Salahkah Tuhan #3

228 views

Wanita itu pamit dan aku mulai sibuk memperkenalkan diriku dengan karyawan-karyawan yang satu ruangan denganku. Mereka tidak merasa aneh dengan pakaianku dan aku merasa akan sangat betah bekerja di sini.

***

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari sosok seseorang yang sudah kutunggu sejak 1 jam yang lalu. Pandanganku menangkap seorang gadis yang tengah berlari kecil ke arahku. Kerudungnya berkibar tertiup angin, jilbabnya yang panjang sesekali menyulitkan langkah-langkah lebarnya. Aku melambaikan tanganku senang. Akhirnya datang juga.

“Aduh. Maaf ya, Vera. Mobilku di sana, langsung ke sana aja yuk!” Dia menarik tanganku pelan.

Ia menjatuhkan tubuhnya di balik kemudi, sedangkan aku duduk di sampingnya. Tujuan kami kali ini adalah kota tempat kakakku sekarang menetap. Aku pergi bersama sahabatku, Riani. Sepanjang perjalan, kami mengobrol banyak hal. Sampai akhirnya aku jatuh tertidur karena kelelahan.

“Vera, Vera bangun. Sudah sampai nih.” Aku merasakan sebuah tangan mengguncang tubuhku. Huh, rasanya malas sekali bangun.

“Vera, katanya mau ketemu Revan. Gimana sih?” Aku langsung membuka mata ketika mendengar nama kakakku di sebut.

“Hah? Mana Kak Revan, Rin? Mana sih? Bohong, ya?” Mataku yang tidak menangkap keberadaan Kak Revan, kini menatap Riani sengit.

“Ihh, aku kan nggak bilang ada Kak Revan.” Katanya dengan nada menyebalkan.

Aku mendengus, lalu keluar dari mobil mengikuti Riani yang sudah melangkah di depanku. Kami memasuki sebuah rumah dengan gaya minimalis yang dominan dengan warna biru muda. Di halaman depan, terdapat beberapa tumbuhan yang jelas sekali di rawat dengan baik. Aku tidak begitu tahu jenis tamannya, karena hari sudah mulai gelap.

Aku masih mengikuti Riani ketika kami masuk ke sebuah ruangan yang ku tahu adalah kamar sahabatku itu. Aku menghempaskan tubuhku di kasur Riani lalu mulai memejamkan mata, sekilas kulihat sebuah pigura kecil -di atas meja di samping tempat tidur, dengan fotoku yang merangkul Riani dengan senyum lebar.

Aku tersenyum kecil. Huh, hari yang melelahkan.

***

Aku mengintip dari celah-celah pagar yang terbuka sedikit, lalu mengangguk ke arah Riani yang berdiri tepat di belakangku. Aku memberi isyarat agar ia mengikuti langkahku. Dengan ragu-ragu, ku dorong pagar tersebut dan berjalan masuk. Pemandangan pertama yang kudapati adalah, sebuah kolam ikan kecil yang di kelilingi rumput dan bunga-bunga cantik yang bermekaran. Lalu..

Sebelum mataku puas dengan pemandangan di depanku, Riani sudah menarikku. Ia menatapku tajam, lalu mulutnya sibuk berkomat-kamit tanpa mengeluarkan suara “Kamu lupa tujuan kita ke sini?”

Aku meringis. Oh tidak, aku hampir lupa.

Aku setengah berlari berusaha mengimbangi langkah Riani yang sudah jauh di depan. Tapi, tiba-tiba langkah ku memelan, aku mulai ragu. Sebelum Riani mengetuk pintu, aku segera menangkap pergelangan tangannya. Aku menggeleng pelan ke arah Riani.

“Aku belum siap, Rin.”

Riani tersenyum mengerti, kemudian mengajak ku keluar dari perkarangan rumah tersebut. Aku menunduk setengah melamun, kubiarkan Riani yang menuntun jalanku. Bahkan kebun bunga yang sempat ku lihat tadi, kini tak menarik perhatianku sama sekali.

Riani mengajak ku ke tempat ia memarkir mobil nya, cukup jauh dari rumah tadi. Kami sama-sama terdiam di samping mobil.

“Padahal, ini harusnya terasa mudah. Kenapa rasanya bisa sesulit ini, Rin?”

“Aku tau ini sulit bagimu, Ver. Tapi, kamu pasti nggak ingin menyi-nyiakan waktu kamu selama ini kan? Kamu sudah terlalu lama menunggu, Vera. Sekarang harus nya tak ada lagi kata ‘Tidak bisa’, ’Sulit’, atau ‘Belum Siap’. Kamu tau kan ada aku yang akan bantu kamu?”

Aku menengadah menatap langit, lalu dengan tekad kuat aku menggangguk pasti. Aku tersenyum ke arah Riani dan menariknya kembali ke rumah tadi.

“Nah, ini baru Vera yang aku kenal.”

[Hanifa Sabila, santriwati jenjang SMP angkatan ke-2, Pesantren Media]

fiksi karya santri

Penulis: 
    author
    Hanifa Sabila | Santriwati angkatan ke-2 jenjang SMP, kelas 2 | @hanifasabila21 | Asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat

    Posting Terkait

    Tinggalkan pesan