Story of Idul Adha

941 views

Setelah melewati jadwal pelajaran-pelajaran yang padat(walaupun nggak terlalu padat), santri-santri pesantren media khususnya yang ikhwan menunggu-nunggu liburan yang panjang. Walaupun sebenarnya seminggu itu tidak terlalu panjang. Tapi tetap saja ditunggu-tunggu, karena libur itu adalah kesenangan. Bisa pulang dan bertemu teman di rumah, keluarga, kerabat, dan lainnya. dan juga bisa lepas dari kepenatan setelah hari-hari belajar. Dan sebetulnya kalau bagi aku itu liburan tanpa ada jadwal bagaikan main bola tapi gak pake bola, nggak ngapa-ngapain. Dan itu di mulai dari hari pertama liburan pada hari minggu 11 September 2016. Pagi hari jam setengah lima aku terbangun, aku melihat sekeliling bedeng dan tidak ada orang kecuali aku, taqi, dan rafi. Karena semua udah pada pulang dari hari sabtu. Aku sahur dan langsung pergi ke mushola untuk sholat shubuh. Lalu setelah sholat shubuh aku siap-siap tidur lagi, dan setelah itu aku siap-siap untuk tidur di laladon permai. Karena di parung saat ini sudah tidak ada orang lagi di bedeng.

Aku, taqi, dan rafi menginap di laladon selama 23 jam lebih dikit, atau sehari kurang dikit. Di laladon aku hanya bertiga bersama taqi dan rafi, jadi kami makan di luar. Karena kami tidak mendapatkan di rumah sejumlah bahan pokok makanan. Dan tidak bisa masak.  Disana Aku bertemu teman-temanku, kami bercerita tentang keadaan masing-masing. Paginya kami sholat Idul adha. Setelah mendengarkan ceramah imam sholat idul adha, kami makan di Warteg. “ aku makan karo sego, telor ayam, karo kerang, dhu-dhu ne opor, sambele ojo okeh-okeh.” “ piro? Sepuluh ngewu.”. murah ternyata makan di warteg, Cuma sepuluh ribu makan pake telor sama kerang. Sebenarnya, tadinya mau makan bakso, tapi masih tutup. Yaa… jadi terpaksa makan di warteg. Selama di rumah aku hanya main laptop, belajar, mencoba ngerjain tugas dan hal-hal lain. Awalnya pengen nyalain tv, Cuma kabel antenanya beda jenis, jadi nggak akan nyambung.

Setelah makan di warteg, kami siap-siap untuk melihat penyembelihan hewan qurban di belakang masjid. Ada lima sapi berwarna coklat, satu agak kecilan, dua agak tinggi, dan kambing, lupa nggak ngeliat. Setiap tahun suasananya tidak terlalu berubah, panitia yang bagian nyembelih  gak beda sama orang yang nyembelih dari 4 tahun lalu atau lebih. Dan yang bagian motong tulang juga orang yang sama, paling yang beda sapinya aja setiap tahun.

Alhamdulillah aku dapat 6 kupon daging, itu bagi dua sama taqi. Sebenarnya aku nggak terlalu memikirkan bagian pembagian daging. Yang penting ikut serta dalam makan-makannya. Saat pembagian daging, setiap orang harus mempunyai kupon masing-masing. Dan ada saja yang datang ngantri tanpa bawa kupon. Antriannya lumayan panjang, Jadi aku menunggu di tempat yang agak jauh dan pergi menunggu antrian selesai. Aku sih nggak masalah dapat antrian terakhir, tapi Taqi marah-marah kalau nggak dapet antrian dan si selip orang-orang. Yaa… jadinya aku suruh aja taqi dan rafi ngatri, truss aku tungguin dari tempat yang jauh, bukannya kejam, tapi Taqinya yang maksa. Saat menunggu antrian yang panjang Pak rudi sambil membacakan daging yang diberikan ke orang-orang.

Sorenya kami pulang ke parung, karena besoknya di parung akan qurban juga 3 ekor kambing. Bude Diyah, Mbak Ayya, dan Pak Husein. Kami menjaga kamibing tersebut, soalnya kambingnya berantem terus, dan suka makan, jadi harus dijagain deh. Lalu kami bertiga di suruh menjaga kambing sampai besok. Awalnya kami sudah mau siap-siap tidur di saung baru yang dibuat Ustadz Ahmad dan santri-santri, dan Muhammad yang paling siap-siap untuk tidur di saung. Dan akhirnya tidak ada yang tidur jaga kambing. Bang Alek sudah siap menjaga semalaman bolak balik menjaga kambing.

Besok paginya kambing siap untuk di sembelih. Kami sudah menyiapkan tiker untuk motong-motong daging, pisau, kater, isi kater, dan bambu untuk menggantung kambing. Setelah pemotongan kambing, langsung aku kebagian ngulitin kambing. Karena udah pernah ngulitin kambing, jadi udah biasa hal-hal yang kayak gituan. Setelah itu, daging di potong-potong dan dibagi untuk jatah guru, santri, dan warga sekitar. Setelah menbagikan daging, setelah dzuhur, langsung acara bakar-bakar satenya. untuk menyalakan apinya juga lumayan lama, soalnya anginnya lumayan kenceng. Makan satenya sampai kenyang, ustadz sahri makan sate 1 kaki kambing sendiri. Banyak hal-hal yang bisa aku ambil sebagai pelajaran. Alhamdulillah, liburan kali ini cukup menyenangkan. [Abdullah Musa Leboe, santri kelas 3 jenjang SMP]

diary karya santri tulisan

Posting Terkait