“Senyumnya juga Boleh!”

266 views

Oleh: Ilham Raudhatul Jannah (Santri Pesantren Media)

Namaku Ilham Raudhatul Jannah, aku biasa dipanggil Neng Ilham. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku lahir di Pandeglang-Banten. Sekarang aku sedang menuntut ilmu di Pesantren Media.

Waktu kecil selain terkenal galak aku juga terkenal bandel. Misalnya saat ada orang yang lewat, aku tonjok. Padahal anak itu nggak punya salah apa-apa sama aku. Sering banget aku buat anak orang nangis. Sampai-sampai karena ulahku itu, mamaku sering juga kena omelan dari orangtua anak-anak yang aku tonjok. Heheheheh… mungkin karena sifat aku yang galak itu kali ya, sehingga saat aku main rumah-rumahan (anak-anakan) sama teman-temanku. Aku pasti disuruh berperan menjadi bapaknya. Hahahahah…

Ada kejadian yang nggak akan pernah aku lupakan. Kejadiannya itu waktu bulan ramadhan saat sholat tarawih. Sebelumnya itu aku merengek-rengek ke mama minta dibeliin petasan. Lalu, keesokan harinya mama belikan aku petasan. Nah, malamnya itu, saat sholat tarawih, aku udah nyiapin lima buah petasan plus korek api disaku bajuku. Saat semua jemaah sedang sujud, aku langsung bakar tiga petasannya kemudian aku lempar ke jemaah yang di depan. Waktu petasan itu meledak, spontan semua jamaah lari terbirit-birit ke luar masjid. Disangkanya ada bom. Hahahahahah… bandel banget ya aku. Yang paling lucunya lagi, imamnya nggak ikut lari malah nerusin sholat tarawihnya sampai selesai, nggak tahu karena emang sengaja, nggak tahu karena nggak dengar waktu petasan itu meledak. Entahlah… saat imamnya mengucap salam (lihat ke belakang), jamaahnya tidak ada. Ada di luar semua. Hahahahahah… jangan ditiru ya teman-teman. Itu perbuatan yang nggak baik.

Setelah itu, pulang dari sholat tarawih, aku bakar petasan lagi, yang sisa tadi. Untungnya nggak ketahuan sama siapapun. Diam-diam aku masukin petasan yang aku bakar tadi ke kantong bapak-bapak. Nah, kalian bayangin deh gimana reaksi bapak itu, ketika petasannya meledak. Hahahahah…

Tapi jangan salah teman-teman, walau galak dan bandel aku juga cengeng orangnya. Pokoknya kalau ada salah sedikit langsung nangis. Misalnya nilai matematika dapat kecil langsung nagis ditempat. Tapi aku juga ibaan sama orang teman-teman. Kalau lihat pengemis pasti aku nangis. Apalagi pengemisnya itu udah tua, pasti aku nangis tersedu-sedu. Mama yang liatin tigkah aku ketawa aja.

Aku juga manja teman-teman, apa-apa selalu bergantung pada ibuku. Bayangin aja sampai kelas 6 SD aku masih disuapi sama mamaku. Heheheh… jadi malu. Nyisir juga disisiri oleh mamaku. Aku mulai bisa nyisir sendiri waktu aku kelas 4 SD.  Tidur masih dikelonin. Ada teman laki-laki aku yang tahu kalau aku masih disuapi, disisirin, dikelonin, waktu dia ngeledek aku kayak gitu, langsung aku tonjok. Heheheh…

Tapi jangan salah teman-teman, walaupun aku bandel, galak, manja dan cengeng. Alhamdulillah aku selalu dapat prestasi di sekolah. Itu juga berkat dukungan dari mamaku dan didikkannya yang nggak pernah bosan mengajari dan menyuruhku untuk belajar. Sampai SMP pun aku sudah terbiasa belajar, belajar sudah seperti makan nasi, yang berarti wajib.

Dari kecil, kegiatan sehari-hariku sudah terjadwal. Tentunya mama yang buat jadwalnya. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi ada jadwalnya. Misalnya pukul 04.00 beresin kamar, mandi, sholat shubuh. Pukul 06.30 periksa tugas-tugas sekolah sama daftar pelajaran hari ini, pukul 06.00 sarapan, pukul 06.30 berangkat sekolah dst. Jadi dari kecil aku sudah dibiasakan disiplin (Sekarang aja aku kadang suka nggak disiplin). Pokoknya ketat banget deh, tapi aku tahu itu buat kebaikanku.

Sesudah kelas 5 SD aku sudah tidak sebandel dan segalak itu lagi. Manjanya udah agak hilang, tapi cengeng nggak hilang-hilang (sampai sekarang malahan)

Sesudah masuk SMP, mulai tuh ada ikhwan yang deketin aku. Emang sih waktu SD juga ada, tapi tak sebanyak waktu SMP. Widih! Ckckck…Benar lho, nggak bohong! Aku juga aneh teman-teman. Padahal aku itu dikenal dengan sifat aku yang jutek pada laki-laki. Kalau ada ikhwan yang ngasih aku surat (cinta) aku langsung robek-robek surat itu, tanpa aku baca dahulu. Karena kejutekan aku itu, aku dijuluki ”ratu jutek yang terkenal dengan senyumnya yang 2 detik” panjang banget ya. Nggak tahu tuh, aku juga. Iya emang benar sih. Jutek banget, tapi Cuma ke teman-teman ikhwan. Senyum juga Cuma sekejap aja (ke ikhwan) tapi itu juga kalau ikhwan yang duluan senyum ke aku. Habisnya kalau aku duluan senyum ke mereka, suka kepedean. Disangkanya suka lagi.

Setiap ada ikhwan yang liati aku, pasti aku pelototin, sambil nyindir dengan sinisnya,”apa liat-liat?! Cantik ya!” wuih keren! Heheheheh…

Sebenarnya aku nggak bermaksud jutek, aku melakukan itu supaya aku jauh dari kemaksiatan, maksudnya pacaran gitu. Nggak ada hubungannya ya… hahahah… pokoknya intinya gitulah. Aku nggak mau disukai lawan jenis. Dan aku juga nggak mau suka dulu sama lawan jenis. Aku pikir waktu itu, mungkin dengan cara itu aku bisa jauh dari maksiat.

Pernah aku nyoba senyum duluan ke teman-teman ikhwan. Bukan nyari perhatian. Eh mereka malah ngomong gini ke aku ,”nggak apa-apa deh nggak dapetin orangnya, senyumnya juga boleh”. Nyebelin banget kan? Ih! Dari situ aku kapok, nggak mau melakukannya lagi.

Waktu SMP itu banyak banget ikhwan yang aku tolak. Bukan apa-apa, selain jijik dengan cinta-cintaan aku juga nggak mau masuk dalam kemaksiatan. Aku bilang aja ke mereka,”dalam islam tidak ada pacaran”.

Waktu masuk SMA yang paling parah, ikhwan yang menyatakan rasa senangnya ke aku, langsung aku jawab seperti ini,”kamu udah nyiapin apa buat aku? Kapan kamu ke rumah aku? Udah cukup belum ilmu yang kamu punya untuk membimbing aku?” spontankan dia nggak bisa jawab. Mati kutu jadinya nggak bisa ngomong apa-apa.

Ya aku tahu, perasaan suka pada lawan jenis adalah fitrah dari Allah. Perasaan itu nggak akan hilang pada diri manusia, nggak mungkin hilang. Jadi wajar kalau kita suka pada lawan jenis iya kan? Tapi walaupun demikian, bukan berarti perasaan itu diekspresikan dengan sesuka gue. Maksud aku, ya bolehlah kita menyatakan rasa senang kepada lawan jenis tapi kan ketika menyatakan perasaan itu harus siap dengan semua resikonya. Yaitu pernikahan. Iya kan?

Masa rela sih, mengatakan kata ”cinta” atau ”sayang” kepada orang yang belum halal. Seharusnya kata-kata itu dipersiapkan dan hanya dikatakan kepada mahromnya kelak. Menurut aku seperti itu.

Jadi ketika kita mengatakan kata ”cinta” atau ”sayang” berarti kita siap dengan resiko yang sedang menanti iya kan? Maksud aku pernikahan.

Jadi ketika suka pada lawan jenis, simpan perasaan itu baik-baik, ekspresikan ketika kamu sudah siap untuk membangun rumah tangga.

Kembali lagi keceritaku, aku mengalami perasaan suka waktu aku naik kelas 2 SMA. Tidak sengaja. Aku tidak tahu sebenarnya dari mana perasaan itu muncul pertama kali. Selalu ku panjatkan istighfar setiap kali bayangannya mampir dibenakku. Aku takut pada Allah.

Untuk pertama kalinya aku suka pada lawan jenis, ketika perasaan itu ada, aku yang tidak biasa, sangat merasa tertekan. Aku ingin menolak perasaan itu, tapi nggak bisa. Ternyata seperti itu ya rasanya. Sakit sekali. Sakitnya bukan karena aku tidak bisa memilikinya. Tapi aku sakit karena memendam perasaan itu dan aku sakit karena berusaha menolak tapi tidak bisa. Ya Allah, selalu lindungilah aku dari kemaksiatan.

Mulai saat itu, aku mulai tidak berkomunikasi dengan semua teman-teman laki-lakiku, semuanya. Hanya berkomunikasi sesekali saja, ketika menurutku penting. Sebenarnya aku hampir nggak pernah bekomunikasi dengan teman laki-laki. Cuma sekarang ini, beneran nggak berkomunikasinya.

Ya aku khawatirnya perasaan itu pertama kali terjadi, lewat smsan atau berkomunikasi lewat telepon. Nomor semua teman laki-lakiku aku hapus  di handphone ku, lalu aku pindahkan nomornya ke binder (hanya nomor yang menurut aku penting).

Jujur, aku tersiksa dengan perasaan itu, ya aku anggap itu sebagai ujian untukku. Seberapa kuat aku menghadapinya.

Yang terus aku lakukan sekarang adalah selalu minta perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Menyibukan diri dengan kegiatan-kegiatan positif, contohnya: kalau tidak ada tugas, baca buku. Atau kalau ternyata bayang-bayangnya masih tetap menggerogoti hati dan pikiranku, aku baca kitab suci Al-Quran.

Alhamdulillah sekarang, aku sudah mulai lupa, dan sudah tidak peduli lagi. Ya walaupun seskali suka ingat. Tapi tidak separah kemarin. Pokoknya kuserahkan  semuanya yang terbaik pada Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia.

Dari semua pengalaman yang pernah aku alami, pasti ada hikmah yang terselip dan ada pelajaran yang dapat aku ambil dari situ.[]

Catatan: Tulisan ini adalah sebagai tugas menulis pengalaman pribadi dalam pelajaran Menulis Kreatif di Pesantren Media

biografi diary kisah pengalaman

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

  • Desain Grafis karya Hanan Nuha Bunayya pesantren media jenjang

  • awal yang baik pasti berakhir baik jadi lakukanlah awal

  • Cara mengikat ilmu adalah dengan catatan. Aku membiasakan diri