Loading

Oleh : Hanan NB

Keluarga Indonesia sedang menghadapi ancaman serius. Sejahtera jauh dari jangkauan dan kemiskinan merajalela. Data BPS 2014 menyebut setidaknya terdapat 28,5 juta penduduk miskin di negeri ini. Salah satu dampaknya, keluarga kehilangan fungsi untuk menanamkan nilai-nilai dasar bagi generasi, terlebih setelah kaum ibu banyak terseret ke dunia kerja hingga kehilangan fungsi utamanya sebagai pendidik putra-putrinya. Akibatnya, pecandu pornografi dan seks bebas, penikmat dan pelaku video mesum, hingga korban paedofilia adalah fakta memilukan yang mewarnai kondisi mereka.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengadakan peringatan Hari Keluarga Nasional ( Harganas) XXI tahun 2014 yang diselenggarakan di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, pada 14 Juni 2014. Harganas tersebut menurut BKKBN seperti yang telah diberitakan di ANTARA News sebagai momentum untuk memerangi kekerasan pada anak,dan memang acara ini diselenggarakan ditengah maraknya kekerasan kepada anak yang terjadi di negeri ini.  Selain juga tingginya angka kematian ibu dan kekerasan dalam rumah tangga. Acara ini mengharapkan mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam dalam mengembalikan fungsi-fungsi keluarga.

Keluarga Indonesia sepatutnya menyadari persoalan yang dihadapinya. Dan dengan adanya momen ini kita dapat melihat lebih dekat fakta keluarga yang ada di negeri ini. Sudahkah keluarga Indonesia bahagia dan sejahtera?. Berbagai langkah pemerintah dengan paradigma ekonomi kapitalisme dan demokrasi liberal, terbukti gagal mengatasi dampak kemiskinan yang merajalela yang salahsatunya adalah kekerasan pada anak. Dari peringatan Harganas tahun 2012 sampai saat ini 2014 tidak ada perkembangan dan bukti nyata bahwa dinegeri ini ada perubahan dimana keluarga menjadi lebih sejahtera.  Dan kejadianpun berulang, bagaimana mungkin keluarga akan menjalankan fungsinya jika permasalahan yang seharusnya ditanggung pemerintah menyerahkan ke setiap keluarga  untuk menanggungnya. Keluarga Indonesia dipaksa bertahan hidup dalam kemelaratan, dan tidak menuntut pemerintah memberikan berbagai bantuan dalam wujud subsidi, bantuan langsung dan layanan umum karena dianggap semakin membebani APBN yang sudah jeblok akibat  jebakan utang luar negeri. Bagaimana mungkin dapat mengembalikan fungsi-fungsi keluarga sehingga menjadi keluarga bahagia dan sejahtera  jika per 1 Juli 2014 tarif listrik dinaikkan?Lagi-lagi pemerintah lepas tanggungjawab dengan sedikit demi sedikit menghilangkan subsidi bagi rakyat,dan akhirnya menjadi beban bagi setiap keluarga lagi. Setiap keluarga juga diarahkan membangun keluarga kecil dengan dua anak saja agar bisa bahagia dan sejahtera,  meskipun untuk itu harus menempuh jalan KB permanen yang dilarang syariat Islam. Inilah sebenarnya  hakikat yang dimaksud dalam motto Hari Keluarga “Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, Keluarga Masa Depan Indonesia“.

