Senyuman Terakhir Uwaku

347 views

Karya : Novia Handayani (Santri Pesantren Media)
In Memoriam 18/02/2012

Sulit untuk kita menerima kepergian orang yang kita cintai juga sayangi. Kehilangan dari sebuah kenangan indah, suka, duka, canda, tawa, telah kita lalui bersamanya. Betapa sakit dan perih, bila kenangan itu, tidak bisa terulang lagi di hidup kita. Hanya ingatan dan air mata yang menjadi penghantar kenangan itu.

Seperti yang baru aku alami sekarang ini, belum genap 2 minggu aku bertemu dengan uwaku, kini aku harus kehilangan uwaku. Uwaku meninggal dunia tepat tanggal 18/02/2012, karena terjatuh dari kamar mandi. Uwaku yang suka memanggilku cantik, uwaku yang selalu tersenyum padaku. Uwaku yang selalu menyambutku dengan senyuman, jika aku datang menghampirinya. Kini telah tiada, sungguh sulit untukku, menerima kepergian uwaku. Tapi aku berusaha, untuk mengikhlaskan kepergian uwaku menuju Sang Khalik.

Sebelum kepergian uwaku, tepat tanggal 12/02/2012, aku sempat bertemu dengan beliau. Karena pada saat itu, keluarga juga saudara dari bapakku, akan mengadakan arisan keluarga seperti biasa. Awalnya aku ragu untuk datang, tapi tiba-tiba saja hatiku mengatakan, aku harus datang agar bisa berkumpul dengan mereka. Dan pada saat itulah, setelah aku pulang siaran, aku langsung kesana ditemani oleh teman pondokku. Saat tepat jam 9 pagi aku sampai kesana, dan ternyata, uwaku sedang duduk di kursi teras depan sambil menunggu keluargaku juga saudara yang lain.

“Assalamuallaikum uwa. . ini Novi Wa“ sapaku di depan pagar rumah uwaku sambil tersenyum.

“ Waalaikumsallam. . Oh Novi. . Novi udah datang (teriak uwaku kepada saudaraku yang ada di dalam rumah).  Ayo masuk, “ pinta Uwa Acep kepadaku.

Saat uwa Acep memintaku untuk masuk, aku dan temanku yang bernama Ilham langsung masuk ke dalam.

Saat sudah sampai di teras depan, aku langsung bersalaman sambil cipika-cipiki dengan uwaku sambil mengatakan kata yang selalu aku dengar dari bibir uwaku yakni, “ tambah cantik ya sekarang”. Aku senang bila uwaku mengatakan kata itu padaku. Tapi kini, aku tidak bisa mendengar kata itu lagi.

Selesai bersalaman, aku dan temanku langsung duduk di teras depan, ditemani oleh uwaku.Tampak disitu, uwa sedang gemas melihat cucunya yang bernama Yasmin. Tapi disisi lain, aku bertanya perihal saudaraku yang lain.

“Uwa. . yang lain belum datang yah?” tanya aku sambil tersenyum.

“Belum. . tapi nanti datang,” jawab uwaku sambil tersenyum.

Selesai bertanya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar untuk mencari warung. Sekalian menunggu saudaraku juga keluargaku yang belum datang.

“Uwa. . Novi sama Ilham mau ijin ke warung yah. . sekalian jalan-jalan sambil nunggu yang lain. . ?” pinta aku ke uwaku.

“Mau kemana. . ?” tanya balik uwaku.

“Mau cari warung. . “ jawab balik aku sambil tersenyum.

“Ngapain jauh-jauh, tuh disamping rumah uwa ada warung. . “ jawab balik uwaku sambil tersenyum dan menunjuk warung yang dimaksud.

“Hehehe. . warung lain aja wa. . sekalian jalan-jalan. . “ celetuk aku sambil cengengesan.

“Owh. . yaudah kalo gitu, nanti kesini lagi ya. . hati-hati. . “ pinta uwaku.

Saat aku sudah diizinkan oleh uwaku, aku langsung berjalan menyusuri gang yang ada di daerah rumah uwaku. Belum beberapa meter aku berjalan, aku mulai mengetahui warung yang uwa maksud. Tapi karena aku ingin berjalan-jalan, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk mencari warung yang lain.

Selama aku dan Ilham berjalan-jalan, aku menceritakan dan menjelaskan tentang apa yang aku tahu tentang tempat yang kami lewati. Tapi disaat kami sedang ingin menuju belokan gang, aku langsung menghentikan jalanku, saat aku melihat orang idiot yang sedang menggoda perempuan, karena aku takut, aku langsung memutuskan untuk kembali ke rumah disusul oleh Ilham.

***

Setelah lumayan lama aku menyusuri jalan untuk kembali ke rumah uwa, aku tidak bisa menahan tawaku. Karena kenapa, karena aku ke warung yang ditunjuk oleh uwaku, bukan ke warung yang lain. Saat sudah sampai warung, aku langsung membeli minuman gelas ale-ale rasa strawberry, sedangkan Ilham membeli jelly. Selesai membeli, aku langsung menuju rumah uwaku yang tidak jauh dari rumah uwaku, setelah itu aku langsung masuk ke dalam rumah dan Ilham langsung menuju kamar mandi.

Sambil menunggu Ilham dari kamar mandi, uwaku duduk di depanku, sambil bertanya-tanya seputar sekolahku.

“Sekolah di mana. . masih daerah Bogor. . ?” tanya uwaku dengan wajah serius.

“Di Pesantren Media wa. .Iya wa masih di daerah Bogor, dekat Pagelaran Ciomas, tepatnya di Komplek Laladon. . “ jawab aku sambil berusaha menjelaskan.

“Owh. . berarti dekat yah. . itu sekolahnya sama seperti sekolah yang lain yah yang ada pelajarannya. . ?” tanya balik uwaku.

“Kalo di Pesantren Media, enggak ada pelajarannya wa. . Cuma teori dan praktek. . Seperti siaran di radio, belajar menjadi penulis, dan yang lain, yang berhubungan dengan media. .Tapi kalau misalkan mau menuju UN, baru nanti ada pelajaran sekolah. . tapi pas mau UN aja. . “ jawab balik aku sambil tersenyum.

“Owh gitu. . Uwa doain, semoga Novi berhasil . Tetap semangat belajarnya“ jawab balik uwaku sambil tersenyum.Mendengar kata itu, aku langsung membalas senyum uwa, dan berusaha menahan rasa senang yang ada di hatiku.

Selesai berbincang-bincang, Uwaku langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Ilham langsung ke luar rumah karena sudah selesai dari kamar mandinya. Saat Ilham sudah duduk di dekatku, The yenah langsung memberikan makanan dan minuman berupa air aqua gelas, roti panggang, molci dari saudaraku yang dari Bandung.

“Ayo atuh dimakan. . gak usah malu-malu“ pinta uwaku sambil tersenyum.Karena aku sedari tadi mengincar molci, aku langsung memakan molci disusul oleh Ilham, setelah itu aku langsung memakan roti panggang disusul pula oleh Ilham.

Selesai memakan makanan yang disediakan oleh saudaraku, aku memutuskan untuk berjalan-jalan kembali ke sebuah tempat Vila yang mirip seperti Komplek. Tapi sebelum kita kesana, aku bertanya dulu ke uwaku.

“Uwa. . boleh gak kalau orang lain yang tidak tinggal di daerah Vila itu jalan-jalan ke daerah vila itu. . ?” tanya au sambil tersenyum.

“Boleh, gak apa-apa masuk aja. . biasanya juga banyak kok yang boleh kesana. . apalagi kalau misalkan lagi liburan, banyak yang olahraga ke daerah vila itu. . uwa juga sering kesana. “ jawab uwaku sambil tersenyum.

“ Boleh wa. . ?” tanya balik aku tidak percaya.

“ Boleh gak apa-apa kesana aja. . “ jawab balik uwa sambil tersenyum.

Setelah itu, aku langsung idzin jalan-jalan ke daerah vila yang ada di depan rumah uwa. Selama kami menyusuri jalan demi jalan yang ada disana, aku teringat akan kenangan antara aku dan saudaraku yang lain saat suka main-main di Vila tersebut. Bahkan aku ingat saat vila tersebut belum jadi, bisa dibilang, masih berupa tanah liat yang belum di apa-apakan, begitupun Pesantren yang ada di dalam Vila tersebut. Tapi aku tidak menyimpannya sendiri, aku berusaha menceritakan perihal kenangan aku dan saudara-saudaraku yang lain kepada Ilham temanku. Tidak lupa juga menjelaskan apa yang aku ketahui tentang vila tersebut.

