Petulangan Gun dan Kawan-Kawan

543 views

Namaku Gugun Airlangga, bisa kalian panggil Gun, Aku tinggal di Bandung. Aku mempunyai sahabat di daerahku. Tapi sayang, Orang tua Aku mengajakku pindah rumah ke Yogyakarta.  Karena Orang tuaku Punya bisnis dengan orang Yogyakarta, jadi ga mungkin orang tuaku bulak-balik dari Bandung ke Yogyakarta.

Sepulang sekolah Aku mengerjakan tugas yang di kasih oleh Bu guru. Mengerjakan tugas dari Bu guru membuatku lapar dan haus. Aku memanggil ibuku tapi ibuKu tidak ada di rumah. Aku keluar rumah lalu membeli makan dan minuman di sekitar rumah ku. Aku membeli nasi padang dengan bumbu rending menggoda perutku, dan juga minuman jus jeruk itu membuat tenggorokanku tergoda.

Aku sudah membeli makanan dan minuman, Aku makan dengan lahap nasi padang itu dan Aku minum jus jeruk itu. Makanan yangku beli sudah habisku makan. Aku lanjutkan kembali tugas dari Bu guru. Beberapa menit kemudian Ibuku pulang. Itu membuat hatiKu senang.

“Assalamu’alaikum wr.wb, Ibu pulang!” seruan ibu membuatku menghampiri ibu.

“Waalaikumsalam Wr.Wb. Bu dari mana saja?” Jawab Aku dengan cemas.

“Ibu tadi dari pasar membeli keperluan sehari-hari!” Jawab Ibu dengan memandang Aku.

“Oh iya, nanti makan siangnya apa Bu?” Tanya Aku dengan penasaran.

“Pokoknya Spesial deh! Tenang saja!” jawab ibu dengan berjalan pelan ke dapur.

“Makasih ya, Bu! Aku sayang ibu! Bu Aku main dulu ya sama temanku?” jawab Aku dengan berwajah memohon.

“ya sudah, tapi Sebelum makan siang sudah pulang! Oke!” kata Ibu sambil mengeluarkan makanan dari kantong plastic.

“Oke!” seruan Aku sambil berlari ke arah Pintu keluar rumah. Aku Berjalan ke arah taman yang berada di dekat Rumah. Di taman sahabat dan temanku sudah berada di taman.

“Hei!” Aku menyapa mereka sambil berlari pelan.

“Hei!” Mereka menyapa kembali kepadaku.

“Apa kabarnya semua?” Tanya Aku dengan melihat wajah mereka.

“Baik! Gimana kabar kamu?” seruan mereka membuat Aku senang.

“Baik juga, yuk kita main bola!” Tanya Aku sambil

“Yuk siapa takut!” Jawab teman Aku serentak. Aku dan kawan-kawannya bermain bola seperti ada di lapangan sepak bola asli. Mereka bermain dengan sportif. Tidak ada dendam, yang ada Persahabatan. Jam sudah menunjukkan makan siang keluarga Aku. Tapi Aku masih saja bermain sepak bola dengan sangat gembira. saat AKu mencetak gol di papan skor, Aku akhirnya ingat bahwa dia ada janji dengan Ibunya ada makan siang. AKu langsung berpamitan kepada kawan-kawannya. Aku berlari dengan cukup cepat melewati beberapa orang yang sedang berjalan.

Sesampainya di depan gerbang rumahnya, Aku membuka gerbang pintunya lalu menutupnya lagi. Aku membuka pintu.

“Ibu Aku pulang?” kata Aku sambil menarik napas.

“Anak kesayangan Ibu sudah pulang!Yuk makan?” Jawab Ibu sambil berjalan ke arah Aku.

“Nanti ah, AKu mau mandi dulu gerah abis main sepak bola!” jawab Aku sambil melepas baju yang dipakainya.

“Ya sudah cepat mandinya, Papahmu sudah datang! Punya kabar gembira buatmu!” kata Ibu sambil menengok ke arah papah Aku. Aku pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk. AKu mengambil handuk yang ada di lemari besarnya. Aku langsung bergegas ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. AKu menggosok badannya mengAkuakan sabun hingga bersih.

