Sebait Doa

1008 views

By : Wita Dahlia

(Santri ‘kalong’ Pesantren Media)

 

Besok aku akan menikah!

Salma menatap lekat cermin di hadapannya.  Senyum mengembang dari sudut bibirnya.  Dirabanya garis-garis yang mulai mengukir di sudut mata dan bibirnya.  Akhirnya ia menikah diusianya yang ke 35 tahun.  Cukup terlambat memang, tetapi itulah, jodohnya memang baru tiba saat ini.  Ia yakin, jodoh akan datang di saat yang tepat dan dengan orang yang tepat.

Calon suaminya bukan berarti tanpa seleksi.  Meski usianya 35 tahun tapi wajah Salma manis dan mungil sesuai tubuhnya yang tingginya 150 cm dengan berat 43 kg.  Meski kulitnya sedikit gelap tetapi bersih dan halus.  Pembawaannya yang kalem dan santun merupakan daya tarik tersendiri.  Beberapa pria sudah mencoba mengkhitbahnya, tetapi baru sekarang Salma membuka hatinya.  Hm…jodoh, siapa yang bisa menebak?.

Pilihannya jatuh pada seorang lelaki mualaf dari daerah timur Indonesia.  Nama sebenarnya George Edison.  Delapan tahun yang lalu, George bertemu seorang ulama yang ternyata juga seorang ketua sebuah ormas besar yaitu Pasukan Pembasmi Maksiat (PPM).  George bersyahadat dan sejak itu ia berganti nama menjadi Muhammad Haikal.  Muhammad Haikal keluar dari kehidupan lamanya, kemudian dengan tabungannya ia mendirikan pesantren.  Kini, diusianya yang ke 28 tahun, Haikal sudah mampu mengajar di pesantrennya sendiri.

Kisah itulah yang mengantarkan Salma jatuh pilihan kepada lelaki tersebut.  Di mata Salma, Haikal sosok yang benar-benar gigih dalam mempelajari Islam.  Ia memeluk akidahnya, benar-benar melalui proses pencarian, bukan karena terlahir dari rahim seorang muslimah.  Bagi Salma, ini merupakan nilai plus bagi seorang Haikal.

Jam berdentang 12 kali.  Salma menguap.  Direbahkannya tubuhnya ke atas pembaringannya.  Ia harus tidur.  Tidak lucu jika akad nikah ia lalui dengan menguap melulu.  Dicobanya untuk memejamkan matanya.  Ia sempat gelisah sekitar 30 menit untuk kemdian terbang ke alam mimpi.

Esoknya, akad nikah yang dilaksanakan di pesantren Haikal berlangsung khidmat.  Bang Haikal, begitu panggilnya, berhasil melafadzkan kalimat akad nikah dalam satu tarikan napas.  Salma mengintip dari balik hijab.  Ada beberapa ulama dari ormas PPM hadir di posisi ikhwan.  Di posisi akhwat sendiri ada beberapa temannya dari Gerakan Syariah (GS) yang hadir.  Salma memang aktif di GS selama 7 tahun ini.

Salma menyeka airmata bahagianya.  Beberapa teman kajiannya juga turut menitikkan airmata.  Mereka bahagia Salma berhasil mendapatkan lelaki sholeh sesuai impiannya selama ini.  Ketika teman-teman menyalaminya, senyum Salma terus mengembang  sebagai bentuk luapan kebahagiaan.

ooOoo

“Bang, anterin aku pergi kajian ya…” Salma bergelayut manja di lengan suaminya.  Suaminya menoleh dan melepaskan buku yang sedang dibacanya.

“Iya…jam 10 kan? Abang mandi dulu ya…” Haikal bangkit sembari mengelus pundak salma sebagai balasan kemesraan istrinya.  Salma tersenyum dan mengangguk.  Sudah 2 bulan ini ia selalu ditemani suaminya kemanapun ia pergi.  Ia tak perlu numpang dibonceng teman akhwatnya, apalagi jalan kaki jika akan melakukan aktivitas dakwah.  Suamninya siap mengantar dan menjemputnya.  Maklum, Salma tidak bias berkendaraan sendiri.  Walhasil ia sangat bergantung terhadap suaminya.

