Sebuah Jawaban #2

730 views

Aku berjalan cepat menuju sekolah. Jarak antara rumahku dan sekolah lumayan jauh. Aku harus menaiki bus mini selama 10 menit. Kemudian, aku masih harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai di gerbang sekolahku.

Di gerbang sekolah, Sally dan gengnya sedang mengobrol di sana. Ia melihatku. Seketika, mereka semua berdiri. Aku mempercepat jalanku. Kurasakan, ada orang yang mengikutiku.

Aku tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Tiba-tiba, Sally sudah menghadang di depanku. Aku berhenti. Aku melirik pelan ke belakangku. Benar. Ada dua orang perempuan dari geng Sally. Aku menahan nafas.

“Coba lihat, apa yang dibawa cewek bodoh ini.” Katanya berkacak pinggang. Aku mengangkat wajah. “Oh. Aku tahu. Si cewek bodoh ini mau jualan?” kata Sally lagi dengan nada mengejek. Semua teman gengnya tertawa mengejek. Rahangku mengeras.

“Lalu apa masalahmu?” kataku berani. Sally terkejut. Mungkin, ia tak menyengka aku akan berkata seberani itu. Ia menamparku hingga aku terjatuh. Aku terkejut memegangi pipiku.

“Lain kali, jangan bertingkah kalau sedang berhadapan denganku. Kamu harus tahu. Kita tidak setingkat, anak bodoh.” Katanya. Ia berlalu. Aku masih tertunduk. Tiba-tiba, sebuah tangan besar terulurkan. Aku melihat siapa yang memiliki tangan itu. Kak Rafli?

Dengan cepat, aku berdiri sendiri dengan tanganku. Aku membersihkan kotoran yang ada di bajuku.

“Maaf, kak. Saya tidak apa-apa.” Kataku pelan. Kak Rafli menarik tangannya lagi.

“Baiklah kalau begitu. Saya duluan, ya.” Ujar Kak Rafli berbalik dengan cepat. Aku mengangguk lemah. Bukan kepergian Kak Rafli yang aku sayangkan. Tetapi sikap Sally yang mendadak kasar ke arahku. Aku memang tidak terlalu dekat dengan Sally. Tapi ia tidak pernah bersikap seperti itu terhadapku.

Aku mengambil keranjang kue ibuku. Kubuka penutupnya dan kurapikan kue-kuenya. Aku cukup tersinggung dihina sebagai orang bodoh. Aku memang tidak pintar. Tapi aku juga tidak bodoh.

ooOoo

“Sally! Jangan ngobrol sendiri!” Kak Rafli mengetuk papan tulis dengan spidol. Sally membalikkan badan dengan wajah kesal. Ia menatapku dengan pandangan benci. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku.

Sudah hampir seminggu aku belajar dengan kelompok belajar Kak Rafli. Dan sudah seminggu pula Sally memusuhiku. Nilaiku memang meningkat seminggu ini. Tapi aku masih tidak nyaman dengan setiap pandangan kebencian Sally.

Seperti biasa, aku selalu pergi ke kantin setiap pulang belajar. Ibu Kantin sudah menunggu di belakang meja kasirnya.

Aku tersenyum kepada Bu Yanti.

“Diana, kue-kue Ibumu laku keras.” Kata Bu Yanti tersenyum. “Ada sisa 4 buah, Ibu beli. Yang ini, dan yang ini. Jadinya Rp. 6.000, ya.” Bu Yanti menyelipkan uang Rp. 2.000-an ke dalam keranjang kue Ibuku.

“Terima kasih, Bu.” Kataku sedikit membungkukkan badanku. Bu Yanti tersenyum.

“Besok bawa lagi, ya..” Aku tersenyum mengangguk. Keranjang yang kupegang kini tidak berat lagi. Isinya sudah terganti dengan uang-uang hasil penjualan di kantin. Aku berjalan cepat pulang ke rumah.

Aku berjalan sendiri menuju halte. Entah mengapa, hari ini aku senang sekali. Teman-temanku malambaikan tangan kepadaku.

 

Bersambung..

[Fathimah NJL, Santriwati angkatan ke-1 Jenjang SMP, Pesantren Media]

Penulis: 
author
Santriwati Pesantren Media, angkatan ke-5 jenjang SMA. Sudah terdampar di dunia santri selama hampir 6 tahun. Moto : "Bahagia itu Kita yang Rasa" | Twitter: @FathimahNJL | Facebook: Fathimah Njl | Instagram: fathimahnjl

Posting Terkait