Semua Butuh Waktu

284 views

Aku berjalan menyusuri tangga menuju kamarku di lantai dua. Di sekolahku ini, disediakan asrama yang setiap lantainya diisi per-angkatan. Setiba di kamar, aku bergegas menyalakan laptop. Kegiatan yang biasa aku lakukan di waktu senggang. Biasanya kalau tidak mendengarkan lagu, ya paling membuat tulisan. Aku menoleh ke sekeliling, seperti biasa, aku sendiri di ruangan besar yang berisi 4 orang ini. Di sini, setiap kamarnya diisi 4 atau 5 orang.

Siswa angkatanku berjumlah 23 orang, tapi, entah kenapa angka ‘dua pulah dua’ terasa lebih enak didengar di telinga mereka-mereka. Seolah tidak pernah ada orang ke-23. Ya singkatnya, mereka tidak pernah menganggapku ada.

Tahun-tahun pertamaku dulu, dilewati dengan biasa-biasa saja. Layaknya siswa-siswa baru kebanyakan. Waktu itu, lumayan banyak yang mendekatiku untuk diajak berteman. Namun, seiring berjalannya waktu dan tanpa kusadari, satu persatu dari mereka mulai menjauhiku. Mungkin mereka sadar bahwa aku memang tidak menyenangkan.

Maklum saja, aku pendiam dan agak tertutup pada orang-orang yang baru kukenali. Mungkin butuh usaha yang keras dan waktu yang lama agar dapat menemukan sisi lain dari diriku. Tapi, mereka yang mulai hilang kesabaran, akhirnya menyerah untuk mengenalku lebih jauh.

Ujian tahun pertama semester satu sudah berlalu. Masuk semester dua ini, tanpa sadar aku mulai menunjukkan sisi lain diriku. Namun, sangat disayangkan, sisi yang kutunjukkan benar-benar membawa musibah. Mereka malah semakin menjauhiku dan terkadang takut saat ‘sisi’ ini muncul.

Tapi, haruskah aku menceritakannya? Haruskah aku memberi tahu kalian? Aku pikir, yang lalu biarlah berlalu. Diriku yang dulu, tak perlu lagi muncul dan mengacaukan segalanya. Aku ingin menjadi lebih baik di tahun ke dua ini.

Namun, harapanku untuk mengubah pemikiran orang-orang terhadapku ternyata tidak mudah. Memang sih, hal-hal jelek memang lebih melekat di pikiran orang-orang. Terkadang, sindiran-sindiran sengaja mereka layangkan padaku.

Seperti waktu itu, kami berkumpul di kelas, menunggu guru. Obrolan-obrolan seru mereka sekuat tenaga kuacuhkan, sampai salah satu dari mereka bertanya “Apa yang membuatmu bahagia?” “Banyak teman dong!” Jawab mereka dengan suara lantang. Huh, jawaban itu seolah menamparku.

Sering aku menunjukkan wajah biasa saja. Seolah tidak terganggu sama sekali dengan mereka. Namun, lama-lama aku mulai hilang kesabaran. Jika memang mereka tidak menganggapku sebagai teman atau bahkan tidak pernah menganggapku ada, aku terima itu. Tapi, seharusnya mereka bisa sedikit lebih menghargaiku.

Aku bukan tipe orang yang cuek, jadi aku selalu memperhatikan pendapat orang terhadap diriku. Aku juga gampang tersinggung dan sering berpikiran buruk. Pernah terlintas di pikiranku untuk menjauhi mereka. Cara itu hampir berhasil, sampai salah seorang temanku dari angkatan satu menyadarkanku. Dia satu-satunya orang yang dekat denganku.

Waktu itu, aku menceritakan masalah-masalahku dengan siswa-siswa angkatanku padanya. Saat aku bilang, aku berniat menjauhi mereka dan juga akan berusaha mengacuhkan mereka, dia terlihat tak suka dengan ideku.

Dahinya mengerut tak setuju, kemudian berkata. “Kalau kamu menggunakan cara itu sebagai solusi, aku yakin akan semakin memperburuk suasana. Sedangkan kamu juga pasti susah menjauhi mereka yang ber-22. Di lain waktu, kamu pasti juga akan membutuhkan mereka. Apa kamu nggak merasa aneh? Kalau kamu tiba-tiba dekat saat ada perlunya saja. Sedangkan sebelum-sebelumnya kamu malah cuek dan menjauhi mereka. Menurutku, lebih baik kamu biasa-biasa saja. Dekati mereka pelan-pelan, jangan terlalu agresif. Lama-lama, mereka pasti sadar, bahwa sebenarnya nggak ada gunanya buat ngejauhin kamu. Aku yakin.”

Setelah itu, aku langsung bertekad untuk melaksanakan sarannya. Hasilnya? Aku tak peduli, yang penting aku sudah berusaha. Sebenarnya, masih banyak cerita yang ingin kubagi dengan kalian. Hmm, mungkin lain kali.

Makasih sudah meluangkan waktu kalian untuk mengenalku. Mungkin kita bisa berteman juga?

Oh ya. Hai! Kenalkan. Namaku, Ghina.

[Hanifa Sabila, santriwati Pesantren Media, angkatan ke-2, jenjang SMP]

Penulis: 
    author
    Hanifa Sabila | Santriwati angkatan ke-2 jenjang SMP, kelas 2 | @hanifasabila21 | Asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat

    Posting Terkait