Rindu

312 views

Perasaan itu datang kembali menghampiri Aiyna. Aiyna yang berdiri sendiri menyepi di balik pintu kamarnya. Sudah sering perasaan itu menghampirinya. Tetap saja, dia tidak bisa menahan perasaan itu.

Air mata Aiyna tidak bisa dibendung  lagi. Andaikan air matanya itu seperti sungai ciliwung, mungkin bendungan katulampa tidak akan bisa menahan air sungai yang begitu deras.

Sudah berapa kali Aiyna berusaha mengalihkan perasaan itu, tetap saja perasaan itu datang dan takkan  pernah pergi. Sampai seseorang menjemputnya. Ya, perasaan itu adalah perasaan rindu seorang anak kepada  seorang ibunya.

Sudah tujuh tahun lamanya ibunya meninggalkan Aiyna di tempat anak-anak yatim piatu dikumpulkan. Panti asuhan Kasih Ibu. Di situlah Aiyna ditinggalkan ibunya yang pergi untuk mencari uang.

Seketika, memori masa lalu melintas di pikiran Aiyna.

oOoOo

Pelita yang diciptakan Allah untuk menyinari dunia, kini dia menjalankan tugasnya. Pelita yang menyinari kehidupan ini. Apalagi kehidupan gadis kecil yang pintar berbicara ini. Aiyna, Assyarifatul Aiyna.

“Hari ini tumben gak panas, gak hujan.” Aiyna yang duduk di bangku depan, sambil memegang bonekanya. Ibu yang sedari tadi menyapu tanpa ekspresi kini mulai tersenyum. Aiyna yang sibuk dengan mainannya sampai-sampai dia tidak sadar. Bahwa, pas di belakangnya ada seekor kucing belang yang duduk.

“Ibuuuuuuuu!” Aiyna berteriak dengan kencang sambil memegang bonekanya dengan erat. Aiyna yang sangat phobia dengan kucing ini mulai menangis. Ibu tercengang melihat Aiyna yang begitu phobianya dengan kucing. Aiyna masih saja menangis. Ibu pun datang menghampiri Aiyna dan mengusir kucing itu.

“Aiyna sayang, sini sama Ibu.” Kata ibu yang duduk di sebelah Aiyna dan memangku Aiyna dipangkuannya. Aiyna masih saja menangis. Sampai dia berhenti  menangis sendiri.

“Aiyna udah capek nangisnya?” Kata ibu sambil menghapus air mata Aiyna. Aiyna yang kecil menganggukkan kepalanya.

“Aiyna, gak boleh jadi orang penakut. Kucing sama Aiynakan masih gedean Aiyna. Jadi Aiyna gak usah takut sama kucing. Lagiaan kucing itu hewan yang lucu. Dan kucing itu hewan kesayangan Nabi Muhammad. ” Jelas  Ibu yang sedari tadi memandangi wajah Aiyna.

“Tapikan, kucing itu punya kuku. Dia bisa mencakar kulit Aiyna. Dia juga punya taring, Bu!” Aiyna yang berusaha membela dirinya.

“Kucing itu gak bakalan ganggu Aiyna. Kalo Aiyna gak ganggu kucing itu. Kalo ada kucing usir aja.” Suara seorang ibu yang begitu lemah lembut, terdengar oleh Aiyna.

“Tadi kata Ibu kucing itu hewan kesayang nabi Muhammad? Kok diusir?” Kata Aiyna yang sangat begitu polosnya.

“Ya sudahlah terserah Aiyna saja.” Ibu yang kekalahan, dengan anak sekecil Aiyna. Ibu melepaskan Aiyna dari pangkuannya dan masuk kedalam rumah.

“Ibu?” Kata Aiyna yang duduk di bangku sambil melihat kearah ibu.

“Iya, A..iy..na” Kata ibu yang terisak-terisak.

“Ibu, Aiyna gak mau Ibu pergi dari Aiyna. Aiyna sayang Ibu selalu.”Kata Aiyna yang tersenyum dan mengeluarkan aroma kecantikannya. Dengan cepat ibu berlari kedalam rumah dan meninggalkan Aiyna di luar sendiri. Aiyna sedikit terkeju dengan kelakuaan ibunya. Tapi, setelah itu Aiyna tidak menghiraukannya. Dia berpikir, mungkin ibunya lagi masak air dan lupa matiin kompornya.

oOoOo

Hari berganti hari. Saatnya ibu Aiyna mengantar Aiyna ke panti asuhan. Bagi ibu Aiyna, ini untuk kebaikkan anaknya. Dan ibunya melakukan semua ini untuk  mencari uang. Ibunya takut, Aiyna tidak terurus dengan baik. Dan menurut ibu Aiyna, lebih baik dititipkan ke Panti Asuhan.

“Aiyna sayang. Aiyna mau punya banyak temankan?” Kata ibu Aiyna dengan perasaan absurd.

“Mau banget Bu. Habisnya di sini, gak ada yang mau nemenin Aiyna. Kata mereka Aiyna itu anak orang miskin, jadi gak selevel sama mereka. Lagian mereka bilang ke Aiyna, kalo mainan Aiyna itu jelek-jelek semua. Banyak titik-titik hitamnya!” Kata Aiyna dengan mencontohkan ekspresi ketika teman-temannya meledeknya.

“Ya udah. Aiyna, sekarang kita pergi ketemu teman-teman baru dan baik hati. Nanti Ibu janji ,beliin Aiyna mainan baru yang buaanyak. Ibu Janji. ” Ibu Aiyna dengan mata berkaca-kaca.

oOoOo

“Aiyna sayang. Aiyna di sini aja ya? Ibu mau pergi dulu buat beliin Aiyna mainan yang banyak.” Kata Ibu Aiyna. Mengecup dahi Aiyna dan berlalu pergi.

“Ibu Aiyna gak mau sendirian di sini, Aiyna mau ikut Ibu!”  Kata Aiyna merengek-rengek.

“Aiyna di sini aja. Di sini banyak teman. Itu juga udah ada Ibu Rina. Yang Insya Allah sayang sama  Aiyna.” Kata ibu Aiyna sambil  mengeluarkan air mata. Ibu Aiyna pergi meninggalkan Aiyna di dalam dekapan bu Rina. Ibu panti asuhan. Aiyna masih menghamuk. Dekapan bu Rina pun terlepas. Aiyna berlari menuju ibunya yang sudah samai di jalan raya.

“Ibu, jangan tinggalin Aiyna. Aiyna gak mau Ibu pergi. Aiyna sayang Ibu!” Aiyna yang masih kecil itu menangis. Ibu siapa yang tidak luluh hatinya, ketika melihat sang buah hatinya menangis, mengeluarkan air matanya. Sampai memohon-mohon kepada ibunya agar tidak pergi.

“Aiyna, liat mata Ibu sayang. Lihat Ibu, Ibu janji sama Aiyna. Ibu bakalan jemput Aiyna di sini. Dan Ibu bakalan beliin Aiyna mainan baru, biar Aiyna gak diejekin sama teman-teman Aiyna lagi. Ibu janji, Aiyna! Aiyna harus percaya Ibu! Aiyna pegang janji Ibu! Aiyna pasti bisa ya, sayang. Jangan lupa sholat dan baca Al-Qur’annya. Ibu pergi dulu, Nak” Ibu Aiyna mengecup dahi Aiyna. Dan meninggalkan Aiyna. Aiyna kembali menangis .Aiyna kembali mengejar ibunya. Tapi, sayangnya dia terlambat. Bu Rina dengan cepat mendekap tubuh Aiyna yang kecil itu. Dan Ibu Aiyna tidak pernah kembali.

oOoOo

Sabar,  sudah sering Aiyna lakukan untuk menahan rasa rindunya. Dan menunggu sudah Aiyna lewati, hari demi hari . Sekarang, sudah cukup rasanya Aiyna menunggu di panti asuhan. Dan sekarang juga waktunya Aiyna yang mencari ibunya. Tanpa menghiraukan janji ibunya tujuh tahun silam.

Aiyna berjalan menuju kantor bu Rina.

“Assalamu’alikum.” Aiyna yang membuka pintu kantor.

“Wa’alikumussalam. Aiyna? Sini sayang.” Bu Rina yang melepaskan kaca matanya dan menutupnya. Aiyna maju dan duduk di samping bu Rina.

“Bu, Aiyna mau minta izin cari Ibu Aiyna.” Aiyna dengan suara yang pelan dan lebih tepatnya takut. Bu Rina terkejut.

“Aiyna. Kamu harus ingat janji Ibumu. Ibumu akan menjemputmu di sini, nak. Kamu tau sekarang Ibumu di mana?” Bu Rina yang sangat khwatir kepada Aiyna.

“Aiyna pernah dengar Bu. Kalo Ibu Aiyna, tinggal di kota.” Aiyna yang sangat semangat untuk mencari ibunya di kota.

“Kota itu luas. Aiyna tau alamatnya?” Aiyna mengeluarkan secarik kertas. Komplek Dehun, Gehil.

“Ini saja keterangan alamat Ibumu?” Bu Rina yang sinis dengan secarik kertas itu. Aiyna menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah. Kita lihat saja besok ya? “ Bu Rina yang menyerah secarik kertas itu tangan Aiyna.

“Tapi bolehkan Bu, plisss” Aiyna yang memanjakan dirinya kepada bu Rina yang sedang duduk di sofa kantor panti asuhan.

“Insya Allah..” Hati Aiyna merasa sangat lega. Dan hati Aiyna menjadi tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang selama ini dirindukannya.

oOoOo

 

“Wah, Aiyna sudah cantik!” Kata Bu Rina yang berdiri di samping pintu kamar Aiyna.

“ Iya Bu. Aiyna gak sabar ketemu Ibu Aiyna!” Aiyna yang sibuk dengan tas ranselnya.

“ Aiyna yakin ke kota hanya dengan Sara?” Kata bu Rina yang duduk di kasur Aiyna.

“Yakinlah Bu. Semua itu harus kita hadapi dengan berani. Yakan Sar?” Aiyna yang melirik kepada Sara.

“Iya dong. Sekalian berpetualangan Bu atau kami ketemu kasus di suatu tempat  dan kami bisa memecahkannya seperti Detektif Conan!” Sara yang menghayal terlalu tinggi.

“Aku gak suka Conan! Akukan suka Kaitou Kid! Aku bermimpi Kid bisa mencuri hatiku!” Kata Aiyna yang menjadi korban film.

“Tapikan, Kid itu pencuri!” Ledek Sara kepada Aiyna.

“Yang penting dia mencuri HATIKU!!” Aiyna marah bercampur lebay.

“Sudah, sudah! Kalian ini korban film ya? Ibu gak bakal kasih izin  kalian nonton film lagi!” Kata bu Rina yang pergi meninggal Aiyna dan Sara.

“Ibuuu” Kata Aiyna dan Sara serempak berteriak.

oOoOo

“Wah..” Kata Aiyna dan Sara yang menempelkan wajahnya ke kaca MG .

“Banyak mobil Aiy..”  Kata Sara dengan ekspresi wajah yang tidak wajar.  Ya, bisa dibilang KAMSEUPAY(Kampungan Sekali Uihh Payah). Ya sebenarnya gak separah itu juga sih. Namanya juga baru sekali kota. Dan yang pertama kalinya lagi.

“Mau kemana de?” Ujar orang yang duduk di samping Aiyna.

“Mau ke De..hun Ge..hil.” Aiyna yang membaca secarik kertas.

“Oh, bentar lagi nyampe lo dek!” Kata mba itu yang menunjukkan kearah sebelah kanan.

“Oh,ya?  Mkasih ya Mba? Sar siap-siap!” Dengan spontan Sara mengambil tasnya.

“Iya, sama-sama.” Kata mba itu yang melihat-lihat ke luar kaca.

Jalan-jalan yang menuju Dehun Gehil sudah di lewati.

“Bang,Bang.” Kata mba itu yang memberhentikan MG yang ditumpanginya.

“Turun di sini saja de. Nah, nanti kamu masuk ke dalam sana.” Mba itu menunjukkan ke arah komplek yang bertulisan DEHUN.

Aiyna dan Sara keluar dari MG dan membayar ongkosnya. Aiyna selalu bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa kota lebih buruk dari pada tempat tinggalnya? Terus kenapa orang banyak yang berlomba-lomba mencari pekerjaan di kota dan meninggalkan orang yang disayang? Padahal di kota membuat orang tambah banyak berdosa. Buktinya, perempuan-perempuan kota melihatkan auratnya kepada orang yang buka mahromnya. Itukan sanagat memalukan.

“Heh, sangat aneh!” Aiyna yang mendengus kesal.

“Ha? Apanya yang aneh?” Kata Sara yang terkejut dengan perkataan temannya.

“Cari tau saja sendiri. Kau mau menjadi detektif conankan?” Kata Aiyna berjalan lebih cepat meninggalkan Sara.

“Aiyna! Tunggu aku!!” Kata Sara yang berlari menyusul Aiyna berjalan di depan.

oOoOo

Panas matahari sangat terasa di kota. Polusi udara di mana-mana. Rasanya Aiyna ingin pulang saja ke panti, dan pergi ke sawah untuk mencium udara segar.

“Aiy.. Kita kemana nih? Alamatnya palsu kali, Aiy!” Kata Sara yang kecapean dan hawa yang panas.

“Kaya Ayu Ting-Ting saja!” Aiyna yang tetap berjalan. Aiyna berjalan menuju warung terdekat untuk membeli sebotol aqua dingin agar haus yang sedang melanda pergi.

“Segarrrr!!” Sara yang meminum aqua itu dengan nikmat.

“Alhamdulillah…” Aiyna meneguk airnya. Aiyna mendekat kepada sang penjual.

“Maaf Bu. Kenal dengan Bu Erin?” Aiyna yang bertanya kepada penjual tersebut.

“Ada photonya de?” Kata ibu penjual itu dengan ramah. Aiyna mengeluarkan photo ibunya yang tersayang.

“Oh, Bu Eri! Itu, itu rumahnya!” Kata ibu penjual menunjuk rumah yang besar.

“Makasih  ya bu?” Aiyna pergi berlari menuju rumah tersebut. Tanpa menghiraukan Sara yang sedang menikmati istirahatnya. Aiyna tetap berlari sampai, ia terenti di depan rumah tersebut. Aiyna memencet belnya. Seorang wanita keluar dari rumah besar tersebut. Dengan parasnya yang sang cantik, wanita itu membuka pagar rumahnya. Tanpa ditanya,  Aiyna langsung memeluk wanita itu.

“Ibu Aiyna kangen!” Aiyna yang memeluk dengan erat.[]

[Saknah Reza Putri, Kelas 3 SMP, Santriwati angkatan ke-1 Jenjang SMP, Pesantren Media]

Penulis: 
author
Saknah Reza Putri | Santriwati Pesantren MEDIA angkatan ke-2, kelas 3 SMP | Asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan | Twitter @PutriAisyara

Posting Terkait