslimah. Merupkan muara dari muslimah yang berprestasi,” katanya, menyesali fenomena ini yang terus berlanjut.

“Apa yang dimaksud dari bakat? Seolah bahwa yang muslimah berhijab tidak ada lagi halangan untuk berkarya dan berprestasi. Padahal berkarya tidak hanya itu saja. Di rumah juga bisa seperti menjahit, nulis, dan sebagainya. Sehingga bisa berkarya, bermanfaat,” paparnya. Membuktikan kalau memang banyak hal yang bisa dilakukan muslimah untuk berkarya meski hanya di dalam rumah saja.

“Jadi ada naluri mempertahankan diri. Naluri ini bukan hanya takut menghadapi sesuatu karena ancaman. Bisa juga manifestasinya itu ingin dihargai, karena setiap orang tidak hanya ingin dianggap sebagai bilangan tapi juga diperhitungkan. Maka yang mengikuti ajang inipun berharap ia mendapat sanjungan. Sehingga ia berfikir dapat uang, pekerjaan dengan mudah. Karena biasanya itu bisa menjadi ladang, cara cepat terhadap karir. Yang menjadi persoalan nanti ke depan, kita disibukkan dengan persoalan seperti itu,” katanya menyimpulkan, sekaligus menjabarkan kecintaan manusia pada dunia gara-gara hal semacam kontes.

“Berjilbab yang utama itu syari dulu baru fashionable ‘yang seperti apa’ (tetap syari dan sesuai aturan Islam)? Karena kita ada laranagn bertabarruj. Wanita itu memang seolah diseret ke ranah publik. Memang boleh, tapi jangan berlebihan.”

Pembimbing menyelesaikan kesimpulannya. Oleh Solihin menutup Diskusi Aktual pada hari itu lebih awal dari biasanya. Alasannya, mungkin karena tema pembahasan hari itu sudah sering dan terkesan ‘tidak menantang’. Tapi justru karena hal yang terlihat kecil seperti itulah yang harus diperhatikan. Karena dikemudian hari bisa saja dan pasti ada saja kontes-kontes atau masalah semacam itu. Dan pembahasan perlu dilakukan agar tidak terjatuh ke dalam jurang yang sama.

willyaaziza, Bogor 9 Mei 2017, 21:14