“Yo’ dik, abang udah siap…” tepukan lembut di pundaknya memutuskan lamunan Salma.  Salma menoleh, suaminya sudah siap dengan pakaian kebesarannya, gamis dan sorban.  Salma mengangguk.

ooOoo

Tiga bulan kemudian.

Salma menatap alat tes kehamilan di tangannya dengan tidak percaya.  Alat digital itu menunjukkan 2 garis biru sebagai indikator positif.  Ini artinya ia positif hamil.  Setengah berlari Salma menuju ke kamar mencari suaminya.  Tapi langkahnya terhenti di ruang tengah.  Perhatiannya tertuju pada ruang tamu.  Salma mengintip di balik tirai.  Suaminya ternyata ada di sana.  Tetapi ia tidak sendiri.  Ada 4 orang lelaki di sana menemani suaminya, Pak RT, Ustad Hasan yang setau Salma salah satu pengurus PPM dan seorang laki-laki berperawakan besar dan berpakaian polisi.  Seorang lagi, laki-laki berusia cukup lanjut yang tidak pernah Salma lihat sebelumnya.

“Setau saya, tanah pesantren itu milik ayah saya.  Beliaulah yang memberikan tanah itu ke saya.”  Suara Haikal terdengar serak.

“Maaf Ustad, tanah itu sebenarnya milik saya, ini sertifikat tanahnya.  Sudah lama sebenarnya saya ingin menggugat tanah ini.  Tetapi ketika mengetahui di tanah ini didirikan pesantren, saya abaikan.  Saya sendiri toh tinggal di Jakarta, tidak sempat mengurus tanah ini.  Tetapi belakangan ini saya mendapat laporan yang kurang baik tentang pesantren ini.  Kebetulan Pak RT adalah sepupu saya, beliau dapat laporan dari warga yang kemudian disampaikan ke saya.” Jelas lelaki baya itu panjang lebar sambil menoleh kea rah Pak RT.  Pak RT mengangguk setuju.

Wajah Haikal tampak berubah “laporannya tentang apa ya pak?” tanyanya.

“Begini Ustad Haikal, kami mendapat laporan pesantren ini mengajarkan ritual-ritual yang tidak sesuai dengan syariat Islam.  Dzikir yang tidak familiar, kemudian ketika anda mengajar, anda menutup seluruh pintu dan jendela ruangan.  Beberapa siswi juga melaporkan, anda memperbolehkan siswi tidak menggunakan jilbab di hadapan anda.  Benar demikian Ustad?”  selidik lelaki polisis tersebut.

Wajah Haikal kini memucat.  Ia menggeleng-geleng lemah.

“Afwan akhi, ana mo bertanya, bukankah orangtua antum Nasrani? Apa beliau mengijinkan antum mendirikan pesantren di atas tanah yang beliau berikan ke antum?”  Ustad Hasan angkat bicara.

Haikal mengangguk. ”Papa tahu, tapi toh tanah itu sudah diberikan pada ana, jadi beliau tidak turut campur.  Dalam hal begini, beliau lebih toleran” jawabnya.

Hening melingkupi mereka.  Salma memutuskan beranjak ke kamarnya.  Kepalanya mendadak pening.  Selama ini Bang Haikal tak pernah mengijinkannya terlibat dan turut mengelola pesantren.  Padahal Salma cukup menguasai bahasa Arab.  Ada apa sebenarnya? Apa memang benar Bang Haikal menyembunyikan sesuatu darinya?  Salma merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.  Seribu tanya memenuhi benaknya.  Mendadak Salma merasa amat gundah.

————————-

Ya Allah…mengapa semuanya berubah demikian cepat.  Sejak kedatangan keempat lelaki tersebut, Bang Haikal berubah menjadi pemarah.  Bang Haikal mulai membatasi ruang geraknya, termasuk aktivitas dakwaknya.  Bahkan berita kehamilannya, yang ia sampaikan dengan suka cita ditanggapi dingin oleh Bang Haikal.  Salma menarik napas panjang sembari menyusut airmatanya.

Salma mendekati Haikal.  Disentuhnya pundak suaminya perlahan.  Kini ia menjadi sangat penakut terhadap suaminya.  Salah bicarasedikit, Haikal akan menyemrotnya dengan kata-kata.

“Bang, hari ini jam 10 jadwal kajianku.  Antarkan aku ya Bang….begitu kelar aku langsung pulang” ucapnya lirih.

