#SAKITNYATUHDISINI

322 views

Istilah ini pasti sudah sangat familiar di telinga kita. Atau bahkan, di antara kamu ada yang suka banget sama penggalan lirik lagu ini? Waduh, jangan-jangan kamu hobi sakit-sakitan setelah demen dengerin lagu yang satu ini. Hati-hati lho! Sakitnya jangan sampai kebablasan.

Umm, istilah ‘sakitnya tuh di sini’ emang sering digunakan untuk mengungkapkan kegalauan yang memuncak di dalam hati. Misalnya, ketika ada di antara kamu yang udah berusaha sekuat tenaga untuk move on dari si dia yang telah melukai hatimu, dan pada akhirnya mantanmu menyapa kembali lewat chat, dengan sapaan; HAI! Dan akhirnya kamu gagal move on. Lahirlah sebuah komunikasi tidak penting antara keduanya. Mulai dari bercanda sana-sini, lalu menjurus pada flashback tentang kisahmu bersamanya di masa lampau. Tapi, tiba-tiba mantanmu menghilang tanpa kabar dan tidak pernah kembali lagi. Walhasil, habis galau terbitlah ‘sakitnya tuh di sini’ (sambil nunjuk dada dan pasang ekspresi super duper kucel)

Ya keleus, gini doang pake sakit hati segala! Yang lebih lebay-nya lagi nih, ada lho beberapa teman-teman kita yang menunjukkan sakit hatinya melewati gambar yang diberi tulisan atau yang sering kita dengar ialah meme. Coba ngaku, siapa nih yang pernah bikin meme, lalu di-upload ke media agar banyak yang simpati? Atau, meme itu dijadikan sebagai alat modus supaya si ‘dia’ jadi peka?

Sobat gaulislam, dari fakta di atas bisa kita lihat betapa mirisnya para remaja sekarang yang mudah tumbang hanya karena ditinggal gebetan. Bukankah sebagai remaja muslim yang baik dan berkualitas, kita justru harus merasa #sakitnyatuhdisini ketika melihat kawan-kawan kita getol banget bermesraan dengan selain mahromnya? Tapi, mengapa kita malah turut berpartisipasi dalam menikmati kerusakan yang tengah mengakar pada setiap diri remaja-remaja kita?

Lalu, muncul pertanyaan: Lho, emangnya kenapa sih kita harus merasa #sakitnyatuhdisini ketika melihat teman-teman kita berpacaran? Tentu saja, karena berpacaran adalah salah satu perbuatan mendekati zina yang diharamkan Allah, dan termasuk dosa besar yang sekarang tersebar secara legal di tengah-tengah kita. Padahal Allah SWT telah berfirman yang begini nih bunyinya,

 

 

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’ [17]: 32)

So, kita kudu merasa #sakitnyatuhdisini ketika melihat teman-teman kita hobi nge-galauin gebetan yang masih belum tentu yang di-galauin itu jodohnya di masa depan (nah lho, jadi bingung). Jangan cuma ngerasa #sakitnyatuhdisini kalau lagi mencret (tunjuk perut dan pantat). Eh!

Sobat gaulislam yang selalu semangat. Banyak media massa yang dari dulu senang nge-judge bahwa agama Islam adalah agama yang radikal, keras, tak mengenal toleransi, ataupu kejam. Opini ini telah menyebarkan racun bagi dunia, bahkan bagi penganut agama Islam sendiri. Banyak saudara-saudara kita yang justru malah keder sama agamanya sendiri. Takut belajar Islam lebih dalam lagi, karena enggak mau dianggap teroris. Lalu, apalah gunanya sebuah agama jika hanya dijadikan sebagai identitas, tanpa kita memahaminya lebih rinci? Yang ada, kita malah buta dengan keyakinan kita sendiri. Atau justru, kita malah terombang-ambing di dalamnya, dan ikut-ikutan mempercayai sesuatu yang belum pasti. Padahal Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an,

 

 

 

 

 

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa’ [17]: 36)

Nah, perlulah kita merasa #sakitnyatuhdisini jika Islam terus-terusan dipandang sebelah mata dan dinilai buruk serta dicap sebagai ajaran terorisme. Mengapa? Karena Islam memang bukan agama yang keras. Islam adalah agama yang senantiasa menjaga pemeluknya dan memberikan ketenangan yang memuaskan akal, hati, dan jiwa. Hanya mereka saja yang belum paham dan terlanjur keder sama Islam, dan akhirnya memvonis ini dan itu yang tidak jelas kebenarannya.

Oleh karena itu, belajar Islam ialah wajib untuk kita laksanakan. Supaya, kita memiliki pengetahuan tentang Islam sekaligus memahaminya. Selain itu, kita bisa memperluas wawasan kita tentang apa itu Islam yang sesungguhnya. Tidak hanya tahu tentang ibadah mahdoh seperti yang ada di dalam rukun Islam saja. Tapi juga tentang bagaimana penerapan sehari-harinya. Dan perlu kita ketahui, bahwa belajar Islam akan membawa seorang muslim ke surga. Asalkan kita belajar Islam dengan niatan Lillahita’ala. Jangan sampai, kita malah merasa #sakitnyatuhdiakhirat karena tidak mau belajar Islam dan kecemplung di neraka. Naudzubillahiminzalik!

Lalu, gimana sih caranya supaya kita tidak merasakan #sakitnyatuhdiakhirat? Yup! Kamu harus kuat menahan godaan hidup yang terpampang nyata di depan matamu (ngomong ala-ala Syahrini). Tidak hanya godaan buat belanja barang diskonan di mall buat para wanita-wanita hobi belanja, tapi juga menahan godaan untuk berbuat maksiat. Jangan sampai deuh, kita terjerumus pada lubang maksiat yang di dalamnya memang dipenuhi dengan kenikmatan duniawi yang melenakan. Yakinlah, surga lebih indah meski dibandingkan dengan dunia dan seisinya. Siapa yang di sini kepengin masuk surga?

Gimana sih caranya supaya kita bisa dengan mudah menghindari hal-hal negatif, yang ujung-ujungnya malah membuat kita bersimbah dosa? Perlu kita ketahui, berbuat baik bukanlah sebuah perkara yang mudah. Karena berbuat baik itu memang susah dan hadiahnya surga. Coba kalau berbuat baik itu mudah, ya… hadiahnya cuma kupon makan siang di warteg!

Kita perlu meyakini bahwa upaya kita untuk menjauhi maksiat, akan dibalas dengan pahala dari Allah SWT. Dan tentu saja, kita sangat menanti-nantikan kehidupan sejati kita di dalam surga. Jangan malah mengejar kesenangan di dunia, karena kalau masuk neraka… #sakitnyatuhdisini!

[Noviani Gendaga, Kelas 3 SMA, Santriwati Angkatan ke-2 Jenjang SMA, Pesantren Media]

#sakitnyatuhdisini

author
Cylpa Nur Fitriani | Santriwati Pesantren Media angkatan ke-2, jenjang SMP, kelas 3

Posting Terkait