Poelang Kampoeng Sendiri

364 views

Sambil menikmati udara antara panas dan sejuk, ibukota Kalimantan Timur. Dengan asyik saya membuka file-file foto selama di Pesantren Media. Ada haru, rindu, dan tawa menyatu dalam batin saya. Betapa dua tahun yang begitu mengesankan dengan cerita campur-aduk di dalamnya. Sungguh, saya tidak menyangka dapat mengenal – bahkan sekadar bertemu dengan teman-teman dan adik-adik kelas seperti di Pesantren Media.

Saya baru teringat dengan amanah dari kepala sekolah Pesantren Media, yang di-per-un-tuk-kan kepada seluruh santri Pesantren Media. Untuk tetap aktif mengisi blog pesantren, selama liburan. Walhasil, saya kelabakan karena panik (sudah berapa minggu ya, saya tidak mengisi blog pesantren? Hehehe).

Sebelum menuliskan pengalaman liburan saya. Saya putuskan untuk membuka blog pesantren. Siapa tahu, santri lain juga tidak aktif mengisi blog hehe. Tapi, ternyata dugaan saya salah. Ada banyak santri yang sudah menumpahkan pengalamannya di dalam blog. Tidak semua tulisan yang saya baca. Hanya satu tulisan saja. Karya Zahrotunissa, santri Pesantren Media, kelas 2, angkatan ke-3.

Membaca karya Zahrotunissa, membuat saya menyesal karena memesan tiket terlalu cepat. Andai saya membeli tiket, lewat dari tanggal empat belas Juli, pasti saya bisa merasakan pergi ke Gambir bersama mereka. Saya begitu penasaran bagaimana rasanya naik Bajaj. Sayang sekali, saya tidak bisa ikut andil dalam perjalanan pulang Zahrotunissa. Kapan-kapan, saya harus diajak ya!

***

Tidak banyak yang istimewa dalam perjalanan pulang saya. Namun, semuanya masih tercetak jelas di dalam otak saya. Terlebih, ini kali pertamanya saya pulang kampung seorang diri.

Dalam perjalanan menuju terminal Damri, saya diantar dengan beberapa santriwati yang tersisa (belum pulang kampoeng). Siti Muhaira (kelas 12), Chairunisa Bayu Parameswari (kelas 12), Ela Fajar Wati Putri (kelas 11), Cylpa Nur Fitriani (kelas 9), dan Fathimah Nurul Jannah Leboe (kelas 9). Dan kami ‘terbang’ dengan seorang ‘pilot’ kami, Kak Farid Abdurrahman.

Saya sempat khawatir karena dalam perjalanan, kami terjebak macet di pasar. Entah, pasar apa namanya. Saya terus-terusan bertanya, “Jam berapa?”, “sekarang jam berapa?”. Saya takut terlambat sampai di bandara.

Alhamdulillah, dengan bantuan Allah swt, kami dapat bebas dari macet dan sampai di terminal Damri dengan selamat.

Saya, dibantu teman-teman saya, mengangkat koper super besar milik saya. Saya sengaja membawa barang banyak, karena tahun depan saya harus angkat kaki dari Pesantren Media. Jadi, sedikit demi sedikit saya membawa barang-barang saya ke rumah, agar ketika pulang lulus nanti, tidak terlalu banyak barang yang dibawa.

Sebelum saya menaiki Bus Damri, saya pamitan terlebih dahulu dengan teman-teman saya. Akan lama sekali kita berpisah. Baru kali ini, saya merasa begitu sedih dengan perpisahan sementara ini. Sepertinya, kini mereka sudah menjadi bagian dari keluarga saya. Berat rasanya melemparkan langkah saya masuk ke dalam Damri. Saya masih ingin berlama-lama menjajak kota Bogor. Tapi, waktu jua yang memisahkan.

Setelah berpamitan, saya meminta tolong kepada seorang petugas Bus Damri untuk membantu saya memasukkan koper ke dalam bagasi. Lalu, saya masuk ke dalam Bus Damri. Yang sembilan puluh sembilan persennya dipenuhi dengan kaum adam. Hanya ada sekitar lima atau enam orang wanita di dalam bus.

Saya duduk di bangku (kira-kira) ke-lima dari depan, tepat di samping jendela. Tempat duduk di samping saya masih kosong. Saya terus berdoa agar penumpang yang duduk di samping saya, adalah penumpang wanita. Tapi, takdir berkata lain. Seorang bapak-bapak dengan tubuh tinggi, berisi, mengenakan jas hitam, sepatu hitam, dengan rambut hitam yang sepertinya telah dioleskan minyak rambut, bertanya kepada saya,

“Bangkunya kosong, Bu?”

Saya mengangguk dan tersenyum. Meski saya kesal dipanggil dengan panggilan “Bu”. Muka saya kan masih imut-imut!

Saya meluncur! Pukul enam lewat delapan.

Perjalanan Bogor-Jakarta masih sama. Tol mulus yang lurus dan panjang, dengan beberapa pepohonan hijau di kanan kiri jalan. Setidaknya, obat mata untuk mengusir jenuh dalam perjalanan selama kurang lebih dua setengah jam.  Selama dalam perjalanan saya asyik sms-an denga Teh Neng (alumni angkatan 1 Pesantren Media). Dan sisanya, saya gunakan untuk tidur.

Bangun-bangun, saya sudah berada di gerbang masuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pesawat yang akan saya naiki, adalah pesawat Batik Air. Dan saya tidak tahu, saya harus turun di terminal berapa. Penumpang di dalam Damri yang saya tumpangi, satu persatu mulai menghilang. Khawatir terminal Batik Air sudah terlewat. Saya memutuskan untuk bertanya dengan pak supir.

“Kalau Batik Air turunnya dimana ya?”

“Oh… Nanti, Dek. Di terminal 3 ya…”

Alhamdulillah, saya dipanggil “Dek” juga! Berarti, muka saya memang masih imut-imut. Mungkin, bapak-bapak yang tadi duduk di sebelah saya, telah menyesal memanggil saya dengan panggilan yang tak pantas untuk saya itu. He-he.

Terminal tiga letaknya sangat jauh. Tinggal empat penumpang di dalam bus. Dan saya, satu-satunya penumpang wanita di antara mereka. Akhirnya, saya tiba di terminal tiga. Dibantu dengan petugas Bus Damri, koper saya diambilkan dari dalam bagasi. Petugas dengan tubuh tidak terlalu tinggi, kurus, dan bekulit agak gelap itu, sepertinya keberatan menurunkan koper saya. Tapi saya yakin, pria itu kuat!

Sesampainya saya di bandara, saya langsung memberi kabar kepada Ayah saya, bahwa saya telah tiba di bandara.

Setelah itu, saya mencetak tiket saya. Karena tiket yang saya dapat dari Ayah saya hanya berbentuk kode booking.  Seorang wanita dengan umur berkisar dua puluhan, dengan rambut hitam digelung, dengan kulit wajah yang dilapisi bedak tebal, serta bibir yang dipoles dengan lipstick merah agak tebal, mengenakan jas hitam yang melekuk tubuh, tersenyum kepada saya dan meminta kode booking yang hendak saya cetak. Saya menunjukkan kode booking yang berada dalam arsip pesan di handphone saya.

Tercetak sudah tiket saya. Saya belum masuk ke dalam ruang check-in. Ini pertama kalinya saya naik pesawat Batik Air. Dan saya masih kebingungan karena tulisan pada gate di depan saya adalah “Internasional Departure”. Apakah Kalimantan Timur, kini telah mejadi daerah luar negeri? Saya jadi khawatir siapa tahu saya salah terminal. Terlebih karena bule-bule berkeliaran mondar-mandir di depan saya.

Setelah sekitar setengah jam, saya masih merenung. Mematung membaca tulisan yang terpampang besar di atas sana. Dan akhirnya saya tersadar, di sebelah kiri tulisan Internasional,ada tulisan “Domestic”. Saya merasa, connecting dalam otak saya perlu diperbaiki.

***

Setelah sibuk dengan barang yang saya titipkan di bagasi, serta segala macam keribetan saya sendiri. Akhirnya saya bisa mengendurkan persendirian dan urat-urat yang mengencang karena tegang, di dalam ruang boarding.

Ada banyak sekali orang china yang berbicara tak ada habisnya. Orang-orang china di depan saya sibuk mengutak-atik gadget mereka, ada juga yang makan seenaknya, tanpa merasa bersalah telah makan di depan orang Islam yang tengah berpuasa. Karena merasa terganggu, saya memutuskan untuk pindah tempat duduk.

Sekitar satu jam lebih, saya menunggu di dalam ruang boarding, akhirnya pesawat yang akan saya tumpangi telah siap untuk terbang. Bye bye Java Island! Welcome Borneo! [Noviani Gendaga, santriwati Pesantren Media, kelas 3 SMA, angkatan ke-2]

Noviani Gendaga pesantren media pulang kampung

Penulis: 
author
Noviani Gendaga | Santriwati angkatan ke-2, jenjang SMA, kelas 3 | Asal Samarinda, Kalimantan Timur

Posting Terkait