Pengalaman Pertama Melihat Kabut Berjalan

844 views

CIMG0199Aku bangun pagi sekitar jam 4 kurang. Setelah bangun, aku langsung mandi dan kemudian berangkat ke masjid untuk sholat subuh berjamaah dan kemudian membaca al-Matsurat. Saat sedang membaca al-Matsurat, Abdullah dan Taqi datang dan membisiki Ustadz Rahmat sesuatu. Nah setelah selesai membaca al-Matsurat, Ustadz Rahmat menyampaikan informasi yang tadi di bisiki oleh Abdullah, bahwa jadwal pagi ini hanya baca al-Matsurat dan setelah itu segera pulang untuk mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa. Kemudian semua santri pulang ke asrama.

Sesampainya di kamar, Umi Lathifah memberitahukan bahwa semua kamar akan disidak. Mendengar hal itu, aku dan teman-teman sekamarku panik dan langsung membereskan kamar sampai bersih dan rapih. Setelah bersih dan rapih, aku dan teman-teman SMP akhwat segera sarapan dengan lauk otak-otak yamg di goreng. Selesai sarapan, aku segera mencuci piring dan gelas kemudian kembali kekamar untuk mengecek kembali barang-barang yang mau dibawa.

Kemudian aku menelpon mamah dan papahku. Setelah menelpon, aku bergabung dengan yang lainnya di perpustakaan untuk mendengarkan instruksi dari Ustadz Umar. Selesai memberi instruksi, aku dan yang lainnya segera keluar dari pesantren dan menuju ke mobil yang sudah ditentukan oleh Ustadz Umar. Awalnya aku duduk di mobil Panther yang dikendarai oleh Ka Musa. Tapi kemudian, aku di perintahkan Ustadz Umar untuk pindah ke mobil Avanza, tukeran dengan Teh Via.

Sebelum berangkat, Ustadz Umar telah membagi para santri menjadi 4 regu. Regu pertama adalah regu ikhwan yang dipimpin Ka Farid anggotanya adalah: Ka Anam, Ka Musa, Ka Heri dan Yusuf. Regu kedua adalah regu akhwat SMP yang di pimpin oleh aku sendiri (Cylpa) anggotanya: Fathimah, Siti, Wigati, Putri dan Ulfia. Regu ketiga adalah regu SMA akhwat Teh Via anggotanya: Teh Novi, Teh Ira, Teh Icha dan Teh Holifah. Regu keempat adalah regu SMA akwat teh Dini anggotanya: Teh Maila, Teh Rani dan Teh Eneng. Dari santri ikhwan ada yang tidak yang ikut, yaitu Ka Hawari karena masih dalam pemulihan.

Selama belum berangkat aku Cuma mendengarkan musik, tapi karena baterai hpku pas dilihat tinggal satu, akhirnya aku berhenti mendengarkan musik dan kemudian mengobrol dengan Teh Holifah.

Tak lama kemudian rombongan berangkat dan Ustadz Umar untuk membaca doa terlebih dahulu dan kemudian Ustadz Umar menyetel lagu-lagu Michael Learn to Rock dan itu adalah lagu-lagu kesukaanku. Saat dijalan kami berhenti dulu di SPBU karena Ustadz Umar ingin membeli bensin untuk mobil Avanza dan sekalian Ustadz Umar mau ke toilet. Setelah itu kamu melanjutkan perjalanan.

Tujuan pertama kami menuju Sungai Ciliwung di dekat Lapangan Sempur. Sesampainya di Lapangan Sempur kami memencar sesuai regu yang telah ditentukan oleh Ustadz Umar, dan reguku ingin melihat Sungai Ciliwung untuk foto-foto. Saat dipinggir Sungai Ciliwung, Ustadz Umar membolehkan santrinya untuk turun ke Sungai Ciliwung dan yang turun ke sungai cuma Abdullah, Taqi, Siti, aku, Wigati dan Ulfia. Saat itu sungai Ciliwung sedang surut airnya. Setelah melihat-lihat dan foto-foto kami melanjutkan perjalanan kami ke Bendungan Katulampa.

Perjalanan dari Lapangan Sempur menuju Bendungan Katulampa tidaklah dekat. Jadi untuk menghilangkan rasa jenuh selama perjalanan kami yang ada di mobil Avanza ada yang mengobrol dan ada juga yang tidur. Saat di perjalanan menuju Bendungan Katulampa aku melihat ada mobil yang entah itu ditilang polisi atau ada yang menyerempet mobil itu, aku tidak tahu. Yang jelas di sana aku lihat ada Pak Polisi.

Tak terasa akhirnya kami sudah memasuki kawasan daerah Tajur, dimana di daerah ini banyak tempat-tempat yang menjual tas-tas yang bagus dan harganya juga mahal. Di daerah ini ada dua sungai, yaitu ada di bagian kanan dan kiri jalan. Yang sebelah kiri sungai buatan yang namanya Kali Baru, yang di sungai buatan itu banyak terdapat WC umum. Sedangkan yang dibagian kanan adalah sungai asli.

Setelah itu aku dan semua santri Pesantren Media foto bareng di dekat batu yang ada tulisannya Bendungan Katulampa Ciliwung yang potretkan oleh Ustadz Umar.

Di sekitar Bendungan Katulampa banyak pepohonan dan di sungainya banyak batu-batu, ada yang besar dan ada juga yang kecil. Bendungan Katulampa di bangun di zaman Belanda pada tahun 1911. Nama petugas yang mengawasi Bendungan Katulampa adalah Pak Andi.

Setelah selesai foto-fotonya, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Masjid Atta’awun. Selama di perjalan aku tertidur tapi tidak lama. Saat aku bangun dari tidurku, aku melihat mobil Avanza yang di kendarai oleh Ustadz Umar di setop oleh Pak Polisi yang berarti itu adalah ditilang. Sementara kami berharap mobil yang dikendarai oleh Ka Musa tetap terus melaju dan tidak ditilang oleh Pak Polisi. Tapi ternyata, mobil yang dikendarai oleh Ka Musa kena tilang juga. Akhwat yang ada di mobil avanza panik dan segera menelpon ke Teh Via yang ada di mobil Panther. Tapi, saat ditanya apakah mereka pani atau enggak, Teh Via menjawab dengan santainya “Kita-kita disini lagi pada makan-makan”.

Ustadz umar harus membayar 200 ribu karena yang didepan duduknya berdua dan juga tidak menggunakan sabuk pengaman. Sedangkan mobil yang dikendarai Ka Musa, pelanggarannya lebih parah lagi, yaitu tidak mempunyai SIM, KTP dan pajak mobilnya juga sudah mati, tapi hanya disuruh membayar 20 ribu oleh Pak Polisi, itu juga karena Ka Musa berhasil menipu Pak Polisinya dengan berkata “SIM saya baru hilang kemarin Pak”. Mendengar cerita itu kami yang ada di mobil Avanza tertawa ngakak. Tak berapa lama kemudian kami berangkat lagi menuju Masjid Atta’awun.

Saat di perjalanan menuju Masjid Atta’awun, terjadi macet padahal kan hari ini bukan hari libur. Ustadz Umar aja sampai heran dengan kemacetan yang terjadi. Selama diperjalanan kepalaku pusing dan berkali-kali aku tertidur. Kemudian aku dibangunkan oleh Teh Holifah karena aku duduk disebelah Teh Holifah atau yang biasa kupanggil Teh Olip. Setelah dibangunkan, aku ditawarkan oleh Teh Holifah keripik pisang. Saat sudah hampir dekat dengan Masjid Atta’awun, kaca jendela dibuka dan seketika ketika kaca jendelanya dibuka kepalaku sudah tidak pusing lagi.

Pemandangan menuju Masjid Atta’awun indah-indah banget, ada banyak kebun teh dan tanaman lainnya. Awannya juga gelap. Awalnya kami mengira kalau itu kabut bukan awan mendung. Tapi tak lama kemudian hujanpun turun.

Akhirnya tak lama kemudian sampai juga di Masjid Atta’awun dan saat kami keluar dari mobil masih hujan walaupun tidak deras dan aku mengambil payung yang didalam tasku. Sesudah itu aku langsung berjalan mengikuti yang lainnya menuju ke dalam Masjid Atta’awun. Tapi, kami semua terlebih dahulu menitipkan sendal dan payung di tempat penitipan. Setelah menipkan sendal dan payung, aku dan yang lainnya langsung menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Ternyata airnya dingin banget. Brrrrr…

Setelah wudhu aku menuju ke tempat sholatnya untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjama’ah. Tapi saat aku datang, sholat udah selesai. Akhirnya aku sholat sendiri dan tidak mendapatkan pahala sholat berjama’ah deh.. L

Selesai sholat, aku memotret-motret bareng Putri di bagian atas Masjid Atta’awun. Saat sedang motret-motret, aku dan yang lainnya di panggil Ustadz Umar untu segera turun dan kemudian makan siang. Kemudian aku mengambil nasi dan mengantri untuk mengambil lauknya. Lauknya adalah rendang ayam. Setelah makan aku segera mencuci tangan dan kemudian seluruh santri di suruh untuk berkumpul karena Ustadz Umar ingin memberikan instruksi. Pertama Ustadz Umar memberitahukan kalo meletakkan tas itu jangan  di sembarng tempat karena bisa hilang. Yang kedua Ustadz Umar memberitahukan kalau mau kemana-mana harus dengan regunya, jangan sendiri-sendiri kalaupun harus sendiri harus izin dengan ketua regu. Dan yang ketiga adalah Ustadz Umar menanyakan siapa yang ingin membeli jagung bakar.