Haikal menatapnya tajam, kemudian menggeleng keras.  Lutut Salma terasa lemas.

“Bang tolonglah….aku sudah tak pernah menjenguk Abi dan Umi.  Tak pernah lagi mengisi majelis taklim, mengisi di radio, apalagi sekedar berkunjung ke rumah teman.  Tolonglah Bang…ijinkan aku pergi hanya untuk kajian yang seminggu sekali ini..”  Salma mulai terisak.  Mendengar Salma menangis bukannya iba, Haikal malah menjadi berang.

“Kubilang tidak boleh, tidak boleh! Kamu tidak inginkan durhaka ama suami?!” suara Haikal meninggi.

Salma kian terisak.  Gemetar tangannya saat meraih handphone genggam di tasnya.  Ia mulai mengetik SMS ketika secara tiba-tiba Haikal merebut handphone itu dari genggaman tangannya.  Salma terkejut.  Handphone itu terlepas dan berpindah tangan ke suaminya.

“Bang…aku ingin ijin ke The Jannah, bahwa hari ini aku gak ikut kajian.”

Suaminya menyeringai.  Ditimang-timangnya handphone di tangannya.

“Mulai detik ini, HP ini ditanganku.  Siapapun yang menghubungimu atau ingin kamu hubungi, harus melalui aku.” Tandasnya.

“Tapi kenapa bang?”

“Ingat ya! Kita sedang banyak masalah.  Pesantren kita terancam di tutup.  Aku kehilangan pekerjaanku.  Aku juga sedang difitnah.  Kamu sebagai istriku, harus turut menanggung dan merasakan bebanku ini.  Bukannya malah kelayapan!”

Salma semakin terisak-isak.  Haikal kemudian berbalik meninggalkannya.  Meninggalkan gumpalan kepedihan di hati Salma.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari  suram bagi Salma.  Sikap Haikal semakin menjadi.  Salma tidak diperbolekan mengangkat telpon dari teman-temannya apalagi menelpon.jika ada yang berkunjung mencari Salma, Haikallah yang menemuinya dan mengatakan Salma tidak bias ditemui.  Pernah Abi dan Uminya berkunjung.  Haikal memang menijinkan mereka menemui Salma, tetapi Haikal selalu menguntit Salma dan Uminya.  Haikal tampak takut jika Salma mengadu perihalnya kepada kedua orangtuanya.  Tetapi Salma bukanlah wanita yang demikian.  Dibalik kelembutannya, Salma adalah wanita yang tegar.  Ia simpan rapat rahasia rumah tangganya dan ia simpan dalam laci-laci sanubarinya.  Tiap sepertiga malam laci-laci itu ia buka dan ia tumpahkan isinya dalam qiyamulailnya.  Tiap sepertiga malam jualah sajadahnya menjadi saksi kepedihannya.  Basah oleh airmata.  Ya Allah…hanya kepadaMulah aku mengadu…desis Salma pilu.

————————–

Delapan bulan kemudian.

“Aku ingin menikah lagi.”

Salma terdongak mendengar ucapan Haikal.  Haikal berdiri tegap di hadapannya sembari menjulurkan selembar foto ke arah Salma.  Dengan gemetar Salma meraih foto yang diserahkan Haikal padanya.  Seorang wanita berkerudung biru dengan sinar mata yang teduh ada di sana.  Cantik sekali…wajahnya putih dan bersih.  Salma terkesiap, wanita itu pernah dilihatnya.  Ia sering mengisi kajian di masjid Nurul Ihsan, masjid yang sering ia gunakan juga untuk kajian.  Hanya saja setau Salma ia dari gerakan yang berbeda.  Ya, wanita itu dari sebuah gerakan bernama Majelis Persatuan Umat (MPU).

“Cantik bukan?!” seringai Haikal.

“Yang jelas, ia lebih sholehah ketimbang dirimu….” imbuhnya.

Hati Salma meradang.  Terlebih ketika Haikal mendekatkan bibirnya ke telinga Salma dan berbisik “Tolong carikan aku pinjaman uang untuk melamarnya.”

Salma terkesiap ”Maksud abang apa?!”

“Aku butuh uang lima juta untuk melamarnya”

“Abang terlalu!” desis Salma geram.

“Istriku…kamu sayangkan dengan kandunganmu…kamu gak maukan kehilangan dia…” ancam Haikal.  Matanya menatap tajam Salma.

“Ya Allah bang…ini anak kita…mau abang apakan anak kita?” Salma mengelus perutnya yang sudah sangat membuncit.  Haikal mengangkat bahu.

“Sungguh Salma, aku tak ingin melakukannya.  Kumohon turuti kata-kataku.  Jangan sampai aku melakukannya…jangan memaksaku…”ucap Haikal lirih.  Suaranya terdengar bergetar.  Ia berucap sambil menjauhi Salma.

ooOoo

            Hari itu Salma mencarikan pinjaman uang untuk suaminya.  Beberapa teman dan orangtuanya menjadi tujuan langkahnya.  Kini, uang itu sudah terkumpul di tangannya.  Dua juta dri orangtuanya dan sisanya ia dapatkan dari 2 orang teman akhwatnya.  Di antara mereka, pun orangtuanya, tak satupun yang tahu untuk apa ia meminjam uang tersebut.  Salma hanya mengatakan ada keperluan mendesak.  Tumben hari ini Bang Haikal mengijinkannya keluar rumah sendirian.  Sepertinya ia kurang enak badan, batin Salma.  Salma segera pulang ke rumah.  Ia takut Bang Haikal marah jika terlalu lama.

Sesampai di rumah ternyata pintu dan jendela rumah dalam keadaan terkunci. Mungkin Bang Haikal pergi.  Beruntung Salma pernah membuat duplikat kunci rumah.  Salma membuka bintu dan berniat langsung ke kamarnya.  Dinding rahimnya berkontraksi menimbulkan rasa mules di perutnya. Tertatih Salma menuju kamar.  Tetapi ia tertegun karena mendengar suara Bang Haikal dari dalam kamar.  Ternyata bang Haikal ada di rumah.  Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon.  Tetapi suaranya lirih sekali.  Salma menajamkan pendengarannya.

“Pa, puji Tuhan, aku akan dapat domba lagi.  Tidak kalah bagusnya.  Dari MPU, bagus bukan? Haha…siapa dulu…George Edison papa, anak tunggal pendeta Willian Edison…”Bisik Haikal sambil tertawa lirih.  Mendadak Salma menggigil.  Ia dilingkupi kemarahan yang amat sangat.  Telapak tangan dan kakinya menjadi dingin.  Apalagi saat ia mendengar Haikal menambahkan “Salma jangan dicerai dulu papa, aku masih berusaha menggoyahkan keyakinannya.  Ia harus diselamatkan.  Kalau ia bias mengikuti keyakinan kita, kenapa musti ku…”

Prang! Kaki Salma terantuk kotak kaleng berisi benang rajutan.  Sebelum pergi tadi, ia sempat merajut kaos kaki untuk bayinya kelak.  Meski belum pernah ia periksakantetapi menurut umi anaknya perempuan.  Sayangnya Salma lupa menyimpan kotak benangnya kembali sehingga saat ini terantuk oleh kakinya.  Seketika itu juga Haikal menghentikan telponnya.  Ia berlari keluar kamar.  Salma segera berlari tertatih-tatih menuju pintu depan.  Haikal terkejut setengah mati mengetahui Salma menguping pembicaraannya.  “Salma, tunggu!” ia berusaha menahan Salma.  Salma kalut.  Laki-laki di belakangnnya kini benar-benar asing baginya.

Berurai air mata Salma terus berlari menghambur keluar.  Entah dapat kekuatan darimana Salma mampu berlari ke arah jalan besar.  Mendadak Salma merasakan mulas yang luar biasa pada perutnya.  Seketika darah mengucur dari balik jubahnya.  Ia mengalami pendarahan hebat.  Kepalanya berkunang-kunang.  Tiba-tiba dari arah berlawanan melaju sebuah mobil dengan cukup kencang.  Mobil itu nyaris menabrak dirinya yang telah kehilangan kendali.  Saat detik-detik mendebarkan tersebut sepasang tangan mendorongnya dengan amat keras.  Salma terlempar sekitar 3 meter dari tempatnya berdiri semula.  Ia langsung tak sadarkan diri.

ooOoo

            Sayup-sayup terdengar suara isak tangis.  Salma mencoba membuka mata.  Ya Allah….ia merasakan sakit yang luar biasa pada sekujur tubuhnya terutama bagian pinggangnya.  Perlahan Salma membuka mata.  Awalnya tampak kabur, namun kian lama kian jelas ia melihat apa yang ada di sekitarnya.  Tampak di sisinya Umi yang sedang menangis-terisak-sak dan Abi yang wajahnya sangat murung.

“Umi…Abi…”  panggilnya lemah.  Ia coba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

“Anakku….oh anakku…kau sudah sadar nak? Semoga Allah memberimu kesabaran nak..” rintih Umi.

“Engkau sekarang di rumah sakit nak..” sela Abi.

Salma termenung.  Mendadak ia ingat akan kandungannya.  Dirabanya perutnya yang mengempis.

“Umi…anakku mana umi?”

Umi kian terisak.  Abi menunduk kian dalam.  Dari reaksi kedua orangtuanya, Salma sudah mampu menebak jawabannya.  Airmata Salma meleleh.  Ia menangis tanpa suara.  Hatinya benar-benar pedih.  Umi memeluk Salma erat.

“Assalamu’alaikum” pintu diketuk dari luar.  Bergegas Abi mebukakan pintu.  Seraut wajah ustad Hasan muncul dibalik pintu.

“Maaf ya ibu Salma, saya ingin menyampaikan pesan dari suami ibu” ucap Ustad Hasan.

Salma mengerutkan dahinya, tak mengerti maksud ucapan Ustad Hasan.  Suasana hening.  Umi terus memeluk Salma sembari terisak-isak.  Abi berdehem. “ begini nak…saat akan terjadi peristiwa tabrakan itu, Haikallah yang mendorongmu hingga kau dapat selamat.  Akibatnya Haikallah yang ditabrak dan terluka parah.  Ia sempat dirawat di rumah sakit ini juga.  Tapi hanya bertahan selama 2 jam saja nak.” Jelas Abi.  Salma limbung.  Berita apa pula ini? Bang Haikal meninggal? Salma tak tau harus sedih atau justru bahagia.

Di satu sisi Haikal adalah suaminya, suami yang ia cintai dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  Ia mencintai Haikal karena Allah…tapi ternyata Haikal justru mempermainkan agama Allah.  Haikal telah menipunya selama ini.  Suami yang ternyata berkedok muslim dan menjadi anggota ormas PPM yang terkenal tegas terhadap maksiat ternyata seorang misio…ah…Salma tak sanggup memikirkan hal itu lagi.  Dadanya naik turun menahan kecamuk dalam hatinya.

“Bu, sebelum meninggal, ustad Haikal sempat menitipkan salam untuk ibu, beliau minta maaf sebesar-besarnya atas perlakuannya selama ini.  Menurut pengakuan beliau, beliau memang mulanya ingin menjebak ibu agar ikut agamanya.  Karena modusnya adalah menikahi wanita-wanita muslimah dari berbagai gerakan untuk kemudian dibabtis.” Ustad Hasan menghela napas.

“Namun semenjak berumahtangga dengan ibu, beliau sadar bahwa Islamlah agama yang mulia sebagaimana mulianya hati ibu.  Bu Salma, kalau ternyata ustad Haikal tetap bersikap kasar itu karena ia sangat takut dengan papanya.  Ustad  Haikal itu disetir papanya bu, termasuk memaksa beliau untuk menikah lagi dengan modus yang sama terhadap muslimah tersebut.  Bu…maafkanlah suami ibu, karena Alhamdulillah diakhir hidupnya, ia bertobat bu.  Di hadapan saya, sebelum meninggal, ia bersyahadat kembali.” Lanjut Ustad Haikal.

Mendengar penuturan Ustad Hasan Salma meneteskan airmata.  Alhamdulillah suaminya mati dalam keadaan memeluk akidah Islam.

“satu lagi bu…Ustad Haikal bilang, ia ingin ibu tau bahwa ia….sangat mencintai ibu, istrinya yang sholehah…” tambah ustad Hasan.

Airmata Salma kian berderai tetapi ada senyum tipis tersungging di bibirnya.  Kini ia ridho dengan kepergian suaminya.  Diam-diam ia menyelipkan sebait doa untuk suaminya.  Ya Allah…berikanlah ridhoMu pada suamiku dan ampunilah ia[]

 

Bogor, Juli 2012

Untuk seorang sahabat: Tegarlah wahai ukhti…

cerpen fiksi

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait