Loading

Mengumpulkan sesuatu yang berbeda dalam satu tempat memang selalu terdengar menarik. Seperti halnya dua hewan berbeda yang dimasukkan dalam kandang yang sama, pasti akan terjadi sebuah dampak, bisa jadi saling berkelahi, saling menjauh, atau bahkan saling berbagi.

Hal tersebut juga terjadi di asrama ikhwan Pesantren Media. Satu asrama yang dihuni oleh 10 manusia berbeda tersebut banyak menimbulkan cerita-cerita atau kejadian-kejadian menarik setiap harinya. Mulai dari hal-hal yang dianggap biasa hingga yang paling tragis dari yang pernah ada, meski itu bisa berarti saling ejek kota asal.

Melihat penampakan menarik tersebut, reporter SantriMagz mencoba untuk mendatangi dan mencari tahu beberapa informasi dari santri-santri yang menghuni asrama tersebut.

Yang pertama kami kunjungi adalah Mas Dihya. Ia merupakan santri angkatan ke-2 Pesantren Media yang kini duduk di kelas 2 jenjang SMA, dan ia juga merupakan ketua santri Pesantren Media, atau jika di sekolah-sekolah umum sering disebut ‘Ketua OSIS’.

Menurut Mas Dihya, asrama ikhwan ini dihuni oleh 10 santri. Dan Hampir dari mereka semua berasal dari kota yang berbeda, ada yang dari Kalimantan Barat, ada yang dari Medan, ada yang dari Bekasi, ada yang dari Bogor, ada yang asli dari Jawa, ada yang dari Madura, dan masih beragam lagi .

Berkumpulnya berbagai macam ras dalam satu tempat tersebut disebut-sebut menimbulkan banyak tragedi luar biasa. Salah satu dan yang paling sering terjadi adalah saling ejek kota asal. Menurut Mas Dihya, hal tersebut paling sering terjadi oleh dua sosok manusia dari Medan dan Ketapang. Rizki VS Fadlan. Rizki yang berasal dari Medan tentu tidak mau terlihat kota asalnya kalah pamor atau tertinggal, Fadlan yang dari Ketapang juga tak mau kalah memamerkan kotanya yang terkenal dengan sungai-sungai besarnya di Kalimantan.

Tidak hanya itu. Berdasarkan apa yang dituturkan Mas Dihya, perbedaan logat dan bahasa tentu juga mengundang banyak tragedi. Banyak yang saling menertawakan bahasa-bahasa aneh dari daerah-daerah tertentu, dan ‘Medan’ nampaknya menjadi salah satu bahasa yang paling dipermasalahkan oleh santri.

Karena itu jugalah, Rizki santri yang berasal dari Medan menjadi santri yang paling sering dipersoalkan oleh teman-temannya. Mengenai bahasa dan logat bicaranya, ia sering sekali menggunakan bahasa-bahasa yang terdengar aneh oleh teman-temannya. Seperti ‘motor’ misalnya, ia sering menyebutnya kereta. Meski hal tersebut dibenarkan di daerahnya.

“Si Rizki kalau bilang motor itu kereta. Contohnya misalnya ia berkata ‘ayo kita naik kereta di Gunung Batu’. Jadinya temen-temennya pada bingung, mana ada kereta di daerah Gunung Batu.” Ujar Mas Dihya bercerita mengenai Rizki.

Selain kereta, Rizki juga sering menyebut kemarin dengan sebutan ‘semalam’. Padahal jika dalam bahasa Indonesia semalam artinya adalah tadi malam, berbeda dengan kemarin.

Berbicara masalah bahasa, maka seharusnya Orang Melayu (seperti Fadlan) tidak bisa memakai celana jika berada di Jawa. Jika memang ‘bahasa’ yang kita bicarakan, maka melayu dalam bahasa jawa artinya adalah berlari. Dan tentu saja orang yang berlari tidak bisa menggunakan celana, minimal ia akan kesusahan. Itu juga merupakan contoh perbedaan bahasa yang sering diperdebatkan di asrama ikhwan.

Selain bahasa, perbedaan sifat juga ternyata menjadi salah satu faktor yang membuat asrama ikhwan begitu unik.

