Sepenggal Kisahku di Bekasi

398 views

Senin, 13 Agustus 2012

Suasana yang berbeda. Bukan lagi Bogor melainkan Bekasi. Cukuplah menjadi penawar rasa penat dan bosan akan suasana Bogor. Meskipun sebenarnya tak ada bedanya dengan Bogor. Bahkan menurut saya, Bekasi jauh lebih parah dari pada Bogor. Lebih panas dan lebih macet. Terutama di sore hari tatkala saya baru sampai kemarin. Begitu crowded.

Aktifitas saya pagi ini adalah membantu Ibu. Ibarat seekor bunglon, saya beradaptasi merubah warna diri. Merubah peran dari seorang santri menjadi serupa dengan ibu rumah tangga. Mencuci, bersih-bersih, hingga masak, semua saya lakukan. Yah, inilah yang saya lakukan.

Malamnya, saya harus melakukan diskusi jarak jauh dengan Hawari dan Bu Wita terkait rancangan novel keroyokan yang akan kita garap bersama. Rencananya, diskusi ini menggunakan akan menggunakan Yahoo Messangger (YM). Tapi berhubung ada kendala teknis di pihak Bu Wita, diskusi beralih mengggunakan fasilitas chat yang ada di Facebook.

Selain itu, tak ada lagi hal istimewa yang bisa saya tuliskan untuk hari ini. Jadi, sekian dulu cerita saya untuk hari ini.

 

Selasa, 14 Agustus 2012

Hari ini , kebersamaan saya dengan Ibu, untuk sementara, akan berakhir. Hari ini, sesuai rencana, saya akan kembali ke Bogor. Sedangkan Ibu sendiri akan pergi ke Cilacap. Sebenarnya saya tidak ingin berpisah. Saya juga diajak Ibu pergi ke Cilacap. Namun, di berbagai akad yang mengharuskan saya untuk tetap tinggal di Bogor hingga setidaknya akhir Ramadhan, tidak dapat saya tinggalkan begitu saja. Akan banyak yang kecewa. Akan banyak orang-orang yang bertanya, kenapa Farid begitu cepat mengubah rencana?

Dan Ibu sendiri tidak memaksa saya untuk ke Cilacap. Jika tidak ada kegiatan lebih baik ikut. Daripada bengong di asrama. Namun, jika ada kegiatan, tak apa jangan dipaksakan ikut. Penuhi dulu tanggung jawab yang ada.

Oleh karena itulah, sekitar jam dua siang, saya sudah meninggalkan rumah dan berada di stasiun. Menjadi bagian dari orang-orang yang sedang menunggu KRL. Sekitar sepuluh menit kemudian KRL tiba. Saya pun menikmati perjalanan menuju Stasiun Manggarai. Tempat dimana di sana nanti saya akan berganti kereta jurusan jurusan Manggarai – Bogor.

Kereta yang saya tumpangi dari Bekasi sebenarnya mempunyai tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota dan melewati Stasiun Manggarai. Harga tiketnya Rp. 6500. Sedangkan kereta yang sebentar lagi akan saya naiki, Jurusan Manggarai – Bogor, harga tiketnya Rp. 7500. Dan sebenarnya kereta tujuan Bogor ini juga sekedar melintas dan berhenti sebentar di stasiun ini. Itu mungkin sedikit info bagi kamu yang butuh informasi mengenai perjalanan KRL yang melewati Stasiun Manggarai.

Tepat jam setengah tiga sore, ketika saya masih berada di KRL tujuan Bogor, saya mendapat kabar bahwa Ibu sudah mulai berangkat ke Cilacap. Menurut informasi yang saya dapatkan, Bogor – Cilacap dapat ditempuh selama delapan jam perjalanan. Itu waktu tempuh yang normal. Dimana tidak ada macet dan hal-hal lain yang mengganggu kelancaran perjalanan. Saya baru mendapat kabar bahwa Ibu sudah sampai dengan selamat di Cilacap  sekitar jam satu malam. Alhamdulillah.

Saya sendiri baru sampai di Bogor sekitar jam empat. Saya tidak langsung naik angkot menuju Laladon, melainkan jalan-jalan dulu melihat suasana sore antara Stasiun Bogor hingga Jembatan Merah. Begitu ramai dan semarak oleh lalu lalang orang dan kendaraan. Banyak orang-oranng bejualan dipinggir jalan. Dari yang berjualan CD atau DVD, baju, sepatu, hingga berbagai makanan berbuka. Dan yang saya lihat, yang paling banyak laku adalah makanan. Maklum, waktu sore adalah waktu mendekati berbuka puasa. Sehingga bagi yang berjualan makanan, menjadi berkah tersendiri bagi mereka.

