Senandung Rindu di Bumi Kemang 2

224 views

Menghabiskan masa TK-SMP di Kota Kemang membuatku semakin cinta dengan tanah kelahiranku itu. Melewati hari bersama orang-orang berlogat Sunda kecuali ummi. Karena memang, ummiku belum pandai berbicara dengan bahasa itu. Lain halnya dengan keluarga ummi yang sudah ‘menjelma’ menjadi OS. Orang Sunda yang lumayan bisa melafalkan kosa kata Bahasa Sunda. Walaupun tak se-fasih orang Sunda asli. Aku, abi dan ummi lebih sering berbicara dengan Bahasa Indonesia. Tiga tahun lalu yaitu saat aku kelas 1 SMA, kami pindah ke Jakarta. Meninggalkan Kota Kemang yang akan selalu terkenang.

ooOoo

“Assalamu’alaikum…” Ucapku ketika sampai di ruang TV. Abi terlihat serius menonton. Kedua tangannya memegang lengan kursi. Abi duduk dengan posisi tegap. Kedua matanya melihat ke arah TV yang berada ± 4m dari tempat duduknya.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab abi masih dengan posisi duduk dan melihat ke arah yang sama.

“Nonton apa sih, Bi. Serius banget?” Tanyaku heran sambil meletakkan nampan di atas meja. Abi mengalihkan pandangan. Kini kedua matanya tertuju pada nampan di atas meja.

“Wah, ada teh. Alhamdulillah, makasih ya, Risha.” Kata abi sambil mengambil teh. Wajah abi yang tadinya serius seketika saja berubah menjadi sumringah. Senyuman merekah dari bibirnya.

“Iya nih, Bi. Teh hangat spesial buatan Ummi Hani. Abis minum ini, pasti makin cinta sama Ummi.” Godaku. Abi tersenyum. Sepertinya beliau malu denganku. Abi menyeruput teh yang sebelumnya sudah beliau aduk. Melihat abi minum teh aku jadi tergoda.

 

Menikmati pagi dengan secangkir teh hangat, tak lupa ditemani dengan berbagai macam kue kering sebagai pelengkap. Mmm… yummy!

“Kamu kenapa, Ris?” Tanya abi membuyarkan lamunanku.

“Ah, nggak kenapa-kenapa kok, Bi.” Jawabku pura-pura. Secangkir teh hangat dan kue kering yang sempat melayang-layang di pikiranku layaknya kupu-kupu yang mengelilingi bunga kini seakan sirna. Kulihat air teh di cangkir abi tinggal setengah lagi. Abi masih menatap ke arahku.

Membuatku salah tingkah. Aku malu.

“Jangan sampai Abi tahu apa yang aku bayangkan.” Batinku.

“Rish, Risha… masya Allah.” Abi menggelengkan kepala. Aku hanya diam menunduk.

“Emm, Bi, tehnya nggak dihabiskan? Nanti Ummi marah loh.” Tanyaku memecahkan keheningan yang ada. Abi melihat ke arah cangkir yang masih berada di tangannya.

“Oh iya. Hampir Abi lupa.” Abi meminum sisa air teh yang wanginya sangat menggoda itu. Asap yang mengepul di atas cangkir seakan mengajakku untuk ikut meminumnya. Namun, aku hanya bisa menggigit bibir bawah. Hening.

“Inna lillaah! Kasus pemerkosaan lagi?” Teriakku beberapa menit setelah melihat tayangan berita di TV.

“Astaghfirullaah!” Abi yang sedang menikmati teh, kaget mendengar suaraku. Hampir saja tehnya tumpah membasahi karpet warna biru toska yang bercorak bunga kamboja di bagian tengah. Karpet itu digelar memanjang sepanjang lantai ruang TV. Menutupi keramik putih pucat.

“Eh, afwan, Bi.” Kataku sedetik kemudian.

“Iya, Ris. Abi sudah biasa kok dibuat kaget sama kamu.” Kata abi sambil meletakkan cangkir di tempat semula. Mendengarnya, aku jadi malu. Kugaruk kepala yang tidak gatal.

Bersambung…

[Siti Muhaira, santri kelas 3 jenjang SMA, Pesantren Media]

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan kedua jenjang SMA. Blog : http://santrilucu.wordpress.com/ Twitter : @az_muhaira email : iraazzahra28@ymail.com Facebook : Muhaira az-Zahra. Lahir di Bogor pada bulan Muharram.

Posting Terkait

Tinggalkan pesan