Pertemuan Takdir

314 views

“Awass..!!”. Mendengar teriakan itu, dia berdiri mematung dan mendongakkan kepalanya ke arah suara teriakan tersebut. Dia terperanjat seketika. Dilihatnya seorang cewek loncat dari sebuah pohon. Sekilas terlihat celana berwarna putih dari balik rok sekolah cewek itu. Dia pun beristighfar.

***

Huh.. aku mendengus kesal. Semuanya sama aja, menyebalkan. Lebih baik aku gak usah masuk aja kalo tau kayak gini. Aha! Aku punya ide, aku izin ke toilet lalu cabut jalan, tas nya? Besok aja deh ambilnya.

“Pak, izin ke toilet Pak.. sakit perut nih..” Memasang wajah kesakitan sambil memegang perut. Pak Yono memandang curiga. Lalu mengangguk memperbolehkan. Yes! Aku berhasil! Ucapku dalam hati. Aku segera beranjak meninggalkan kursi dan berlari keluar kelas.

Pak Yono adalah guru sejarah kami yang juteknya luar biasa, tak pernah sekalipun kami melihatnya tersenyum. Dia begitu pelit nilai, tak pernah di kelas kami seorangpun yang mendapatkan nilai sempurna. Pokoknya boring banget kalo beliau yang mengajar.

Hah..hah.. sedikit terengah-engah aku sampai di toilet cewek, karena jarak antara kelas dan toilet cukup jauh. Aku yang duduk di kelas X1 harus berjalan cukup jauh untuk sampai di sana. Aku menatap sekeliling dengan was-was, mencari sosok guru piket yang sering memergokiku melakukan kesalahan. Setelah ku rasa cukup aman, aku beranjak menuju belakang toilet cewek. Disana ada sebuah pohon besar yang dapat membantuku keluar sekolah. Aku udah mengetahui akses yang cukup mudah ini dari dulu, tapi aku baru mencobanya sekarang. Kenapa gak dari dulu aja ya aku gunain? Kan gak bakalan ketahuan kalo mau bolos. Ucapku membatin. Aku segera memanjat satu-satunya pohon yang terletak di belakang toilet wanita. Ternyata aku cukup mahir memanjat, dalam waktu singkat aku sudah berjongkok di atas cabang yang, untungnya, cukup kuat menahan bobot badanku. Saat hendak melompat, sialnya ada seseorang yang berdiri tepat di bawah pohon tempatku bertengger. Aku pun berteriak. Dia terkejut terlihat dari bahasa tubuhnya. Dia mendongakkan kepalanya, lalu tak lama dia segera menunduk. Aku sedikit heran dengan tingkahnya. Memangnya dia tak pernah melihat cewek melompat turun dari pohon. Beranjakku meninggalkan orang itu, sekilas aku dapat menangkap semu merah di wajahnya. Aku pun sadar. Sepertinya dia sempat melihat celana dalamku,saat aku melompat. Aku tidak menggunakan celana pendek di balik rok. Ah.. sudah lah, biarkan saja, toh kami gak bakalan bertemu lagi. Aku meninggalkannya yang masih tertunduk.

***

“Astaghfirullah..Astaghfirullah.. ya Allah, ampunilah hamba” ucapku berulang kali setelah ku melihat perempuan tadi. Aku sempat memperhatikannya sekilas, Perempuan itu sepertinya seorang murid SMA sekolah persada bangsa, sekolah yang akan menjadi tempatku berdakwah.  Setelah 3 tahun aku menantikan mendapat kesempatan ini, tapi aku mulai ragu. Apa aku bisa melakukannya. Dia mengenkan rok yang terlalu pendek, di atas lutut. Bajunya sedikit lusuh di pinggir pergelangan tangannya, menandakan dia sering melipat lengan bajunya yang pendek. Rambutnya sangat pendek, hampir menyerupai rambut laki-laki. Warna rambutnya hitam mengkilat. Matanya tajam, tapi sorot matanya terlihat kosong. Sungguh ini sangat mengerikan. Apa semua anak disana seperti itu ya?. Ya Allah, berilah hamba kesabaran untuk menjalani dakwah di sana.

***

Prang.. brak.. plak..

Terdengar keributan di dapur, seperti dua orang yang sedang bertengkar hebat. Aku tau itu pasti Mama dan Papa. Entah apa yang membuat mereka setiap malam bertengkar. Dulu mereka tak seperti itu, tapi semenjak Ayah bangkrut dan gagal bisnisnya. Mama jadi sering keluar pagi dan pulang malam. Tak tau apa yang di lakukannya seharian. Saat pulang mama sudah membawa tas yang penuh berisi uang. Mengapa tak sekalian pisah saja sih? Dari pada bertengkar terus? Gumamku kesal. Aku terbangun di tengah malam mendengar keributan mereka. Aku berusaha tidur kembali, sia-sia aku tak dapat terpejam lagi. Aku teringat sosok seseorang yang melihatku melompat dari pohon. Dia terlihat seperti.. Apa ya? Hm.. ntah lah.

Aku tak tau sejak kapan aku tertidur kembali, sinar mentari telah masuk melalui celah-celah jendela kamarku. Membangunkanku yang masih tertidur, aku mencoba bangkit dari tempat tidur. Menapak dengan kaki gontai yang teramat sangat, karena rasa kantuk. Aku melakukan aktifitasku sebelum berangkat sekolah seperti biasa dengan rasa malas. Setelah selesai berpakaian aku melihat jam wekker yang berada di atas meja samping tempat tidurku.

“Apa? Udah jam 7 lebih? Aduh mati aku! Aku telat!” Teriakku di pagi itu. Segera kuberlari keluar kamar dan berangkat. Aku mengentikan becak yang sepertinya belum menarik penumpang.

“Mang, ke SMA Persada Bangsa! Cepat Mang! Harus sampai 5 menit!” Perintahku pada Mang becak yang sedikit linglung tapi menerimanya.

Di sinilah aku sekarang, mengendap-ngendap memasuki pekarangan sekolah lewat jalur belakang.  Tiba-tiba..

“Alexa! Kamu telat lagi?”

Aduh ketahuan! Ucapku dalam hati. Aku berbalik dan wajah Pak Jhon yang sangar terlihat di situ.

“Bukan Pak.. saya.. lagi.. lagi nyari kontak lens Pak!” Ucapku sedikit terbata.

“Memangnya sejak kapan kamu pake kontak lens?” Jawab Pak Jhon polos.

“Sejak sekarang Pak” Tuturku lagi. Pak Jhon sedikit berfikir lalu melotot memandangku.

“Alexa..!!” teriak Pak Jhon kembali.

Aku nyengir kuda lalu berlari ke kelas. Sesampainya di sana, aku melihat seorang guru baru. Sepertinya aku mengenalnya? Batinku. Dia? Diakan..

*Bersambung*

cerpen fiksi karya santri

author
Ela Fajar Wati Putri | santriwati angkatan ke-3 jenjang SMA, kelas 2 | Asal Pekanbaru, Riau

Posting Terkait