 

Rabu, 15 Agustus 2012

Seperti beberapa pagi sebelumnya di bulan Ramadhan, pagi ini saya bangun dari tidur karena dibangunkan. Bukan bangun sendiri seperti kebiasaan saya sebelum Ramadhan. Dan lagi-lagi bangun agak telat sehingga harus agak cepat makan sahurnya. Kalau tidak, prosesi sahur bisa berjalan dengan tidak sempurna alias berhenti di tengah jalan karena terpotong adzan.

Beberapa hari yang lalu saya berencana membeli baju yang sejatinya hendak saya pakai untuk berlebaran. Sudah lama saya tidak membeli baju. Banyak baju-baju yang saya pakai sekarang merupakan baju pemberian kenalan atau kawan. Berhubung saya ada sedikit rejeki, maka saya putuskan untuk membeli baju.

Namun entah kenapa, bukannya ke toko baju saya pergi melainkan ke toko buku Gramedia. Bukannya baju yang saya pilah-pilih melainkan tumpukan buku yang saya bolak-balik. Mungkin ini didorong oleh hobi saya yang memang membaca. Maka sebuah buku karya seorang pengarang saya bawa ke kasir untuk saya tukar dengan lembaran uang.

Meskipun begitu, keinginan saya untuk mempunyai baju baru tetap terpenuhi. Beberapa hari yang lalu, tepatnya setelah saya membeli buku, Ustadz Umar memberi saya kabar bahwa beliau telah membelikan saya baju baru. Saya pun mengucapkan syukur, alhamdulillah. Tapi saya masih belum tahu bagaimana rupa baju baru itu. Ketika Ustadz Umar memberitahu saya, saya masih ada di Bekasi dan beliau mungkin tengah bersiap mudik ke Magelang.

Baru sekarang, di waktu sahur ini, saya tahu rupa baju itu. Mbak Ika, manager para santri, membawakannya untuk saya. Sebuah baju lengan panjang berwarna putih polos. Terima kasih ya Allah atas baju baru ini.

Demikian cerita yang bisa saya tuliskan untuk hari ini.

 

Kamis, 16 Agustus 2012

Seperti biasa, sesudah terbangun dari tidur saya bersiap untuk makan sahur. Dan seperti biasa pula saya tidak sahur di asrama melainkan di pesantren. Jadi,di setiap waktu sahur yang masih gelap dan dingin, kami biasanya keluar bersama menuju pesantren.

Malam ini, ketika kami sudah tinggal bertiga saja, karna yang lain sudah pulang, saya keluar untuk sahur. Tak seperti biasa, pagi ini saya keluar denngan menggunakan helm lengkap dengan mengendarai motor. Wah, mau sahur saja kok sampai pakai helm dan motor? Pagi ini memang sedikit berbeda.

Setelah sahur saya tidak shalat Subuh di Masjid Nurul Iman. Tidak pula balik ke asrama. Pagi ini, setelah sahur saya langsung tancap gas menuju Masjid Raya, tapatnya ke studio siar Mars FM. Pagi itu saya ada janji untuk siaran dengan Ustadz Oleh Solihin dalam rubrik Orang Tua Sahabat Remaja. Seperti biasa saya bertugas menjadi presenternya. Pada kesempattan kali ini, rubrik yang memperbicangkan permasalahan dan solusi seputar urang tua dan anak remajanya ini mengangkat sebuah tema, Ketika Musibah Itu Datang. Membahas apa yang harus dilakukan ketika musibah menimpa sebuah keluarga yang tentunya di dalamnya ada orang tua dan anak-anak.

Setelah pulanng dari Mars FM, kehidupan saya kembali berjalan seperti biasa. Normal dan datar. Menulis, membaca, dan melakukan hal-hal lain seperti biasa.

Dan pada sore harinya, saya diminta datang ke Masjid Nurul Iman lebih awal karena ada Ustadz Oleh Solihin yang saat itu akan akan mengisi acara buka bersama anak-anak Komplek Laladon Permai dan sekitarnya. Saya diminta datang lebih awal guna menemani beliau supaya tidak kesepian.

Namun, permintaan itu saya tolak karena pada waktu yang sama saya harus ke studio KISI FM guna mengkoordinasi narasumber mengisi program Syiar Ramadhan. Memastikan kehadirannya, membelikan makanannya, dan mendampingi di ruang siar manakala yang menjadi presenter seorang wanita sehingga tidak terjadi khalwat.

Maka dari itu, saya percayakan tugas mendampingi Ustadz Oleh Solihin kepada Anam yang saat itu sedang tak ada kegiatan dan berada di asrama. Dan alhamdulillah, semua kegiatan hari ini berjalan dengan lancar.

Sekian dulu ‘curhat’ untuk hari ini. Terimaksih.

 

Jumat, 17 Agustus 2012

Tanpa terasa, Jum’at terakhir di Bulan Ramadhan ini pun kujumpai. Memang terasa begitu cepat waktu berlalu. Sebulan rasa sehari. Dulu, ketika di awal Ramadhan, sebutan sebulan terasa begitu lama. Namun, ketika sudah dijalani semua seolahh berlalu begitu cepat.

Ramadhan telah bersiap-siap ‘mengepak koper’ dan memulai kembali perjalanannya selama sebelas bulan. Meninggalkan jutaan bahkan milyaran hati yang begitu merindukan kehadirannya. Begitu pula saya. Sedih sekali ketika harus berpisah dengan bulan penuh berkah dan ampunan ini.

Kesedihan itu coba saya bagikan pada para ‘pamiarsa muda’, sebutan untuk para pendengar KISI FM yang rata-rata pemuda. Hari ini saya memang didaulat menjadi narasumber acara Syiar Ramadhan yang biasanya digelar setiap menjelang berbuka puasa selama Ramadhan. Saya memang bertugas sebagai koordinator acara ini. Tapi, selama satu bulan, saya juga mendapat jatah dua kali menjadi narasumber.

Itulah yang kurasakan hari ini. Sedih dan sedih karena Ramadhan akan berlalu.

 

Sabtu, 18 Agustus 2012

Inilah hari pamungkas di Bulan Ramadhan ini. Hari terakhir pelipat gandaan amal shalih dan juga hari terakhir para setan dibelenggu. Setelah hari ini, semuanya akan kembali seperti biasa. Kembali normal. Makan kembali normal. Aktifitas kembali normal. Namun satu hal yang saya harapkan adalah, hasil didikan rohani di pada Ramadhan kali ini akan tetap ada hingga sebelas bulan ke depan. Didikan kesabaran, keikhlasan, dan keistiqomahan yang melahirkan ketakwaan.

Hari ini juga menjadi akhir tugas saya menjadi koordinator para narasumber Syiar Ramadhan di KISI FM. Narasumber M. Sanusi dengan tema Menyambut Idul Fitri menjadi penutup rangkaian program Syiar Ramadhan yang terselengara berkat kerjasama KISI 93.4 FM dengan Buletin Remaja Gaulislam.

Tapi yang pasti, many things are back to normal.

 

Ahad, 19 Agustus 2012

Pagi yang cerah. Suasana hati yang meriah. Tiada segumpal pun awan di langit sana. Tiada secuil pun kegundahan di hati. Hari ini adalah hari raya. Hari raya yang begitu dibanggakan Umat Islam sedunia. Semua muslim merayakannya, dengan kegembiraan yang meluap-luap diiringi gema takbir yang terdengar hampir dari empat penjuru mata angin.

Kebahagiaan mengantung di langit Laladon. Pagi itu saya juga ikut bergembira. Meskipun harus berlebaran di rantau, saya tak risau. Kurang lebih jam enam pagi saya sudah siap dengan memakai baju terbaik yang saya miliki. Baju putih pemberian Ustadz Umar dipadu dengan celana kain warna ‘polisi’ yang sebenarnya bukan celana baru. Namun, padanan inilah yang menurut saya terbaik untuk saya pakai pada hari yang benar-benar istimewa ini.

Shalat Ied dilakasanakan dengan khidmat di lapangan Komplek Laladon Permai. Sebuah lapangan yang terletak setelah pintu gerbang komplek ini. Shalat dimulai sekitar jam tujuh pagi. Setalah shalat, seluruh jama’ah saling bersalaman satu sama lain. Jama’ah di barisan paling depan tetap di tempat. Sedangkan sisanya bergerak menyalami barisan paling depan.

Dengan hati berbunga-bunga saya pulang ke rumah. Oh ya, selama lebaran ini saya dan juga teman saya, Anam, mendapat amanah menjaga pesantren. Setalah di rumah, saya tidak tahu harus bagaimana. Lebaran yang menurut saya agak aneh. Kalau di rumah, sesudah Shalat Ied biasanya diikuti dengan acara keliling ke rumah-rumah tetangga. Namun di sini, ketika lebaran di rantau, kami hanya di rumah. Tak tahu harus ke mana.

Di tengah kebingungan itu, melitaslah Pak Bandi, salah seorang tokoh masyarakat Laladon. Dengan gaya dan senyumnya yang khas, secara tak terduga, beliau mengajak kami berdua ke rumahnya. Dan tak hanya mengajak saja, beliau juga menghidangkan makanan khas lebaran, ketupat dengan lauk ayam. Kami bertiga pun makan bersantap bersama sambil mengobrol ngalor ngidul. [Farid Ab, Santri Pesantren Media, Kelas 2 SMA]

Catatan: tulisan ini adalah bagian dari tugas menulis diary di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

diary menulis

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

Tinggalkan pesan