Beberapa menit kemudian Aku keluar dari kamar mandinya mengAkuakan handuknya. Lalu Aku memakai baju yang berada di lemarinya. Aku keluar dari kamarnya dengan sangat rapih. Aku berjalan ke ruang makan, di sana sudah ada Ibu dan Papah sedang menungguku keluar dari kamar untuk makan siang bersama. Aku menghampiri Kedua orang tua, AKu bersalaman dengan Ibu dan papahnya. Lalu  duduk di sebelah kedua orang tuanya.

“Ibu, papah ayo kita makan!” kata Aku dengan melihat ke wajah Ibu dan papahnya.

“yuk kita makan masakan Ibu yang sangat lezat ini!” Jawab papah sambil mengambil piring yang sudah di siapkan di meja makan.

“Terima kasih, Papah!” jawab Aku dengan melihat wajah ayahnya yang ganteng.

“sama-sama!” jawab Papah sambil menyengir dan mengelus rambut Aku. Aku mengambil nasi yang ada di hadapan Aku. Aku mengambilkan untuk Papah selanjutnya ibu. Dan yang terakhir Aku.

“Oh iya , pah apa kabar gembiranya?” Tanya Aku sambil menghentikan makannya.

“kabar gembiranya!,Kita akan pindah ke Yogyakarta!” kata Papah dengan berwajah ceria.

“Apa? Kenapa kita harus pindah pah!” Tanya Aku sambil berwjah penasaran.

“papah kamu ada bisnis bersama orang Yogyakarta, mana mungkin papah bulak-balik dari Bandung ke Yogyakarta. Makanya kita pindah!” jawab ibu dengan mengelus kepala Aku.

“Tapi gimana! Aku punya  sahabat, punya teman disini di Bandung. Ga mungkinlah, mereka semua sudah seperti keluargaku sendiri!” seruan Gun membuat orang tuaku terdiam. Gara-gara mendengar kabar gembira dari Papah membuatku meneteskan air mata yang mengalir ke pipiku. Aku pergi meninggalkan ruang makan menuju kamarku.

 

OoOo

 

Besoknya Aku menuruti perkataan orang tuaku. Barang-barang yang terlihat di ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan kamarku, kini sudah tidak terlihat lagi, semuanya sudah di kemas untuk di kirim ke Yogyakarta. Semua kenangan suka dan duka yang ada di rumah ini tidak bisa terlupaka olehku. Dan juga kenangan suka dan duka tidak pernah bisaku lupakan.

Sebelum ke berangkat menuju kota Yogyakarta. Aku berpamitan kepada sahabatku yang berada di taman. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mengeluarkan air mata yang menetes jatuh ke tanah. Dan juga sebaliknya sahabatku hanya bisa mengeluarkan air mata yang mengalir di pipinya. Sudah bermenit-menit Aku berhadapan kepada sahabat-sahabatku tercinta. Hanya mengeluarkan air mata saja. Aku langsung masuk ke dalam mobilku dengan air mata yang terus mengalir dari mataku dan para sahabat tercintaku telah bubar dengan seketika. Itu adalah salam perpisahan, mungkin itu salam perpisahan untuk selamanya.

Di perjalanan ke Yogyakarta Aku hanya bisa melihat foto kenangan dan mengulang kembali ingatanku saat bersama Para sahabat tercinta, dengan wajah melihat keluar jendela mobil. Aku memandang ke arah pohon-pohon hijau yang ada di luar jendela mobil sambil berfikir “Bisa ga Aku mendapatkan sahabat yang lebih baik di sana!”. Pikiran yang ada di dalam kepalaku membuatku tidur hingga sampai di Yogyakarta.

Aku terbangun dari tidurku melihat kanan dan kiri jendela mobilku.

“Bu kita berada di mana?” Tanya gun sambil membersihkan belek yang ada di pinggiran mata.

“Kita sekarang berada di SPBU!, sedang istirahat!Nak, kamu lapar tidak?” Tanya Ibu sambil melihat Gun.

“iya lapar!” jawab Gun dengan sangat lemas.

“ya sudah, cuci muka dulu sana di toilet! Ini uangnya untuk cari makan!” kata Ibu dengan memberi uang yang ada di dompetnya. Aku langsung mengambil uang pemberian ibuku. Pintu mobilku buka dengan sangat lemah lembut lalu ku tutup dengan cukup kasar. Entah kenapa hari ini Aku malas banget. Aku menuju toilet yang terdekat dengan mobilku. Aku mencuci mukaku dengan air keran yang mengalir dari atas ke bawah. Air keran itu sangat segar membuat badanku menjadi tenang. Perutku mulai berbunyi itu sudah bertanda kalo Aku harus membeli makan dan juga minuman. Aku berjalan di sepanjang SPBU, Aku menemukan warung makan.

“Bu…Bu…!” kata Gun dengan melihat sekeliling warung makan.

“Iya ada apa?” kata Ibu penjual dengan berjalan ke arah Aku.

“Bu ada ayam bakar saya soda tidak?” Tanya Gun sambil memasukkan kedua tangan ke kantong celana.

“Iya ada! Di bungkus atau di sini?” jawab Ibu penjual sambil memandang Gun dengan melongo.

“kayanya sih di bungkus aja, sebentar lagi mobilku mau lanjut!” jawab Gun dengan sok tahu.

“emanknya mau kemana nak?” Tanya Ibu penjual sambil membungkuskan pesanan Gun.

“Mau ke Yogyakarta, tapi entah dimana daerahnya!” jawab Gun dengan sotoy. Beberapa menit kemudian pesanan Gun sudah siap. Aroma ayam bakarnya menusuk ke perut Gun, hingga membuat perut Gun berbunyi.

“Berapa semuanya bu?” Tanya Gun sambil mengambil dompet yang ada di kantong belakangnya.

“semuanya gra-tis!” jawab Ibu penjual sambil terpesona.

“Kenapa gratis bu?” Tanya Gun penasaran.

“karena muka Kamu Guanteng banget!” jawab Ibu penjual sambil ngacai.

“Oh, sudah dulu ya bu, terima kasih atas makanannya dan juga sodanya!” kata Gun sambil berjalan menuju keluar warung makan. Aku berjalan menuju mobilku yang berada diparkiran. Aku harus cepat karena Papahku sudah melambai tangan ke arah Aku. Aku berlari pelan menuju mobil. Aku memasuki mobil dengan manaruh makanan tadi di sampingku.

“Paah, kenapa tadi Aku di duruh cepat!” Tanya Gun sambil memegang bahu Papah.

“Tidak, papah hanya mengetes kecepatan larimu saja! Tapi tadi larimu lumayan cepat!” kata Papah sambil menyetir mobil.

“Ya sudah pah, Aku makan dulu yh! Perutku sudah minta makan nih!” jawab Gun sambil mengambil makanan dan minuman di sampingnya.

“Bu, Pah makan!” kata Gun sambil memandang keduanya.

“Papah dan ibu sudah makan, ya sudah habiskan ya?” jawab Ibu sambil melihat pandanga ke depan.

“Iya!” jawab Gun sambil memakan makanannya dengan lahap. Mobil yang keluargaku naiki berjalan dengan perlahan menuju jalan raya. Gerimis pun turun dari atas untuk makhluk-makhluk bumi yang memerlukannya, dari gerimis menjadi hujan lebat. Aku masih enjoy aja makan lain dengan Papah, dia harus berkonsentrasi untuk menjaga keselamatan keluarganya. Beberapa jam kemudian Aku dan keluargaku sudah sampai di rumah baruku. Rumah ini lumayan luas di banding dulu.

 

OoOo

 

Besoknya Aku rapih-rapih untuk memasuki sekolahku yang baru. Pagi-pagi Aku sudah siap untuk menuntut ilmu dan mendapatkan teman-teman baik. Aku bergegas ke ruang makan di sana sudah ada Ibu dan Papah sedang ngobrol. Aku menghampiri mereka sambil menggendong tas ranselku di punggung.

“Gimana kabarnya anak papah yang ganteng ini? Sudah siap untuk berangkat ke sekolah baru?” Tanya papah sambil memegang bahu kiriku.

“Baik, pah! Aku sudah siap kok!” jawab Gun dengan berwajah ceria.

“Ya sudah sekarang kita makan dulu! Kalo sudah selesai baru kita berangkat, oke!” kata Papah membuat Gun lebih percaya diri.

“Oke!” jawab Gun sambil mengambil nasi yang sudah di siapkan. Aku, Ibu dan Papah makan pagi bersama rumah baru ini sungguh luar biasa. Aku menikmati masakan Ibu yang sangat lezat. Papahku bilang Ibu adalah koki terhebat di keluarga kami. Aku nasi yang ada di piringku sudah habis, Aku memimun air putih yang ada di meja makan. Aku tuangkan air itu ke dalam gelas bening yang kosong. Aku minum lega banget, segar rasanya. Aku melihat jam yang Ada di tangan kiriku.

“pah ayo kita berngkat sudah jam setengan tujuh nih, nanti telat gimana?” kata Gun sambil menggoyangkan tangan Papahnya.

“ya sudah kita berangkat!” jawab Papah sambil memakai jas yang sudah disiapkan oleh ibu. Aku dan papah membuka gerbang lalu naik mobil yang sudah di panasi. Aku duduk di samping ayah di kursi depan.

Aku penasaran sekolah baruku seperti apa, teman-teman, dan guru-guru baru. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu sama teman-teman yang baik. Aku turun dari mobil dan berjalan ke arah gerbang sekolah yang berada di depanku. Aku menunggu di luar kelas dengan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Sekolah baruku lumayan bagus dari sebelumnya. Banyak tanaman dan udara yang sejuk di sekolah ini. Aku mulai menyukai sekolah ini.

“Gun…Gun,… mausk nak?” kata Pak harto sambil melihat pintu masuk kelas. Gun masuk kelas yang berjalan pelan. Semua murid perempuan yang ada di kelas itu terbengong saat melihat Gun masuk sedangkan murid Pria iri dengan kegantengan Gun.

“Gun perkenalkan dirimu!” kata Pak harto sambil memegang bahu Gun.

“Baik teman-teman, nama saya Gugun Airlangga, bisa kalian panggil Gun, saya Pindahan dari Bandung!” kata Gun sambil melihat-lihat teman-teman barunya.

“Baik anak-anak kalo mau lebih tahu lagi tentang Gun, nanti pas istirahat!” kata Pak Harto dengan menepuk-nepuk bahu Gun dengan sangat pelan.

“Gun kamu duduk di samping joko ya di barisan pertama, yang di depan kamu itu!” kata pak Harto dengan menunjuk joko.

“Baik pak!” jawab Gun sambil berjalan ke arah meja Joko.

“perkenalkan namaku jokotingkir, panggil saja saya Joko!” kata Joko sambil mengulurkan tangan kepada joko.

“Oh, namaku gun! Jawab Gun dengan berbicara denga pelan.  Akhirnya Gun mengikuti pelajaran dengan memperhatikan gurunya dengan baik.

 

oOoO

 

Bel berbunyi telah tiba semua murid berhamburan ke luar kelas untuk meredakan pikiran sesudah belajar. Aku dan Joko duduk di pinggiran teras sekolah sambil memakan makanan yang di bawa Ibu. Aku memakan sambil memandang ke arah pohon di samping lapangan sekolah. Di sana ada sekumpulan orang yang sedang bercanda sambil tertawa terbahak-bahak. Tawaan itu mengganggu telingaku.

“Joko itu siapa sih tertawa terbahak-bahak! Membuat telingaku sakit!” Tanya Gun sambil menutup telingan kanan dan kiri.

“oh itu, itu geng gabores! Geng yang di segani di sekolah ini!” jawab Joko dengan serius.

“geng gabores? Apa artinya?” Tanya Gun sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Gabungan bocah-bocah ga beres! Emang kenapa?” jawab joko sambil berbicara pelan.

“Engga, cuman mau kasih pelajaran saja sama dia!” jawab Gun sambil berdiri dari teras sekolah.

“Jangan Gun kalo kamu ngelawan kita bisa di hajar habis-habisan!” jawab Joko sambil menarik tangan Gun.

“Tenang saja, laki-laki sejati tidak pernah takut sama siapa saja kecuali Allah!” jawab Gun sambil berjalan pelan menuju geng gabores.

“matilahku!” jawab Joko sambil menepuk jidat. Gun berjalan menuju geng gabores dengan gagah berani. Joko terlihat cemas Aku memberi pelajaran kepada geng gabores. Aku terus berjalan menuju geng gabores walau perempuan-perampuan melihat Aku cemas.

Bersambungan….

[Muhammad Qois Abdul Qowiy, santri jenjang SMP, Pesantren Media]

cerpen Gun petualangan

Penulis: 
author
Farid Abdurrahman, santri angkatan ke-1 jenjang SMA (2011) | Blog pribadi: http://faridmedia.blogspot.com | Alumni Pesantren MEDIA, asal Sumenep, Jawa Timur

Posting Terkait