Sebelum membeli jagung, aku dan Putri foto-foto bagian depan dan pemandangan yang ada di sekitar Masjid Atta’awun. Tidak lama kemudian aku melihat ada kabut yang berjalan menutupi kawasan Masjid Atta’awun dan semuanya berubah menjadi putih. Subhanallah itu adalah pengalaman pertamaku melihat kabut yang berjalan. Lalu aku bilang ke Putri kalau aku baru pertama kali melihat kejadian itu, lalu Putri menjawab “Ya iyalah di Jakarta mana ada sih yang kaya gitu”. Lalu aku hanya cengengesan hehehe..

Galeri Fotoku

Kemudian yang ingin membeli jagung bakar turun ke tempat parkiran, karena disana ada yang jualan jagung bakar harganya lima ribu. Awalnya aku memesan jagung bakar rasa pedas manis, tapi setelah aku mencicipi sedikit jagung bakar punya Teh Rani yang rasanya pedas manis, ternyata sama sekali tidak ada rasa pedasnya. Akhirnya aku bilang ke tukang jagung bakarnya aku bilang rasa pedas aja. Tak lama kemudian jagung bakar pesananku sudah jadi dan aku memakannya. Hmm lezat.. J

Setelah memakan jagung bakar, kami bersiap-siap untuk kembali ke Pesantren. Setelah semuanya sudah masuk ke mobil, kami pun berangkat. Tetapi, kami tidak langsung pulang, melainkan kami menuju ke Puncak Pass. Disanalah pusatnya puncak. Kami hanya mengunjungi sebentar kemudian putar balik lagi dan langsung pulang.

Saat diperjalanan ketika masih disekitar puncak, aku sangat menikmati udara segar di puncak, karena selama di Jakarta aku tidak pernah menikmati udara sesegar ini. Dan aku mengarahkan tanganku ke arah kaca jendela supaya tanganku dingin. Saat sedang mengarahkan tanganku ke jendela, tiba-tiba kaca jendelanya naik dan spontan aku kaget. Ternyata yang menaikan kaca jendelanya adalah Ustadz Umar dan beliau kemudian bilang “Ohh masih mau dibuka?” kemudian Ustadz Umar membuka kembali kaca jendelanya. Lalu aku melanjutkan melihat-lihat pemandangan sambil mengarahkan tanganku ke kaca jendela sambil ngoceh-ngoceh sendiri nggak jelas. Ya, itulah kebiasaanku, suka ngoceh-ngoceh sendiri nggak jelas. Saat sudah lewat dari perkebunan dan pohon-pohonnya sudah mulai sedikit, Ustadz Umar menutup kaca jendela dan aku langsung bilang “Yahh.. kenapa ditutup?”.

Tak lama kemudian Fathimah bilang ke Ustadz Umar kalau dia ingin Pipis dan kebetulan tidak lama kemudian kami menemukan SPBU yang ada toiletnya. Kemudian Fathimah keluar dari mobil menuju toilet dan ternyata ada beberapa santri juga yang ingin pipis. Beberapa menit kemudian saat aku sedang enak-enaknya nyandar di pintu mobil, tiba-tiba pintu mobil terbuka dan aku hampir jatuh keluar mobil. Ternyata yang membuka mobil itu adalah Fathimah.

Setelah semua santri yang pergi ke toilet telah kembali ke mobilnya masing-masing, kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi. Aku mulai mengantuk dan saat aku ingin tidur, Fathimah berkali-kali menggangguku. Yang menjedotkan belakang kepalakulah, saat aku merem dan aku membuka mataku ternyata wajah dia ada didepan wajahkulah, pokonya yang aneh-aneh deh..

Kemudian saat Fathimah tidur aku baru bisa tidur, karena sudah tidak ada yang menggangguku lagi. Aku tidurnya lama sekali. Saat sudah memasuki kawasan Laladon, aku dibangunkan. Dan kami bersiap-siap untuk turun dari mobil.

Sesampainya di Pesantren Media aku segera mengambil tasku dan langsung kekamar untuk istirahat sebentar dan kemudian sholat ashar. [Cylpa Nur Fitriani, santriwati jenjang 1 SMP, Pesantren Media]

Catatan: tulisan ini bagian dari tugas menulis feature di Kelas Menulis Kreatif, Pesantren Media

feature katulampa puncak santri

Penulis: 
author
Pesantren MEDIA [Menyongsong Masa Depan Peradaban Islam Terdepan Melalui Media] Jl. Seruni E-3, Laladon Permai, Ciomas BOGOR 16610. Telp: (0251) 8630166 Email: info@pesantrenmedia.com | Twitter @PesantrenMEDIA

Posting Terkait