Semestinya kita menyadari bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan tidak bisa terwujud sekadar karena faktor besar dan kecilnya jumlah anggota keluarga. Kebahagiaan akan terwujud bila masing-masing pihak dalam keluarga menjalankan fungsinya, memahami hak dan kewajibannya serta terpelihara keharmonisan. Kesejahteraan juga hanya mungkin didapatkan dengan pemenuhan seluruh kebutuhan dasar masing-masing orang dan tersedianya fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan dan rasa aman. Keduanya membutuhkan peran besar negara sebagai penanggung jawab, bukan diserahkan kepada rakyatnya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.  Semua tanggung jawab negara tersebut tidak bisa dilakukan dengan sistem kapitalis sebagaimana saat ini. Maka selayaknya pemerintah mengoreksi sistem politik dan ekonomi yang  dipraktikkan.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”(QS. At Tahrim 66:6). Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menjaga diri dari api neraka. Penjagaan diri dari api neraka pastilah dilakukan dengan mentaati aturan yang Allah perintahkan. Akan tetapi dalam sistem saat ini, dimana Negara kita menggunakan sistem demokrasi, kaum muslimin tak bisa jauh dari maksiyat yang mengancam keselamatan mereka dari api neraka. Bagaimana tidak, demokrasi mendudukkan manusia sebagai pembuat aturan. Kesalahan dasar dengan menafikkan Allah sebagai pencipta dan pengatur membuat masyarakat semakin terjerumus dalam kesengsaraan. Tak terlepas dengan kondisi keluarga Indonesia kini. Dan inilah akar dari semua  permasalahan yang ada termasuk permasalah yang terjadi dalam keluarga.

Gambaran pengaturan demokrasi sangat bertentangan dengan penerapan Islam dalam sistem pemerintahan. Sebagai contoh program kota layak anak mustahil  akan terwujud dalam sistem demokrasi karena pornografi dan pornoaksi merajalela,lokalisasi tumbuh subur,terbukanya investasi yang berbau materialis-hedonis (ajang pemilihan bakat,mall,dll),karena demokrasi memfasilitasi kebebasan dalam kepemilikan dan perilaku sehingga yang kuatlah yang menang.Lain halnya dengan sistem Islam yang diterapkan untuk mengatur segala aspek kehidupan. Islam yang diterapkan dalam naungan Khilafah akan mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh warganya. Islam memberikan jalan keluar dengan penerapan sistem politik Khilafah Islamiyah dan sistem ekonomi islam,karena Islam mengatasi permasalahan pada akarnya bukan cabang. Mekanisme langsung dalam bidang pendidikan, kesehatan, keamanan. Disamping mekanisme tidak langsung, berupa kewajiban bekerja bagi laki-laki baligh, penyediaan lapangan kerja, kewajiban ahli waris, dan subsidi Baitul Mal. Adanya jaminan pemenuhan semua kebutuhan pokok seluruh individu masyarakat, bahkan hingga pemenuhan kebutuhan pelengkap, dengan diterapkannya politik ekonomi Islam.

Khilafah Islamiyah akan menjadi pelindung dari serangan pemikiran dan budaya asing yang bertentangan dengan nilai-nilai keluarga Indonesia yang mayoritas muslim. Khilafah juga akan mandiri menentukan corak kurikulum pendidikan, mandiri  memberikan solusi bagi persoalan yang menimpa keluarga dan tidak membebek pada agenda internasional melalui program pemberdayaan perempuan, pendewasaan usia pernikahan, kota layak anak,dll.  Sistem ekonominya akan menyejahterakan, memperhatikan distribusi pendapatan, mencipta lapangan kerja yang luas,  tidak menyerahkan pengelolaan SDA kepada asing sehingga hasilnya mampu memberikan layanan publik yang berkualitas. Dan hal tersebut terbukti saat kekhilafahan belum runtuh dimana banyak generasi  yang berkualitas lahir dari keluarga yang sejatera dan bahagia.

Dengan sistem inilah setiap keluarga Indonesia akan meraih kebahagiaan dan kesejahteraan dan menjadikan keluarga masa depan Indonesia. Mereka juga tak perlu membatasi jumlah anak disebabkan alasan  kemiskinan. Sebab semua faham, hal itu bertentangan dengan firman Allah

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

..dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka (TQS Al An’am:151).

Jika kita ingin menyelamatkan masa depan keluarga di negara ini buang jauh-jauh sistem yang membuat negara ini membuat kebijakan jauh dari aturan Allah sehingga mengancam kesejahteraan keluarga. Beralih kepada sistem yang diridhoi yaitu Islam karena Islam sebagai aturan yang benar, karena berasal dari Dzat Yang Maha Benar, telah memberi solusi terbaik agar keluarga sejahtera dan bahagia.  Dan ini bisa terlaksana bila syariah Islam diterapkan secara sempurna dalam naungan khilafah.Allahu’alam bishowwab.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *