Suka dan Duka

484 views

happy-sad-applePerkenalkan Namaku Luky Ahmad Lukman, nama yang keren bukan? Ya, Aku di lahirkan dari seorang Ibu yang sangat baik kepadaku. Sekarang Aku tinggal bersama Dullah adikku dan juga kedua orang tuaku. Aku sangat senang tinggal di daerah rawan petir juga bisa disebut Kota hujan, hidup bersama Dullah dan kedua orang tuaku sangat menyenagkan. Karena suka dan duka selalu menyelimuti keluarga Luky, Hasan dan Sari.

Tak terasa Aku sudah melewati Ujian Nasional tingkat SD. Hatiku sangat lega karena Ujian Nasional sudah dilaksanakan. Tapi, Aku masih mempunyai rasa takut karena saat pengumuman nanti tercantum tidak namaku di surat kelulusan. Apapun yang terjadi kepadaku, Aku hanya bisa tawakal saja. Jika Aku lulus Aku bersyukur jika tidak, Berarti Aku kurang dalam belajar dan Aku harus mengulang ke sekolah dasar.

Dua minggu lagi pengumuman kelulusan. Namun, Aku masih melakukan aktivitas seperti biasa tanpa rasa bimbang. Aktivitasku saat ini adalah Belajar dan bermain bersama Adit dan gilang mereka adalah sahabat-sahabatku waktu SD. Setiap pagi-pagi sekitar jam 06:15 kita bertiga sudah berkumpul di taman permai yang tak jauh dari rumah kita bertiga. “Tapi, kali ini kok, belum pada berkumpul di sini” hatiku berbicara sambil melihat-lihat sekitar taman. Lima menit sudah Aku menunggu di taman permai sambil membersihkan badan sepeda yang kotor karena kejatuhan kotoran burang yang tidak tahu tata kerama. Lima menit sudah berlalu, kali ini jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06:22. Tapi, mereka berdua belum kelihatan juga. Aku heran kenapa mereka belum datang juga, apa ada halangan yang mereka lalui?

Satu menit kemudian mereka muncul dengan keringat yang mengalir di wajah mereka. Mereka mendekat, lalu ku Tanya mereka? “Gilang, mengapa kamu terlambat? Apa ada yang menghalangimu?” Tanya Aku sambil memasang wajah kecewa.

“Begini Ki, tadi malam Aku bermimpi naik sepeda dan kesasar, Aku bingung untuk mencari jalan?” jawab Gilang sambil merengek kecapean.

“Kalo kamu gimana, Dit?” Tanya Aku sambil memegang bahu Adit.

“Kalo Aku kesasar juga, karena Aku ikut di bonceng Gilang” Kata Adit dengan wajah serius.

“Aduh, apa hubungannya telat sama Mimpi? Ya sudah, jangan dipikirin lagi lebih baik kita jalan langsung saja nanti telat kita kenal omel.

“Ya sudah!” jawab mereka berdua sambil menaiki sepedanya.

Aku dan kedua sahabatku mulai berjalan mengarungi kota hujan ini dengan sepeda merekan masing-masing. Sepedaku memimpin mereka yang mengayuh pedal sepeda dengan lesu. “Mereka cape apa karena mimpinya itu ya? Kayanya sih ga mungkin masa gara-gara mimpi bisa jadi terlambat, Aneh!” kataku sambil tersenyum seperti orang gila. Tidak apalah merekakan sahabatku suka maupun duka selalu kita jalani dengan penuh pantang menyarah. Aku sudah memasuki gang menuju sekolah, sepedaku mulai berjalan lambat. Tiba-tiba mereka berdua menyalipku bagaikan kelinci membalap kura-kura. Sepedaku mulai memasuki gapura sekolah. Setiap Aku melewati gapura itu, Aku selalu melihat tulisan yang si bawah slogan yang membuatku semangat dalam meraih ilmu. “Mencetak murid-murid berprestasi” ini adalah slogannya, kalo yang ini adalah tulisan yang berada di bawah slogan. “Waktu Takkan ada yg bisa diputar, maka kerjakanlah apa yg selama ini bisa kita lakukan sehingga tidak tersisa penyesalan” itu kata-kata yang membuatku untuk semangat dalam mencari ilmu.

Sepeda mereka sudah terparkir di parkiran sepeda. Lalu, Aku parkir di sebelah mereka. “Gil, Dit, kok giliran sudah sampai gang menuju sekolah, kok kamu bersemangat mengayuh sepedanya?” Tanyaku sambil memparkirkan sepedaku.

“ya dong, menuntut ilmu itu harus semangat lihat saja slogan yang ada di gapura.slogan itu yang inginku dapatkan dan menjadi anak kebanggaan orang tua. Memang ada orang tua tidak senang melihat anaknya berprestasi?, ya ga Dit?” kata Gilang dengan percaya dirinya.

“ya dong, orang tua mana sih yang tidak mau bangga kalo anaknya berprestasi” kata Adit dengan serius. Bel sekolah pun berbunyi semua murid yang berada di lingkungan sekolah berlari berhamburan menuju kelas mereka masing-masing.

“Dit gil, nanti kalian berdua datang ya ke rumahku, setelah pulang sekolah” Tanyaku sambil menatap wajah mereka berdua.

“Memangnya mau ngapain Luky?” kata Gilang sambil memasang wajah penasaran.

“Nanti juga tahu, istirahat saja kita ngomonginnya lagian juga bel!” kata Aku dengan berjalan kecil menuju kelas. Aku dan kedua sahabatku berjalan menuju kelas dengan rasa semangat menuntut ilmu.

Kelasku dan sahabatku berada di lantai dua Sekolah Islam Terpadu Al-Hikmah (SIT AL-HIKMAH). Aku dan kedua sahabatku menaiki tangga kiri-kira ada dua puluh anak tangga yang akanku tempuh bersama sahabat.setiap tangga yang Aku lalui, Aku tahu, kenapa? Karena setiap ada tangga yang akan Aku naiki pasti tangga itu akan Aku hitung. Menurut semua orangsih kurang kerjaan, lain denganku hal itu malah membuatku asyik saja. Aku sekarang berada di lantai atas beberapa langkah lagi kami kan masuk ke kelas kami yang tidak terlalu mewah dan tidak juga terlalu ke bawah. Tapi, sederhana.

Seperti biasa setiap kali Aku dan kedua sahabatku, pasti semua orang yang ada di kelas selalu menyapa kita. Entah kenapa kita selalu disapa orang, maupun di sekolah atau di luar sekolah. Mungkin itu adalah nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Jadi apapun yang terjadi kita harus bersyukur. [bersambung…]

[M. Qois Abdul Qowiy, kelas 2 SMP, Pesantren MEDIA]

*gambar dari sini

cerpen fiksi pesantren media santri suka dan duka

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait