QASHASH AL-QUR’AN

298 views

Muqaddimah

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Al-Qur’an adalah firman Allah yang bermu’jizat disampaikan kepada nabi dan rosul terakhir yaitu nabi Muhammad Saw, melalui malaikat Jibril ‘Alaihisalam secara mutawattir yang apabila kita membacanya dinilai ibadah yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri oleh surat An-nas. Kita selaku umat Islam berkewajiban untuk mempelajari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan pedoman bagi kehidupan kita didunia dan diakhirat. Oleh karena itu ada ilmu khusus yang berkenaan dengan mempelajari Al-Qur’an, yaitu U’lumul Qur’an.

U’lumul Qur’an atau Ilmu Al-Qur’an adalah pembahasan pembahasan yang berhubungan dengan kitab ini (Al-Qur’an) yang mulia dan kekal, dari proses turunnya, dari segi pengumpulannya, segi urutan dan penulisan ulangnya, dan pengetahuan sebab-sebab turunnya Al-Qur’an dan yang turun dalam periode Mekkah dan periode Madinah, dan ayat-ayat yang termasuk kepada yang menghapus dan dihapus, dan ayat-ayat dan hukum yang sulit dipahami.

Dari sekian cabang Ulum al-Qur’an itu, ada cabang tersendiri yang khusus membahas tentang kisah-kisah di dalam al-Qur’an:

  1. Pengertian qashash Al-Qur’an
  2. Macam-macam qashash dalam Al-Qur’an
  3. Apa tujuan dari qashash Al-Qur’an?
    1. Untuk menegaskan bahwa Qur’an merupakan wahyu Allah dan Muhammad saw benar-benar utusanNya yang dalam keadaan tidak mengerti baca dan tulis,
    2. Untuk menerangkan bahwa semua agama yang dibawa para rasul dan nabi semenjak Nabi Nuh a.s. sampai Muhammad saw bersumber dari Allah swt   dan semua orang mukmin adalah umat yang satu, dan Allah Yang Maha Esa adalah Tuhan semua umat (QS. Al-Anbiya’:48 dan 92),
    3. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
    4. Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.
    5. Untuk menerangkan bahwa dasar agama yang bersumber dari Allah swt, sama-sama memiliki asas yang sama. Oleh karena itu pengulangan dasar-dasar kepercayaan selalu diulang-ulang,  yaitu mengungkapkan keimanan terhadap Allah Yang Maha Esa (QS. Al-A’raf:59, 65, dan 73),
      Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).
      Dan (Kami Telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” Dan (Kami Telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya Telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. unta betina Allah Ini menjadi tanda bagimu, Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.”
      Untuk menunjukkan bahwa misi para nabi itu dalam berdakwah sama dan sambutan dari kaumnya hampir sama juga, dan agama yang dibawapun dari sumber yang sama yakni dari Allah swt (QS. Hud: 25, 50, 60 dan 62), Untuk menjelaskan bahwa antara agama Nabi Muhammad saw dan nabi Ibrahim a.s. khususnya dan dengan agama Bani Israil pada umumnya terdapat kesamaan dasar serta memiliki kaitan yang kuat (QS. Al-A’la: 18, 19 dan an-Najm: 36 dan 37), Untuk menjelaskan bahwa Allah swt selalu bersama nabiNya, dan menghukum orang-orang yang mendustakan kenabianNya (QS. Al-Ankabut:14-16 dan 24), Untuk menguatkan adanya kabar gembira dan siksaan di hari akhir (QS. Al-Hijr: 49-50), Untuk menjelaskan nikmat Allah swt terhadap para nabi  dan semua pilihannya (QS. An-Apa saja hikmah dai qashash Al-Qur’an?
       

      1. Pengertian Qashash Al-Qur’an:

      Kata qashash ( قصص ) adalah bentuk jamak dari kata qishshah ( قصة ). Kata itu berasal dari kata kerja qashsha – yaqushshu ( قص – يقص ). Kata qashash dan kata lain yang seakar dengannya, di dalam Al-Qur’an tersebut sebanyak 30 kali.

      Kisah berasal dari kata al-qshashu yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Seperti contoh, “qashashtu atsarahu” artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya”. Kata al-qashash adalah bentuk masdar. Seperti dalam firman Allah Q.S.Al-Kahfi (18): 64

      Terjemahnya:

      Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

      Maksudnya, kedua orang dalam ayat itu kembali lagi untuk mengikuti jejak dari mana keduanya itu datang.

      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Kisah diartikan sebagai cerita atau kejadian (riwayat dan sebagainya) dalam kehidupan seseorang.

      Qashash berarti berita berurutan sedangkan al-qishshah berarti urusan, berita, perkara, keadaan. Firman Allah Q.S Ali Imran (3): 62

      Terjemahnya:

      Sesungguhnya ini adalah berita yang benar…

      Juga dalam Q.S. Yusuf (12): 111

      Terjemahnya:

      Sesungguhnya pada berita mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang

      berakal.

      1.

      Hasbi Ash Shiddieqy menyatakan bahwa pengertian dari Qashash adalah mencari bekasan atau mengikuti bekasan (jejak). Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwa lafadz qashashadalah bentuk masdar yang berarti mencari bekasan atau jejak, dengan memperhatikan ayat-ayat berikut ini:

      “ lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula ”. (QS. Al-Kahfi: 64)

      “ Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah yang maha perkasa lagi maha bijaksana”. (QS Ali Imran: 62).

      “ Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

      Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111). [5]

      Sedangkan menurut Manna al-Qattan Qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an banyak mengandung keterangan tentang kejadian masa lalu, sejarah bangsa – bangsa, keadaan negeri – negeri dan

      peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona.

      Dari berbagai pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa secara global pengertian dariQashash Al-Qur’an adalah pemberitahuan Qur’an tentang kisah umat yang telah lalu, kisah-kisa nabi, yang memuat berbagai peristiwa yang telah terjadi. Di samping itu Qur’an juga memuat segala sesuatu sebagai petunjuk bagi ummat manusia.

       

      1. Macam-macam Qashash Dalam Al-Qur’an:
        Ditinjau dari Segi Waktu

      Bila dilihat dari segi waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam al-Qur’an, maka qhashash al-Qur’an itu dibagi menjadi tiga macam, sebagai berikut:

      1. Kisah hal-hal gaib pada masa lalu, yaitu kisah yang menceritakan kejadian-kejadian gaib yang sudah tidak bisa ditangkap oleh panca indera, yang terjadi di masa lampau. Seperti kisah Nabi Nuh, Nabi Musa dan kisah Siti Maryam. Seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an ayat 44 surah Ali Imran:

      ذلك من أنباء الغيب نوحيه إليك وما كنت لديهم إذ يلقون أقلامهم أيهم يكفل مريم وما كنت لديهم إذ يختصمون (أل عمران: 44)

      Artinya: “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (wahai Muhammad), padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi merekaketika mereka bersengketa.”

      2.

      1. Kisah hal-hal gaib pada masa kini, yaitu kisah yang menerangkan hal-hal gaib pada masa sekarang,

      (meski sudah ada sejak dulu dan masih akan tetap ada sampai masa yang akan datang) dan yang menyingkap rahasia-rahasia orang-orang munafik. Seperti kisah yang menerangkan tentang Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya, para malaikat, nin, setan, dan siksaan neraka, kenikmatan surga, dan sebagainya. Kisah-kisah tersebut dari dahulu sudah ada, sekarang pun masih ada dan hingga masa yang akan datang pun masih tetap ada. Misalnya, kisah dari ayat 1-6 surah al-Qari’ah:

      القارعة ماالقارعة وما ادرىك ماالقارعة يوم يكون الناس كالفراش المبثوث وتكون الجبال كالعهن المنفوش (القارعة: 1-6)

      Artinya:”Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu-bulu yang dihambur-hamburkan”.

      1. Kisah hal-hal gaib pada masa yang akan datang, yaitu kisah kisah yang menceritakan peristiwa akan datang yang belum terjadi pada waktu turunnya al-Qur’an, kemudian peristiw tersebut betul-betul terjadi. Karena itu, pada masa sekarang ini, berarti peristiwa yang telah dikisahkan itu telah terjadi. Seperti kemenangan bangsa Romawi atas Persia yang diterangkan ayat 1-4 surah al-Rum. Dan seperti mimpi Nabi bahwa beliau akan dapat masuk Masjidil Haram bersama para sahabat, dalam keadaan sebagian mereka bercukur rambut dan yang lain tidak. Pada waktu perjanjian Hudaibiyah, Nabi gagal masuk Makkah, sehingga diejek-ejek orang-orang Yahudi, Nasrani dan Kaum Munafik, bahwa mimpi Nabi tersebut tidak terlaksana. Maka turunlah ayat 27 surah al-Fath. Serta contoh jaminan Allah terhadap keselamatan Nabi Muhammad SAW dari penganiayaan orang, meski banyak orang yang mengancam akan membunuhnya. (Quraisyhab, 1998). Hal ini ditegaskan dalam ayat 67 surah al-Maidah:

      ياأيها الرسول بلّغْ ما أنزل إليك من ربك وإن لم تفعل فما بلّغتَ رسلته والله يعصمك من الناس (المائدة 67)

      Artinya: “Wahai rosul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak kamu kerjakan, berarti kamu tidak melaksanakan risalah-Nya. Allah akan menjaga kamu dari (penganiayaan) manusia.

      1. Ditinjau dari Segi Materi

      Apabila ditinjau dari segi materi yang diceritakan, maka kisah al-Qur’an itu terbagi sebagai berikut:

      Kisah para Nabi, mukjizat mereka, fase-fase dakwah mereka, penentang mereka, dan penentang serta pengikut mereka. Seperti kisah Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Muhammad SAW dan sebaginya.

      Kisah orang-orang yang belum tentu Nabi dan kelompok-kelompok manusia tertentu. Seperti kisah Lukmanul Hakim, Qorun, Thaluth, Yaqut, Ashhab al-Kahfi, Ashhab al-fiil, dan lain-lain

      Kisah peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian di zaman Rosrulullah SAW. Seperti kisah perang Badar, Perang Uhud, Perang Hunain, Perang Tabuk, Perang Ahzab, peristiwa Hijrah dan lain sebagainya. (Shalah, 1999)

      1. Apa Tujuan Dari Qashash Al-Qur’an?

       

      Apa sebenarnya tujuan dan fungsi kisah dalam Alquran? Kisah-kisah dalam Alquran merupakan salah satu cara yang dipakai Alquran untuk mewujudkan tujuan yang bersifat agama. Sebab Alquran itu juga sebagai kitab dakwah agama dan kisah menjadi salah satu medianya untuk menyampaikan dan memantapkan dakwah tersebut.

      Oleh karena tujuan-tujuan yang bersifat religius ini, maka keseluruhan kisah dalam Alquran tunduk pada tujuan agama baik tema-temanya, cara-cara pengungkapannya maupun penyebutan peristiwanya.[10] Namun ketundukan secara mutlak terhadap tujuan agama bukan berarti ciri-ciri kesusasteraan pada kisah-kisah tersebut sudah menghilang sama sekali, terutama dalam penggambarannya. Bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan agama dan kesusasteraan dapat terkumpul pada pengungkapan Alquran.[11] Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan kisah Alquran adalah untuk tujuan agama, meskipun demikian tidak mengabaikan segi-segi sastranya.

      Adapun tujuan dan fungsi dalam Alquran antara lain adalah:

      Untuk menunjukkan bukti kerasulan Muhammad saw. Sebab beliau meskipun tidak pernah belajar tentang sejarah umat-umat terdahulu, tapi beliau dapat tahu tentang kisah tersebut. Semua itu tidak lain berasal dari wahyu Allah.

      Untuk menjadikan uswatun hasanah suritauladan bagi kita semua, yaitu dengan mencontoh akhlak terpuji dari para Nabi dan orang-orang salih yang disebutkan dalam Alquran.[12]

      Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad saw dan umatnya dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebatilan.[13]

      Mengungkap kebohongan ahli kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.

      Untuk menarik perhatian para pendengar dan menggugah kesadaran diri mereka melalui penuturan kisah.

      Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah, yaitu bahwa semua ajaran para Rasul intinya adalah tauhid.[14]

       

      1. Apa Saja Hikmah Dari Qashash Al-Qur’an?

      Dapat merangsang pembaca atau pendengar untuk terus mengikuti peristiwa dan pelakunya. Kisah dapat mempengaruhi orang-orang terpelajar maupun awam. Oleh karenanya tidak mengherankan banyak orang menggandrungi cerita meski plotnya telah diketahui sekalipun.

      Allah menetapkan bahwa dalam kisah orang-orang tedahulu tedapat hikmah dan pelajaran

      yang bagi orang-orang yang berakal, serta yang mampu merenungi kisah-kisah itu, menemukan hikmah dan nasihat yang ada di dalamnya, serta menggali pelajarn dan petunjuk hidup dari kisah-kisah tersebut. Allah juga memerintahkan kita untuk bertadabbur terhadapnya, menyuruh untuk meneladani kisah orang-rang yang sholeh dan mushlih, serta mengambil metode mereka dalam berdakwah dalam posisi kita sebagai makhluq dan kholifah di muka bumi ini.

      Diantara hikmah yang dapat kita ambil dari kajian kisah-kisah dalam al-Qur’an seperti yang disebutkan oleh Manna Khalil al-Qattan dan Ahmad Syadali dalam buku mereka masing-masing antara lain sebagai berikut;

      Menjelaskan asas-asas dan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menerangkan pokok pokok syari’at yang diajarkan oleh para Nabi.

      Meneguhkan Hati Rosulullah SAW dan umatnya dalam mengamalkan agama Allah (Islam), serta menguatkan kepercayaan para mu’min tentang datangnya pertolongan Allah dan kehancurang orang-orang yang sesat.

      Menyibak kebohongan para Ahli Kitab dengan hujjah yang membenarkan keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan, dan menentang mereka tentang isi kitab mereka sendiri sebelum kitab tersebut diubah dan diganti seperti firman Allah;

      “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan[212]. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu Bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imran: 93),

      1. Membenarkan para nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya,
      2. Menampakkan kebenaran Muhammad saw dalam dakwahnya dengan apa yang diberitakannya tentang hal ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi,
      3. Kisah merupakan salah bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar dan memantapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya ke dalam jiwa.

      Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf:111).

      Dengan bahasa yang berbeda dan hampir sama substansinya bahwa menurut Sayyid Qutub  tujuan kisah Qur’ani adalah: Naml:15 tentang nabi Daud; Hud:69, Al-Hijr:51, Maryam:41, Syu’ara:69 menceritakan tentang nabi Ibrahim; Maryam:2 tentang nabi Zakariya a.s.; Yunus:98 tentang nabi Yunus Al-A’raf:103, Yunus:75, Hud:96, Al-Kahfi:60, Thoha:15, Syu’ara:10 tentang nabi Musa a.s.; Maryam: 16-40 tentang Maryam,

      Sebagai peringatan bagi manusia untuk waspada terhadap godaan-godoaan setan dan  manusia semenjak nabi Adam a.s. selalu bermusuhan, dan menjadi musuh abadi bagi manusia, Untuk menerangkan akan kekuasaan Allah swt atas peristiwa-peristiwa yang luar biasa, yang tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia (QS. Al-Baqarah:258-259). Apakah kamu tidak memperhatikan orang[163] yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) Karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”.[164]Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) Telah roboh menutupi atapnya. dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri Ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, Kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu Telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan Lihatlah kepada keledai kamu (yang Telah menjadi tulang belulang); kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan kami bagi manusia; dan Lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, Kemudian kami menyusunnya kembali, Kemudian kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala Telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang Telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

     

    Penutupan
    Mungkin hanya itu yang dapat saya uraikan. Saya sadar masih banyak sekali kekurangan yang saya sampaikan ini. Mudah-mudahan ayat-ayat dan penjelasan tentang qashash Al-Qur’an yang telah saya uraikan bisa menambah pengetahuan kita.

    Terimakasih saya ucapkan kepada Ustadz Rahmatullah Noor Hidayat, yang telah memberikan saya tugas ini. Dengan adanya tugas ini pengetahuan saya tentang ayat-ayat Al-Qur’an, khusunya tentang kisah-kisah dalam Al-Qur’an jadi bertambah. Mudah-mudahan bisa bermanfaan juga bagi pembaca.

    Terimakasih juga saya ucapkan pada rekan-rekan teman atas partisipasinya. Terimakasih juga untuk sumber-sumber yang saya peroleh, yakni: blog-blog yang menjelaskan qashash Al-Qur’an dan tafsir jalalain.

    Wassalam

    [Holifah Tussadiah, angkatan ke-2 jenjang SMA, Pesantren Media]

cerita-cerita holifah media pesantren qur'an

Penulis: 
author
Nurmaila Sari | Alumni, santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA | Asal Pekanbaru, Riau | @nurmailasarii

Posting Terkait