Misalnya saja Qois, semua temannya sangat mengenal salah satu sifatnya yaitu takut dengan kucing. Meski demikian, bukannya membantu Qois menyingkirkan kucing yang sering muncul di pesantren, mereka justru menyodorkan kucing tersebut di hadapan Qois. Tentu saja hal tersebut menjadi sangat menarik untuk dibahas, terutama saat melihat ekspresi ketakutan Qois saat ada yang menyodorkan kucing kepadanya.

Atau juga, Ihsan yang dikenal ‘gagap’ dalam berbicara. Semua tahu dengan gaya bicaranya, jika kita andaikan jalan, maka ada banyak polisi tidur yang membuat perjalanan menjadi lambat. Meski yang satu ini seharusnya tidak dilakukan, tapi tetap saja ada yang suka meledek cara bicaranya.

Dan kebiasan lain juga terjadi pada Umar, santri gokil tersebut merupakan orang yang pertama kali menyebarkan virus ‘dodol’. Atau kebiasan mengatakan ‘dodol’ untuk sesuatu yang ia anggap kurang becus. Sehingga hal tersebut menular ke beberapa santri lainnya, dan membuat ‘dodol’ menjadi kata yang paling popular untuk sementara ini.

Namun, berbeda dengan Mas Dihya, Umar salah satu santri ikhwan justru berpendapat bahwa Musa lah santri yang memiliki sifat paling aneh. Menurutnya, Musa adalah tipe orang yang suka memerintah atau melarang suatu hal, tapi justru ia sendiri yang sering melakukannya.

“Musa itu paling sering nyuruh mandi. ‘Umaar.. Mandi..!’ Padahal dia sendiri yang belum mandi. Terus kalo kita balik nyuruh, dia pasti bilang, ‘nanti aku habis kamu’.” Tutur Umar.

Berbeda lagi dengan Rizki, santri asal Medan ini berpendapat bahwa Musa itu gampang diajak bercanda, dan salah satu orang yang tidak bisa marah, kalau pun ia marah pasti ujung-ujungnya tertawa. Tapi, Rizki juga sempat menambahkan bahwa Musa paling susah diajak berolahraga, dan yang paling ditakuti adalah akrobat tangannya, banyak yang sudah pernah merasakan sakitnya pukulan musa saat ia sedang emosi.

Selain Musa, Rizki juga menceritakan beberapa sifat-sifat unik teman-temannya.

“Diva, ia adalah ‘YesMan’, orangnya oke-oke aja, selalu mengikuti apa yang dikatakan temannya, jadi enak di ajak bersama. Sedangkan Anam, ia adalah orang yang sangat aneh, kalo lagi bercanda dia sering serius, tapi kalo diajak serius, dia justru malah bercanda, orangnya susah ditebak. Sedangkan Fadlan, jika berbicara atau berdebat dengannya, ngalah aja sama dia, karena dia orangnya tak pernah mau kalah, mulutnya ngejek terus sampai dirinya merasa menang.” Ujar Rizki menceritakan teman-teman asramanya.

Menurutnya juga, masih banyak lagi perbedaan-perbedaan yang membuat asrama ikhwan menjadi tempat yang juga sering memperdengarkan teriakan-teriakan histeris. Salah satu teriakan-teriakan tersebut paling sering terdengar dari kamar mandi. Dengan menekan satu saklar (tombol lampu) maka seseorang di kamar mandi akan segera berteriak. Terutama bagi beberapa santri yang takut gelap.

Alhasil, setiap harinya asrama Ikhwan selalu menimbulkan cerita-cerita menarik yang sayang dilewatkan. Cerita menarik yang timbul dari sebuah perbedaan, juga ikatan pertemanan yang justru semakin kuat karena sebuah perbedaan tersebut.

Dan yang pasti, sebuah kesimpulan telah didapatkan, bahwa semua perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling berkelahi, saling mengejek, atau saling merendahkan sesama. Justru hal tersebut seharusnya malah menjadi kesempatan bagi kita untuk dapat belajar menghargai teman. [Anam, santri angkatan ke-2, jenjang SMA, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini sebagai tugas Jurnalistik, Pesantren Media.

 

By anam

Ahmad Khoirul Anam, santri angkatan ke-2, jenjang SMA di Pesantren Media | Blog pribadi: http://anamshare.wordpress.com | Twitter: @anam_tujuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *