Secangkir Senja Untuk Sore #5

196 views

Tiga bulan berlalu begitu saja. Meninggalkan jejak-jejak telapak kaki di padang pasir, Kairo. Terik membakar siapa saja yang tinggal di dalamnya. Kairo rasanya semakin panas dari tahun ke tahun. Namun kenangan indah di negeri Al-Azhar ini, seolah merekat tak mau pergi.

Arial sudah menyandang Master of Al-Qur’an dengan predikat mumtaz. Kini ia sedang mendalami ilmu tafsir Al-Qur’an yang tertinggal beberapa kali, sebelum ia terbang kembali ke tanah air.

Arial memandang Sungai Nil yang keemasan pada petang. Rasanya baru kemarin ibunya menangis hingga tergugu, untuk melepaskan Arial sendiri di negeri orang. Namun ternyata, kini ia sudah tiba pada akhir perjumpaannya dengan Kairo. Ia pasti akan sangat merindukan negeri ini. Negeri yang banyak memberikannya pelajaran dalam pengalaman hidup yang pernah ia jelajah.

Arial merogoh sakunya. Mengeluarkan Nokia N73 yang kadang suka kehilangan sinyal di saat-saat yang tidak tepat. Tak banyak waktu baginya untuk pergi ke toko elektronik dan mengganti handphone pemberian Sarah itu. Meski uang pada tabungannya, seolah tidak pernah habis barang sepeser pun.

Kini Arial mengenakan kacamata dengan frame atas berwarna perak. Rambutnya memiliki jambul kecil di bagian depannya. Membuat garis wajahnya terlihat lebih tegas dan dewasa. Beberapa bintik bekas jerawat mengisi dahinya. Arial kini benar-benar bukan pria dengan seragam SMA lagi.

Pria berkacamata itu memelototi layar handphone-nya, nyaris tanpa satu kali pun kedipan. Beberapa menit setelah itu, sebuah pesan singkat masuk menerobos imajinasinya.

Assalamu’alaikum. Bgmn kabarmu, Ar? Aku dengar km sdh lulus dgn predikat mumtaz? Aku bangga skl pdmu, Ar. Salam utk keluargamu, dari aku dan Mahesya. Smg km segera pulang ke tanah air. Jgn lupa mampir ke rmhku ya kalau ke Bandung!

Dzaki.

Arial tersenyum sambil menggamit handphonenya.

“Mahesya… Rasanya sudah lama sekali.” Arial bergumam. Matanya menerawang langit yang semakin oranye. Awan-awan seolah melukis wajah Mahesya dalam balutan kerudung oranye keunguan yang kalem. Arial buru-buru menghapus pikirannya dengan istighfar. Awan-awan di atas kepalanya seolah ikut berhamburan, membentuk formasi baru yang tidak bisa ditebak.

Pria dengan nama unik itu sudah mengkhitbah seseorang. Dia sudah tidak ingin mengingat-ingat Mahesya lagi. Atau pun Sarah yang sebenarnya sama sekali tidak pernah menerimanya sebagai pacar. Sarah tidak ingin pacaran karena ia tidak pernah diizinkan orang tuanya. Namun, Arial tidak bisa menghalangi perasaannya ketika masih SMP kali itu. Ia jatuh cinta pada Sarah. Namun Sarah pergi, tanpa bisa kembali lagi. Sarah meninggal dengan tumor otak yang menyebar hingga setengah tubuhnya tidak berfungsi lagi.

Arial memijat tengkuknya. Berusaha tidak termakan memori masa lalu.

Besok Arial pasti sangat sibuk dengan pengurusan paspornya. Beberapa minggu lagi, ia akan kembali ke Bandung. Rencananya ia akan membawa keluarga kecil dari calon istrinya yang tinggal tidak begitu jauh dari tepi Sungai Nil.

Arial memijit keypad-nya dengan tangan bergetar. Dia memang begitu tiap kali ingin mengabari sesuatu kepada calon istrinya.

Assalamu’alaikum. Insya Allah hari ini saya mau silaturahmi ke rumah. Dan ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan.

Pesan terkirim!

Tak lama kemudian handphone Arial kembali bergetar.

Oke! Keluargaku pasti sangat senang.

Senyum Arial mengambang. Dia selalu bahagia di saat-saat seperti ini. Calon istrinya bukan orang yang pandai bicara. Bahkan ia sama sekali tidak bisa bicara. Ya, dia bisu. Tapi, Arial berusaha mencintainya melewati cello yang hampir setiap malam ia gesekkan di depan rumah sakit. Ya, gadis bermata bulat waktu malam itu, ketika Arial dirawat di rumah sakit. Kali ini, Arial tidak terlambat lagi. Arial mampu mencuri hati gadis yang lima tahun lebih muda di bawahnya itu.[]

[Noviani Gendaga, santriwati Pesantren Media, kelas 12, angkatan ke-2]

cerpen cinta dewasa gendaga islami media novi noviani pesantren remaja santri

Penulis: 
author
Noviani Gendaga | Santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, kelas 3 | Asal Samarinda, Kalimantan Timur

Posting Terkait