***

Tidak terasa, rasa lelah mulai menghampiri, mau tidak mau, kami langsung mencari tempat untuk bersitirahat sebentar. Saat kami berusaha mencari, akhirnya kami menemukan sebuah perosotan yang disampingnya itu mengalir sebuah sungai yang mulai mengalir deras. Selama kami istirahat disanapun kami memutuskan untuk berfoto ria, agar kami bisa mengenang saat-saat yang sedang kami lakukan saat ini.

Selesai foto-foto, kami memutuskan untuk kembali ke rumah uwa, tapi di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk duduk sebentar di bawah pohon rindang sembari merasakan kesejukkan yang sesekali menghampiri kami. Alasan kami seperti itupun karena kami takut, saat kami kesana saudara dan keluargaku belum datang. Maka dari itu, kami memutuskan untuk menunggu disana. Setelah sudah sejam kami duduk-duduk disana, kami langsung kembali dan ternyata, keluargaku dan saudaraku sudah mulai datang, meskipun belum semua.

Dengan perasaan senang, aku langsung kembali kesana, dan disambut oleh adikku yang masih kelas 1 SD. Setelah itu, aku langsaung bersalaman dengan ibuku, bapakku dan juga saudaraku yang kebetulan datang bareng dengan keuargaku. Setelah itu, kami langsung masuk ke dalam rumah untuk duduk disana, dan tampak di depan kami, makanan satu-persatu mulai diantar oleh istri dari uwaku, seperti Kripik coklat yang diselingin warna putih, Risol, Kue Sus, Combro,Manggis, Kripik Singkong Pedes, dan lain-lain.

Karena kebetulan, banyak makanan yang aku suka, aku langsung memakan satu-persatu makanan yang ada di depan aku. Begitupun dengan temanku. Setelah kami selesai mencicipi satu-persatu makanan, akhirnya saudara kami yang tadi belum datang, kini sudah datang, suasana ramai mulai terlihat jelas di depanku. Tapi sayang, kami tidak bisa merasakan suasana ramai ini lebih lama, karena jam satu siang nanti, kami harus balik ke pondok. Saat saudaraku bilang, arisan akan dilaksanakan setelah dzuhur, aku kecewa berat karena aku tidak bisa mengikuti arisan keluarga itu.

Di saat aku lagi kecewa, ibuku, saudaraku dan uwaku langsung menyuruh kami makan sebelum pulang, karena kebetulan itu sudah jam setengah satu siang. Dengan perasaan yang sangat kecewa aku langsung makan bersama temanku. Awalnya aku merasa tidak enak karena harus makan duluan, tapi untungnya satu-persatu saudara juga keluargaku memutuskan untuk makan duluan sebelum arisan di mulai.

Selesai makan, aku langsung mengambil baju gamis hitam  dari kakakku yang kebetulan dititip ke ibuku. Saat baju gamis sudah diberikan, aku langsung pamit kesaudara-saudaraku yang lain, begitupun uwaku.

“ Uwa. . Novi pulang dulu ya. . ?” pamitku ke uwaku.

“ Oh iya. . hati-hati yah di jalan. . “ jawab uwa sambil cipika-cipiki dan tersenyum kepadaku.

Dan tepat di hari Minggu, 12/02/2012 itulah, aku baru menyadari, kalau itu adalah hari terakhirku bertemu dengan uwaku dan melihat senyum uwaku.

Untaian Doa untuk Uwakku:

Ya Allah, satukanlah uwaku dengan orang-orang yang sholeh, ampuni semua dosa-dosanya. Berikanlah uwaku kemudahan untuk masuk ke dalam surge-Mu, ringankanlah siksa kuburnya dan tolong sampaikan kepada uwaku, kalau aku menyayanginya dan merindukannya.

Ya Allah beri aku kesempatan untuk bertemu dengan beliau. Beri aku kesempatan untuk mengucapkan kata maaf kepada beliau dan bantulah aku agar aku bisa membalas kebaikan serta kebaikan yang telah beliau berikan untukku. Amin. []

Catatan: Tugas menulis diary di Kelas Menulis Kreatif Pesantren Media

diary senyuman

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait

Tinggalkan pesan